Rabu, 23 Mei 2012

QUOTE SUTRADARA FILM KLASIK

 1. SJUMAN DJAYA (1933-1985)

" Setelah membikin Si Mamad yang berkisah tentang kesulitan ekonomis seorang anak manusia, saya tentu ingin lebih maju. Dengan memilih Atheis, saya berkehendak mengisahkan kegoncangan jiwa manusia yang setiap saat bisa kita alami." ( Saat hendak membuat film Atheis (1974) ).

 " Kesewenang-wenangan terhadap kreatifitas harus dihentikan. "

Sjuman Djaya adalah orang yang bosan dengan idiom film-film Indonesia yang memfosil. Dimatanya film kita sudah sebuah bahasa yang baku, sehingga siapa pun akhirnya gampang bikin film. Adegan cinta mesti begini, adegan sedih harus begitu, penjahat tampak begini, adegan sedih harus begitu, orang baik tampak begitu, Sjuman mau lain. Dan dia berjuang untuk itu.


2. TEGUH KARYA (1937-2001)


"Kita harus berontak pada produser. Jangan beri kesempatan, pada mereka untuk mendikte kita".-- Teguh Karya, dalam ceramah di TIM 29 Maret 1975.  

"Kelahiran seseorang tidak harus membawa dosa keturunan".-- Teguh Karya 

“Kelangsungan hidup media film akan berhenti jika andalannya hanya ada kemahiran teknis dan kesempurnaan artistik dari tema yang itu ke itu saja. Keadaannya akan kering dan dijauhi masyarakat jika tidak diciptakan tema-tema baru yang kekayaannya tidak terbatas. Atas alasan ini “November 1828” buat saya merupakan suatu keharusan“
"Jangan Terpancing Bikin Film Yang Spekulatif" - Teguh Karya.
Teguh Karya memang tidak pernah berhenti pada suatu sukses, baik sukses komersil maupun sukses film sebagai sebuah karya seni.
 3. WIM UMBOH (1933-1996)


“FILMLAH satu-satunya yang membuat saya merasa hidup”.- Wim Umboh
SUMBER : KOMPAS, 25 Januari 1996

 
4. ARIFIN C NOER (1941-1995)



Dalam naskah-naskah yang ditulisnya, banyak beberapa quote atau dialog yang menarik, berkesan dan juga terkenang hingga kini, seperti 
  • "Senyum itu Ibadah" - dalam film TAKSI (1990).
  • "Darah itu Merah, Jenderal !" - dalam film Pengkhianatan G30S/PKI (1982), dialog ini adalah rekaan/ciptaan Arifin C Noer yang terilhami dari lagu PKI, "Darah Rakyat Masih Berjalan...."
  • "Aku tahu mengapa masa kita ini adalah mimpi, tetapi biarlah, bagi ku mimpi itu indah seperti bulan" - dalam film Biarkan Bulan Itu (1986) 

Arifin C Noer selalu menyediakan 'ruang' dan membiarkan orang menginterpretasikan sendiri. Dia tidak keberatan jika orang tidak 'mengerti' atau tidak bisa menerima karyanya. Sebagai contoh, baginya, sandiwaranya kalau sudah di tangan sutradara, terserah orang itu mau dia mengerti bagaimana dan mau diapakan.

Arifin C Noer selalu berprinsip bahwa dalam film, "Peran yang mencari aktor". Dalam setiap naskahnya, ia tidak pernah 'membuat' peran buat seseorang. 

Arifin C Noer yang mengenalkan istilah "Magma Perfilman", dan istilah itu dijulukkan kepada aktris Meriam Bellina, sampai saat ini.

 5. ASRUL SANI (1927-2004)


Petikan kutipan Asrul Sani dalam sebuah wawancara: 

"Kebudayaan lahir seperti air yang mengalir. Kita boleh saja mengatakan menjunjung nasionalisme dengan menetapkan suatu pakaian yang "asli" Indonesia. Bukan itu yang ada dalam kenyataan. Kita tidak lagi berjalan dengan langkah-langkah kecil karena memakai kain kebaya, tapi bisa leluasa dengan celana blue jeans. Itu yang tampak dalam novel Saman. Masalahnya, pakaian baru ini akan diapakan? Kita jangan munafik mengatakan cinta pakaian nasional tapi tidak pernah memakainya. Apalagi baju nasional ternyata lebih mahal dari pakaian biasa"

6. NASRI CHEPPY (1950-2010)




Nasri Cheppy ketika hendak membuat film Catatan si Boy, mengatakan dalam sebuah wawancara: 

"Aku terus bertanya pada diri sendiri, mengapa bahwa film-film yang memenangkan Citra (penghargaan film nasional Indonesia) hanya pernah dilihat oleh beberapa orang ... saya menganalisis situasi Kemudian saya membuat film ... Tampaknya, bahwa masyarakat membutuhkan film-film seperti ini. "

7. NYA ABBAS AKUP (1932-1991)


"Film merupakan tanggung jawab sutradara, dan karena itu saya tidak bisa berbuat setengah-setengah". 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar