Jumat, 13 Juli 2012

#BestOf WIDYAWATI



WIDYAWATI
Aktris
Genre : Drama, Romansa
Tahun Aktif : 1967 - sekarang

Quote :

“Hidup apa adanya, tanpa target dan jangan menyimpan dendam di hati”



13. AMALIA, SH - Amalia SH (Bobby Sandy, 1981)


 Film yang mempunyai judul lain, 'Angin Malam, Bisikkanlah Cintaku Padanya' ini menyumbangkan sebuah unngulan aktris terbaik bagi Widyawati pada FFI 1983. Menjadi seorang pengacara bernama Amalia, yang penasaran dengan Frans, sahabatnya yang tak ditahan dan tak mau dibela olehnya. Amalia menyelidiki kenapa Frans tak mau dibela, melalui buku harian yang dimiliki Frans. Selain itu, juga Amalai mengalami kehidupan rumah tangganya yang cukup ruwet. Karakter Amalia menjadi sosok 'Super Woman' dalam menyelesaikan permasalahan dalam film ini.

12. MARSYA - Suami (Sophan Sophiaan, 1988)


 Karakter Widyawati di film ini agak mirip dengan karakter di film 'Sesal', namun yang agak berbeda adalah suaminya, Bram (yang tentunya diperankan Sophan Sophiaan) terlibat affair dengan wanita lain (diperankan Dewi Yull). Kesenjangan karir menjadi inti masalah antara pasangan suami istri ini. Penampilan Widyawati memang selalu maksimal dan prima, tak heran jika dia diunggulkan untuk meraih Piala Citra untuk film ini.


11. ERNA - Sesaat Salam Pelukan (Sophan Sophiaan, 1989)


Pernikahan Erna dan Andi mengalami banyak konflik dari orang-orang disekitar keluarga rumah tangga mereka, dan yang paling memilukan adalah anak mereka, Ari, mengidap tumor otak. Disini kembali Widyawati dan Sophan Sophiaan berada di dilm drama keluarga yang cukup menyita haru dan emosi, dan juga ditambah penampilan aktor ciliki Mario Pratama sebagai Ari. 


10. NYAI MUTHMAINNAH - Perempuan Berkalung Sorban (Hanung Bramantyo, 2009)


Peran pertama setelah ditinggal sang suami, Sophan Sophiaan, Widyawati tetap menunjukkan akting luar biasa, dimana ia berhasil meraih penghargaan dari Festival Film Asia Pasifik 2010 untuk Aktris Pendukung Terbaik. Berperan sebagai Nyai Muthmainnah, istri seorang kyai yang memimpin pesantren konservatif. Putrinya, Anissa, tumbuh menjadi gadis yang mempertanyakan dan melawan sikap konservatif di lingkungannya. Nyai Muthmainnah, sosok ibu yang sabar dan mengayomi keluarganya. 

9. JELINA - Bayi Tabung (Nurhadie Irawan, 1988)


Dalam film ini, Widyawati tidak menjadi pasangan Sophan Sophiaan atau disutradarai oleh Sophan Sophiaan. Pasangannya adalah Deddy Mizwar, sebagai pasangan suami istri, dimana istri, Jelina (Widyawati) menyewakan rahimnya dengan bayaran tinggi oleh sebuah keluarga dari negeri jiran, Malaysia. Setelah Jelina melahirkan anak 'titipan' keluarga malaysia itu, Jelina merasa bahwa itu anak kandungnya. Film ini menunjukkan akting emosional Widyawati dan semakin mengukuhkan dirinya aktris spesialis film drama. Mendapat penghargaan dari Dewan Film Nasional 1989. 


8. MELIA - Disini Cinta Pertama Kali Bersemi (Wim Umboh, 1980)


Menjadi seorang biarawati setelah mengalami kehidupan yang rumit, dan juga rumah tangganya yang berantakan. Seorang pria (Roy Marten) yang dulu menjadi kisah cintanya muncul kembali di saat dia sudah menjadi penghuni biara. Hatinya yang telah beku, luluh ketika pria itu datang bersama anaknya. 

7. INGE - Perkawinan (Wim Umboh, 1972)

 

Film romansa peraih banyak Piala Citra FFI 1973, dan film pertama yang bersetting di eropa. Widyawati menjadi wanita keturunan Filipina, yang menjalin hubungan dengan pria Jawa, yang beretmu di Belanda, hubungan mereka ditentang orangtua sang pria. Setelah Pengantin Remadja, Perkawinan menjadi film romansa kedua pasanagn itu yang berkesan hingga kini. 


6. One Way Ticket (Kapan Kau Kembali?) - (Motinggo Boesje, 1976)

Lewat peran di film yang berinti cerita pada upaya pembebasan Irian Barat ini, Widyawati meraih Piala Citra FFI untuk pemeran pembantu wanita terbaik. 

5. JULI - Pengantin Remadja (Wim Umboh, 1971)


Romeo dan Juliet pertama versi Indonesia. Ceritanya juga sama, kisah dua insan yang dihalangi oleh keadaan. Film romansa legendaris ini juga banyak yang mengatakan, jiplakan dari film 'Love Story' dari Hollywood, tahun 1970. Berkat film ini pula, pasangan ini pertama kali dipertemukan, dan menjadi sangat populer di industri film, dan tentunya menjadi pasangan yang abadi. 

4. LESTARI - Love (Kabir Bhatia, 2008)


Di film dengan 5 kisah cinta ini, kehadiran pasangan abadi ini sangat mencuri perhatian, mood booster dan mungkin menjadi obat rindu bagi para pencinta film nasional yang lama merindukan penampilan mereka kembali. Love menjadi film yang menampilkan kembali Widyawati dengan sang suami, Sophan Sophiaan di layar perak, dan tak disangka menjadi filmography terakhir bagi Sophan Sophiaan yang wafat 3 bulan setelah dirilis film ini. Segmen Lestari dan Nugroho, kisah cinta insan berusia 50 tahun keatas ini, cukup unik. Nugroho yang sakit alzheimer, bertemu dengan lestari, pemiliki warung soto. Kisah mereka indah dan romantis, dan tentunya chemistry dan akting mereka yang tak perlu diragukan lagi. 

3. MUTIA, SH - Sesal (Sophan Sophiaan, 1994)



Sesal merupakan karya bioskop terakhir Sophan Sophiaan, dimana karya terakhirnya ini cukup indah dan cukup berkesan. Kembali bersetting di luar negeri, mengingatkan pada film Perkawinan yang dirilis 1972, dimana pasangan ini bermain bersama di film yang pertama bersetting di eropa tersebut. Ceritanya juga bagus, drama keluarga seperti biasa, namun ujung cerita berakhir dengan perasaan mengusik kalbu. Widyawati sebagai Mutia, wanita karir yang memiliki suami dan dua anak, meninggal karena kanker. Sesal pada suaminya, Affan (Sophan Sophiaan) karena di akhir-akhir hayat hidup istrinya, hubungannya dengan Mutia cukup bergejolak karena kesenjangan karir mereka. Di film ini, permainan Widyawati yang paling menonjol. 

2. NONA - Buah Hati Mama (Sophan Sophiaan, 1980)


Widyawati menjadi istri yang bersama suaminya kembali ke tanah air dari Belanda, dimana suaminya harus bekerja keras membiayai keluarganya. Namun benturan-benturan terus terjadi baik secara kultural, ekonomi maupun dalam keluarga mereka. Widywati tampil bagus, dengan karakter perempuan yang tidak terbiasa dengan kehidupan di tanah air, dan dia segenap hati harus beradaptasi. Adegan yang cukup membuat jiwa ini terusik ketika dia memukul anaknya, Eka, karena sebuah kesalahan, padahal bukan Eka yang melakukannya. Akting Widyawati memang yang paling menjulang, karena harus memainkan banyak emosi.

1. ARINI - Arini, Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat (Sophan Sophiaan, 1987)


Karakter Arini identik dengan Widyawati. Kisah hidup Arini yang cukup berbelit, dan juga kisahnya dengan pria muda, yang diperankan Rano Karno menjadi inti cerita film yang berlatar di negeri Paman Sam ini. Chemistry antara Widyawati dengan Rano Karno patut diacungi jempol. Keduanya bermain bagus, dan Sophan Sophiaan sebagai sutradara dapat mengarahkan akting sang istri dengan sangat baik, terbukti dengan kemenangan yang mengejutkan, pada FFI 1987, kategori aktris terbaik direbut oleh Widyawati lewat karakter Arini.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar