Minggu, 06 Mei 2012

#10FilmKlasikWisata

Pada era klasik, perfilman Indonesia juga diwarnai oleh film-film yang menonjolkan sebuah budaya khas atau panorama dari sebuah daerah tertentu di Indonesia. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pesanan oleh pemerintah daerah untuk promosi daerah tersebut, atau sineas dari film tersebut yang berasal dari daerah tersebut. Berikut beberapa Film Indonesia Klasik yang menonjolkan budaya atau ciri khas dari sebuah daerah, atau dapat dikatakan sebagai film Wisata.

1. SELEMBUT WAJAH ANGGUN (Agus Ellyas, 1992)



Film peraih nominasi FFI 1992 untuk pemeran utama wanita ini, bercerita tentang kisah cinta segitiga dengan segala konflik dan intriknya. Setting di Sumatera Barat menjadi ciri khas film ini, karena memang film ini dibuat dengan tujuan sebagai alat promosi pariwisata daerah tersebut. Diperankan Paramitha Rusady, Rano Karno dan Ayu Azhari.

2. CINTAKU DI WAY KAMBAS (Iwan Wahab, 1990)



Kali ini, kehidupan gajah dan wisata Way Kambas di Lampung, menjadi salah satu tujuan utama pembuatan film ini. Dibalut dengan kisah cinta, yang lebih spesifik lagi, yaitu cinta segitiga para karakter engkap dengan berbagai permasalahan masing-masing. Termasuk unik, karena menampilkan gajah-gajah Way Kambas dan sekolah gajahnya itu. Didukung pemain-pemain andal, seperti Mathias Muchus, Ira Wibowo, dan Rini S. Bono, dan mendapatkan nominasi FFI 1991 untuk pemeran utama pria.

3. LANGIT KEMBALI BIRU (Dimas Haring, 1990)

Film ini adaah kerjasama antara Pemda Timor Timur (kala itu masih bergabung dalam NKRI) dengan PT. Bola Dunia Film. Langit Kembali Biru disutradarai sutradara muda Dimas Haring, dengan pemain Dede Yusuf dan Sonya Dora Carascalao (anak gubernur Timor Timur saat itu). Berkisah tentang integrasi Timor Timur ke dalam NKRI. Pro kontra integrasi, lengkap dengan dibumbui kisah cinta dibalik konflik Timor Timur, yang pro dan anti integrasi. Konflik dalam film ini cukup pelik dan terbilang berat, karena sejarah integrasi ini menjadi bumbu utama dalam film ini. Meraih 2 Citra FFI 1991, untuk cerita terbaikd an skenario terbaik. Selain itu, mendapatkan 5 nominasi, termasuk film terbaik dan pemeran utama wanita terbaik.

4. SORTA (TUMBUH BUNGA DI SELA BATU) (Abrar Siregar, 1982)


Salah satu film yang dibiayai Dewan Film nasional ini, berlatar kehidupan di Sumatera Utara. Dendam lama, hubungan kasih orangtua dan anak, kisah cinta terlarang adalah inti dari film ini. Sorta, seorang wanita asal Sumatera Utara ini jatuh cinta pada Daulat, yang kisah cintanya ini terlarang akibat dendam orangtua Daulat, Inang Ria pada Amang Bukit, orangtua Sorta. Nominasi FFI 1983 untuk cerita, dan didukung para pemain berkualitas, seperti Mutiara Sani, Deddy Mizwar, Dhalia, dan Menzano.

5. KETIKA DIA PERGI (Buce Malawau, 1990)


Mengambil setting di Bromo. Inti dari film ini adalah kehadiran pasangan dokter ke desa di daerah Bromo, dan ternyata kehadiran mereka menimbulkan konflik dan adanya benturan paham modern dan konsevatif.
Orang desa yang terbiasa dengan tangan dukun, tak bisa menerima dokter begitu saja. Konflik semakin tajam, ketika seorang pasien yang biasa dirawat dukun, meninggal, dan Dr. Robert tak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu, Dr. Siska juga menderita sakit yang tak jelas, hingga meninggal. Penyakit aneh pun muncul di berbagai desa sekitar.Yang menjadi ciri khas dari film ini adalah panoram khas di Bromo yang mempesona. Nominasi FFI 1991 untuk pemeran pembantu pria, Afrizal Anoda.

6. NUANSA BIRUNYA RINJANI (Jimmy Atmaja, 1989)

 Film yang berlatar kaki gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, yang dibalut cerita tentang konflik dua kakak beradik dengan seorang wanita yang cukup kompleks hingga akhir film. Dimainkan Tio Pakusadewo, Baron Hermanto, Dhalia dan Anna Tairas. Daerah Mataram, NTB dan khusunya keindahan Gunung Rinjani menjadi bumbu pelengkap dalam film berdurasi 105 menit ini.

7. CAROK (Imam Tantowi, 1985)


  


 Budaya khas daerah Madura, Jawa Timur, menjadi inti dari film karya Imam Tantowi ini. Berhasil meraih Citra 1985 untuk pemeran pembantu pria (El Manik), dan nominasi untuk cerita dan tata musik. Carok merupakan tradisi bertarung yang disebabkan karena alasan tertentu yang berhubungan dengan harga diri kemudian diikuti antar kelompok atau antar klan. Pembelaan terhadap harga diri, sikap teguh kejujuran, dan provokasi menjadi bumbu utama dalam film ini. Bisa dikatakan film ini, adalah film laga, tapi juga film kriminal. Mempertemukan Barry Prima dengan El Manik, dan skenario ditulis Arifin C. Noer.

8. REMBULAN DAN MATAHARI (Slamet Rahardjo Djarot, 1979)



Debut Slamet Rahardjo sebagai sutradara ini, berlatar kehidupan masyarakat desa Ponorogo, Jawa Timur, dengan segala permasalahan warga dan pengungkapan masalah desa. 9 Nominasi FFI 1980, termasuk film terbaik, dan sukses menang 3 Piala Citra untuk pemeran pembantu pria, pemeran pembantu wanita serta tata artistik terbaik. Kompleksitas cerita tentang masalah masing-masing warga desa yang tidak menuntut penonton untuk beremosi, menjadikan film ini agak susah dicerna, karena Slamet Rahardjo mengeksekusi film ini dengan warna yang agak lain.

9. NOESA PENIDA (PELANGI KASIH PANDANSARI) (Galeb Husein, 1988)



Walaupun film ini bukan hasi kerjasama dengan pemda Bali, tapi film ini sangat kental dengan budaya bali. Diadaptasi dari novel Noesa Penida karya Andjar Asmara dan ditulis oleh Asrul Sani, film ini bersetting pada awal abad ke 20 di Bali, zaman kerajaan Tabanan..  Diperankan oleh aktor-aktor berkualitas, seperti Pietrajaya Burnama, Ray Sahetapy, Muni Cader, Sutopo HS, merupakan debut sutradara Galeb Husein, dan musiknya ditata dengan sangat bagus oleh Idris Sardi yang menggabungkan elemen musik tradisi dengan warna khas alunan biola khas Idris Sardi menjadi satu paduan yang lirih. 3 Piala Citra FFI 1989 dan 7 nominasi FFI 1989.

10.  JANGAN RENGGUT CINTAKU (Nurhadie Irawan, 1990)


Film yang mengangkat pariwisata Sulawesi Selatan, dengan menonjolkan adat istiadat daerah setempat. Berkisah tentang kawin lari sepasang muda, andi patongai dan Andi Tenriwaru, yang hubungan mereka dilarang karena ada dendam orangtua, sehingga mereka melakukan silariang atau kawin lari. 3 Nominasi FFI 1990, dan Citra untuk Tata Musik dan Pemeran Pembantu Pria, Rachman Arge.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar