Jumat, 29 Juni 2012

Review Film "CINTA DALAM SEPOTONG ROTI" (1990); Manis, Puitis, Sederhana dengan greget visual yang kuat


CINTA DALAM SEPOTONG ROTI
(Garin Nugroho, 1990)
Genre : Drama


Produksi : PT. Prasidi Teta Film dan PT. Eranusa Film
Sutradara : Garin Nugroho
Cerita / Skenario : Garin Nugroho
Penata Kamera : M. Soleh Ruslani
Penyunting Gambar : Arturo GP
Penata Musik : Dwiki Dharmawan
Penata Suara : S Edi Pramono
Penata Artistik : Sapto Busono

Pemeran

Tio Pakusadewo -sebagai- Topan
Cut Rizky Erzet Theo -sebagai- Mayang
Alm. Adjie Massaid -sebagai- Harris

Prestasi

Film Terbaik FFI 1991
Tata Musik Terbaik FFI 1991
Tata Kamera Terbaik FFI 1991
Tata Artistik Terbaik FFI 1991
Film Terlaris FFI 1991 (Piala Antemas)
Penghargaan Festival Film Asia Pasifik 1992 untuk Sutradara Pendatang Baru Terbaik
Nominasi Cerita FFI 1991
Nominasi Tata Suara FFI 1991
Nominasi Sutradara FFI 1991


Review

Cinta Dalam Sepotong Roti, film pertama Garin Nugroho, sebuah film yang baru pada saat itu, bukan dalam pengetian semantik, melainkan lebih sebagai warna lain. Seolah belum pernah kita lihat dalam perfilman nasional sebelumnya. Dari introduction yang dibanunnya, dari pemilihan judul, kita dihadapkan pada irama platonis. Penuh simbol. Penuh puisi. Juga kata-kata gagah, serta gaya ungkap personal yang pekat. Garin Nugroho mengingatkan kita pada sutradara Hollywood, Adrian Lynne, yang membuat film-film seperti Fatal Attraction, Flash Dance, 9 1/2 Week, dan lain-lain. Garin sebagai Adrian Lynne berbicara dari sisi-sisi personal. Pertemuan dua manusia, yang menghindari tokoh dan tema besar, rumit serta butuh perenungan. Trend yang muncul di kota, adalah tema-tema ringan, manis, sederhana namun dengan greget visual yang kuat. Seniman yang baik memerlukan kepekaaan, untuk bisa menangkap gejala psikologis dan sosiologis masyarakatnya, untuk siapa ia berkarya. Garin agaknya tahu akan hal itu. Masyarakat kota, sasaran utama CDSR, adalah masyarakat yang sudah lelah. Apalagi untuk meenungkan lingkungannya. Mereka menghindari hal-hal besar, rumit serta tak butuh perenungan. Manusia kota butuh bercermin, butuh penjelajahan psikologis atau petualangan. Ini bisa dilihat dalam alur CDSR yang sederhana. Dngan karakter khas manusia Indonesia, yang hadir di tengah deru industrialisasi seperti Mayang, Harris dan Topan.

Mereka bertiga, potret profesional muda saat itu, yang menjamur bersama tumbuhnya ekonomi Indonesia. latar belakang kita, dengan sendirinya akan secara khas mewarnai problematika kehidupan, kepada siapa film ini ditunjukkan oleh Garin Nugroho. Latar belakang Garin, cukup mewarnai konsep visual sutradaranya. Apalagi latar akademisnya, dari jurusan sinematografi IKJ. bahasa gambar, sebagaimana sejak awal dibangun, menjadi pertimbangan utamanya. CDSR akhirnya menjadi film yang mengandung eksotisme, gengsi tersendiri untuk ditonton. Isu yang dilemparkannya, cukup cerdas dalam menyiasati pasar. kegelisahan Garin sebagai sutradara muda kala itu, mendapat dua tuntutan sekaligus dari sisi komersial dan artistik. Film ini, sebagaimana tontonan masyarakat kota, membungkus erotisme dalam kemasan visual yang tidak murahan. Bahwa kerangka cerita dan kerangka karakter tokoh, dipercaya mampu mengangkat tema dan alur yang sederhana. penjelajahan psikologis, seperti agresivitas cinta Mayang atau kecemburuan Harris yang puritan dan akibat-akibat tragisnya, mendapatkan muara. 

Rumah tangga Harris-Mayang, berjalan kurang mulus. Harris karena mengetahui penyelewengan seksual ibunya, mengalami trauma seksual, ketika dan setiap hendak berhubungan dengan istrinya. Karena persoalan dirasa makin gawat, mereka berdua bersepakat mengadakan liburan ke Bali. Namun kehadiran topan, sahabat mereka sejak kecil, membuat persoalan menjadi lain. Topan yang hendak mengadakan pemotretan di Lombok, menyetujui ajakan mereka karena ketinggalan kereta, menumpang mobil Harris-Mayang. Meski 'hanya' sampai Banyuwangi, kehadiran Topan adalah pemicu dari persoalan rumah tangga Harris-Mayang menjadi semakin gawat. Hubungan segitiga pun muncul kembali. Sejak semula, Topan dan Harris, memang sama-sama mencintai Mayang. haya masalahnya menjadi lain, ketika Harris menyatakan cintanya, dan mengukuhkan dalam perkawinan, Topan berada di luarnya. Justru dalam perjalanan itu, penjelajahan psikologis Mayang merasa terpenuhi oleh sosok Topan. Mereka mempunyai banyak kesamaan dalam selera dan citarasa. Sedangkan Harris, tak cukup mampu memberi mimpi-mimpi pada Mayang. 

Dari sini, meinggalkan bagian satu, yang diberi judul 'Ikutlah Angin', CDSR masuk ke 'gigi' dua, dalam irama konflik yang lebih kencang pada 'Tunduklah Angin Datang'. Dari banyak kesamaan, lewat puisi, lewat sepotong roti dengan selai arbei, simbol-simbol Mayang dan Topan mencoba saling menangkap. Namun melewati 'gigi' tiga, dalam bagian 'Sebuah Awal', kita sudah tahu, judul ini menyiratkan arah menurun. Garin mungkin ingin berkata, masyarakat kota tak perlu renungan. Untuk merenungkan, barangkali, masyarakat kotatak punya waktu. Topan dan Mayang hanya bisa berkeluh kesah. Bahwa manusia bisa sering salah pilih, terlambat untuk datang. Sehingga ketika semuanya telah terjadi, memang harus diterima. Jam tidak bisa ditark mundur. Jika sampai pada sebuah awal, yang dimaksudkan adalah perlunya interpretasi baru. Pemahaman, penyadaran dari peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi, itu yang lebih penting. 

Kita melihat sebuah pemdatan cermat dalam pengolahan konflik. Perjalanan Jakarta-Banyuwangi semobil bertiga dengan sisi personal berbeda, menjanjikan banyak hal. Paling tidak, dari perjalanan piknik ini, suasana gambar ilustratif dana panoramik jelas dimungkinkan. Garin Nugroho agaknya ingin membebeaskan diri dari ruang dan waktu. Dalam kisah ini, menjadi tidak penting kapan dan dimana. Mayang dalam perjalanan itu, tetap menjalankan tugasnya, selaku pengasuh rubrik konsultasi keluarga pada sebuah majalah wanita. Ini sebuah teknik pemadatan dalam penglolaan konflik secara cerdik, penajaman ironisme, makin tersa substil. Apalagi kecermatan Garin membuat CDSR sebagai karya film yang layak dinikmati. Dengan naskah skenario yang ditulisnya sendiri, Garin makin jelas terlihat. idiomatika gambar yang disajikannya, boleh dibilang berani dalam menyodorkan cara bertutur gaya lain. Bukan hanya kerapnya simbol-simbol muncul dalam frame, melainkan juga ia banyak membiarkan kamera diam di tempat. pemain diberinya keleluasaan bergerak. Tentu saja perlu kerjasama yang baik antara sutradara, penata kamera, dan editor. M Soleh Ruslani sebagai juuru kamera agaknya mampu mengimbangi Garin. Pengalaman kerja samanya dengan Slamet rahardjo, bahkan dalam film Kodrat, Ruslani meraih Piala Citra FFI 1987 untuk tata kamera terbaik. Ia tentu punya pengaruh dalam wawasan estetikanya. Ruslan begitu berani dengan gambar-gambar diam. Dalam beberapa adegan, Arturo GP, selaku penyunting gambar, mengimbanginya dengan kreatif editing. Editing memang bukan hanya sekedar cutter. Apalagi dalam proses sebuah film, bagian ini menjadi utama dalam struktur film. Kekuatan naratif film, antara lain ditentukan disini. Dari sini terlihat trio Garin, Ruslani, dan Arturo kompak. Ritme platonis, dengan pengadeganan cenderung lamban, memberikan keleluasaan dalam eksplorasi psikologis bagi Mayang, Harris, dan bahkan penonton.



Latar belakang Garin, sebagai sutradara film-film dokumenter, begitu akomodatif menampung kreatifitas. Apalagi CDSR banyak merekam gambar, tapi tetap dalam fungsinya sebagai ilustrasi. Ada banyak ilustrasi disampaikan dalam simbol-simbol, baik sebagai boneka-boneka, mainan anak-anak, pesawat terbang dari kertas, kue serabi, kerupuk, lori yang mengangkut tebu. Begitu banyaknya simbol-simbol itu. Lihat juga gemericik air sungai, semilir angin pegunungan, dedaunan, hamparan rumput, hujan atau kepulan debu dalam lintasan mobil. Film ini memang sarat dengan bahasa gambar. Namun ketika gambar-gambar puitis itu dihias dengan kata-kata puitis, kadang gagah, sering terjasi anakronisme dlaam karakter tokoh. Topan selaku fotografer free lance itu, kita tahu gemar roti dengan selai srikaya nya, tapi dikejar keinginan omong gagah, Topan bisa berkata "Aku tak mau memotret sarung, sementara dibaliknya ada celana jeans" atau mungkin, anakronisme ini khas generasi Topan di awal 90-an itu. Harus diakui, Garin pandai dalam bahasa gambar. Ketika Mayang tergores jarinya, Topan dengan sigap mengulum jari yang terluka itu, agar darahnya berjenti mengucur., sungguh amat puitis. Begitu juga ketika Mayang terpeleset di sungai, Topan kemudian menolongnya, membopong Mayang ke gubung kosong. Tampaknya, adegan ini akan menjadi klise. Dalam hujan deras, dua manusia, laki-laki dan perempuan, di gubug kosong. tapi ternyata Topan hanya mengusap tubuh Mayang yang kotor, dengan tissu pembersih kameranya. 

Garin masih dalam tingkat kreatifnya yang wajar. ia toh berhasil banyak dalam memberikan paduan adegan yang menyentuh. Kita lihat juga, bagaimana kerjasamanya Dwiki Dharmawan selaku penata musiknya. Saat Mayang dan Harris berada dalam kamar, Topan berada di luar. Dalam hujam, Topan memainkan harmonika di atas komidi putar. Pelan tapi menyayat, terdengar irama blues mengiring adegan itu. Begitu melarutkan hati dan berkesan. Dwiki, pemusik jazz dari Krakatau ini, mampu memberikan aksentuasi. ia juga bisa menahan diri, untuk tidak terus menerus masuk. Pilihan pada orkestrasi klasik, membuat Garin memilih Dwiki, bukan Idris Sardi. Siasat yang jitu. Dewan juri FFI 1991 jeli, menilai Dwiki lah yang berhak menerima Citra untuk penata musik terbaik FFI 1991. Namun dalam soal pemeranan, Garin terlalu banyak ambil resiko. Apalagi Rizky Erzet Theo dan Alm. Adjie Massaid, tak mampu menjaga staminanya. Pemeran Mayang dan Harris ini, kurang mampu menguaai emosi. Kelemahan elementer ini, terletak pada kapasitas aktingnya. Itu terjadi juga pada Tio Pakusadewo. Tapi karakter Topan, yang gagah dan spontan, masih dikenal Tio. 

Secara garis besar, karya perdana Garin Nugroho mempunyai beberapa keistimewaan yang patut ditonjolkan. Sangatlah pantas film ini ditempatkan sebagai film terbaik FFI 1991 ditambah dengan meraih Citra untuk segi-segi teknis lainnya. Kehadiran Garin Nugroho di industri perfilman Indonesia, mejadi fenomena menarik bagi perjuangan kita menegakkan gengsi perfilman nasional. Setelah era Teguh Karya, Arifin C Noer, Wim Umboh, Sjuman Djaya, lalu muncul seorang Garin Nugroho yang mmeiliki potensi yang sangat besar. Hal ini terbukti, dengan konsistensi Garin Nugroho, setelah film Cinta Dalam Sepotong Roti, menghasilkan karya-karya berkualitas dan juga membawa nama Indonesia ke kancah internasional.


Trivia

Film ini dapat diakses dari Sinematek Indonesia

1 komentar: