Selasa, 22 Mei 2012

Aktor Layar Klasik yang Berpengaruh

1. BENYAMIN S (1939-1995)



Maestro seni Betawi ini tak perlu diragukan lagi kapabilitasnya di dunia perfilman. Banyak film yang telah ia bintangi dan semuanya sukses, dan kebanyakan dalam filmnnya juga, ia menyanyi dan duet dengan artis Ida Royani. Aktingnya yang alami membuatnya meraih Piala Citra 2 kali, tahun 1973 untuk Intan Berduri, dan tahun 1977, untuk film Si Doel Anak Modern. Kehadiran Benyamin Sueb dalam kancah perfilman memiliki pengaruh yang besar bagi dunia film, dan juga bagi para generasi penerus. Walaupun Bang Ben telah tiada 17 tahun lalu, karya-karyanya tidak akan akan pernah terlupa dan akan selalu menjadi inspirasi bagi para seniman muda, hal ini dibuktikan dengan terpilihnya Benyamin S sebagai penyanyi Indonesia terbaik sepanjang masa, versi majalah Rolling Stones tahun 2010.

2. DICKY ZULKARNAEN (1939-1995)


Suami aktris Mieke Wijaya dan ayah dari Nia Zulkarnaen ini dikenal publik sebagai "Si Pitung". Selain itu, Dicky juga bermain apik dalam film Salah Asuhan (1972), dan Pemberang (1972) yang memberinya Piala Citra. Peran antagonis dan lelaki 'kasar' juga sering dibawakannya, seperti dalam film Pengemis dan Tukang Becak (1978) dan Pengorbanan (1984). 

3. SOEKARNO M NOOR (1931-1986)



Aktor watak berdarah Sumatera ini kurang lebih telah membintangi sekitar 83 judul film, dan 3 kali mendapatkan penghargaan di Festival Film Indonesia. Permainan aktingnya dipuji banyak orang, termasuk dari kalangan para pemain, dan Soekarno M Noor menjadi sosok aktor yang cukup disegani di perfilman nasional. Pertama kali mendapatkan gelar aktor terbaik tahun 1960 untuk film Anakku Sajang, kemudian tahun 1967 lewat Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1967) dan terakhir, Kemelut Hidup (1979). Ayah dari Rano, Suti dan Tino Karno ini terakhir main dengan begitu mengesankan di film Opera Jakarta, yang sekaligus memberikan nominasi Piala Citra untuk terakhir kalinya. 

4. BING SLAMET (1927-1974)



Seniman serba bisa ini telah malang melintang dunia hiburan tanah air. Namanya tercatat sebagai penyanyi dan pelawak handal, setelah menang kejuaraan melawak dan merebut pula juara Bintang radio jenis hiburan di era 50-an. Sebagai entertainer handal, Bing Slamet juga menginjakkan kakinya di layar putih, seperti di film Pilihlah Aku (1956), Hari Libur (1958) dan Amor dan Humor (1961)Meskipun mahir dalam genre komedi, Bing Slamet juga mahir dalam genre drama seris, seperti dalaam film Hantjurnja Petualangan (1966), dan 2x24 Djam (1967). Tergabung dalam beberapa grup lawak, dan yang terkenal adalah Kwartet Jaya bersama Eddy Sud, Ateng dan Iskak. Kwartet Jaya semakin mencuat setelah tampil dalam film, seperti Bing Slamet Setan Jalanan (1972), Bing Slamet Sibuk (1973), Bing Slamet Dukun Palsu (1973), Ambisi (1973) dan terakhir Bing Slamet Koboi Cengeng (1974), yang menjadi film perpisahannya.

5. MARULI SITOMPUL (1937-1990)


Aktor watak ini memang selalu tampil mengesankan dalam setiap perannya. Peran-peran yang begitu berkarakter seperti dalam film Gersang tapi Damai, Kembang-Kembang Plastik, November 1828, dan Gara-Gara Istri Muda, memberinya nominasi Piala Citra. Maruli membuktikan bahwa ia sangat pantas meraih Citra, itu terjadi di tahun 1981,1982,1983, dimana ia meraih 3 Citra berturut-turut, untuk film Laki-laki Dari Nusakambangan, Bawalah Aku Pergi, dan Dibalik Kelambu. Sangat disayangkan ketika setelah Maruli Sitompul meraih Citra ketiganya, namanya kemudian seakan tenggelam dari dunia film, dan hanya sesekali tampil dengan peran yang tidak istimewa. Ciri khas Maruli Sitompul seperti aktingnya yang begitu kuat, suaranya yang berat, menjadikan Maruli Sitompul salah satu aktor terbaik di Indonesia. 

6. BAMBANG HERMANTO (1925-1991)


Kepiawaian aktingnya telah teruji lewat film-film berkualitas seperti Harimau Tjampa (1953), dan pedjuang (1960) yang membuatnya menjadi pemain film Indonesia pertama yang meraih penghargaan internasional, yaitu Best Actor pada Moskwa International Film Festival tahun 1961. Bambang Hermanto memang dikenal dengan peran-peran di film-film drama 'serius'. Selain menjadi aktor, suami aktris Dien Novita ini juga pernah menjadi sutradara, produser dan pengarang cerita. Setelah meraih Citra pertama di tahun 1955, 29 tahun kemudian, Bambang Hermanto kembali meraih Citra lewat film karya Slamet Rahardjo, Ponirah Terpidana (1983).

7. A. HAMID ARIEF (1924-1992)


Pengabdiannya di dunia akting terbukti dengan 121 judul film yang dibintanginya. Berkarir sejak tahun 1942, dan terus aktif hingga akhir hayatnya. Salah satu aktor yang berpengaruh setelah RD Mochtar, dan dikenal pula sering bermain di film-film berlatar budaya Betawi, sering bermain bersama Benyamin S, dan Wolly Sutinah.

8. TAN TJENG BOK (1900-1985)

Aktor keturunan Tionghoa ini adalah aktor sejati di panggung hiburan. Komitmennya di dunia sandiwara dan film tak perlu diragukan lagi, dunia hiburan telah digelutinya sejak remaja, dan sudah makan asam garam di dunia hiburan. Main di film Srigala Item (1941), Si Gomar (1941), kemudian main lagi setelah masa kemerdekaan lewat film Melarat Tapi sehat (1954), Djudi (1955), Badai Selatan (1960), Si Rano (1973), Syahdu (1975), dan main di sejumlah drama televisi TVRI, yang dikenal sebagai suami aktris Fifi Young. Tan Tjeng Bok mengabdikan hidupnya di film sampai usianya sudah sangat renta.

9. RATNO TIMOER (1942-2002)


The Most Popular Actor Asia pada FFA 1972 ini mulai dikenal publik ketika membintangi film Matjan Kemajoran (1965). Menjadi produser bersama istrinya, Tien Samantha, dan juga menjadi sutradara untuk sejumlah film yang diproduksinya sendiri. Masyarakat juga mengenalnya saat memerankan "Si Buta dari Goa Hantu", dan aktingnya yang kharismatik memukau dewan juri FFI 1976, sehingga memenangkannya sebagai aktor utama terbaik lewat film Cinta (1975). 

10. BAMBANG IRAWAN (1932-1979)


Aktor yang juga suami dari Ade Irawan dan ayah dari Dewi dan Ria Irawan ini cukup berpengaruh di dunia film era 50 hingga 60 -an, salah satu film yang mempopulerkan namanya adalah film Tiga Dara (Usmar Ismail, 1956). Dan pada masa itu, Bambang Irawan menjadi aktor yang laris dan menjadi idola. Kursi produser pernah dipegangnya melalui Agora Film, perusahaan film miliknya. Film-film karyanya antara lain Mahkota (9167), Intan Kesepian (1971) dan Sopir Taksi (1973).

11. RD MOCHTAR 


RD Mochtar adalah aktor pertama yang mencuatkan sistem "bintang" pada industri perfilman tanah air, yang dimana film kita baru mulai meletakkan perhatian pada pentingnya kedudukan pemain film. Pertama kali main di film Pareh (1935), kemudian mulai mencuat lewat film Terang Boelan (1937) bersama Miss Roekiah. Disusul dengan film Siti Akbari (1939), Moestika dari Djenar (1941), dan lain-lain. Sempat vakum dari dunia film, kemudian tampil kembali dalam film Bengawan Solo (1971), dan tampil mengesankan dalam film Merenda Hari Esok (1981) bersama Sofia WD, Fadly, dan Marlia Hardi. RD Mochtar mendapatkan beberapa penghargaan sebagai bintang terbaik dari swasta dan pemerintah. 

12. PANDJI ANOM (1915-1990)


Aktor asal Sambas ini mulai mencuri perhatian publik sejak bermain sebagai pemeran utama di film Tamu Agung (1955) karya Usmar Ismail. Di era 80-an, banyak film yang menampilkannya sebagai sosok bangsawan atau bapak. Kacamata besar dan cerutu adalah ciri khas yang melekat dari Pandji Anom.

13. SOPHAN SOPHIAAN (1944-2008)

Lahir di Sambas, Kalimantan, 3 April 1915.  Meninggal dunia di Jakarta, 25 Pebruari 1990. 
Pendidikan: Ambach School (1933), kursus montir radio (1935). 
Tadinya sebagai penyanyi dan turut rombongan sandiwara, mulai 1937. Sepulang merekam nyanyian di Singapura, diajak main film dalam Elang Darat (1941). Di masa pendudukan Jepang (1942-1945) aktif di Pusat Kebudayaan Jepang. Sesudah Indonesia merdeka, kembali mengikuti grup sandiwara yang dipimpin Djamaludin Malik (1917-1970). Pada 1950, bersama Djamaludin Malik, mendirikan perusahaan film PERSARI. Permainannya menonjol dalam Tamu Agung (1955), yang disutradarai Usmar Ismail. Tahun 1980-an dikenal lewat tokoh Pak Suwito, "Suami" Mieke Wijaya dalam serial Rumah Masa Depan. Penerima piagam Kesetiaan Profesi 1989 ini adalah suami (sejak 1952) dari aktris Komalasari.13. SOPHAN SOPHIAAN (1944-2008)

Pasangan abadi aktris Widyawati ini mulai dikenal saat membintangi film Pengantin Remaja (1971) yang sekaligus mempertemukannya dengan pasangan hidupnya. Kemudian Sophan selalu diduetkan dengan Widyawati dalam banyak film. Kemudian Sophan mengembangkan diri dengan menjadi seorang sutradara film. Film-film karyanya yang sukses diantaranya Jangan Ambil Nyawaku (1981), Tinggal Landas (1984), Arini, Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat (1987), Bung Kecil (1978), dan lain sebagainya. Kritik sosial dan nasionalisme adalah ciri khas dalam setiap film karya Sophan Sophiaan. 

14. Drs. POERNOMO / MANG UDEL (1923-2006)


Karir Sarjana Biologi ini dalam dunia film cukup unik. Tidak begitu banyak membintangi film, tapi sekalinya main film, mendapat peran utama yang meraih penghargaan dan mencuatkan namanya. Mang Udel, selain sibuk menjadi dosen, ia juga mahir memainkan alat musik ukulele. Perannya yang berkesan saat menjadi pegawai negeri jujur, dalam film Si Mamad (1973) yang secara mengejutkan membuatnya menang Piala Citra. Di era 80-an, Mang Udel main di serial Losmen, yang semakin membuatnya dikenal publik. Masuk lagi nominasi aktor terbaik pada FFI 1989 untuk film Si Badung.

15. WD MOCHTAR (1928-1997)


Suami aktris Sofia WD ini pertama kali tampil dalam film Tirtonadi (1950). Setelah 15 tahun berkecimpung, baru pada film Matjan Kemajoran (1965) bersama Ratno Timoer namanya mulai dikenal. Selanjutnya ia tampil dalam film-film yang disutradarai Wim Umboh yang menambah kuat kedudukannya sebagai salah seorang aktor papan atas Indonesia. Berbagai penghargaan pun diraihnya seperti Best Actor PWI Jaya 1971 untuk film Sanrego, nominasi aktor terbaik FFI 1980 dan FFI 1983, nominasi aktor pembantu FFI 1982 untuk film Ratu Ilmu Hitam.

16. RACHMAT HIDAYAT


Terjun ke film secara kebetulan, di film Toha Pahlawan Bandung Selatan (1961), cocok dengan dirinya yang memang asli putra Bandung. Kehadirannya yang cukup mengesankan, menempatkan Rachmat Hidayat pada peran=peran yang bagus dan membuat aktingnya terasah. Di awal 70-an, Rachmat dikenal sebagai salah satu aktor papan atas dengan banyak penghargaan, seperti Best Actor PWI Jaya 1970-1971 untuk The Big Village (Dusun Besar), meraih Citra untuk film Apa Salahku (1976), Pacar Ketinggalan Kereta (1989) dan Boss Carmad (1991). Lima kali masuk unggulan FFI, dan mendapat aktor terpuji Festival Film Bandung tahun 1990 dan 1992. 

17. PIETRADJAYA BURNAMA (1934-2010)



Memang film adalah jalan hidupnya. Dan itul diabdikan sepenuh hati oleh Pietrajaya Burnama. Muncul di awal era 60-an, Piet punya bakat di bidang akting, menulis naskah dan menyutradarai, sebagai pemain lima kali masuk nominasi FFI, dan menapat Citra, aktor pembantu, tahun 1989. Pada FFI 2005, mendapat penghargaan kehormatan untuk Lifetime Achievement. Karya nya yang cukup berpengaruh adalah Si Buta Dari Goa Hantu (1977) dan Musang Berjanggut (1983). Film yang diperankannya yang diingat publik, diantaranya dalam Tjoet Nja' Dhien, Nila di Gaun Putih, Langitku Rumahku, Noesa Penida, dan Apa yang Kau Tjari, Palupi? (1969).


18. ZAENAL ABIDIN (1928-2000)

 

Zaenal Abidin sejatinya telah muncul di era 50-an, namun namanya mulai mencuat di akhir tahun 70-an. Era 80-an, nama Zaenal Abidin seakan selalu ada dalam banyak film Indonesia. Beliau banyak berperan sebagai seorang bapak dan suami. Perannya yang berkesan dari sekian banyak filmnya antara lain, dalam film Usia 18 (1980), yang memberinya Piala Citra pertama, kemudian dalam film Mawar Jingga (1981), dan masih banyak lagi filmnya. Perannya yang kurang begitu menonjol di film Putri Seorang Jenderal (1981), namun bisa memberinya Piala Citra, bahkan untuk kategori pemeran utama pria terbaik di FFI 1982.

19. SLAMET RAHARDJO DJAROT


Aktor, Sutradara, dan Penulis Skenario didikan Teguh Karya ini memang punya pengaruh besar dalam perfilman nasional. Tumbuh menjadi seorang aktor, aktor yang benar-benar aktor, bukan selebritis atau aktor populer, melainkan aktor yang berkualitas. Slamet Rahardjo membuktikan itu dengan menggondol Citra di tahun 1975 lewat film Ranjang Pengantin. Di era itu, aktor seusianya lebih banyak bermain di film pop, dan Slamet lain sendiri. Dia tidak banyak tampil, namun sekali tampil, dalam film yang berkualitas, jaminan Piala Citra, dan tentunya memberikan pengaruh yang cukup besar bagi dunia akting dan perfilman. langkahnya di film dilengkapi dengan kemampuan menyutradarai. Film-filmnya jaminan mutu meraih Piala Citra. Sebut saja, Ponirah Terpidana, Rembulan dan Matahari, Kodrat, Kembang Kertas, Langitku Rumahku, dan lain-lain. Tercatat, Slamet Rahardjo Djarot mendapat nominasi FFI paling banyak, untuk 3 kategori, aktor (utama dan pembantu), sutradara, dan penulis cerita dan skenario.

20. EL MANIK


Salah satu aktor watak yang mengandalkan akting, bukan tampang, adalah El Manik. Namnya mulai dikenal publik akhir 1970-an, dimana ia mendapatkan peran utama di film Gara-gara Istri Muda, dan di tahun itu pula ia mendapat Citra untuk aktor pembantu, di film Teguh Karya, November 1828. Setelah mendapat Citra, El Manik mendapat peran-peran yang menantang, lihat saja film Titian Serambut Dibelah tujuh (1982), Rahasia Buronan (1983), Budak Nafsu (1983), Carok (1985), Jejak Pengantin (1984), Menumpas Teroris (1986) dan masih banyak lagi. 2 Piala Citra kembali diraih tahun 1984, dan 1985. Dua dasawarsa berikutnya, di tahun 2006, El Manik lagi-lagi menggondol Citra untuk aktor pembantu, lewat film Berbagi Suami.

21. ROY MARTEN


Aktor populer ini mulai tampil mencuri perhatian dalam film Cintaku di Kampus Biru (1976). Dalam film itu pula, ia mendapat pemain harapan FFI. Kepopuleran dan kelarisan membintangi film, membuat ia mendapat julukan "The Big Five" bersama Yati Octavia, Jenny Rachman, Robby Sugara, dan Doris Callebaut. Main juga di film Teguh Karya, Badai pasti Berlalu (1977). Sekali-kalinya mendapat nominasi FFI 1983 untuk film biopik Wolter Monginsidi (1982). Namanya begitu populer di kancah perfilman di era 70-80 an. Tak salah jika Roy Marten termasuk aktor yang paling berpengaruh di tanah air.

22. DEDDY MIZWAR


Untuk aktor seusianya, Deddy Mizwar terbilang 'telat' populernya. Deddy mulai dibicarakan setelah main di film Bukan Impian Semusim (1981) yang juga memberinya nominasi Citra pertama. Selanjutnya di era 80-an, nama Deddy Mizwar seakan tak pernah henti menjadi langganan nominasi FFI. Ia bermain di film-film yang berkualitas, ditangan sutradara handal, macam Sjuman Djaya dan Frank Rorempandey. Film-filmnya juga sukses dan diingat publik, seperti Naga Bonar (Citra FFI 1987), Arie Hanggara (Citra FFI 1986), Opera Jakarta (Citra FFI 1986), dan masih banyak lagi. Deddy pula yang menciptakan rekor untuk meraih dua piala Citra sekaligus untuk 2 kategori di tahun yang sama. Selain aktor, Deddy juga menjadi sutradara dan produser hingga saat ini. Rekor lima Piala Citra dipegangnya, dan sosok Deddy Mizwar menjadi sosok yang disegani untuk perfilman kita saat ini. Tak dapat dipungkiri, pengaruhnya di dunia film pada era 80-an, membuatnya namanya takkan tergantikan atau dilupakan.

23. BARRY PRIMA


Aktor spesialis film laga yang pastinya memiliki pengaruh besar bagi perfilman dan pastinya terkenang, salah satunya yang paling menonjol adalah Barry Prima. Mulai di tahun 1978 untuk film Primitif, Barry kemudian menjadi icon untuk film laga. Peran Jaka Sembung mungkin adalah peran yang paling diingat publik. Sampai sekarang, tercatat 76 film telah dibintanginya, dan sebagian besar adalah film laga.

24. RANO KARNO


Karirnya sudah dimulai sejak kecil. Diwariskan bakat akting dari ayahnya, Soekarno M Noor, Rano Karno memang bintang layar lebar. Siapa tak tahu nama seorang Rano Karno saat sukses membintangi Gita Cinta dari SMa bersama Yessy Gusman, dan masih banyak film romansa lainnya. Di pertengahan 80-an, ia mulai mendapat peran di film yang agak berat. Dari film Yang Terlarang Yang Tersayang (nominasi Citra 1984), Ranjau-Ranjau Cinta (nominasi Citra 1985), Arini (nominasi Citra 1987) sampai digembleng Arifin C Noer dalam film Taksi (1990) yang akhirnya memberinya Piala Citra. Setelah itu Rano Karno memerankan Doel, yang merupakan ciri khas nya.

25. DIDI PETET


Didi Petet baru tampil di akhir era 80-an. Muncul sebagai pria kemayu di film Catatan Si Boy (1987), nama Didi Petet mulai diperbincangkan. Secara mengejutkan pula, ia meraih Citra di tahun 1988. Setelah karakter Emon, Didi berhasil menciptakan karakter khas dirinya, seperti peran Kabayan, yang dimana ia tampil di banyak film sekuel Kabayan. Karakter Emon dan Kabayan seakan melekat dan tak kan tergantikan siapapun.

26. RAY SAHETAPY


Seangkatan dengan Deddy Mizwar, Ray Sahetapy juga dikenal sebagai aktor yang mengandalkan akting bagus. Itu terbukti dengan 7 kali nominasi FFI yang didapatnya. Muncul pertama kali tahun 1978 lewat film Pengemis dan Tukang Becak, Ray Sahetapy kemudian digandeng para sutradara handal, seperti Slamet Rahardjo untuk film Ponirah Terpidana, Teguh Karya untuk film Secangkir Kopi Pahit, Sjuman Djaya untuk film Kerikil-kerikil Tajam dan Opera Jakarta. Perannya juga bagus di film Noesa Penida, yang memberinya nominasi Citra.

27. MATHIAS MUCHUS


Aktor jebolan IKL ini tampil memukau sebagai pria Ambon dalam film Beri Akuv Waktu, kemudian tampil mengejutkan sekaligus mengagumkan, dlaam film Istana kecantikan, dimana ia berperan sebagai seorang gay, peran yang jarang dibawakan aktor kita saat itu. Dan permainannya yang gemilang memberinya Piala Citra FFI 1988 untuk aktor terbaik. Mathias Muchus dikenal publik sebagai aktor watak yang telah teruji aktingnya dengan beragam peran.

28. TIO PAKUSADEWO


Nama Tio Pakusadewo mulai menjadi perbincangan di tahun 1991. Saat itu, dia membintangi dua judul film bagus, yaitu Cinta Dalam Sepotong Roti, garapan Garin Nugroho, dan film Lagu Untuk Seruni, yang secara mengejutkan memberinya Piala Citra untuk aktor terbaik. Lama vakum, Tio saat ini muncul kembali dan tetap membuktikan kualitas aktingnya. Piala Citra kedua direbut tahun 2009 lewat peran bagus di film Identitas. Saat ini, aktor-aktor generasi muda menyebut Tio Pakusadewo sebagai inspirator dan memiliki pengaruh yang cukup besar.

29. WARKOP DKI



Siapa tak tahu kelompok lawak ini? Dono, Kasino, Indro, dan Nanu, para mahasiswa ini membentuk kelompok lawak yang mulai bermain film, yaitu Mana Tahan (1979). Ternyata sukses luar biasa, Warkop diterima publik dan film-filmnya setiap tahun ditunggu masyarakat. Film mereka selalu laris manis dan selalu meraih Piala Antemas FFI untuk film terlaris. Tidak hanya mengocok perut, Warkop juga selalu menyelipkan dialog-dialog khas yang cerdas, dan ada juga nyanyian serta tarian khas Warkop yang terkenang hingga kini.



2 komentar: