Sabtu, 04 Februari 2012

Review Film - "Pintu Terlarang" (2009)

Jenis Film            : Thriller 

Sutradara            : Joko Anwar
Penulis Skenario  : Joko Anwar
Penata Kamera    : Ipung Rahmat Syaiful
Penata Artistik    : Wenciclaus
Penata Musik  : Bembi Gusti, Aghi Narottama & Ramondo Gascaro
Penata Suara       : Khikmawan Santosa
Penyunting          : Wawan I. Wibowo
Penata Busana     : Isabelle Patrice


Pemeran

Fachri Albar
Marsha Timothy
Tio Pakusadewo
Henidar Amroe
Ario Bayu
Otto Djauhari
Verdi Solaiman
Arswendi Nasution


Sinopsis


Hidup seorang pematung yang sukses bernama Gambir (Fachri Albar) mulai berantakan setelah dia mulai menerima pesan-pesan misterius dari seseorang yang meminta pertolongannya. Dari sebuah tayangan TV illegal yang menempatkan kamera tersembunyi di rumah-rumah orang, dia mengetahui bahwa yang mencoba menghubunginya adalah seorang anak laki-laki berusia 7 tahun yang disekap dan disiksa oleh dua orang misterius. Saat Gambir berusaha untuk mencari tahu di mana anak itu, dia curiga kalau istrinya yang bernama Talyda (Marsha Timothy) mungkin ada hubungannya dengan misteri yang sedang dia coba pecahkan. Tak lama kemudian, Gambir harus memilih, apakah menyelamatkan anak kecil itu atau kehilangan semua milik dan hidupnya. Apapun pilihannya, kengerian dan bencana yang berdarah-darah menanti di ujung pencariannya.

 Penghargaan
 
Festival
Kategori
Penerima / Nominee
Hasil
Festival Film Indonesia 2009
(Piala Citra)

Festival Film Indonesia 2009
(Piala Citra)

Festival Film Indonesia 2009
(Piala Citra)

Puchon International Fantastic Film Festival, Korea
Penyuntingan



Sinematografi



Skenario Adaptasi


Puchon Choice Feature – International Competition
Wawan I Wibowo


Ipung Rahmat Syaiful


Joko Anwar
Menang



Menang



Nominasi



Menang


Review 

Menurut saya, Joko Anwar ingin membuat film yang menghibur, sekaligus bisa dimaknai secara kontemplatif oleh para penontonnya. Dan setelah saya menyimak filmnya, saya semakin yakin jika Joko Anwar adalah salah satu sutradara di Indonesia dengan visi dan misi yang terstruktur untuk membuat film yang bermutu di dalam ranah sinema Indonesia.

Setelah debut menyenangkan dengan ‘Janji Joni’ dan sophomore yang fantastis dengan ‘Kala’, maka di karya ketiganya ini Joko Anwar coba menggali suspensi dengan lebih mendalam. Joko dengan penuh kredibilitas yang mumpuni membangun ketegangan dengan dinamika penuh eskalasi dalam progresi plotnya.


Cerita ditampilkan dengan kompleksitas yang lumayan menarik dan dihantarkan melalui presentasi yang elaboratif. Penonton seolah-olah diajak untuk menyelami kedalaman cerita dan diajak serta untuk memasuki kehidupan Gambir, karakter utamanya.


Ketegangan dibangun secara merambat sehingga mencapai kulminasi pada klimaks yang “mengerikan”. Semua dibangun oleh presisi oleh Joko. Meski, secara pribadi rangkaian adegannya terasa sedikit kepanjangan dan bisa sedikit di trim agar sedikit lebih padat. Ada kalanya pula saya merasa jika pergerakan plotnya terlalu mengikuti pakem yang banyak dipakai pada film sejenis, sehingga meski saat menontonnya saya belum pernah membaca novelnya, namun bisa membaca kemana arah film ini nantinya.


Didukung oleh akting jajaran pemainnya yang lumayan artikulatif dalam menerjemahkan cerita dan karakter mereka; Fachri Albar dan Marsha Timothy bermain apik, meski Tio Pakusadewo terasa repetitif, sedangkan akting Henidar Amroe mengingatkan akan perannya di ‘Mereka Bilang Saya Monyet’.

‘Pintu Terlarang’ bukanlah film sempurna. Tapi ini adalah film yang mengagumkan, karena menampilkan kinerja profesional yang jarang ada di sinema Indonesia, akting maupun teknis. Oleh karenanya sangat layak untuk disimak, jika ingin melihat thriller kreasi sineas kita, sekaligus menunjukkan jika ada juga sutradara disini yang sangat kompeten dibidangnya. Raihan anugerah Film Terbaik dalam Puchon International Fantastic Film Festival 2009 yang lalu adalah buktinya.

Trivia

* Film adaptasi novel karya Sekar Ayu Asmara 
* Meraih 3 Nominasi FFI 2009, dan berhasil menyabet 2 Piala Citra



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar