Jumat, 18 Mei 2012

Review Film TERANG BULAN DI TENGAH HARI (1988); Film drama lacak yang lengkap dan berbeda

TERANG BULAN DI TENGAH HARI (1988)
Jenis Film : Drama



Sutradara : Chaerul Umam
Skenario : Sjuman Djaya dan Chaerul Umam
Penata Musik : Dodo Zakaria
Penata Artistik : Berty L. Ibrahim
Penyunting Gambar : Effendi Doytha
Penata Suara : Hartanto dan Kemal Redha
Penata Kamera : Tantra Surjadi

Pemain

Zoraya Perucha
Sys NS
Slamet Rahardjo Djarot
Cok Simbara
Bob Sadino
Yati Surachman
Rita Zahara
Nindy Ellese
Koesno Soedjarwadi
Shakti Harimurti

Sinopsis

Maksud utamanya film ini adalah untuk menunjukkan ketegaran sang tokoh utama, Sora (Zoraya Perucha), yang punya suami bajingan, Sony (Sys NS) hingga harus banting tulang untuk menghidupi keluarga: mengajar renang dan jadi peragawati. Ketika Sony sudah mendapat pekerjaan berkat kenalan ayah Sora di zaman revolusi, Sora menghentikan semua kegiatannya dan bertekad jadi ibu rumah tangga. Keputusan ini membuat agennya, Hadi (Cok Simbara), sahabat Sony, marah karena merasa rugi, maka dibuatlah jebakan. Sony masuk perangkap. Ia berkhianat pada perusahaannya dan masuk dalam perangkap seorang tante girang. Maka Sora bercerai. Tapi, masalah terus menghantuinya: pembagian harta, soal anak. Karena kepepet, Sora kembali ke dunia peragawati, seperti yang sudah direncanakan oleh Hadi. Lalu muncul soal narkotik. Di sini sebenarnya berperan tokoh lain: sindikat narkotik, yang kepalanya, Halim (Bob Sadino), menaksir Sora tapi tak berhasil. Berkat pembelaan seorang pengacara muda idealis, Singgih (Slamet Rahardjo) dan seorang sahabat yang setia, Devina (Nindy Ellesse), Sora bisa selamat. Ada kilasan sisi buruk tentang dunia peragawati dan dunia pengacara.

Prestasi

Nominasi Piala Citra FFI 1988, untuk Tata Kamera (Tantra Surjadi)

Review

Diawali dengan peragaan busana, "Terang Bulan di Tengah Hari" sepertinya tidak akan memberikan sesuatu yang lain kepada penonton. Dan anggapan tersebut, setelah beberapa adegan berlalu, ternyata keliru. Apalagi bila dikatakan dengan judulnya yang puitis itu, kita pasti menduga ini film melodrama seperti kebanyakan film lainnya. Tidak, dugaan itu tidak sepenuhnya benar. Walau memang melodrama, film ini juga berbau kriminal, malah detektif (film lacak). Dalam film ini ada cinta, problem rumah tangga, juga kejahatan (tanpa kekerasan). Terus terang, ini salah satu film yang lengkap dari segi cerita dan menarik untuk dibicarakan. Ya, menarik untuk dibicarakan karena film ini merupakan film lacak yang tidak sama dengan film sejenis yang ada. Betapa tidak, biasanya, film sejeis itu selalu dibumbui dengan kekerasan (perkelahian, tabrakan mobil, tembak-menembak, dan lain-lain). Sedangkan film ini sama sekali tidak memperlihatkan semua itu. Sungguh tidak ada kekerasan, namun kejahatan itu ada.

Banyak yang ingin disampaikan dalam film ini, namun semua terpusat pada dua unsur kehidupan yang selalu menjadi satu. Misalnya tentang siang dan malam, pria dan wanita, orangtua dan anak, dan lain sebagainya. Film ini bicara soal 'salah dan benar' atau lebih tepat bicara soal 'baik dan jahat'. meskipun begitu, film ini tidak terjerat dalam vulgarisme, karena hal tersebut diungkapkan secara wajar. Misalnya tentang dua orang pengacara yang dalam segala hal berbeda. Yuwono, SH., yang tampak bijak, ramah, dan penuh perhatian, ternyata tidak lebih dari seorang yang licik, yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Ini terungkap pada adegan pembelaannya pada Sora; Yuwono mengubungi pengacara Soni, lalu keduanya sepakat membagi keuntungan dengan syarat harus mengalahkan Sora dalam kasus tersebut. Sebagai tandingannya, muncul pengacara kedua, Singgih. Meski sikapnya tidak ramah, malah kadang mendongkolkan calon klien (Sora), toh dia seorang pengacara yang idealis. Dengan segala daya dia berjuang untuk kemenangan Sora, karena dia melihat persoalannya secara jernih, dan Sora memang tidak bersalah.

Lewat film ini, meski tidak bisa dikatakan benar sepenuhnya, tampaklah wajar hukum kita yang benjol-benjol itu. Ini terekam jelas pada adegan di pengadilan; Hakim yang selalu memenggal ucapan pembela dengan dialog klise "Keputusan ada di tangan Hakim!", pembela yang kehilangan sebagian haknya sebagai perangkat keadilan, dan penuntut umum yang bertidak berlebihan dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan banyak lagi. Bagaimana mungkin keadilan bisa terwujud bila diantara abdi hukum sudah terjalin kesepakatan untuk mencari keuntungan pribadi? Saya tidak berani memastikan apakah memang dunia hukum kita sudah separah itu. Tetapi, setidaknya, melalui film ini hal itu bisa terlihat.

Yang mengherankan, adalah kematian Surendradiningrat, ayah Sora. Sebagai seorang perwira tinggi (Jenderal TNI Purnawirawan), amatlah tidak relevann kalau meninggal hanya karena persoalan sepele. Setelah menerima telepon dari Dadud, sahabatnya, bahwa Soni mencelakakan poerusahaan Dadud, Surendradiningrat shock, kemudian terjatuh dari kursi dan meninggal. Ini terasa janggal. Kalau saja Surendradiningrat bukan purnawirawan jenderal, kematiannya yang tiba-tiba itu masih bisa diterima akal sehat. Tetapi dia kebetulan seorang jenderal yang secara fisik maupun mental sudah teruji ketangguhannya, bgaimana mungkin meninggal hanya karena kaget atas tinglah laku menantunya? Yang janggal dengan yang mendekati realita dalam film ini berbanding sama. karena film ini bicara soal 'baik dan jahat', maka hal tersebut di atas terasa pas. janggal dan wajar adalah dua kata yang berlawanan namun menyatu dalam penyebutan, sama seperti 'siang dan malam' atau ' baik atau jahat '. Maka tidak perlu dipermasalahkan lebih jauh lagi.

Cerita yang mengalir mulus, maksud saya tanpa adanya kerumitan walau ini bisa digolongkan sebagai film lacak, terasa mencuat ke permukaan dalam olahan Chaerul Umam. Umam bukanlah seorang yang jlimet. Penafsirannya atas naskah diarahkannya pada kesederhanaan. Namun yang lebih menonjol, Umam lebih cenderung memperhatikan tokoh-tokoh pada naskah yang akan digarapnya. Berangkat dari dunia teater, tidaklah salah jika kemudian Umam menentukan sikap kesenimanannya dalam hal penyutradaraan film. Bukan hanya dalam film ini hal itu terlihat, melainkan pada film-filmnya sebelumnya. Maka sukses filmnya tidak sepenuhnya bergantung pada dirinya, melainkan keterlibatan pemain secara total. Itu bisa terlihat pada filmnya "Titian Serambut Dibelah Tujuh" atau "Kejarlah Daku Kau Kutangkap".

Lalu bagaimana dengan Terang Bulan di Tengah Hari? Rasanya Umam tidak begitu berhasil dan itu bukanlah kesalahannya. Permainan para pendukung film ini tidak seluruhnya prima. Memang ada yang bermain jempol, seperti Slamet Raharadjo Djarot. Slamet tahu persis tuntutan tokoh yang diperankannya, dan dia bisa masuk ke dalam tokoh itu. Ada juga yang bermain lumayan seperti Cok Simbara. Selebihnya, bermain apa adanya. Yang perlu mendapatkan pujian adalah Bob Sadino. Sebagai pendatang baru, pengusaha eksentrik ini bermain cukup bagus. Walau sering kikuk, karena masih dalam tahap belajar, ia sudah memperlihatkan bakat aktingnya. Tidak salah Chaerul Umam memilih Bob sebagai Halim. Karena terpaku pada kekuatan akting pemainnya, maka pada bagian lain tampak sederhana. Sebagai contoh bisa terlihat pada adegan di ruang pengadilan. Tampak sekali kelemahan Umam dalam menggarap bagian terpenting dalam cerita film itu. Adegan tersebut tampak monoton, tanpa tekanan. Zoraya Perucha, seperti pada film-film sebelumnya, tampil kurang mencapai greget. Pendalamannya pada karakter tokoh yang diperankannya belum masuk seutuhnya. Lain dengan Cok Simbara, dalam film ini ia mulai memperlihatkan kemampuannya yang sebenarnya. Sebenarnya Cok Simbara berkesempatan untuk memperoleh nominasi Citra, sama seperti Slamet Rahardjo.

Gambar bisu juga muncul pada adegan rumah sakit, Sora yang panik karena Gambir mengalami kecelakaan, sama sekali tidak terungkap. Dan Soni juga tidak menampakkan rasa bersalah. Adegan itu berlalu tanpa kesan. malah, kalau boleh dikatakan, sekenanya dan sama sekali tidak berbicara. Atau saat Sora memergoki Soni berkencan dengan wanita lain, Sora sama sekali tidak melakukan aksi. Masih ada beberapa adegan lain yang kehilangan nafas, padahal naskahnya tidak bisa digolongkan jelek, malah memberikan banyak tantangan. Cukup disayangkan.

Meski hanya sedikit dari sekian banyak pemain pendukung film ini bermain bagus, secara keseluruhan tidaklah mempengaruhi kehadiran film ini. Begitu pula dengan penataan artistik ataupun penataan kamera, tidak mengecewakan. Terlebih penataan musik dari almarhum Dodo Zakaria, cukup solid dengan jalannya setiap adegan. Pada hasil FFI 1988, film ini hanya lolos untuk satu kategori, yaitu tata kamera.

Secara keseluruhan film ini tergarap dengan cukup baik, namun tidak ada sesuatu yang istimewa. Ceritanya tetap berkutat pada masalah drama rumah tangga, hanya dilengkap bumbu-bumbu kriminal. Inilah, Terang Bulan di Tengah Hari dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Film ini tetap saya masukkan ke dalam daftar film yang layak dan direkomendasikan untuk ditonton.

Trivia

Film ini dapat diakses dari Sinematek Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar