Minggu, 20 Mei 2012

Film Klasik Pelopor

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei, berikut film-film klasik yang menjadi awal, inspirasi dan pelopor bagi film-film lain, dan tentunya turut mengembangkan industri perfilman nasional.


1. LOETEONG KASAROENG (L Heuveldorp, 1926)


Menurut Katalog Film Indonesia dari JB Kristanto, walau film ini dibuat oleh orang asing, tapi ini film cerita pertama di Indonesia yang menampilkan cerita asli Indonesia, sebuah legenda yang terkenal dari Jawa Barat. Antara lain berisi nasehat, janganlah memandang sesuatu dari kulitnya saja. Pengambilan pertama gambarnya di kota Bandung, dan cukup sukses di pasaran.

2. DARAH DAN DOA (Usmar Ismail, 1950)


Karya Usmar Ismail ini sangat berpengaruh dan punya makna penting bagi perfilman nasional. Film ini dianggap sebagai tonggak lahirnya film asli Indonesia atau dimulainya pembuatan film 'nasional'. Berdasarkan keputusan koferensi kerja Dewan Film Nasional dengan organisasi perfilman, tahun 1962, menetapkan Hari pertama pengambilan gambar film ini, yaitu 30 Maret, sebagai Hari Film Nasional. Namun, pengakuan resmi dari pemerintah baru dikeluarkan 37 tahun kemudian, di tahun 1999, dengan Keppres no 25/1999 oleh Presiden BJ. Habibie.

3. SRI ASIH (Turino Djunaidy dan Tan Sing Hwat, 1954)


Karakter fiksi dalam komik asli Indonesia karangan RA Kosasih, diangkat ke layar lebar di tahun 1954. Jadilah sebuah film fantasi Indonesia yang pertama dalam sejarah perfilman Indonesia, selain itu juga menjadi film pertama yang menampilkan karakter 'SuperHero' asli Indonesia.

4. KARMILA (Ami Prijono, 1974)


D era 70-an, muncul fenomena film yang diadaptasi dari novel laris. Dan film Karmila, menjadi salah satu film pelopor untuk kategori itu. Diangkat dari novel laris dari Marga T yang pertama dimuat di harian Kompas, dan film ini menjadi film yang terlaris kedua di Jakarta. Sama seperti novelnya, film ini juga sukses di pasaran dan diterima publik. Setelah Karmila, mulai bermunculan film-film drama lain yang diangkat dari novel pop laris.

5. RATAPAN ANAK TIRI (Sandy Suwardi Hassan, 1973)


Selain film dari novel, muncul pula tren baru, yaitu film dengan formula kemalangan dan ratapan, intinya menguras air mata penonton. Dan itu dimulai dari film sedih Ratapan Anak Tiri. Ternyata ramuan ini sukses luar biasa, film ini berhasil meraup banyak penonton, menjadi pembicaraan di banyak kalangan, dan berhasil menjadi pelopor film penguras air mata di sejarah perfilman kita.

6. PENGANTIN REMAJA (Wim Umboh, 1971)


Inilah film yang mempertemukan pasangan abadi Sophan Sophiaan dan Widyawati. Karya Wim Umboh yang acukup bagus ini, terilhami dari cerita romansa yang sukses "Romeo dan Juliet". Berkat film ini, pasangan Sophan Sophiaan dan Widyawati menjadi sangat populer di masyarakat, dan film laris ini menjadi pelopor film-film bertemakan romansa. Film ini juga mendapatkan Golden Harvest Award pada Asian Film Festival.

7. BING SLAMET KOBOI CENGENG (Nya Abbas Akup, 1974)


Penampilan terakhir dari maestro Bing Slamet, dan ini pertama di Indonesia yang berlatarkan tentang dunia 'Koboi'. Karya Nya' Abbas Akup yang tentunya berisi parodi, kritik dan sindiran halus yang kali ini menggunakan dunia koboi. Diperankan para maestro komedi, Bing Slamet, Eddy Sud, Iskak dan Ateng, film ini mendapat penghargaan sebagai film Komedi terbaik pada FFI 1975, dan juga menjadi Film Terlaris kala itu.

8. GITA CINTA DARI SMA (Arizal, 1979)


Pelopor untuk film berlatar kisah cinta remaja anak SMA yang diperankan idola remaja Rano Karno dan Yessy Gusman. Dilengkapi dengan lagu tema yang abadi dan berkesan karya Guruh Soekarnoputra dan dinyanyikan Chrisye, alhasil cukup sukses di pasaran, film ini pun menjadi abadi dan selalu terkenang bagi pencinta film nasional. Tak salah jika dikatakan film ini disebut sebagai pelopor film romansa remaja yang diikuti oleh banyak film bertema sejenis dan dibintangi pula oleh Rano Karno.

9. SAUR SEPUH (SATRIA MADANGKARA) (Imam Tantowi, 1988)


Pada akhir era 80-an, muncul film laga dengan 'formula lain', diangkat dari sebuah sandiwara radio yang sukses. Berlatar di zaman akhir kerajaan Majapahit, film ini dapat menerjemahkan visualiasasi sandiwara di radio ke dalam layar lebar dengan baik. Selain sukses komersial, film ini pun meraih 3 nominasi FFI 1988 dan menggondol Piala Citra untuk penyuntingan terbaik. Saur Sepuh yang sukses ini pun dibuat sekuel nya, dan kesuksesannya diikuti oleh-olhe film bertema laga lainnya.

10. TIGA DARA (Usmar Ismail, 1956)


Salah satu film yang dianggap sebagai Pelopor, sebagai film musikal. Menampilkan tiga aktris muda berbakat, Chitra Dewi, Indriati Iskak, dan Mieke Widjaya, karya Usmar Ismail memiliki cerita yang bagus dan wajar, laris di pasaran dan mendapat penghargaan FFI. Adegan-adegan musikal film ini dengan nyanyian dari tiga dara tersebut, berkesan dan abadi sepanjang masa


11. KISAH CINDERELLA (Willy Wilianto, 1978)

Ini film pertama yang diadaptasi dari kisah-kisah dongeng terkenal dari kartunis ternama Amerika Serikat, Walt Disney. Kisah ini difilmkan berkat suksesnya di pentas dan kaset rekaman oleh sanggar anak pimpinan Maria Tanzil. Cinderella versi Indonesia, dimainkan pemain-pemain ternama, cukup mengejutkan dan menjadi pembicaraan, karena ini film pertama tentang adaptasi dongeng impor, lengkap dengan segala kostum dan artistiknya. Setelah film ini, muncul film-film adaptasi dongeng lainnya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar