Sabtu, 26 Mei 2012

#BestOf HASMANAN




HASMANAN
Sutradara, Penulis Cerita dan Skenario


1. DIMANA KAU IBU (1973)


Sutradara Hasmanan membuat film drama sosial berjudul Dimana Kau Ibu, yang berkisah tentang nasib bayi yang dipisahkan dengan ibunya sejak lahir, dan menarik untuk dilihat sebagai akibat dari hipokrisi seorang terpandang. Linda (Lenny Marlina) mlahirkan bayi di luar nikah dan tidak direstui ayahnya. Sang ayah bayi itu pun juga meninggal sebelum bayi itu lahir. Sungguh malang. Sang bayi yang bernama Yatim (Rano karno) terdampar pada keluarga yang tidak menyayanginya. Yatim pun minggat dan bergelandang, mengais hidup rezeki dengan menyemir sepatu, sampai suatu saat dia bertemu dengan ibu kandungnya saat perisitiwa tabrakan mobil. Berbeda dengan Ratapan Anak Tiri, Hasmanan hampir tidak mempergunakan air mata untuk menguras air mata. Namun jalan cerita yang begitu dramatis itulah yang membawa penonton larut dengan penderitaan Yatim.

2. PEMBERANG (1972)


Salah satu film thriller terbaik, setelah Lewat Tengah Malam (1971). Inti ceritanya tentang teror kepada sebuah keluarga seorang pengacara bernama Johan (Sophan Sophiaan), yang dilatari dendam dari seorang pria bernama Barman (Dicky Zulkarnaen). Barman masuk penjara karena Johan, karena kekasihnya mencintai Johan. Barman melakukan teror dengan menculik istri dan anak Johan. Selain itu, teror lain dilakukan Barman dengan memanfaatkan temannya Victor (Soekarno M Noor) yang menawarkan gula-gulanya untuk memainkan peranan pengganggu keluarga sang pengacara. Jalan cerita yang cukup menegangkan, namun akhirnya Barman pun tewas. 

Skenario ditulis Arifin C Noer, dan Hasmanan dapat membuat ketegangan dari awal sampai akhir film, sehingga penonton tidak jenuh dan dapat penasaran dengan ceritanya. Dicky Zukarnaen mendapat Citra untuk permainan gemilangnya ini. Pernah ditayangkan di Indosiar.

3. RIO ANAKKU (1973)


Setelah Dimana kau Ibu, Lenny Marlina dan Rano Karno kembali dipertemukan dalam film, Rio Anakku. Kebaikan hati, ketulusan nurani menjadi inti cerita film ini. Drama yang cukup tidak biasa, dari banyak film drama saat itu. Naskahnya ditulis Arifin C Noer, dan meriah banyak penghargaan FFI 1974, diantaranya skenario terbaik, penyuntingan terbaik, pemeran utama pria terbaik (Koesno Soedjarwadi), dan pemeran utama wanita (Lenny Marlina).

4. ROMI DAN JULI (1974)


Hasmanan membuat film romansa yang bertipe Pengantin Remaja yang terilhami film Love Story. Cerita dua anak manusia, Romi (Rano Karno) dan Juli (Yessy Gusman) remaja yang saling mencinta namun mendapat tentangan orangtua. nekat minggat berdua sampai mereka dicari-cari setelah dua remaja ini mengalami kesusahan. Setelah mereka ditemukan, maka kisah pun berakhir damai dan bahagia. 

5. ATENG THE GODFATHER (1976)


Komedi banyolan yang terilhami dari film The Godfather di Hollywood. Don (Ateng) sosok seorang pemimpin yang selalu memperhatikan anak buahnya seperti layaknya seorang bapak kepada anak-anaknya. Don mempunyai beberapa anak buah. Ia begitu arif dan bijaksana dalam memimpin kehidupan bersama anak buahnya. Di pihak lain, Kusno, seorang pemimpin dari kelompok yang menamakan dirinya orang-orang kribo, mereka selalu berselisih paham dengan Don karena ingin sekali bisa menguasai air danau.

6. ATENG BIKIN PUSING (1977)



Hasmanan mengarahkan dengan baik seorang Ateng, dan dapat merubah Ateng bukan sebagai 'pelawak' dalam film, tapi aktor. Ceritanya cukup menggelitik, bukan selalu tentang banyolan humor, tapi ada rasa kesedihan yang mendalam antara Ateng dengan pujaannya, seperti cinta bertepuk sebelah tangan, cinta yang tak berbalas. Selain itu hubungan yang akrab dan kocak Ateng dengan pembantu sekaligus temannya, Iskak. 
Walau sudah berusia 21 tahun, Ateng seorang anak yang pikiran serta pertumbuhannya lamban, lantaran itu dia sangat dimanja oleh neneknya (Wolly Sutinah). Semua permintaan Ateng dipenuhi, sampai-sampai hal yang aneh dan tidak logis. Iskak pembantu yang ditugaskan menjaga Ateng, suatu saat menyalahgunakan kedekatannya dengan Ateng. Ia mendapatkan sebuah skuter yang dituntut Ateng dari bapaknya. Puncaknya saat Iskak dituduh mencuri jam, meski bukan dia yang mencuri. Iskak diusir, Ateng sangat kehilangan Iskak. Ateng menaiki menara air, dan membuat panik keluarganya, sampai pada akhirnya Iskak kembali, dan Ateng pun mau turun. 

7. WANITA SEGALA ZAMAN (1979)


Yang dimaksud Wanita Segala Zaman itu adalah Asih (Marini), seorang pembantu setia pada sebuah keluarga kaya yang punya tiga anak, sementara nyonya keluarga itu sudah meninggal. Asih memiliki posisi yang hampir sebagai ibu rumah tangga untuk semuanya, kecuali sebagai istri. Ketiga anak dalam keluarga ini  memiliki watak yang berbeda-beda dan konflik masing-masing. Permasalahan dan konflik makin memuncak saat hadirnya seorang wanita bernama Ema (Rae Sita) yang menjadi istri Kusuma, kepala keluarga di rumah itu dan menjadi ibu tiri ketiga anaknya. Ema hanya berniat menguasai harta Kusuma. Disinilah peran Asih menyelamatkan keluarga itu. Drama keluarga yang cukup baik. Film pertama Lidya kandou, dan film ini pernah ditayangkan di SCTV.

8. ANNA MARIA (1979)

Salah satu karya Hasmanan yang terbaik. Melalui film ini pula ia mendapat nominasi untuk sutradara terbaik FFI, dan sejumlah nominasi FFI lainnya. Berinti cerita pada wanita bernama Anna Maria, sesuai judulnya, yaitu seorang biduanita dan janda beranak satu, Boy (Ryan Hidayat). Hidup Anna Maria dikelilingi banyak pria yang mendekatinya, namun juga penyakit ganas yang mengancam hidupnya. Ryan Hidayat mendapat penghargaan FFI, untuk pemeran anak-anak terbaik selain itu juga nominasi pemeran utama pria, Marini pun mendapat nominasi aktris terbaik. 

9. MEKAR DIGUNCANG PRAHARA (1987)


Diadaptasi dari novel Nina Pane. Sebuah drama rumah tangga yang 'rusak' dari dalam, karena sang suami, Daniel, berperilaku buruk, suka judi dan main perempuan, dan selalu dibela dan dimanja ibunya, yang suka mengintervensi rumah tangganya. Istrinya, Dinar, tak berdaya hidup dengan peringai Daniel dan mertuanya yang ikut campur. Sampai Dinar bertemu pria lain di tempat kerjanya, Yudha, namun telah diincar Soraya, kemudian intrik-intrik terjadi antara Daniel, Dinar, Yudha, dan Soraya. Unggulan FFI 1988 untuk poster terbaik. 

10. DIA BUKA BAYIKU (1988)


Setelah heboh kasus tertukarnya dua bayi, Dewi dan Cipluk, selain film Semua Sayang kamu (1988), ada juga film sejenis, Dia Bukan Bayiku, yang terilhami dari cerita nyata naas tersebut. tapi bedanya dengan film lain, film ini kerjasama dengan Malaysia, dimana cerita tertukar bayinya di malaysia, dan bayinya tertukar dengan pasangan orang Malaysia. Diperankan cukup bagus oleh Rano Karno dan Marissa Haque. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar