Minggu, 15 April 2012

Review Film "CAS CIS CUS (1990); Sketsa dan Miniatur sebuah kehidupan sosial perkotaan"



 
CAS CIS CUS (SONATA DI TENGAH KOTA) (1990)
Jenis Film : Komedi

Quote:
"Semua orang bercas-cis-cus, bagai nenek yang cas-cis-cus, ngomong tak becus."

Sutradara : Putu Wijaya
Cerita / Skenario : Putu Wijaya
Penata Musik : Harry Roesli
Penata Gambar : Karsono Hadi
Penata Kamera : FES Tarigan
Penata Artistik : Ernest AR
Penata Suara : Endang Darsono

Pemain
Lidya Kandou
Ray Sahetapy
Amak Baldjun
Nani Somanegara
Viona
Ami Prijono
Sylvana Herman

Sinopsis

Ibu (Nani Somanegara) mencak-mencak minta dicarikan kaset video porno. Karuan saja putrinya Astri (Lydia Kandou) dan menantunya Dedi (Ray Sahetapy) dan dua cucunya kelabakan. Apalagi masih ditambah bergunjing dengan tetangga dan mogok makan. Klimaksnya: ingin mengawini tukang pijat buta langganannya, Item (Amak Baldjun), yang juga dituruti oleh anak dan menantunya. Segala tingkah polah Ibu ini yang dimaksud untuk memancing tawa. Ibu yang sebenarnya minta perhatian dan ingin kawin lagi, bahkan kemudian minggat. Dan anak-menantu-cucu pun merasa kehilangan. Pada akhir film sang nenek kembali.
Prestasi
1. Festival Film Indonesia 1990, Piala Kartini untuk Pemeran Anak-anak Terbaik (Viona)
2. Festival Fi9lm Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Film
3. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Sutradara (Putu Wijaya)
4. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Pemeran Utama Wanita (Lidya Kandou)
5. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Pemeran Pembantu Pria (Amak Baldjun)
6. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Pemeran Pembantu Wanita (Nani Somanegara)
7. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Skenario (Putu Wijaya)
8. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Penyuntingan Gambar (Karsono Hadi)
9. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Tata Kamera (FES Tarigan)
10. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Tata Artistik (Ernest AR)
11. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Tata Suara (Endnag Darsono)
12. Festival Film Asia Pasifik 1991, Best Supporting Actress (Nani Somanegara)

Review

Cas Cis Cus, Sonata di Tengah Kota, begitulah judul lengkap film ini. Karya pertama Putu Wijaya sebagai seorang sutradara. Film ini adalah adaptasi dari sebuah cerita pendek tulisannya yang, dimana ia menang sebuah penghargaan dalam sebuah sayembara. Film berjenis komedi satir ini, yaitu bercerita tentang Nenek (diperankan dengan sangat bagus oleh Nani Somanegara) yang berkunjung ke tempat anaknya, Dedi (dimainkan Ray Sahetapy), mendadak minta disewakan kaset video porno. Satu hal yang mengejutkan, bukan lantaran di rumah itu Dedi sudah punya istri (dimainkan Lydia Kandou) dan dua anak, tetapi keinginan itu muncul dalam diri seorang nenek, sesuatu yang tidak lazim. Ketika Dedi mendapatkan vldeo itu. Nenek bahkan kian rewel. Soalnya, Nenek butuh video yang X-nya pangkat tiga, sementara yang didapatkan Dedi hanya satu X. "Kalau tidak dipinjamkan, aku akan pulang," tutur Nenek berulang kali. Dedi kelimpungan lantaran keinginan ibunya yang aneh-aneh itu. Tapi dia ingin membahagiakan ibunya yang sudah tua itu. Suatu hari, Dedi pergi ke psikiater untuk meminta advis, bagaimana menangani Nenek. Eh, justru Dedi yang dianggap sakit. Teror Nenek tak berhenti pada video porno. Ada teror lain lagi: Nenek minta dikawinkan dengan Mat Item (diperankan dengan kocak oleh Amak Baldjun), tetangganya yang jadi tukang pijat dan buta. Teror itu pun berhasil. Dan Dedi semakin ruwet pikirannya. Baru ketika Nenek pergi meninggalkan rumah itu, setelah memutuskan cerai dengan Mat Item lantaran Mat Item melarang Nenek operasi plastik, Dedi merasa lega. Tak ada lagi keanehan-keanehan di rumahnya. Tak ada lagi Nenek yang gemar keluyuran ke tetangga-tetangga. Tapi justru di situlah anehnya, Dedi kemudian merasa ada yang kurang di rumahnya. Perasaan seperti itu juga ada pada istrinya, bahkan anak-anaknya.

Film ini memiliki pesan yang tersirat dengan bahasa satir. Karena beradaptasi dari sebuah cerita pendek, terasa jelas perbedaanya, bahasa tulis dan bahasa gambar memang memiliki perbedaan jauh. Mungkin pada dirilisnya film ini tahun 1990, banyak orang berharap bahwa film karya Putu Wijaya akan mampu memvisualisasikan fiksi-fiksinya yang memang sudah punya karakter. Apalagi jika dibandingkan dengan pementasan Teater Mandiri Putu Wijaya. Saya rasa dalam ini pula, Putu Wijaya ingin menjadikan film ini sebagai minatur atau sketsa sebuah kehidupan sosial ataupun politik. Tata artistik film ini agak mengganjal menurut saya, ketika setting di sebuah kampung di tengah kota seperti kurang memberikan greget.

Untuk pemeranan, semua pemain bermain bagus dan memiliki porsi seimbang. Lidya Kandou, sebagai menantu, bermain baik, tapi harus diakui, dalam film ini, peran dan karakter yang dimainkan kurang memiliki kompleksitas yang tinggi. Dua tokoh yang mencuri perhatian dalam film ini, Ibu yang diperankan oleh Nani Somanegara. Nani bermain bagus dan mencuri perhatian penonton. Karena ia sebagai tokoh kunci, dan penyebab segala konflik dan intrik dalam film ini, Nani dapat memainkannya dengan baik dan begitu berkesan. Kedua, adalah Amak Baldjun yang memerankan Tukang Pijat Tuna Netra. Film ini hidup berkat kolaborasi akting kocak kedua karakter dan pemain ini. Ray Sahetapy juga bermain bagus, namun sama seperti Lidya Kandou, karakternya kurang kompleks. Yang tak kalah mencuri perhatian, Deddy Mizwar tampil sebagai cameo, dengan menjadi banci.

Dalam film debut sebagai sutradara ini, Putu Wijaya dapat mengeksekusi film ini dengan cukup baik. Film ini cukup cerdas, dengan dialog-dialog sindir yang cerdas dan membuat logika pikir penonton berjalan. Cas Cis Cus, ibarat sebuah omongan si ibu suka "nyerocos cas cis cus", dan juga sebuah sketsa orang perkotaan yang juga suka berbicara "Cas Cis Cus".

Trivia
  • Film Ini dapat diakses dari Sinematek Indonesia
  • Film ini karya adaptasi cerpen Putu Wijaya, Cas Cis Cus









































































































































































































































































































































































































































































































































































































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar