Kamis, 19 April 2012

19 Aktris Film Indonesia Berpengaruh #Klasik *plus bonus

Inilah para aktris film Indonesia yang telah mewarnai dan berpengaruh bagi sejarah perfilman Indonesia, era 40 hingga 90 an :

1. Chitra Dewi


Chitra Dewi (1934-2008)
Chitra Dewi Salah satu pionir aktris film Indonesia, Chitra adalah legenda film dengan filmnya "Tiga Dara" (1956), Chitra mendapatkan Piala Citra FFI 1979, Aktris Pendukung Terbaik untuk film Gara-Gara Istri Muda.

2. Wolly Sutinah


Wolly Sutinah (1915 - 1987)
Siapa tak tahu Mak Wok? Mak Wok atau Wolly Sutinah adalah icon seorang 'emak' di era 60 hingga 70 an. Wolly Sutinah adalah aktris yang mengawali karir sejak era 30an hingga akhir hayatnya di tahun 1987. Ibu dari aktris Aminah Tjendrakasih ini bermain di banyak film drama, komedi dan horor.


 3. Fifi Young



Fifi Young (1912-1975)
Aktris berdarah Tionghoa ini cukup berpengaruh di era 50 hingga awal era 70 an. Salah satu aktris watak yang berkarakter, dan Fifi Young adalah salah satu legenda film Indonesia. Permainannya dalam "Malin Kundang" dan "Djembatan Merah" membuktikan kepiawaiannya dalam berakting.

4. Mieke Wijaya

Bintang film kawakan Mieke Wijaya adalah salah satu aktris tangguh berkarakter. Istri Dicky Zulkarnaen ini meraih 3 Piala Citra FFI 1967, 1975 dan 1981. Ia pun meraih mendapat Lifetime Achievement Festival Film Bandung 2011, bukti perjalanan panjang karirnya yang lebih dari setengah abad.

5. Sofia WD


Sofia WD (1924-1986)
Aktris film dan sutradara ini adalah salah satu aktris yang berpengaruh bagi para penerusnya. Peraih Piala Citra 1973, untuk aktris pendukung ini bermain total di setiap filmnya. Malah Sofia pernah hampir tewas akibat dipatuk ular dalam sebuah film.

6. Dhalia


Dhalia (1927-1991)
Aktris Terbaik pertama dalam sejarah FFI di tahun 1955 ini cukup familiar dalam sejumlah film drama di era 80an. Peraih nominasi FFI 1981 dan 1982 ini bermain apik dalam film Usia 18 garapan Teguh Karya, suaranya yang berat adalah ciri khas aktris watak ini.

7. Roldiah Matulessy 


Pemeran Emak Naga Bonar ini, adalah satu-satunya aktris era 40 an yang masih hidup. Ibu Roldiah adalah seorang aktris yang mengawali karirnya dari melawak. Perannya di Naga Bonar membuatnya meraih Piala Citra 1987 untuk Aktris Pendukung Terbaik, selain itu juga tampil mengesankan dalam film Tragedi Bintaro di tahun 1989.


8. Rima Melati

 

Mantan Peragawati ini adalah salah satu bintang papan atas di era 60 hingga 80 an. Istri Frans Tumbuan ini meraih Piala Citra FFI 1973 untuk Aktris Terbaik mendampingi Benyamin S dalam film satir "Intan Berduri". Di era 80 an, Rima Melati tampil dalam sejumlah film garapan sutradara berkelas. 5 kali nominasi Aktris Pendukung FFI pun diraihnya dalam kurun tahun 1984 - 1989.

9. Rina Hassim


Pemain film berdarah Makassar ini tampil di sejumlah film di era 70 hingga 90an. Istri Chris Pattikawa ini memiliki karakter yang kuat dalam film-filmnya, dan tak lupa aktingnya yang begitu maksimal dan emosioal, tak heran dua Piala Citra diraihnya dan 5 nominasi Piala Citra di tahun 1979, 1982, 1985, 1986, dan 1988.

10. Nani Widjaya



Ia adalah icon ibu bijaksana di era 80an. Nani Widjaya, mendapatkan Piala Citra FFI 1978 dan 1983, serta 3 kali mendapatkan nominasi Piala Citra, tetap konsisten dengan dunia akting hingga kini. Aktingnya yang mengesankan ketika di film RA Kartini, menjadi ibu protektif dalam film Yang (1983), wanita priyayi dalam Selamat Tinggal Jeanette (1987), dan menjadi mama Boy dalam sekuel Catatan si Boy.

11. Suzanna



Ratu Film Horor Indonesia, itulah sebutannya. Aktris peraih 2 nominasi pada FFI 1979 dan 1982 ini sebenarnya adalah aktris yang berbakat juga dalam film drama. Suzanna bahkan menjadi Best Child Actress pada Festival Film Asia. Konsistensinya dan penampilannya yang begitu melekat di film-film, terutama film horor menjadikan Suzanna, sosok aktris Indonesia yang tidak akan dilupakan atau digantikan oleh siapa pun.

12. Widyawati



Pasangan sejoli almarhum Sophan Sophiaan ini tetap cantik di usianya kini. Sejak tampil di tahun 1971 lewat Pengantin Remaja, Widyawati menjadi idola bersama suaminya. Penampilan Widyawati dalam sejumlah film romansa, semakin mematangkan aktingnya. Di era 80 an, Widyawati semakin tampil lebih memukau dalam film-film drama 'berat' seperti Arini, Bayi Tabung, Suami, Sesaat Dalam Pelukan, Buah Hati Mama, dan Tinggal landas Buat Kekasih. Ia meraih 2 Piala Citra pada FFI 1977 dan FFI 1987 untuk aktris terbaik lewat film Arini. Nominasi FFI juga diraihnya di tahun 1981, 1983, 1989, 1990, dan 2009.

13. Christine Hakim



Aktris tangguh 'anak' Teguh Karya ini tampil mencuri perhatian dalam film Cinta Pertama. Kemenangannya di FFI dalam film itu, membuat ia berprinsip untuk selektif dalam memilih peran. Alhasil, Christine Hakim tampil begitu matang dalam sejumlah film seperti Pengemis dan Tukang Becak, Ponirah Terpidana, Dibalik Kelambu, Irisan-irisan Hati dan tentunya Tjoet Nja' Dhien. 6 Piala Citra diraihnya dan berbagai penghargaan film internasional lainnya. Keberhasilan Christine Hakim sebagai aktris film menjadikan ia panutan bagi para pemain muda dan tentunya dia adalah salah satu aktris yang paling berpengaruh.

14. Jenny Rachman



Karirnya cukup unik. Selain berakting bagus, dalam aktingnya Jenny Rachman selalu menampilkan 'sesuatu' yang menjadi ciri khasnya, itulah mengapa Jenny Rachman selalu tampil dalam film yang bermutu dalam kualitas, dan laku dalam sisi komersialnya. Tak heran, ia meraih 2 Piala Citra, dan 3 nominasi untuk Aktris Terbaik. Kalangan pengamat menyebutnya "The Queen of Indonesian Cinema".

15. Marissa Haque



Aktris Marissa Haque adalah salah satu aktris yang memiliki karakter khas dalam setiap filmnya. Istri Ikang Fawzy ini juga tercatat banyak bermain dalam film-film garapan sutradara kelas Piala Citra. Aktingnya begitu berkesan ketika memerankan seorang tuna rungu dalam film Matahari-Matahari yang membuatnya menang di ajang Festival Film Asia Pasifik. Piala Citra pertamanya di tahun 1985 untuk aktris pendukung terbaik, disusul nominasi kedua di tahun 1987 lewat film Biarkan Bulan Itu. Marissa Haque juga dikenal sebagai seorang produser.

16. Jajang C Noer



Istri sutradara kenamaan Alm. Arifin C Noer ini tak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya. Dalam film Bibir Mer, garapan sang suami, ia langsung merebut Piala Citra 1992, untuk aktris pendukung terbaik. Konsistensinya dalam dunia film terbukti hingga kini. Jajang meraih 2 nominasi FFI 2004 dan 2010 untuk aktris terbaik. Jajang C Noer juga tampil sangat baik dalam film Berbagi Suami, 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita dan yang terbaru, Mata Tertutup. Selain aktris, Jajang C Noer juga dikenal sebagai seorang sutradara.


17. Dra. Tuti Indra Malaon


Wanita serba bisa ini adalah primadona teater. Salah satu pendiri Teater Populer ini memiliki magnet yang kuat dalam setiap filmnya. Tuti yang juga seorang eksekutif media dan konsultan humas, tampil dalam film-film drama 'berat'. Ibunda dan Ketinggalan Kereta adalah dua film yang menunjukkan kepiawaiannya dalam berakting. Dalam dua film itu pula, Tuti merebut Citra untuk aktris terbaik. FFI 2010 memberinya Lifetime Achievement Award. Tuti Indra Malaon adalah aktris Indonesia pertama yang juga seorang akademisi.

18. Lidya Kandou


Salah satu primadona layar lebar Indonesia di era 80an, Lidya Kandou, aktris berdarah Manado ini juga menjadi idola remaja bersama Rano Karno dan Yessy Gusman. Aktingnya semakin terasah ketika masuk nominasi pertama Piala Citra tahun 1984. Lidya kemudian tampil dalam film-film komedi romantis atau komedi satir. Perannya yang begitu melekat, saat di film Kejarlah Daku Kau Kutangkap, kemudian di film Cas Cis Cus, dan yang akhirnya memberi Piala Citra, Boneka Dari Indiana. Di tahun 1992, Lidya kembali menjadi aktris terbaik FFI bersamaan dengan suaminya, Jamal Mirdad yang juga menjadi aktor terbaik. Kemenangannya itu pun menjadi penutup Festival Film Indonesia era lama.


19. Joice Erna



Karirnya mencuat setelah bermain dalam film Suci Sang Primadona garapan Arifin C Noer. Dalam film itu pula, Joice meraih piala citra pertamanya. Joice kemudian tampil dalam film-film, yang menampilkan akting-akting berkarakternya. Nominasi FFI 1987 diraihnya lewat film Arini. Kehadirannya kembali di dunia perfilman akan selalu dinantikan pencinta film Indonesia.

20. Ria Irawan



Kecil-kecil cabe rawit, pantas disematkan bagi aktris Ria Irawan. Putri Bambang Irawan dan ade Irawan ini muncul mencuri perhatian dalam sejumlah film di era 80 an. Uniknya, Ria Irawan adalah salah satu aktris yang tampil 'beda' dari pemain seangkatannya di masa kecil. Ria Irawan tercatat tampil dalam film-film 'berat', seperti Kembang Kertas, Ibunda, Opera Jakarta, dan Selamat Tinggal Jeanette yang memberinya Piala Citra untuk aktris pendukung terbaik.

21. Lenny Marlina

Bintang temuan Usmar Ismail ini, cukup memiliki pengaruh dalam perfilman nasional. Namanya yang begitu populer disertai dengan aktingnya yang semakin terasah di era 80 an. Aktingnya yang begitu menyentuh, ketika memerankan pengidap kanker dalam drama Jangan Ambil Nyawaku. Nominasi FFI 1982 dan FFI 1985 untuk Kembang Kertas, dimana ia berperan sangat bagus. Peran kocak pun pernah ia mainkan dengan Didi Petet dalam Oom Pasikom. Piala Citra FFI 1974 dan Aktris Terpuji Festival Film Bandung 1991 adalah pembuktiannya.

22. Meriam Bellina


Siapa yang tak kenal dengan aktris ini. Namanya sangat populer di sepanjang era 80 hingga 90 an. Meriam Bellina disebut sebagai Magma Perfilman Indonesia, karena bakatnya yang teruji di film-film drama dan komedi, serta film-film berkelas dan film-film 'underdog'. Mer secara mengejutkan merebut Piala Citra FFI 1984 untuk aktris terbaik mengalahkan aktris kelas berat, Christine Hakim, Jenny Rachman, dan Zoraya Perucha. Dia kembali meraih Citra untuk film Taksi di tahun 1990, dan 2007 untuk film Get Married. Meriam Bellina cukup memiliki pengaruh yang kuat bagi para pemain muda, dan sosoknya tak kan tergantikan.

23. Roekiah


Perintis Bintang film pertama di Indonesia. Tenar di era 40 an, lewat film Fatimah (1941)


24. Eva Arnaz




Eva Arnaz, seorang aktris Indonesia yang cukup berpengaruh di era 80 an. Eva Arnaz seringkali bermain dalam film-film yang berkategorikan film laris, seperti film-film laga dan tentunya film komedi Warkop DKI.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar