Minggu, 01 April 2012

Review Film "PACAR KETINGGALAN KERETA" (1988); Ketika Teguh Karya menunggu kereta"

PACAR KETINGGALAN KERETA (1988)
Jenis Film : Drama - Musikal

Sutradara        : Teguh Karya
Cerita             : Arswendo Atmowiloto
Skenario          : Teguh Karya
Penata Musik    : Idris Sardi
Penata Kamera : Herman Susilo
Penata Gambar : Karsono Hadi
Penata Artistik  : Adji Mamat Borneo
Penata Suara     : Iwan Mauritz


Pemain 

Rachmat Hidayat
Tuti Indra Malaon, Dra.
Niniek L Karim, Dra.
Ayu Azhari
Nurul Arifin
Onky Alexander
Alex Komang
Didi Petet
Nani Soemanegara
Rita Zahara
Camelia Malik
Nani Vidia
Piet Pagau

Sinopsis
Kisah dimulai dengan pesta 25 tahun perkawinan Ibu dan Pak Padmo (Tuti Indra Malaon dan Rachmat Hidayat). Di sini muncul kecemburuan Bu Padmo terhadap sekretaris Pak Padmo, tante Retno (Niniek L Karim). Kecemburuan ini semakin menjadi, saat tahu Heru (Onky Alexander) pacaran dengan Ipah (Nurul Arifin), sedang sopirnya Martubi (Alex Komang) pacaran dengan Juminten (Nani Vidia), pembantu tante Retno. Kecemburuan itu juga mengganggu persahabatan Heru, Riri (Ayu Azhari), anak-anaknya dengan Arsal (Iwen Darmanyah), anak tante Retno. Kecemburan ini membuat banyak salah paham, yang bisa diakhiri dengan gembira.

Prestasi

No
Penghargaan
Penerima / Nominee
Hasil
1
 Piala Citra - FFI 1989 (Film Bioskop)
-
 Menang
 2
 Piala Citra - FFI 1989 (Sutradara)
 Teguh Karya
 Menang
 3
 Piala Citra - FFI 1989 (Pemeran Utama Pria)
 Rachmat Hidayat
 Menang
 4
Piala Citra - FFI 1989 (Pemeran Utama Wanita)
 Dra. Tuti Indra Malaon
 Menang
 5
 Piala Citra - FFI 1989 (Pemeran Pembantu Wanita)
 Dra. Niniek L Karim
 Menang
 6Piala Citra - FFI 1989 (Pemeran Pembantu Wanita) Nurul Arifin Nominasi
 7
Piala Citra - FFI 1989 (Penyuntingan)
 Karsono Hadi
 Menang
 8
Piala Citra - FFI 1989 (Artistik)
 Adji Mamat Borneo
 Menang
 9
Piala Citra - FFI 1989 (Tata Suara)
 Iwan Mauritz
 Menang
 10
Piala Citra - FFI 1989 (Tata Kamera)
 Herman Susilo
 Nominasi
 11
Piala Citra - FFI 1989 (Tata Musik)
 Idris Sardi
 Nominasi
 12
Piala Citra - FFI 1989 (Skenario)
 Teguh Karya
 Nominasi
 13
Piala Antemas - FFI 1989 (Film Terlaris)

 Menang
 14
Festival Film Bandung 1990 (Sutradara Terpuji)
 Teguh Karya
 Menang
 15
Festival Film Bandung 1990 (Aktris Terpuji)
 Nurul Arifin
 Menang
 16
Festival Film Bandung 1990 (Penyuntingan Terpuji)
 Karsono Hadi

 Menang
 17
Festival Film Bandung 1990 (Artistik Terpuji)
 Adji Mamat Borneo
 Menang
 18
Festival Film Bandung 1990 (Film Terpuji)

 Menang
 19
Asia Pacific Film Festival 1990 - Taipei (Best Supporting Actress)
 Niniek L Karim
 Menang

Review
Film Pacar Ketinggalan Kereta adalah film bioskop terakhir dari sang maestro Teguh Karya. Film ini saya rasa begitu spesial, karena melalui film ini Teguh dapat berkompromi dengan selera pasar saat itu, namun tetap tidak meninggalkan ciri khasnya dalam segi penggarapan yang 'kolosal'.  
Film ini dinilai sedikit menurun dari ekspektasi banyak orang tentang film yang biasa dibuat seorang Teguh Karya. Teguh dikenal sineas yang seringkali membuat film-film dengan tema 'besar' yang tentunya berkualitas tinggi. Namun, tidak berarti film Pacar Ketinggalan Kereta ini jauh dari kualitas. Sepanjang saya menonton film ini, kita akan tetap disuguhkan sajian film yang pantas untuk ditonton sekaligus untuk dikaji.
Dari tema film ini, Teguh memang mengadaptasi film ini dari novel  Arswendo Atmowiloto yaitu "Kawinnya Juminten". Judul film ini cukup menggelitik, membuat orang ingin tahu, tentang apa film ini. Judul yang tidak biasa bagi film yang dibuat oleh Teguh Karya. Dari sederetan pemain, Teguh memberi kejutan dengan menampilkan bintang-bintang tenar seperti, Nurul Arifin, yang sebelumnya sering bermain film Warkop, Didi Petet, si Emon dalam Catatan Si Boy, dan Onky Alexander, aktor idola saat itu. Namun, Teguh tetap menampilkan jagoan-jagoan aktingnya, para aktor kelas berat seperti Tuti Indra Malaon, Rachmat Hidayat, Niniek L Karim, Alex Komang, Rita Zahara, dan Nani Soemanegara.
Dari segi cerita, film ini menampilkan beragam kompleksitas cerita yang harus kita mengerti dari awal film ini. Banyaknya tokoh dengan beragam karakter berhasil diperankan dengan baik oleh setiap pemain. Onky Alexander terlihat cukup baik dan tidak kaku, begitu juga dengan Nurul Arifin, yang memerankan Ipah, wanita pincang. Ayu Azhari tampil tidak begitu banyak namun berkesan, Niniek L Karim dan Tuti Indra Malaon tampil sebagai 'bumbu utama' dalam film ini. Kedua aktris teater ini dapat membawa penonton larut dalam konflik keluarga Pak Padmo ini. Secara keseluruhan, Teguh dapat mengarahakn setiap pemainnya dengan baik. Segi skenario juga tak perlu diragukan lagi. Teguh dapat menerjemahkan bahasa novel ke dalam film dengan baik. Film ini tidak menonjolkan Juminten sebagai tokoh sentral, namun setiap pemain memiliki porsi yang sama dengan karakter yang beragam.
Tata musik juga digarap baik oleh Idris Sardi. Film ini juga menampilkan beberapa adegan musikal, seperti Niniek L Karim yang menyanyikan lagu 'Gosip', dan Onky Alexander ketiga dalam adegan berkelahi di diskotek. Teguh terlihat tetap serius dan tidak sembarangan dalam menggarap adegan msuikal ini. pemain dan penari yang terlibat tampil meyakinkan. Dari segi poster film, poster film ini juga baik untuk ukuran film era 80-an, dan poster film ini mendapat nominasi Poster Terbaik FFI 1989.
Untuk film bioskop terakhirnya ini, Teguh Karya mulai mau berkompromi dengan selera pasar. Teguh Karya agak sedikit melonggarkan esensi film 'berat' yang selama ini menjadi trademark nya. Saya menilai, Teguh Karya selalu dapat memberikan sajian film yang berkualitas. Hal ini dapat dibuktikan dengan 8 Piala Citra yang berhasil diraih film ini pada FFI 1989. Pacar Ketinggalan Kereta, namun Teguh Karya tidak ketinggalan kereta, dia masih menunggu kereta untuk para pecinta film Indonesia dan pecinta film-film Teguh Karya tentunya.


   

Adegan film Pacar Ketinggalan Kereta

Trivia
  • Film ini dapat diakses di Sinematek Indonesia
  • Tuti Indra Malaon mendapat Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik, Tuti menang secara anumerta, karena telah berpulang dua bulan sebelum Penganugerahan FFI 1989
  • Film bioskop terakhir Teguh Karya, dan adaptasi dari novel "Kawinnya Juminten" karya Arswendo Atmowiloto
  • Piala Citra kedua bagi Niniek L Karim sebagai Pemeran Pembantu Wanita Terbaik, selain itu Niniek juga menang di Festival Film Asia Pasifik sebagai Best Supporting Actress

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar