Selasa, 01 Mei 2012

Film Indonesia yang mengangkat tema Buruh (Bagian 1)

Memperingati Hari Buruh sedunia pada tanggal 1 Mei, inilah beberapa film Indonesia (bagian 1) yang mengangkat tema kehidupan buruh / kaum pekerja dengan berbagai problematika yang ada.


1. Buruh Bengkel (Awaludin, 1956)


Cerita tentang kehidupan seorang buruh bengkel, Salam dan istrinya. Nasib susah dan kemisikinan yang mendera mereka tidak menggoyahkan iman Salam, ketika suatu kali menemukan peti uang. Ditulis Asrul Sani, diperankan Darussalam dan Ermina Zaenah. Mengajarkan akan nilai kejujuran dan pantang menyerah.

2. Buruh Pelabuhan (Awaludin, 1965)

Berkisah tentang kehidupan kaum buruh di pelabuhan. Diperankan aktor watak Ratno Timoer.

3. Inem Pelayan Seksi (Nya' Abbas Akup, 1976)


Salah satu karya Nya' Abbas Akup yang paling berkesan. Film yang bukan menjual sensualitas, melainkan kritik dan sindiran sosial, terutama terhadap budaya patriarki. Inem, seorang pekerja rumah tangga yang memperjuangkan kaumnya, para pekerja dan kaum miskin, dan melalui Inem lah, para lelaki dapat tunduk padanya. Merupakan film laris dan masuk ke dalam 25 film Indonesia terbaik sepanjang masa.

4. Direktris Muda (Kusno Soedjarwadi, 1977)



Ully Artha memerankan Merry, sosok direktris muda dalam sebuah perusahaan. Problematika pribadi Merry dan usaha yang dijalankan ternyata tidak sejalan dengan visi dan misi perusahaan. Konflik memuncak dengan mogoknya buruh dan demonstrasi. Akting Ully Artha mendapatkan unggulan pemeran utama wanita pada FFI 1978.

5. Inem Nyonya Besar (Mochtar Soemodimedjo, 1977)



Lanjutan dari Inem Pelayan Seksi yang sukses besar. Nasib Inem sudah berubah, kini ia menjadi nyonya besar yang dermawan. Dia menyumbang untuk rumah sakit jiwa, dan mengangkat harkat dan martabat para pekerja rumah tangga dengan berbagai kegiatan dan memberi hadiah. 

6. Marsinah; Cry Justice (Slamet Rahardjo Djarot, 2001)




Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata tentang seorang buruh dan aktivis bernama Marsinah. Marsinah ditemukan tewas setelah hilang diculik dan melaukan aksi unjuk rasa buruh dengan pihak manajemen pabrik yang melibatkan polisi dan militer Indonesia. Sampai kini, misteri kematian Marsinah belum terungkap. Skenario ditulis Agung Bawantara, Eros Djarot, Karsono Hadi, dan Slamet Rahardjo Djarot. Meraih 7 nominasi FFI 2004, dan mendapatkan Piala Citra untuk Tata Artistik Terbaik. Slamet Rahardjo Djarot membuat film ini seperti film dokumenter, dan menggunakan para ensemble cast yang berasal dari mahasiswa IKJ. Salah satu film kisah nyata terbaik.

7. Minggu Pagi di Victoria Park (Lola Amaria, 2010)

 

Mengangkat tema permasalahan Tenaga Kerja Wanita (TKW), Minggu Pagi di Victoria Park merupakan film yang berhasil dalam mengeksekusi tema film tersebut. Lola Amaria terbilang berani dalam mengangkat tema buruh migran itu ke layar lebar, karena masih jarang tema-tema seperti ini diangkat, dan film ini dapat dikatakan penting, karena dapat membuka pandangan kita tentang kehidupan lain yang dihadapi para pahlawan devisa kita. Film ini secara tidak langsung mengkampanyekan kepada masyarakat, menjadi TKW tidak selamanya mengerikan. Namun juga menyenangkan. Film ini juga memberi pandangan tentang potensi dan problematika yang harus dipahami oleh khalayak luas. Mendapatkan Piala Citra FFI 2010 untuk Penyuntingan Terbaik dan meraih 7 nominasi FFI 2010.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar