Sabtu, 16 Juni 2012

FILM KLASIK: 'TARI'


1. TARI KEJANG (Iksan Lahardi, 1985)

Tidak ada yang istimewa dari film ini, karena ceritanya hampir sama dengan film-film tari kejang lain, demam tari kejang dibumbui konflik para remaja tersebut, akibat kegiatan dan kegemaran mereka menari kejang. Tapi yang menjadi magnet dari film ini adalah penampilan dari Denny Malik. 
Entertainer berbakat ini memang piawai dalam hal menari, salah satunya karena tergabung pada kelompok Swara Mahardika pimpinan Guruh Soekarnoputra.

2. GEJOLAK KAWULA MUDA (Maman Firmansjah, 1985)

  
Pada 1985 sekaligus lahir 4 film yang menyorot tren tari kejang (breakdance) yang waktu itu memunculkan polemik, masing-masing  Gejolak Kawula Muda, Tari Kejang, dan Tari Kejang Muda-mudi dan Demam Tari. Semua film itu ceritanya hampir sama, para remaja yang tengah gandrung dengan tari breakdance, dan akibat-akibat dari kegiatan-kegiatan tari itu, dari tentangan orangtua dan ditahan polisi karena ketertiban umum. Adegan breakdance menjadi porsi yang paling dominan dalam film ini. Yang menarik adalah penampilan para artis mud ayang sedang naik daun saat itu, Rico Tampatty, Chicha Koeswoyo, Titi DJ, Ikang Fauzy, Ria Irawan, Septian Dwi Cahyo, dan lain-lain.

  
3. TARI KEJANG MUDA MUDI (M Sharieffudin A, 1985) 
 
Kegiatan Tari Kejang yang sedang gandrung di kalangan remaja saat itu, dikhawatirkan para orangtua dapat mengganggu kegiatan sekolah, itulah tema dan inti cerita film ini. Walaupun, tetap diceritakan bahwa remaja-remaja dalam film ini akhirnya dapat berprestasi di sekolah meski tetap aktif menari kejang. Disamping masalah tari kejang, diselipkan juga masalah psikologi remaja.

4. DEMAM TARI (Nawi Ismail, 1985)

Tari Kejang juga mengilhami munculnya film ini.  Menampilkan juara Breakdance saat itu, Reoginaldo Panggabean dan didukung oleh penari-penari breakdance dari Amerika Serikat,
Ceritanya hampir sama dengan film-film demam tari kejang sebelumnya, yaitu tentang anak-anak muda yang berbakat tari kejang yang sedang tren atau persaingan antar grup tari kejang. Film ini lebi9h banyak menampilkan tarian-tarian kejang, dalam bentuk latihan atau pertunjukkannya.

5. SERAMPANG 12 (Edisaputra, 1956)

Film yang cukup unik, karena menampilkan budaya khas nasional, yaitu tari tradisional, Serampang 12. Inti ceritanya adalah tentang sekelompok anak muda yang berminat mempelajari tari pergaulan asli Indonesia, dari Serampang 12, Kaparinyo, Gunung Sayang, dan lain-lain.
6. REMAJA PULANG PAGI (Syamsul Fuad, 1978)

Akhir 70-an, perfilman kita juga dipenuhi dengan film-film yang berlatar jeis musik yang digandrungi saat itu. Dangdut, musik khas lokal, yang digemari masyarakat kita saat itu, dan musik disko, pengaruh dari barat yang juga sedang hits saat itu. Kali ini, film Remaja Pulang Pagi, tetap bernafaskan dangdut, tapi dibalut dengan kehidupan remaja. Dangdut yang digemari remaja kalangan bawah bertentangan dengan para remaja yang menmyukai musik disko, dan terjadilah persaingan antar remaja disini. Kegemaran para remaja pada kedua musik itu mengakibatkan banyak hal negatif, seperti banyaknya remaja pulang pagi. Sepanjang film juga dipenuhi adegan joget ala-ala remaja.
  
7. UNTUK SEBUAH NAMA (Frank Rorempandey, 1985)


 Penyanyi pop Michael Jackson yang sangat tenar di era 80-an, juga punya penirunya di Indonesia. Mikki, adalah karakter peniru Michael Jackson. Film ini memang menyuguhkan banyak lagu Michael Jackson dengan tari dan dansa khas "disco dancer" yang cukup terdengar ciamik. Untuk ceritanya sendiri, Mikki diksahkan adalah seorang anak pembantu (Nani Widjaya) yang menjalin hubungan dengan anak majikan ibunya, Merry (Meriam Bellina). Hubungan mereka ditentang ayah Merry (Zaenal Abidin) karena berbeda status sosial. Disaat Mikki sudah dewasa, dan sukses dengan karirnya, hubungannya dengan Merry dapat kembali terjalin. Untuk Sebuah Nama adalah film tentang drama hidup dari peniru Michael Jackson, yang diperankan Mustafa, yang memenangkan beberapa jenis kontes nasional peniru Michael Jackson di Indonesia selama pertengahan tahun 80-an. 


8. UNTUKMU INDONESIAKU (Ami Prijono, 1980)


Pagelaran dari Guruh Soekarnoputra "Untukmu Indonesiaku (1980)" yang sukses luar biasa dikemas dalam film dokumenter. Seluruh rangkaian acara dari persiapan, latihan , kejadian dibalik panggung, hingga terwujudnya pagelaran akbar itu. Yang menarik, adalah penampilan Guruh Soekarnoputra sebagai empunya pagelaran, Guruh ibarat seoarng aktor pemeran utama dalam film ini. Dialah sang konseptor dan salah satu orang muda kreatif saat itu yang tak lupa dengan kebudayaan dan kecintaan terhadap bumi Indonesia. Warkop sebagai salah satu pengisi pagelaran juga tampil berkesan, dan tak lupa grup Swara Mahardika, yang hits kala itu, tampil dengan lagu-lagu abadi dan indah ciptaan Guruh, seperti Damai, Melati Suci, Halo Jakarta lengkap dengan tarian-tarian khas dan mengesankan dari Swara Mahardika.

9. KULIHAT CINTA DI MATANYA (Bobby Sandy, 1985)

 
Meriam Bellina yang tenar sebagai aktris dan penyanyi kembali hadir dalam film musikal, yang juga memperlihatkan adegan tari-tari. Dengan akting yang prima, penampilan Mer di film ini sungguh meyakinkan. Karakter Atika, seorang mantan penyanyi yang kembali bangkit setelah terjerumus obat-obatan terlarang, berkenalan dengan seorang koreografer sehingga Atika kembali meretas jalan di dunia panggung. Menampilkan peragawati Henidar Amroe sebagai pacar lama koreografer tersebut. Film ini juga dilengkapi adegan-adegan nyanyi dan tari dengan koreografi yang berkelas dan terkesan seperti sebuah pertunjukan asli. Selain Meriam dan Henidar, film ini turut menampilkan Ikang Fawzy dan koreografer handal Acan Rachman. Akting bagus Mer mendapat unggulan FFI 1986 untuk pemeran utama wanita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar