Selasa, 10 April 2012

Review Film "KEMBANG KERTAS (1984); Potret kepalsuan dalam sebuah keluarga"

KEMBANG KERTAS (1984)
Jenis Film : Drama

Sutradara : Slamet Rahardjo Djarot
Cerita : Slamet Rahardjo Djarot
Skenario : Putu Wijaya
Penata Kamera : Tantra Surjadi
Penata Artistik : Adjie Mamat Borneo
Penyunting : B. Benny MS
Penata Suara : Zakaria Rasyid
Penata Musik : Eros Djarot

Pemain 
Zaenal Abidin
Dewi Yull
Rima Melati
Lenny Marlina
Ria Irawan
Bangun Sugito (Gito Rollies)
Herman Felani
Lina Budiarti
Rossy S Drajat


Sinopsis :


Karena dorongan istrinya (Rima Melati), Prabowo (Zaenal Abidin) memasuki bisnis bahaya dan dijebloskan ke penjara. Sementara menunggu pengadilan, Prabowo dibebaskan oleh Wahyuni (Lenny Marlina), kawan kongsinya. Ia seorang janda cerai yang mencintainya. Rini (Dewi Yull) dan Ani (Ria Irawan) anak-anak Prabowo mengalami guncangan karena harus pindah dari rumah mewah ke rumah susun sederhana.

Dunia narkotika dan pelacuran merupakan pelampiasan mereka. Ibunya sakit-sakitan, dan Wahyuni mencoba mengangkangi Prabowo. Setelah terbongkar masalahnya, Wahyuni rela Prabowo kembali ke keluarga. Rini mencoba menjadi fotografer mengikuti pacarnya, Anton (Herman Felani) yang juga pemuda frustasi. Mereka berkesempatan menjadi pemandu wisata di Bali. Wartawan (Bangun Sugito) mengaku mau jadi ‘saksi kehidupan’,

Prestasi
1.    Festival Film Indonesia 1985 (Piala Citra) – Film Terbaik
2.    Festival Film Indonesia 1985 (Piala Citra) – Sutradara Terbaik (Slamet Rahardjo Djarot)
3.    Festival Film Indonesia 1985 (Piala Citra) – Skenario Terbaik (Putu Wijaya)
4.    Festival Film Indonesia 1985 (Piala Citra) – Penyuntingan Terbaik (B. Benny MS)
5.    Festival Film Indonesia 1985 (Piala Citra) – Tata Suara Terbaik (Zakaria Rasyid)
6.    Festival  Film Indonesia 1985 (Piala Citra) – Nominasi Pemeran Utama Pria (Zaenal Abidin)
7.    Festival Film Indonesia 1985 (Piala Citra) – Nominasi Pemeran Utama Wanita (Dewi Yull)
8.    Festival Film Indonesia 1985 (Piala Citra) – Nominasi Cerita Asli (Slamet Rahardjo Djarot)
9.    Festival Film Indonesia 1985 (Piala Citra) – Nominasi Pemeran Pembantu Wanita (Lenny Marlina dan Ria Irawan)
10. Festival Film Indonesia 1985 (Piala Citra) – Nominasi Tata Musik (Eros Djarot)
11. Festival Film Indonesia 1985 (Piala Citra) – Nominasi Tata Kamera (Tantra Surjadi)
12. Festival Film Indonesia 1985 (Piala Citra) – Nominasi Tata Artistik (Adjie Mamat Borneo)

Review

Setelah saya menonton film terbaik FFI 1985 ini di Sinematek, film Kembang Kertas memang dapat dipuki kualitasnya. Film ini mengangkat sebuah realitas yang terjadi dalam sebuah keluarga, dan saya kira sangat relevan dengan zaman sekarang. Ceritanya tidak terlalu berat atau mengawang-awang, melainkan berjalan mengalir dan dapat dirunut dengan baik. Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga, yang hidupnya mengalami perubahan drastis akibat dari sebuah kepalsuan, dan untuk menghadapinya juga dengan sebuah kepalsuan, ibarat sebuah ‘Kembang Kertas’.

Pada film ini, Slamet Rahardjo Djarot sebagai sutradara, mempercayakan penulisan skenario  pada maestro Putu Wijaya. Penulisan Putu Wijaya memang tidak perlu diragukan lagi. Piala Citra untuk penulisan skenario terbaik berhasil dimenangkan film ini. Dialog-dialognya memang bernas. Pengolahan dan pengembangan cerita menjadi skenarionya cukup baik. Selain itu, film ini juga unggul pada aspek penyuntingan gambar. Gambar film ini jernih dan enak untuk dipandang mata. Perpindahan tiap adegan juga dapat dikatakan rapi. Pengambilan gambar film ini juga baik. Mungkin yang agak sedikit kurang, di segi tata suara. Suara para pemain agak kurang terdengar, terutama para pemain yang memang memiliki volume suara yang tidak besar.

Untuk segi pemeranan, film ini memiliki ensemble cast yang dikenal memilki akting mumpuni dan tenar pada zaman itu. Zaenal Abidin, Rima Melati, Ria Irawan dan Dewi Yull, semuanya dapat berkolaborasi dengan baik menciptkan suasana keluarga Prabowo yang bermasalah, ditambah dengan kehadiran Wahyuni, sosok wanita yang memiliki pesona, diperankan sangat baik oleh Lenny Marlina. Dewi Yull dapat bermain baik, tapi kadang kurang dapat menjaga emosinya. Zaenal abiding sebagai Prabowo, tokoh kunci dalam film ini juga tidak perlu diragukan lagi kapabilitasnya. Ria Irawan pun tampil mencuri perhatian, berperan sebagai remaja labil, aktingnya dapat keluar secara alami. Lenny Marlina adalah favorit saya dalam film ini. Wahyuni berhasil diciptakannya sebagai sosok yang misterius, dia dapat tampil manis, sinis, dan licik, ditambah dengan karakter suaranya yang pelan namun ‘mengena’. Penampilan Alm. Bangun Sugito atau Gito Rollies juga tampil mencuri perhatian dalam film ini.


Adegan film Kembang Kertas

Artistik dalam film ini juga terlihat mendukung jalannya cerita. Tata musik dari Eros Djarot juga mendukung alur cerita dan juga tentunya memiliki ciri khas. Slamet Rahardjo Djarot saya kira dapat mengeksekusi keseluruhan film ini dengan baik. Di film karya keempatnya ini, Slamet semakin matang dalam menyutradarai film. Setelah sebelumnya membuat Ponirah Terpidana (1983) yang berkualitas baik. Slamet dapat mempertahankan idealismenya. Mengarahkan pemain, segi artistik penunjang film. Serta ide cerita film berhasil diterjemahkan dalam bahasa visual dengan baik. Pada FFI 1985, Slamet Rahardjo berhasil mengalahkan gurunya, Teguh Karya dalam dua film sekaligus, serta Sjuman Djaya sebagai sutradara terbaik. Ini adalah kemenangan pertama Slamet sebagai sutradara, sebuah pembuktian bagi dirinya dan sang guru, Teguh Karya. Film kembang Kertas ini memilki tema yang cukup sederhana, namun kesederhanaan ini justru membuat film ini menjadi film terbaik FFI 1985, dengan mengalahkan film-film yang memiliki tema-tema lebih ‘berat’, seperti Doea Tanda Mata, Kerikil-kerikil Tajam, dan Secangkir Kopi Pahit.

Puas rasanya dapat menyaksikan salah satu masterpiece dari Slamet Rahardjo ini. Kembang Kertas bertutur tentang pentingnya sebuah keluarga. Kita dapat belajar dari film ini, bahwa sebuah keluarga sebenarnya harus diawali dari sebuah kejujuran. Film Ini saya rekomendasikan untuk sangat kayak tonton.


Trivia
  • Film ini dapat diakses dari Sinematek Indonesia
  • Melalui film ini, Ria Irawan dan Dewi Yull pertama kali mendapatkan nominasi Piala Citra
  • Slamet Rahardjo Djarot mendapatkan Piala Citra pertama sebagai sutradara terbaik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar