Rabu, 09 Mei 2012

#11FilmTragediKlasik *Special Mention

Dalam sejarah perfilman indonesia, ada banyak film yang diangkat dari kisah atau cerita nyata. Kebanyakan, kisah nyata tersebut adalah sebuah tragedi, bencana atau kisah buruk. Para sineas film klasik berani mengangkat kisah nyata tersebut ke dalam layar putih dan tentunya menarik untuk ditonton. Inilah beberapa Film Tragedi Klasik ; 


1. PENGKHIANATAN G 30 S/PKI (Arifin C Noer, 1982)



Siapa yang tidak tahu dengan film kontroverisal ini? diangkat dari kisah nyata tragedi 30 September 1965 ini merupakan film Indonesia yang berpengaruh dan terkenang hingga kini. Lepas dari segala isu dibalik film ini, secara teknis film ini sangat berkualitas. Secara sinematografi, film ini sangat baik sekali, Fasilitas perang juga didukung dalam pengambilan gambar sehingga jadilah film yang baik. Bujet film ini tercatat Rp 800 juta, yang menjadikannya sebagai film termahal di awal 1980-an. Di era orde baru, film ini diputuskan untuk Wajib Tonton dan diputar setiap tahunnya di seluruh stasiun TV nasional di tanggal 30 September. Kualitas dari film ini tentunya ada di tangan Arifin C Noer dan tim yang terbilang sempurna dalam menata segala teknis film ini. Alhasil, film ini meraih banyak nominasi di FFI 1984, dan memenangkan Piala Citra untuk skenario terbaik.
Mendapatkan Piala Antemas dengan meraup 699.282 penonton, dan jumlah ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga tahun 1995.

2. PENYESALAN SEUMUR HIDUP (Frank Rorempandey, 1986)


 Cerita naas, seorang istri tak sengaja memotong alat vital sang suami, karena ketahuan serong dengan perempuan lain. Diangkat dari kisah nyata, film ini bersetting pengadilan dengan mengadili Sumi yang terdakwa bersalah. Diperankan sangat bagus oleh Dewi Yull, Cok Simbara, dan Joice Erna. Film Pilihan dan 6 Nominasi FFI 1987.

3. TRAGEDI BINTARO (Buce Malawau, 1989)


Diangkat dari kisah nyata tragedi tabrakan 2 kereta api di kawasan Bintaro. Film ini mengambil sudut pandang dari salah satu korban, yaitu cerita keluarga Nenek Minah dan Juned, dimana Juned korban yang selamat walaupun kakinya harus diamputasi karena terjepit. Di akhir film, muncullah Juned asli di rel kereta api dengan memakai penyangga kaki, karena kaki yang kiri harus diamputasi. Juned lalu berkata "Sayalah Juned salah seorang korban musibah tabrakan kereta api di Bintaro, saya berterima kasih karena kisah kami sekeluarga diangkat ke layar putih lewat film ini, moga-moga ada hikmahnya bagi kita semua", demikian kata-kata Juned yang asli di akhir kisah. Begitu memilukan. Film Pilihan FFI 1989 dengan 11 Nominasi dan Piala Citra untuk pemeran anak-anak terbaik, Ferry Octora.

4. ARIE HANGGARA (Frank Rorempandey, 1985)

Berdasarkan kisah nyata di tahun 1984, seorang anak bernama Arie Hanggara tewas, keran disiksa ayah kandung dan ibu tirinya. Kejadian ini sontak menjdai perbincangan masyarakat kala itu, dan menjadi pemberitaan di media massa. Difilmkan tahun 1985, dan Meraih Piala Citra FFI 1986 untuk Aktor Terbaik, Deddy Mizwar dan pemeran anak-anak terbaik, Yan Cherry Budiono. Film ini juga menghadirkan kumpulan pemeran yang berkualitas, dari Joice Erna, Nani Widjaya, Sofia WD, Zaenal Abidin dan Dhalia. Musik di tata oleh Idris Sardi dan ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Termasuk film yang meraih jumlah penonton terbanyak.


5. OPERASI TINOMBALA (M Sharieffudien A, 1977)



Film Indonesia pertama yang diambil dengan kamera Panavision, dari kisah nyata. Film ini mengungkapkan kembali peristiwa jatuhnya pesawat di gunung Tinombala tahun 1976, setahun sebelum film ini dibuat. Pemaparan cerita tidak lebih dari apa yang terungkap di media massa saat itu. Mekanisme kerja SAR dan pemandangan di gunung diulas jelas dalam film ini. Selain itu, kecemasan keluarga yang menunggu kabar juga menjadi inti cerita. Tergarap cukup baik dan cukup laris ditonton masyarakat luas.

6. PERAWAN DESA (Frank Rorempandey, 1979)


Film dari kisah nyata Sum Kuning, reka ulang peristiwa nyata pemerkosaan terhadap seorang wanita bernama Sum Kuning, yang terjadi tahun 1968. Sum Kuning diperkosa 4 berandal, dan ketika pemeriksaan polisi, Sum mengaku mencari popularitas, karena paksaan. Kasus ini sempat heboh di masyarakat, dan fakta dan kebenaran diungkap di pengadilan. Salah satu film pengadilan terbaik dan meraih Piala Citra untuk Film Terbaik dan 3 Piala Citra lainnya, 1 penghargaan khusus, dan 2 nominasi pada FFI 1980.

7. SEMUA SAYANG KAMU (Ida Farida, 1988)


Dari kisah nyata, cerita dua bayi (Dewi dan Cipluk) tertukar dari dua keluarga, saat di rumah sakit. Kisah ini terjadi tahun 1987, dan menjadi perhatian besar masyarakat saat itu. Salah satu ibu bayi tersebut Nuraini (diperankan Neno Warisman) menjadi tokoh inti, karena dia bersikeras tidak mau melepaskan bayinya, sehingga masalahnya bertele-tele sampai ke pengadilan karena Nuraini yang buta huruf, tak mau percaya pada sesuatu yang "ilmiah", dan ketika di pengadilan pun, Nuraini pun tidak mematuhi tata krama pengadilan. Neno Warisman bermain sangat bagus, memerankan karakter Nuraini yang ceplas ceplos dan polos, sangat hidup dimainkannya. Berhasil meraih Citra untuk skenario dan penghargaan khusus FFI 1989, ditambah 7 nominasi FFI 1989 termasuk film terbaik.


8. DUKUN AS (MISTERI KEBUN TEBU) (Eddie SS, 1997)



Berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Perkebunan Nusantara, Deli Serdang, tahun 1997. Terbongkar pembunuhan berantai terhadap 26 perempuan. Pembunuh dengan inisial AS mengaku telah membunuh 42 orang. Dalam film ini disisipkan pengakuan Datuk asli dalam bentuk suara.

9. BANDUNG LAUTAN API (Alam Surawidjaja, 1974)



Film berdasarkan peristiwa berdarah di Bandung, 24 Maret 1946, yang disebut "Bandung Lautan Api". Peperangan berdarah ini menyebabkan kota Bandung seperti lautan api. Disamping peristiwa perang, ada konflik cinta dibalik perang ini. Diperankan Christine Hakim dan Arman Effendy.

 10. MAT PECI (PEMBUNUH BERDARAH DINGIN) (Willy Wilianto, 1978)



Berdasarkan kisah nyata di Jawa Barat tentang seorang pria berdarah dingin, bernama Mat Peci (Rachmat Hidayat). Mat Peci Dilahirkan di daerah garut tepatnya Kecamatan Leles pada tahun 1943. Dia selalu menggunakan Peci (kopiah) sehingga mendapat julukan Mat Peci. Di dada dan kepalanya penuh dengan rencana kejahatan. Sedang tangannya adalah penyalur dari setiap niatnya yang busuk itu. Perbuatannya yang jahat, seperti merampok, dan banyak orang berdosa yang mati tragis dibunuh secara keji olehnya. Dia mempunyai pacar yang bernama Euis mereka berdua sangat saling menyukai, tetapi alangkah malangnya ternyata orang tua Euis tidak merestuinya. Lantas Mat Peci pun merasa sakit hati dan berjanji untuk merubah nasibnya supaya direstui oleh orang tua Euis kelak. Mat Peci pun pergi merantau ke Bandung dalam masa-masa mudanya dia mencari uang sebagai calo karcis bioskop di sekitar cicadas, dia mempunyai berbagai macam ilmu kebal. Bandung di era 70an Mat Peci dikenal sebagai penjahat nomor satu. Sebagai seorang penjahat dia seringkali keluar masuk penjara. Dalam penjara dia “menuntut ilmu” dari kawannya sesama napi, sehingga pada saat ia keluar nanti, kesalahan dalam berbuat jahat tidaklah lagi terulang. Alangkah kagetnya Mat Peci ketika mendapatkan Euis di tempat pelacuran, tetapi Mat peci menerima Euis apa adanya dan kisah percintaan pun berlanjut.
Keberadaan Mat Peci dengan Euis di Garut sudah diendus oleh intelijen sehingga dilakukanlah penyergapan. Mat Peci tewas tertembak diberondong pada tahun 1978 di stasiun kereta api leles kecamatan kadungora Garut.

11. PENUMPASAN SISA-SISA PKI DI BLITAR SELATAN (OPERASI TRISULA) (BZ. Kadaryono, 1986)



Film kisah dan kejadian nyata, agak kontroversi filmnya dengan situasi yang ada. Maklum saat Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C Noer sukses dari segi film, juga sukses di pasaran. Maka muncullah film ini. Setelah Presiden Soeharto turun, kedua film ini pun dianggap tidak sesuai dengan realita. Dilukiskan bagaimana sisa-sisa PKI ini memeras, merampok, membunuh, dan sebagainya. Lalu, teror itu tercium oleh aparat keamanan. Operasi pembersihan pun dilakukan dengan nama sandi, yaitu Trisula. Diperankan Rachmat Kartolo, Yati Surachman, Hassan Sanusi, Lina Budiarti, dan sejumlah artis dari Surabaya.


*Special Mention

12. PERISTIWA DON MUANG (WOYLA)


Peristiwa pembajakan pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla pada 28 Maret 1981 di Medan sampai Don Muang, Thailand, ini sempat membuat heboh publik karena peristiwa terorisme bermotif jihad pertama yang menimpa Indonesia dan satu-satunya dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia. Peristiwa ini sempat mau difilmkan dan dibiayai DFN, tapi karena satu dan lain hal, tidak jadi difilmkan. Sungguh disayangkan.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar