Senin, 16 April 2012

Review Film "PLONG, NAIK DAUN (1991); Kisah satir tentang perbaikan nasib dan derajat sosial"

PLONG, NAIK DAUN (1991)
Jenis Film : Komedi

Sutradara : Putu Wijaya
Cerita / Skenario : Putu Wijaya
Penata Musik : Areng Widodo
Penata Artistik : Ernest AR
Penata Suara : S Edi Pramono
Penyunting Gambar : Maruli Ara
Penata Kamera : FES Tarigan

Pemain
Cok Simbara
Tarida Gloria
Deddy Mizwar
Rina Hassim
Amak Baldjun
Muni Cader
Ade Irawan
Nila Sari




Sinopsis

Darma (Deddy Mizwar), pemilik sejumlah perusahaan, tiba-tiba mengangkat perawat kudanya, Ucha (Cok Simbara) menjadi direktur di salah satu perusahaannya yang selama ini dikendalikan oleh kawan-kawannya dari zaman revolusi. Ucha mencoba membenahi keadaan perusahaan itu namun ia selalu dirongrong kawan-kawan Darma. Di rumah pun ia dirongrong oleh istrinya yang gembrot dan tiba-tiba berubah watak karena sadar menjadi istri direktur. Penampilan dirinya maupun rumahnya dianggapnya harus mengikuti kenaikan derajat sosialnya. Pada puncak konflik dengan semuanya itu, Ucha menghadap Darma dan menyatakan mengundurkan diri, sambil menyatakan bahwa sahabat-sahabat Darma sendiri sebenarnya yang merongrong usahanya. Darma tahu sebenarnya, tapi ia tak sanggup memecat mereka.

Prestasi
1. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Tata Kamera Terbaik (FES Tarigan)
2. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Film
3. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Sutradara (Putu Wijaya)
4. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Skenario (Putu Wijaya)
5. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Tata Artistik (Ernest AR)
6. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Pemeran Utama Pria (Cok Simbara)
7. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Pemeran Pembantu Wanita (Tarida Gloria)
8. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Penyuntingan (Maruli Ara)
9. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Tata Suara (S Edi Pramono)


Review

Kocak dan cerdas. Itulah kesan pertama saya menonton film ketiga karya sutradara Putu Wijaya ini. Film ini juga berdasarkan sebuah tulisan karya Putu Wijaya. Pendapat saya pribadi, Putu Wijaya memiliki ke khasan sendiri dalam membuat tulisannya menjadi sebuah karya film. Apalagi setiap ceritanya, memiliki perbedaan masing-masing. Film Plong ini bercerita tentang sebuah kemujuran dan kejujuran. Dua hal yang berbeda, yang dialami sang karakter utama Ucha (diperankan bagus oleh Cok Simbara). Ucha mengalami kemujuran dengan diangkatnya menjadi direktur utama pada perusahaan milik juragan kudanya, yang diperankan Deddy Mizwar.

Kemujuran ini ibarat nasib Ucha yang naik daun, dan nasib mujur ini diikuti dengan perubahan sikap sang istri yang bertubuh tambun (diperankan kocak oleh Tarida Gloria), dan perubahan-perubahan secara mendadak ini dirasakan harus dibarengi dengan meningkatnya derajat sosial mereka. Disaat puncak "naik daun" nya, Ucha memutuskan mengundurkan diri. Dan keputusan itu juga bersamaan dengan terbongkarnya akar permasalahan dari film ini.

Cerita film ini saya kira menarik dan cerdas. Film ini bukanlah film berat atau film penguras air mata. Melainkan film yang disajikan dan berbalut kisah satir, namun mengandung arti dan pesan yang mendalam. Putu Wijaya kembali memasukkan unsur sindiran dan kritik sosial. Pentingnya sebuah arti derajat sosial bagi kaum-kaum urban, dan perubahan drastis yang dialami keluarga yang mendadak naik statusnya. 

Film ini juga bisa dikatakan sebagai film black comedy. Arti film "Plong" ini juga memiliki beberapa makna menurut saya. Putu Wijaya tidak secara eksplisit dalam film ini menjelakan apa arti kata "Plong" itu. Penonton dapat mengartikan sendiri arti kata "Plong" itu. Untuk akting para pemain, saya menaruh nilai plus pada Cok Simbara. Dia yang biasa bermain film drama, bisa bermain apik dalam komedi satir ini. Tarida Gloria yang paling mencuri perhatian. Aktris bertubuh tambun ini, saya catat baru pertama main di film "berat" kelas Piala Citra, karena sebelumnya hanya sering bermain di film Warkop DKI, sebagai bahan pemancing tawa. Tarida Gloria memiliki akting yang bagus menurut saya. Dalam film ini, Tarida lah yang menjadi tokoh pencipta intrik dan konflik. Dalam film ini, Tarida Gloria juga yang menjadi daya tarik. Deddy Mizwar juga bermain bagus.

Satu poin plus lagi, adalah posternya. Sebenarnya, poster asli film ini adalah gambar dari belakang Ucha dan istrinya berangkulan sambil berjalan, dengan tangan kiri Ucha memegang tali pelana kuda. Poster tersebut memiliki kesan yang mendalam, bahwa intinya dari film ini adalah kebahagiaan dan kasih sayang diantara mereka. Sedangkan poster diatas, itu poster versi lainnya. Pose besar Tarida Gloria yang benar-benar dijadikan daya tarik film ini. 

Secara keseluruhan film ini saya nilai baik, bahkan tidak berlebihan jika saya katakan sangat baik. Putu Wijaya semakin matang dalam menyutradaria film, dari 2 film sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari 8 nominasi FFI 1992, dengan Piala Citra untuk Tata Kamera Terbaik. Film komedi satir ini saya rekomendasikan bagi yang suka dengan jenis film satir atau black comedy

Trivia
Film ini dapat diakses dari Sinematek Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar