Jumat, 15 Juni 2012

Sosok : SYLVIA WIDIANTONO


 
SYLVIA WIDIANTONO (SYLVIA NAINGGOLAN)
Aktris
Genre : Drama
Tahun Aktif : 1980 - 1997

Quote:
"Menurut saya seharusnya Steve (Teguh Karya) itu sudah jadi Profesor. Betul, karena ia sangat kreatif. Steve bagi saya sudah seperti ayah, sahabat selain tentu saja guru. Dalam hubungan ayah dan anak ini tak jarang kami sering bentrok. Berkali-kali saya marah, kesal, ngambek karena tidak suka melihat tingkahnya atau melihat cara dia memperlakukan kami anak-anaknya. Namun, terus terang bentrokan macam itu tidak pernah membuat kami jadi saling benci. Biasanya setelah itu hubungan makin dinamis. Saya sering dibuatnya jengkel tapi tidak pernah membenci Steve. Sejengkel-jengkel saya terhadapnya tetap saja ia ayah tercinta"

Teater Populer memang banyak melahirkan para aktor dan aktris tangguh yang tentunya mumpuni dalam hal akting. Sebut saja Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Tuti Indra Malaon, Niniek L Karim, Alex Komang dan masih banyak lagi. Tapi ada satu nama yang menjadi anggota setia teater populer, yaitu Sylvia Widiantono. Namanya memang agak asing di telinga pencinta film nasional, tapi beliau adalah salah satu aktris watak terbaik yang pernah dimiliki negeri ini.

Perkenalan Sylvia dengan Teguh Karya, terjadi tahun 1966, saat pementasan Langit Hitam, karya Taufik Ismail, di Fakultas Psikologi UI, tahun 1966, ketika itu Sylvia ikut ambil bagian dalam pementasan tersebut. Teguh rupanya terkesan dengan penampilan Sylvia, dan dia mengajak Sylvia untuk bermain dan bergabung di pementasan Teguh Karya mendatang. Kecocokan Sylvia da Teguh membawa Sylvia terlibat lebih jauh lagi dalam kegiatan berteater sampai berdirinya Teater Populer.

Sylvia sangat ingat, bahwa dari awal Teguh sudah menanamkan bahwa kesadaran para pemain Teater Populer memilih kegiatan teater karena sudah menjadi suatu kebutuhan. Dan spirit ini terus ditumbuhkan dan dipelihara. Sylvia menilai karena inilah Teater Populer masih terus hidup dan para anggotanya meski sudah mandiri tetap punya satu ikatan yang kuat. Sylvia menambahkan bahwa pertumbuhan Teater Populer ibarat pertumbuhan sebuah pasar tradisional yang tumbuh berdasarkan kebutuhan lingkungannya. la tercipta karena masyarakatnya. Beda dengan pasar modern yang dibuat dulu baru dicari orang-orang yang mau mengisinya. Teater Populer bisa terus terpelihara karena ada ikatan batin yang kuat yang sudah ditanamkan dari awal pertumbuhannya oleh seorang Teguh Karya.

Kedekatan Sylvia dengan Teguh Karya layaknya seperti ayah dan anak, sahabat selain tentu saja guru. Dalam hubungan ayah dan anak ini tak jarang mereka sering bentrok. Pengalaman berteater yang dirasakan Sylvia di Teater Populer, sangat berpengaruh terhadap setiap penampilan dan aktingnya.

 Sylvia Widiantono bersama Jenny Rachman dalam film Doea Tanda Mata

 Sylvia Widiantono dalam FTV Mainan Dari Gelas

Tahun 1980, Sylvia Widiantono baru pertama kali main di film layar lebar. Slamet Rahardjo, rekannya di Teater Populer, sekaligus juga sama-sama murid Teguh Karya, membuat film 'Seputih Hatinya Semerah Bibirnya', dan Sylvia ikut ambil bagian dalam film itu. Dua tahun kemudian, 1982, Teguh Karya membuat film drama 'Dibalik Kelambu' memasang Slamet Rahardjo dan Christine Hakim sebagai pemeran utama. Sylvia kebagian peran sebagai kakak Nurlela (Christine Hakim), aktingnya yang cukup mengesankan, membuatnya masuk jajaran nominasi FFI untuk pertama kali. Masuk nominasi kategori pemeran pembantu wanita, namun kalah oleh Nani Widjaya lewat film RA Kartini. 

Selanjutnya, penampilan Sylvia memang terbatas pada film-film karya Teguh Karya atau Slamet Rahardjo. Doea Tanda Mata dan Secangkir Kopi Pahit juga menampilkan akting prima Sylvia Widiantono. Dalam Secangkir Kopi Pahit, dia menjadi ibunda Togar (Alex Komang) yang menikah dengan wanita seusianya, Lola (Rina Hassim). Tahun 1987, Sylvia juga tampil dalam film Kasmaran karya Slamet Rahardjo Djarot, dimana ia memerankan karakter tetangga Ida Iasha dan Dwi Yan. Jarang tampilnya Sylvia di film, memang karena prinsip Sylvia yang lebih memprioritaskan dunia teater.

Di era 90-an, ketika perfilman mengalami mati suri, Teguh Karya membuat beberapa karya drama televisi, diantaranya, Mainan Dari Gelas (1996) dan Perkawinan Siti Zubaedah (1996). Dalam Mainan Dari Gelas, Sylvia bermain bersama Paquita Widjaya dan Eko Haryanto. Dan dalam Perkawinan Siti Zubaedah, Sylvia tampil meyakinkan bersama Ayu Azhari dan Alex Komang. 

Sepeninggal Teguh Karya di tahun 2001, secara sendirinya membuat Sylvia Widiantono mundur dari dunia akting di film atau televisi. Beberapa tahun belakangan, Sylvia terkena serangan stroke yang membuatnya harus duduk di kursi roda. Tentunya akting perwatakan yang prima dari seorang Sylvia Widiantono sangatlah dirindukan, mengingat sekarang banyak pemain-pemain muda yang berakting 'instan' dan lemah dalam perwatakan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar