Rabu, 30 Mei 2012

Review Film "KASMARAN (1987)"; Antara Keperawanan, Kebenaran Nurani dan Cinta

KASMARAN 
(Slamet Rahardjo Djarot, 1987)


Genre : Drama

Sutradara : Slamet Rahardjo Djarot
Skenario : Slamet Rahardjo Djarot
Cerita : S. Mara GD
Penata Musik : Billy J Budiardjo
Penata Kamera : M. Soleh Ruslani
Penata Artistik : Satari SK
Penata Gambar : Karsono Hadi
Penata Suara : Zakaria Rasyid

Pemeran

Ida Iasha
Dwi Yan
Ira Wibowo
August Melasz
Sylvia Widiantono
Rachmat Hidayat
Rossy S Drajat
Nani Somanegara
Afrizal Anoda
Eka Gandara
Tatty Rodiah
Robert Syarif
Anton Samiat

Sinopsis

Separuh dari film ini mengisahkan keretakan hubungan suami istri Ayu dan Sutra. Sutra sangat dihantui ketidakperawanan Ayu, bahkan sampai usia lima tahun perkawinan mereka, meski Ayu sudah berterus terang apa adanya. Akibatnya Sutra sukar berhubungan seks dengan istrinya. Kebetulan diketahui pula Ayu berjumpa dengan teman lamanya, Manaseh. Sutra semakin curiga dan dibakar api cemburu, ditambah dnegan suasana kejiwaannya yang makin labil. Ia sendiri juga punya hubungan dengan Rhoda Darsono (Ira Wibowo), yang sangat posesif sifat cintanya, hingga sudah sampai pada tingkat meresahkan Sutra, yang hanya ingin bersenang-senang saja. Sayang, film ini bukan film psikologis, tapi film kriminal. Pada puncak keadaan Ayu tak tahan lagi, justru Sutra sadar akan kesalahannya. Pada saat itulah Sutra terbunuh. Maka selanjutnya film menjadi ajang penyelidikan siapa pembunuhnya lewat sebuah interogasi panjang oleh polisi, baik secara sendiri-sendiri, ataupun mengkonfrontir semua saksi. Ternyata, pembunuhnya orang yang tak disangka-sangka.


Prestasi
1. Unggulan Sutradara, Piala Citra FFI 1988 (Slamet Rahardjo Djarot)
2. Unggulan Skenario, Piala Citra FFI 1988 (Slamet Rahardjo Djarot)
3. Unggulan Tata Suara, Piala Citra FFI 1988 (Zakaria Rasyid)
4. Unggulan Penyuntingan, Piala Citra FFI 1988 (Karsono Hadi)
5. Unggulan Pemeran Pembantu Wanita, Piala Citra FFI 1988 (Ira Wibowo)
6. Piala S. Toetoer, Poster Terbaik FFI 1988
7. Film Terpuji Festival Film Bandung 1988
8. Sutradara Terpuji Festival Film Bandung 1988 (Slamet Rahardjo Djarot)
9. Penyuntingan Terpuji Festival Film Bandung 1988 (Karsono Hadi)
10. Aktris Terpuji Festival Film Bandung 1988 (Ira Wibowo)


Review
Diadaptasi dari novel karangan S. Mara GD, berjudul "Misteri Sutra yang Robek", Slamet mengeksekusinya  dengan menampilkan ketegangan-ketegangan psikis, hal ini terlihat dari pelaku-pelakunya dari tiap adegan. Dialog-dialog yang sarat akan beban mental dan ekspresi yang muram, adalah upaya Slamet untuk menghadirkan konflik beban psikologis yang dialami tokoh-tokohnya. Cerita tentang film Kasmaran, bukanlah problem baru dalam masyarakat kita, apalagi masyarakat di dunia barat. Keperawanan bukan soal penting lagi untuk sebuah perkawinan dalam zaman yang semakin modern sekarang ini, memang merupakan pola pikir yang sudah menggejala dimana-mana. 

Slamet Rahardjo Djarot mencoba menggugat sikap sebagian masyarakat yang sering terjebak pada tradisi pendapat umum, yang melihat keperawanan hal yang sangat krusial bagi seorang pria ketika memasuki mahligai rumah tangga. Sutra (dipernakan Dwi Yan), adalah contoh seorang yang menjadi korban dari tradisi pendapat umum tersebut. Sutra mengikuti saja tradisi pikiran masyarakat (diwakili kakak dan ibunya) tanpa berusaha merevisi. Padahal dia seorang terpelajar, yaitu seorang insinyur. Intelektualitas seseorang tidak dapat menjamin seseorang menajdi pribadi yang bijaksana, arif dan dewasa dalam berpikir dan bertindak.

Lain dengan karya-karya Slamet sebelemunya, seperti Kembang Kertas, Kodrat atau Ponirah Terpidana, penggarapan Kasmaran tidak serumit itu. Lewat Kasmaran, Slamet mencoba mengajak penonton untuk merenungkan kembali kebiasaan dan tabiat kita yang selalu bertindak dan bersikap berdasarkan sebuah tradisi, tanpa mau memikirkan kembali baik atau buruknya tradisi tersebut. Karakter Sutra, oleh Slamet, dijadikan korban dari tradisi itu. Tradisi pikiran yang meletakkan perkawinan sebagai ikatan lahir batin seorang wanita dan seorang pria yang tak cukup hanya dilandasi oleh cinta belaka, tapi juga harus dengan sebuah keperawanan wanita tersebut. Kasmaran tampaknya memang hadir untuk menggugat. Dan dalam usaha untuk menggugat itu, Slamet dengan kehalusan bahasanya, melemparkan pula banyak persoalan lain yang melingkar-lingkar di seputar tokoh-tokohnya. Antara cinta, keperawanan, keraguan, harga diri, kebenaran nurani dan ketidakb erdayaan, semua numplek dalam diri karakter-karakter di film ini sehingga Kasmaran hadir sebagai bentuk ekspresi yang bisa dikatakan kompleks. Tak hanya trauma keperawanan yang menghantui pikiran Sutra yang ditampilkan Slamet, tapi juga ketidak berdayaan sebagai seorang laki-laki dalam menghadapi kenyataan hidupnya ditampilkan dengan penuh intensitas. Tokoh-tokoh dalam dalam film ini tak berhasil menampilkan intensitas tersebut lewat aktingnya, kecuali Rhoda (Ira Wibowo), karakter lainnya seperti Ayu (Ida Iasha), Sutra (Dwi Yan), Manaseh (August Melasz), Sylvia Widiantono (tetangga), dan yang lain, hadir melulu sebagai pelaku dari realitas cerita. Pelaku dari keumuman pikiran masyarakat tadi. Tidak ada pemberontakan emosional, apalagi pikiran, dari tokoh-tokoh Slamet tersebut.

Slamet, agaknya memang tidak ingin atau tidak sampai pada keinginan untuk mencoba merubah cara pikir masyarakatnya lewat film ini. Cara pikir yang membuat seorang suami mudah sekali memukul istrinya, merendahkan istrinya. Atau sebaliknya, mencoba merubah cara pikir kebanayakan kaum wanita yang hanya dengan alasan cinta, menyerahkan kegadisannya kepada seorang atau berubah menjadi pembunuh hanya karena tersinggung harga dirinya. 

Kasmaran oleh Slamet diartikan sebagai sebuah rasa cinta yang amat besar sehingga membuat seseorang begitu penasaran. Dan Kasmaran (mabuk cinta), inilah yang telah membelit Rhoda (Ira Wibowo) pada kenekatan menyerahkan keperawanannya pada pria yang ia cintai, padahal pria itu sudah beristri. Kasmaran itu pula yang membuat Ayu (Ida Iasha) juga rela menyerahkan keperawanannya pada pacar pertamanya sehingga Sutra, suaminya, menjadi begitu kecewa ketika tidak memperoleh keperawanan itu pada malam pertama. Kasmaran memang bercerita tentang soal yang melingkar-lingkar di seputar keperawanan itu. Yang bercerita tentang seorang wanita bernama Ayu yang lembut, pendiam dan sangat dicintai Sutra. Rasa kasmaran membuat Sutra ngotot melamar Ayu meskipun wanita itu sudah menolaknya. Tapi rasa kasmaran Sutra telah mengalahkan segala alasan yang diberikan Ayu sehingga wanita itu pasrah dan menerima Sutra jadi suaminya. Namun kebahagiaan Sutra memperoleh Ayu mendadak sirna ketika ia menerima kenyataan bahwa Ayu sudah tidak perawan lagi. 

Alasan yang diberikan Ayu tentang soal ini, tak bisa begitu saja diterima Sutra. Meskipun ia seorang sarjana dan hidup di abad yang modern, tapi kenyataan tersebut tak bisa ia terima dengan nalar kesarjanaan yang ia miliki. Sutra ragu, dia tak mampu mengambil keputusan dan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Rasa cintanya pada Ayu, di satu pihak, memang membuatnya bisa menerima ayu sebagaimana adanya. Tapi jalan pikiran yang sudah dibentuk oleh keluarganya, di pihak lain, seperti ujarnya pada Ayu, telah mnyeretnya pada bayangan-bayangan buruk yang sering membuatnya tak mampu menikmati saat-saat mesra mereka. Bayang-bayang lelaki yang pernah dicintai Ayu, sering mengganggu pikirannya setiap mereka naik ke ranjang. Dan itu, bagi Slamet, sudah cukup bagi alasan untuk membuat rumah tangga mereka tidak harmonis lagi. Perkawinan itu memang berjalan sumbang, ucapan-ucapan Ayu bahwa ia dulu bersedia menerima Sutra juga karena cinta, ternayat tak berhasil membuat Sutra yakin. Malah, setiap kali terjadi dialog, pembicaraan selalu saja lari ke persoalan masa lalu Ayu. Ke soal hilangnya keperawanan Ayu. Pertengkarannya menjadi semakin seru, dan puncaknya adalah ketika Sutra menjalin hubungan intim dengan Rhoda, seorang wanita belia yang tergila-gila padanya sehingga ia kemudia hamil dan meinta Sutra menceraikan Ayu. Tapi Sutra yang mencintai Ayu, tak dapat memenuhi permintaan Rhoda tersebut. Ayu sendiri, karena tak tahan menerima perlakuan Sutra, mengadukan hal itu pada Manaseh (August Melasz), teman SMA nya dulu. Suatu hari, Sutra melihat Ayu pulang diantar Manaseh. Dia langsung terbakar api cemburu. Keperawanan telah diperolehnya dari Rhoda, Tapi cintanya pada Ayu, ternayat tak segera terhapuskan. Dalam kebingungannya untuk bertindak antara memilih Rodha karena ia sudah menghamilinya atau memilih Ayu karena ia masih mencintainya. Konflik batin Sutra semakin jelas bentuknya. Di saat seperti itu pula, Ayu menerima telepon dari Rhoda yang menceritakan hubungannya dengan Sutra. Ayu terpukul hingga nekat pulang ke rumah kedua orangtuanya meskipun Sutra menghalanginya. Tapi Ayu tak mampu ditawar lagi. Ia minta Sutra menceraikannya sebab tak mau lebih lama menderita karena sikap Sutra yang penuh pura-pura, kekanak-kanakan dan tidak dewasa, dan itu membuat Sutra beringas sehingga menuduh Ayu yang bukan-bukan. Apalagi ia secara kebetulan menemukan kartu nama Manaseh dan selalu melihat lelaki itu mengantar Ayu pulang.

Pertengakaran, tak pelak, kembali terjadi. Saat itulah, Rodha yang kebetulan datang ke rumah Sutra menjadi sangat terpukul karena mendengar kata-kata Sutra yang menyudutkannya. Begitu Ayu pergi, muncul lah Rodha yang dengan histeris, menuntut tanggung jawab Sutra. Mereka kemudian bertengkar sampai Sutra meludahi wajah Rodha, dan dengan gunting yang sudah ia persiapkan, ia menikam Sutra hingga tewas. Pembunuhan itu telah menyeret pihak kepolisian, dan dalam penyelidikan polisi, terbuktilah yang membunuh Sutra adalah Rodha meskipun polisi sempat menahan Ayu sebagai tertuduh. Adegan ini, oleh Slamet, ditampilkan dengan sistem kilas balik yang mengalir cukup manis. Slamet mengakhiri filmnya ini dengan klimaks yang manis. Sebuah klimaks yang sekaligus menajdi anti klimaks. Sebuah pertanyaan yang sekaligus memberikan jawaban. Bahwa sesungguhnya pada manusia itu sendirilah terpulangs egala persoalan. Dan, kalaupun kemudiana da manusia-manusia lain yang ikut terlibat dalam persoalan itu, mereka hanyalah sarana. Sekedar pelaksanaan dari keinginan setiap orang, wakil dari sebuah kenyataan lain. Melalui film ini, Slamet memang mencoba menyimpulkan pendapat seperti itu. kehadiran polisi pada adegan-adegan akhir film ini, adalah gambaran yang jelas tentang hal itu. Polisi di mata Slamet, adalah wakil dari hati nurani, dari kebenaran, dan hati nurani setiap orang, adalah kebenaran itu sendiri.

Sebagai cerita, Kasmaran memang baik sekalipun baik disini terbatas karena intensitas konflik yang disuguhkannya. Dan sebagai karya sinematograf, Kasmaran memang tidak lebih baik dari karya-karya Slamet terdahulu, tapi juga tidak lebih buruk dari karyanya yang lain. Dalam hal akting, misalnya, satu-satunya pemain yang patut kita pujikan di sini hanyalah Ira Wibowo yang tampil begitu total dengan kemampuan membagi kadar emosionalnya dari setiap adegan. Ira hadir sebagai pemain yang mampu menghidupkan film ini pada klimaksnya. Sebenarnya, Ira Wibowo menjadi kandidat kuat penerima Citra FFI 1988 untuk pemeran pembantu wanita, tapi jangan lupa, di jajaran nominee, ada Ria Irawan yang tampil tak hebat di film Selamat Tinggal Jeanette.

Dalam hal penyutradaraan, Slamet dalam Kasmaran tidak jauh berbeda dengan karyanya terdahulu. Kasmaran amsih memperlihatkan sosok Slamet sebagai sutradara yang rumit. Cir khas Slamet memang selalu menggunakan idiom-idiom bahasa gambarnya sebagai cerita sekaligus perlambang, simbol-simbol. Adegan komidi putar yang berjalan lambat kemudian cepat, atau dua gelas yang beradu di atas meja lalu terguling jatuh, dan pecah berantakan di lantai, atau potret matahari yang memerahkan langit, adalah beberapa simbol Slmaet untuk mengatakan sesuatu agar tidak menjadi vulgar. Slamet sebagai sutradara memang memiliki bahasa pengucapan gambar yang kuat meskipun ia belum memiliki gagasan-gagasan pikiran yang cemerlang ketika mengutarakan pokok-pokok pikirannya. Untuk unsur teknis lain, sinematografi film ini tidak bisa dikatakan buruk, tata kamera oleh M. Soleh Ruslani berhasil menangkap nuansa-nuansa emosional yang dikehendaki Slamet Rahardjo. Penyuntingan gambar oleh Karsono Hadi juga cukup baik untuk tak membuat film ini kehilangan benang merahnya, sehingga Kasmaran tampil dnegan gaya bertutur yang lancar. Walaupun, bagi penonton awam, akan sulit untuk dapat dengan segera menafsirkan simbol-simbol yang dihadirkan Slamet.

Kelemahan dalam film ini, selain akting kedua pemeran utama, bisa jadi terletak pada tata musik yang digarap Alm. Billy J. Budiardjo. Terasa sekali musik tidak berhasil mendukung cerita dan sama sekali tidak mampu membangun suasana emosional penonton. Musik yang hadir hanya bunyi-bunyian yang mengiring adegan, tapi tidak kuasa membangkitkan adegan untuk sampai pada klimaks-klimaks emosionalnya. Akibatnya, Kasmaran yang memang muram, berjalan dengan dingin. 

Tapi secara keseluruhan, kita pantas bangga dengan Slamet Rahardjo Djarot. Slamet adalah salahs atu sutradara terbaik yang dimiliki negeri ini, dan Slamet di setiap filmnya tetap menunjukkan sosoknya yang utuh sebagai sutradara handal Indonesia. Kasmaran adalah sebuah karya yang unik, dimana film ini adalah bentuk kompromi Slamet Rahardjo Djarot dengan pasar, meskipun kualitas karya Slamet Rahardjo Djarot tetap menjadi hal utama.

Trivia

Film ini dapat diakses dari Sinematek Indonesia


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar