Jumat, 08 Juni 2012

#BestOf GARIN NUGROHO



GARIN NUGROHO
Sutradara
Tahun Aktif : 1989 - sekarang

Quote :


"Politik, fanatisme, kurangnya kemanusiaan yang dibicarakan sewaktu Soegija hidup sampai sekarang masih menjadi persoalan. Senang bisa dialog dengan masyarakat melalui film ini"


1. CINTA DALAM SEPOTONG ROTI (1990)


Karya Debut Garin Nugroho sebagai sutradara film layar lebar, dan langsung membuat gebrakan. Tak tanggung-tanggung, film ini meraih 5 Piala Citra FFI 1991 termasuk film terbaik, dan Garin mendapat penghargaan khusus Sutradara pendatang baru terbaik di ajang Festival Film Asia Pasifik 1992. Ia langsung menjadi sutradara muda yang paling diperhitungkan saat itu. Cinta Dalam Sepotong Roti adalah sebuah karya film yang lain, sebuah drama yang melukiskan seks secara tidak vulgar dan dewasa, namun digambarkan dengan sangat apik dan cerdas. Konflik antara ketiga tokoh utama bukan ditampilkan dengan adegan-adegan berurai air mata ataupun berlebihan, tapi lebih halus, manis, malah sangat terkesan dengan dialog-dioalog puitis dan romantis. Cinta Dalam Sepotong Roti bukan cerita yang pada umumnya ada dalam film Indonesia sebelumnya. Cinta yan g unik dan tutur berceritanya juga unik, sehingga tidak heran beberapa orang kurang menangkapnya. 


2. SURAT UNTUK BIDADARI (1992)



Karya kedua Garin yang mulai membawa Garin melanglang buana ke kancah internasional, dan film ini mengungkap carut marut budaya Indonesia yang diwakili sebuah desa kecil di Sumba, NTT, diperankan oleh pemain non professional, anak berusia 10 Tahun, yang hidupa dalam budaya yang ia gugat. Lewa, nama anak ini bersama Kuda Liar (Adi Kurdi), selain itu juga Berlian Merah (diperankan bagus Nurul Arifin). Cukup menimbulkan kontroversi karena gaya berceritanya. Diputar secara bergerilya di kampus-kampus tahun 1994. 

3. BULAN TERTUSUK ILALANG (1994) 



Bulan tertusuk Ilalang adalah film mengenai perbenturan budaya jawa dengan budaya barat modern. Dilatarbelakangi oleh sebuah kisah tentang seorang anak yang mempunyai pengalaman buruk dimasa kecilnya karena sering dilecehkan oleh ayahnya. Suatu saat dia bertemu dengan seorang wanita yang telah lama tinggal di Amerika Serikat. Sukar diuraikan bahwa ada cerita dalam film yang lebih ingin memberikan kesan-kesan tertentu saja. Namun demikian, ada yang ingin dikatakan lewat sebuah kisah yang diturukan secara tak teratur dan linier. Kisah yang bisa ditangkap dari serpihan-serpihan dialog yang sangat sedikit jumlahnya, maupun dari rentetan gambarnya. Yang ingin lebih ditonjolkan agaknya "perjalanan kejiwaan" tokohnya.  Meraih sejumlah nominasi di ajang Festival Film Asia Pasifik tahun 1995.

4. DAUN DI ATAS BANTAL (1997)



Film ini berangkat dari gagasan video dokumenter yang dibuat oleh Garin, pesanan dari NHK jepang, berjudul Dongeng Kancil Untuk Kemerrdekaan. Berinti pada kehidupan anak jalanan yang diperankan diri mereka sendiri. bentuk kisah mengambil siklus harian kehidupan para tokohnya, tiga anak jalanan (Kancil, Sugeng, Heru) dan Asih (Christine Hakim). Asih adalh ibu asuh tiga anak jalanan tadi, yang punya bisnis berdagang kembang dan batik dan juga punya masalah sendiri dengan kehidupan pribadinya. Tiga anak jalanan ini di akhir cerita meninggal dengan cara masing-masing yang terbilang tragis. Kematian mereka yang menjadi 'drama' dalam film ini. Christine Hakim mendapat best Actress di ajang Festival Film Asia Pasifik 1998.


5. PUISI TAK TERKUBURKAN (1999)




Kali ini berlatar di Gayo, Aceh, kisah nyata seorang penyair Didong, Ibrahim Kadir. Mengisahkan pengalaman-pengalaman selama 22 hari di dalam penjara sampai ia dilepaskan karena salah tangkap. Kesederhanaan dalam menggarap film yang 'brillian' ini mendapat pengakuan internasional, Ibrahim Kadir menjadi aktor terbaik di Singapore International Film Festival, dan film ini mendapat penghargaan di Festival del film Locarno, Switzerland. Film ini menampilkan beberapa pemain terkenak, seperti El Manik, Berliana Febrianti, Amak Baldjun, Aty Kanser dan Pietrajaya Burnama.



6. AKU INGIN MENCIUMMU SEKALI SAJA (2002)



Berlatar di Papua, bercerita tentang seorang anak Papua yang terpesona dengan seorang gadis misterius (Lulu Tobing). Menyinggung juga soal konflik dan pergolakan politik di Papua. Diadaptasi dari cerpen "Sang Mahasiswa dan Sang Wanita" karya Laslo Kamondy, dan mendapat "Special mention" dari NETPAC, Festival Film Berlin 2003.


7. RINDU KAMI PADAMU (2004)



Sepertinya ini film Garin yang paling mudah dicerna, namun tetap tak meninggalkan ciri khas Garin Nugroho. Cukup ringan, berkisah tentang kehidupan dan problem di sebuah pasar. Ceritanya cukup kompleks dengan banyak karakter, seperti pak haji dengan problem masjidnya, ada janda pemilik warung, pedagang telur, gadis pekerja, dan lain-lain.


8. OPERA JAWA (2006)



Salah satu karya unik Garin, dimana Garin digambarkan sebagai 'dalang', karena memang Opera Jawa hadir sebagai sebuah opera, tidak ada dialog melainkan tarian, musik dan syairnya diciptakan khusus berdasarkan gamelan dan tembang jawa, dan pastinya menggunakan bahasa Jawa. Para pelakon, Artika Sari Devi, penata tari Eko Supriyanto, dan lain-lain melakonkan sebuah lakon Rama Shinta dalam kehidupan nyata. Film ini pesanan dari panitia peringatan 250 tahun Mozart, dan emnajdi pembuka acara peringatan itu di Wina, Austria, November 2006. mendapat penghargaan di Asian Film Awards untuk Tata Musik Terbaik, Film terbaik di Singapore International Film Festival, 2 Piala Citra FFI 2006, Artika Sari Devi menjadi aktris terbaik Festival des 3 Continents, Nantes, Perancis, selain aktris terbaik, musik film ini juga menang di ajang itu. 

9. UNDER THE TREE (2008)



Berkisah tentang 3 orang perempuan yang memiliki masalah sendiri-sendiri dan menjalani hidupanya masing-masing. Ketiga perempuan itu adalah Maharani (Marcella Zalianty), Dewi (Ayu Laksmi), Nian (Nadia Saphira). Mereka tidak saling kenal atau berjumpa, karena ini memang film omnibus dengan 3 cerita berbeda. Kesamaannnya hanya latar tempat di Bali. Meraih 10 nominasi FFI 2008, dengan dua penghargaan, pemeran pendukung wanita (Aryani Kriegensburg Willem -- pertama kali main film), dan artistik terbaik.


10. GENERASI BIRU (2009)




Film musikal ini menceritakan sejarah kecil perjalanan bangsa Indonesia yang diambil dari lagu Slank yang dirilis pada 1985 hingga 2008. Lagu-lagu itu pun dituangkan dalam bentuk visual oleh 3 sutradara kondang, John De Rantau, Dosy Umar dan Garin Nugroho. Sebanyak 15 lagu dipilih untuk menggambarkan cerita yang terbagi menjadi empat tema, yaitu kekerasan, politik, obat-obatan terlarang dan cinta. Tak hanya gambar nyata, Generasi Biru juga menyajikan animasi-animasi. Animasi tersebut menjadi pemanis yang sanggup membawa para penontonnya pada berbagai imajinasi. Imajinasi yang mengolok-olok dunia politik. Selain itu, semua penggalan kisah itu dipercantik dengan balutan koreografi dan pantomim. Seluruh personel Slank menari dan bermusik di hampir 80 % adegan film ini. Dengan menyaksikan film ini, seolah kita tengah berada di panggung konser Slank. 

11. MATA TERTUTUP (2012)


Dirilis tahun 2012, Garin mengungkap tentang fenomena NII di negeri kita ini. Aktris Jajang C Noer bermain sangat bagus sebagai seorang ibu yang resah dan merasakan kegetiran, anaknya diculik oleh kelompok Islam fundamentalis.


12. SOEGIJA (2012)



Film teranyar Garin Nugroho, film biopik tentang Mgr. Albertus Soegijapranata, dengan perenungan, pemikirannya sebagai uskup pertama asli Indonesia. Film ini bukan propaganda tentang sebuah agama tertentu, tapi mengurai tentang nasionalisme, prulalisme dalam kehidupan bernegara saat gejolak masa penjajahan Belanda kurun waktu 1940 - 1949. Selain itu dikisahkan Soegija yang turut membantu dalam mengatasi kekacauan yang berakibat pada penderitaan rakyat. Sebuah film yang inspiratif.

*Special Mention
13. SERAMBI (2005)



Diangkat dari tragedi Tsunami Aceh 2004, berisi tiga alur cerita yang mengisahkan kehidupan tiga tokoh utama yang lolos dari bencana tsunami setelah dua bulan pasca tragedi. Ditayangkan dalam seksi Un Certain Regard, Festival Film Cannes. 


14. (FTV) ANGIN RUMPUT SAVANA (1996)

Film televisi ini adalah salah satu dari trilogi dari 3 pesanan kampanye melalui media film televisi dari Jhon Hopkins University, yang berkampanye tentang kematian ibu melahirkan. Berlatar di Nusa Tenggara, FTV ini dimainkan oleh banyak pemain berkarakter, seperti Maudy Koesnaedy, Unique Priscilla, dan Renny Djayusman. Mendapat nominasi di ajang Piala Vidia FSI 1997.


1 komentar:

  1. saya ingin sekali mngkoleksi film2 karya garin, termasuk film pendek seperti film anak2 papua (lupa judulnya tapi pernah tayang di tv).
    mohon masukan bagaimana saya bisa memilikinya, kkhususnya film CINTA DALAM SEPOTONG ROTI..

    terimakasih
    tubagus erif faturahman
    tef_bagus@yahoo.com

    BalasHapus