Selasa, 24 April 2012

10 Produser Film Klasik Berpengaruh *1 Special Mention

1. DJAMALUDDIN MALIK (1971-1970)


Tokoh ini adalah salah satu pelopor lahirnya perfilman Indonesia, perintis industri perfilman Indonesia, dan dwi tunggal dengan Usmar Ismail dalam dunia perfilman Indonesia. Pak Djamal, panggilan akrab Djamaludin Malik  identik dengan perusahaan film legendari miliknya, yaitu Persari Film, yang didirikan tahun 1951. Persari Film telah melahirkan 59 judul film cerita, salahs atunya Menjusuri Djedjak Berdarah (1967). Persari pimpinannya juga telah melahirkan banyak bintang film dan sineas film berbakat. Pak Djamal juga membuat Persari Film sebagai pelopor perusahaan film tanah air dengan melahirkan film-film berkualitas, dibukrtikan dengan 2 film, Tarmina dan Lewat Djam Malam menjadi film-film pemenang FFI.  Beliau menjadi produser yang sangat berpengaruh dan disegani, Djamaludin Malik ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1973.


2. USMAR ISMAIL (1921-1971)


Dwi Tunggal Perfilman Indonesia bersama Djamaludin Malik, Usmar Ismail adalah pelopor industri perfilman Indonesia. Pendiri perusahaan film Perfini di tahun 1950, Usmar Ismail membuat film pertama Darah dan Doa (1950), dan film ini dianggap para kalangan sebagai lahirnya film nasional Indonesia. Pengambilan pertama film ini, 30 Maret, menjadi Hari Film Nasional. Film-film berikutnya, Enam Djam di Djogja (1950) dan Dosa Tak Berampun (1951) juga dianggap sebagai film yang memiliki ciri khas Indonesia.

Usmar Ismail dikenal sebagai produser dan sutradar yang emmbuat film berkualitas dan juga laku di pasaran. Film Tiga Dara (1956) yang diproduseri dan disutradarainya menjadi film yang hits dan terkenang hingga kini. Banyak bintang film dan sineas berbakat yang dilahirklan dari tangan Usmar ismail. Sebut saja, Nurnaningsih, Nya' Abbas Akup, Indriati Iskak, Mieke Wijaya, dan terakhir, Lenny Marlina. Nama nya diabadikan untuk na Pusat Perfilman Indonesia.

3. HATOEK SOEBROTO



Salah seorang produser yang melahirkan film-film berkualitas. Karirnya bermula dari menajdi seorang direktur CV. Puja Film di Surabaya, lalu di tahun 1973 menjadi direktur PT. Elang Perkasa Alam. Berkolaborasi dengan Teguh Karya, dengan lahirnya film-film seperti Cinta Pertama (1973), melahirkan aktris Christine Hakim, kemudian Kawin Lari (1975), Perkawinan Dalam Semusim (1976), dan menjadi co-produser film laris Badai Pasti Berlalu (1977) yang meraih 4 Piala Citra dan Piala Antemas untuk film terlaris. Hatoek Soebroto juga memproduseri film-film epik dan drama seperti Roro Mendut (1982), Seputih Kasih Semerah Luka (1988) hingga menjadi associate produser untuk film generasi muda, Babi Buta yang Ingin Terbang (2009)

4. HENDRICK GOZALI



Menggemari dunia sandiwara sejak dini, Hendrick Gozali yang direktur PT. Garuda Film aktif dalam produksi film dan sinetron. Disamping produser, beliau juga mencoba menjadi pembantu sutradara. Film pertamanya, Bony dan Nancy (1974) dan sampai saat ini dia telah membuat lebih kurang 40 judul film. diantaranya film-film peraih Piala Citra dan masuk kategori film bermutu, seperti Rembulan dan Matahari (1979), Usia 18 (1980), Perempuan Dalam Pasungan (1980), dan  Neraca Kasih (1982). Hendric juga aktif di organisasi PPFI.

5.  HARRIS LASMANA


Filmnya yang dikenal dan sukses, RA Kartini (1982) dan Kembang Kertas (1984), bahkan film RA Kartini, yang selain mendapatkan piala citra, juga mendapatkan penghargaan Djamaludin Malik untuk film dengan penanaman modal tanpa memperhitungakn risiko rugi pada FFI 1983.

6. TH A BUDI SUSILO



Selain menjadi produser, Th A Budi Susilo juga pernah menulis skenario. Tangan-tangan Mungil, sebuah film apik, berasal dari skenario yang ia tulis. Unggulan Piala Citra FFI 1982 untuk Skenario terbaik pun diraihnya. Film-filmnya yang ia produseri banyak yang mendapatkan Piala Citra, seperti Opera Jakarta (1985), Matahari-Matahari (1985), Johanna (1983) dan Tinggal Landas Buat Kekasih (1984) karya Sophan Sophiaan yang mendapapatkan Piala Citra untuk Marissa Haque.

7. MANU SUKMAJAYA

Salah seorang produser yang bertangan dingin. Melalui perusahaannya PT. Matari Artis Film, Manu atau Bung Sukma membuat film-film yang mengutamakan mutu dan kualitas. Terlihat dari deretan sutradara kelas Piala Citra yang pernah diajak bekerja sama, seperti Teguh Karya, Sjuman Djaya, Arifin C Noer, dan film-filmnya juga melibatkan banyak pemain-pemain handal, seperti Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Meriam Bellina, Rano Karno, Deddy Mizwar, Jenny Rachman, dan lain-lain. Lulusan American Embassy School ini termasuk produser yang berpengaruh dan disegani dalam perfilman Indonesia. Film-filmnya diantaranya Ponirah Terpidana (1983), Taksi (1990), Dibalik Kelambu (1982), dan lain-lain.

8. BUDIATI ABIYOGA




Wanita asal Madura ini, semula bukan berasal dari dunia film, melainkan dari dunia teknik dan konstruksi. Mulai menjadi produser di PT. Prasidi Teta Film, membuat film pertama dari cerita pendek karangannya, yaitu Hati yang Perawan (1984). Perusahaan Budiati dikeanl sebagai pembuat film-film yang bermutu. Film ketiganya Naga Bonar (1986) terpilih menajdi film terbaik FFI 1987. Ayahku (1987) dan Noesa Penida (1989) juga meraih Piala Citra. Kemudian disusul Cas Cis Cus (1990), Cinta Dalam Sepotong Roti (1991) dan Plong (1991) semuanya mendominasi Festival Film Indonesia. Selain produser, beliau juga banyak menulis skenario untuk sinetron, anggota BP2N, dan mendapatkan Hadiah Djamaludin Malik pada tahun 1997.

Meski hampir sebagian besar produksinya mendapat penghargaan, tapi hampir seluruhnya kurang sukses secara komersial. Budiati tidak pernah gentar melihat kenyataan tersebut, ia tetap konsisten dengan prinsipnya untuk terus membuat film berkualitas. Beliau juga dikenal sebagai produser yang rajin, dalam mengemukakan pikirannya bagi perkembangan perfilman Indonesia.

9. BUSTAL NAWAWI



Pria berdarah Minang ini memiliki pengalaman yang banyak di dunia perfilman. Berawal dari pimpinan produksi, dan menjadi produser di tahun 1975, dengan memimpim PT. Sinta Lesmana Film, yang fokus pada film-film non cerita. Beliau juga pernah menjadi pimpinan di PT. Prasidi Teta Film. Film-filmnya kebanyakan juga meraih banyak penghargaan di Festival Film Indonesia, seperti Naga Bonar (1987), Ayahku (1987), dan Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985). Di era perfliman saat ini, beliau masih tetap aktif sebagai eksekutif produser di sejumlah film nasional, seperti Perempuan Berkalung Sorban (2009), dan Get Married 2 (2009).


10.  RAM SORAYA



Pria berdarah India ini, produser dan pemimpin PT. Soraya Intercine Film yang dikenal membuat film-film laris, seperti film-film Warkop DKI, kemudian film-film horor dengan aktris Suzanna, dan pernah juga membuat film peraih Piala Citra, Budak Nafsu (Fatima) di tahun 1983. Puncak karir Ram Soraya sebagai produser ia dapatkan usai mengambil alih produksi film Warkop DKI dari tangan PT. Parkit Film. Ia termasuk produser film yang berpengaruh, terutama di era 80-an, dengan film-filmnya yang mendapatkan Piala Antemas pada ajang FFI, untuk film yang meraup penonton terbanyak.


11. NJOO HAN SIANG (1930-1985)



Seorang perintis perbankan nasional dan perfilman Indonesia. Njoo Han Siang dikenal sebagai produser dengan multi talenta, wartawan, pengusaha, pendidik, tokoh pembaruan etnis tionghoa, pecinta seni dan budaya Indonesia dan juga produser film handal.
Film-filmnya yang dikenal dan dikenang, dan juga tentunya meraih Piala Citra, adalah Chicha (1976), film epik peraih Piala Citra, November 1828 (1978),  film Rembulan dan Matahari (1979), Usia 18 (1980), dan Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa (1979).  Njoo Han Siang wafat tahun 1985, dan atas jasa-jasanya dibidang sinematografi, p[da tahun 2004, Njoo Han Siang dianugerahi "Satya Lencana Wirakrya oleh Pemerintah RI. Selain itu, Pemerintah dan BP2N menganugerahkan Piala Khusus "Njoo Han Siang" kepada produser yang paling banyak memanfaatkan jasa teknik perfilman dalam negeri. Ini dimaksudkan untuk mengnang dan menghargai perjuangan Njoo serta untuk melanjutkan dan memotivasi semangat kemandirian membebaskan perfilman Indonesia dari ketergantungan luar negeri.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar