Sabtu, 21 Juli 2012

#BestOf DEWI YULL



DEWI YULL
Aktris, Penyanyi, Produser
Genre : Drama
Tahun Aktif : 1980 - sekarang


Quote :
"Umur bukan hambatan dalam berkarya"

9. NONON - Jawara Sok Kota (Firman Triyadi, 1990)


Menjadi seorang penari topeng bernama Nonon, yang mempunyai pacar yang sangat posesif, pencemburu dan seorang jawara kampung Betawi. Film komedi ini mempertemukan Dewi Yull dengan Ayu Azhari dan Eeng Saptahadi yang berperan sebagai pacarnya.

8. PALUPI - (TV) Kehangatan (Tatiek Maliyati WS, 1995)


Menjadi seorang wartawati bidang kriminal bernama Palupi. Suaminya yang sudah wafat, semula juga wartawan. Palupi hidup dengan anak semata wayangnya yang berusia lima tahun. Digambarkan, Palupi yang cantik dan berstatus janda ini berambisi untuk mendapatkan berita-berita yang eksklusif. beberapa narasumber kadang menuntut imbalan dari kecantikannya demi memberikan informasi. Palupi juga menangani kasus tentang terbunuhnya seorang wanita penghibur. Cukup jarang, cerita tentang jurnalis diangkat, apalagi jurnalis wanita, dan pertama kalinya Dewi Yull berperan sebagai seorang jurnalis. 

7. ABDI - (TV) Opera Senja (Noto Bagaskoro, 1994)


Serial yang diproduksi PH nya sendiri, Giz Cipta Pratama, bertemakan kehidupan seorang pria tua yang diliputi kegelisahan spiritual. Pria tua ini diperankan Bob Sadino, yang galau untuk memberikan harta warisannya kepada anak-anaknya yang ternyata hanya berambisi menguasai harta miliknya. Hanyalah Abdi yang setia, yang dimainkan Dewi Yull, menjadi tempat bertumpu pria ini dalam mencurahkan perasaan, berbagi cerita, dan abdi lah yang membantu pria ini dalam mengatasi persoalannya dengan anak-anaknya. Peran ini membawa Dewi Yull meraih unggulan pertama di ajang Piala Vidia FSI. 

6. GADIS - Gadis (Nya' Abbas Akup, 1980)


Film debut Dewi Yull sebagai pemain film sekaligus mempertemukan dengan aktor Ray Sahetapy, yang kemudian menikahinya. Berperan sebagai Gadis, seorang anak yang ikut ibunya (Titiek Puspa) pergi meninggalkan bapaknya yang pejabat hidung belang. Kemudian Gadis dan ibunya menjadi buruh cuci pada keluarga bangsawan, dan disini Gadis bertemu dengan seorang pria, bernama Jaka (Ray Sahetapy), dan mereka menjalin hubungan cinta yang penuh terjal. Dewi Yull menunjukkan bakat sebagai pemain di jalur drama, karena karakter dan pembawaannya yang melankolis. 

5. AYU PIDADA - Ayu dan Ayu (Sophan Sophiaan, 1988)


Seorang penari Bali bernama Ayu Pidada yang mengalami kelamnya kehidupan, setelah ditinggalakn pria, sehingga membuat Ayu menderita dan harus berjuang sendiri membesarkan bayinya. Ternyata pria itu menikah dengan wanita bernama Ayu juga, yang ternyata seorang dokter yang membantu Ayu Pidada melahirkan. Chemistry antara 3 pemain utama, Dewi Yull, Dwi Yan dan peragawati Dhanny Dahlan cukup terjalin cukup baik, meski tak dapat dipungkiri, penampilan Dewi Yull lah yang paling menjulang dan menonjol dari yang lain. 

4. JENG SRI - (TV) Losmen (Wahyu Sihombing, 1986 -1989)


Peran Jeng Sri, si janda muda, selalu terekam di benak penonton setia TVRI era 80-an. Ya, Dewi Yull dan pemain lain Losmen, seperti Mieke Wijaya, alm. Mang Udel, Mathias Muchus, Ida Leman, dan lain-lain, tampil menghibur dengan cerita yang sederhana, namun sarat akan makna. Jeng Sri, anak pasangan Broto, pemilik Losmen,  menikah duluan dibanding kakaknya, Pur, perawan tua, namun Sri harus bercerai dari suaminya dan akhirnya kembali ke Jogja, tempat kediaman orangtuanya, membawa anaknya, dan ikut mengurusi Losmen keluarga mereka. 


3. dr. SARTIKA - (TV) dr. Sartika (Wahyu Sihombing, 1989-1991)


Setelah Losmen, dr. Sartika adalah serial yang dibintangi Dewi Yull yang cukup diingat. Mengisahkan perjuangan seorang dokter wanita yang idealis, dan yang mengabdi pada profesinya, walau diterpa banyak masalah. Selain itu, drama kehidupan dr. Sartika juga ditampilkan, dan penampilan Dewi Yull begitu menyentuh dan berkesan. 

2. RINI - Kembang Kertas (Slamet Rahardjo Djarot, 1984)


Dewi Yull mulai menunjukkan potensi bagus sebagai seorang pemain handal, lewat film Kembang Kertas. Pastinya Dewi digembleng sang sutradara, Slamet Rahardjo. Karakter Rini yang suka emosional dan mengalami konflik membatin cukup memberikan tantangan yang besar bagi Dewi Yull. Rini yang mengalami konflik dan intrik-intrik dalam kehidupan dan keluarganya harus kadang menahan emosinya, kadang keluar dengan datar atau bahkan keluar dengan sangat emosional dan meledak-ledak. Tak salah jika Dewi Yull diunggulkan sebagai pemeran utama wanita FFI 1985.

1. SUMI - Penyesalan Seumur Hidup (Frank Rorempandey, 1986)


Setelah Kembang Kertas, kini permainan Dewi Yull kembali teruji di film yang diangkat dari kisah nyata ini. Sumi, seorang istri korban perselingkuhan suami, dan bertahan hanya demi anaknya. Niatan unyuk membunuh suami dengan pisau saat suaminya tidur, terurungkan. Bukan jiwanya yang melayang, alat vital sang suami yang menjadi korban pisau Sumi. Memerlukan pendalaman karakter yang mendalam harus dilakukan Dewi demi menjiwai karakter Sumi, yang cukup sulit. Hal tersebut karena karakter yang diperankan adalah tokoh nyata, dan ternyata Dewi Yull cukup berhasil dalam mengeksekusi peran Sumi, serta dapat menyelesaikan satu film ini sebagai pemeran utama yang baik. Banyak kalangan menduga bahwa melalui peran ini, Dewi Yull dapat merebut Piala Citra, namun sayang, ternyata dewan juri FFI 187 berpikiran lain. Predikat aktris terbaik diraih Widyawati oleh film Arini, yang juga bermain bagus. Namun begitu, inilah penampilan Dewi Yull dalam film layar lebar yang dirasa paling baik dan berkarakter kuat. 



Rabu, 18 Juli 2012

#BestOf NURUL ARIFIN



NURUL ARIFIN
Aktris
Genre : Komedi, Drama
Tahun Aktif : 1984 - sekarang

Quote :

" Kunci keberhasilan saya adalah kerja keras"


10. dr. HALIMAH - (TV) Kupu Kupu Ungu  
(Riri Riza, Hanny R Saputra, Idries Pulungan, N. Riantiarno, Nan T. Achnas, Noto Bagaskoro, 1998)


Perannya sebagai dokter yang memerangi bahaya HIV/AIDS patut diapresiasi, karena memang serial yang ditulis N Riantiarno ini juga sebagai kampanye untuk memerangi penyakit menular yang berbahaya itu. Sejak bermain di Kupu Kupu Ungu, Nurul Arifin juga dikenal sebagai artis yang peduli HIV/AIDS.
 
9. BERLIAN MERAH - Surat Untuk Bidadari (Garin Nugroho, 1992)


Memainkan karkter Berlian Merah, dinikahi oleh Kuda Liar (Adi Kurdi), namun dilarang oleh adik ipar Berlian Merah, karena kakaknya (bekas suami Berlian) dibunuh oleh Kuda Liar. Akting Nurul Arifin memang sangat mempesona di film ini, mungkin jika kala itu FFI masih ada, dia bisa menyabet Piala Citra. Adegan-adegan persidangan cukup menampilkan akting-akting terbaik Nurul, dan di akhir cerita saat Berlian Merah (bersama Lewa) dimasukkan ke satu kamar yang bertuliskan panti rehabilitasi, karena mereka dianggap sakit jiwa.

8. ATIK - 2 Dari 3 Laki-laki (Eduard Pesta Sirait, 1990)


Sebagai Atik, seorang istri yang mencurigai suaminya, yang diperankan Deddy Mizwar, berselingkuh, walaupun sebenarnya hal itu tidak benar. Untuk kesekian kalinya, Nurul Arifin dipasangkan dengan Deddy Mizwar, dan Nurul memang berbakat untuk film-film komedi drama seperti ini, namun hanya menjadi nominasi aktris terbaik FFI 1990. 

7. PRILLY - Catatan Si Emon (Nasri Cheppy, 1991)

 
Walaupun judul dan cerita menyangkut kehidupan karakter 'Emon', namun di film ini karakter Prilly, yang dimainkan Nurul Arifin lah yang menjadi perhatian utama, dan tentunya akting Nurul Arifin yang paling menarik. Karakter wanita yang iseng-iseng menjalin hubungan dengan banyak pria demi mendapatkan kemewahan, dapat ditampilkan Nurul dengan baik dan tidak terlalu berlebihan. Prilly menjalin hubungan dengan ayahnya Emon, sedangkan Emon meninctai Prilly, namun ditanggapi Prilly sebagai bahan lucu-lucuan. Melalui peran ini, ke empat kalinya Nurul Arifin kurang beruntung, untuk meraih Piala Citra pada FFI 1992.

6. KISHI - Saskia (Boyke Roring, 1988)


 Saskia, sebuah film drama remaja yang menampilkan para bintang muda populer saat itu, Rico Tampatty, Desy Ratnasari dan tentunya Nurul Arifin.Cinta segitiga antara Rico, Nurul, dan Desy, yang dimana Desy berperan sebagai Saskia, adik dari Kishi, dimainkan Nurul Arifin. Cinta segitiga antara mereka cdiakibatkan kesalahpahaman yang cukup rumit.

5. IPAH - Pacar Ketinggalan Kereta (Teguh Karya, 1988)

  
 Menjadi gadis pincang bernama Ipah yang menjalin hubungan dengan Heru (yang diperankan Onky Alexander). Hubungan mereka kurang disetujui oleh ibunya Heru, Bu Padmo (Tuti Indra Malaon). Kisah Ipah dan Heru hanyalah sebagian dari kompleksnya konflik dalam film yang menampilkan banyak ensemble cast ini. Nurul Arifin adalah satu dari sedikit artis yang beruntung, karena sempat disutradarai oleh Teguh Karya. Selain Nurul, ada Onky Alexander, Ayu Azhari, dan Didi Petet, yang kala itu karirnya sedang menanjak, dan direkrut maestro Teguh Karya untuk bermain film ini, dan dipasangkan dengan aktor-aktris tangguh macam Tuti Indra Malaon, Rachmat Hidayat, Alex Komang, Niniek L Karim, dan lain-lain. Penampilan Nurul tidak mengecewakan, pastinya karena digenjot oleh Teguh Karya, hasilnya nominasi FFI 1989 dan terpuji untuk Festival Film Bandung 1990.

4. AYUNI - Kemesraan (Pietrajaya Burnama, 1989)

 

Sebagai Ayuni, wanita yang dicampakkan oleh kekasihnya, Roy (diperankan Mathias Muchus). Cintanya pada Roy yang tulus tidak pudar walau mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing. Disini Nurul memainkan karakter yang cukup berbeda dari kebanyakan peran yang sudah ada. Sosok wanita yang tegar dan 'superwoman' adalah gambaran dari karakter Ayuni yang diperankannya.


3. SISKA  - Istana Kecantikan (Wahyu Sihombing, 1988)


Chemistry Nurul dan Mathias Muchus patut mendapat pujian. Siska dan Nico yang menikah karena terpaksa, karena Nico yang homoseksual, Siska juga sudah tidak perawan dengan rekan kerja Nico. Selain Deddy Mizwar, Mathias Muchus adalah aktor yang sering dipasangkan dengan Nurul Arifin. Alhasil, setiap film yang menduetkan mereka, kita bisa melihat akting yang prima dari mereka berdua. Di film ini pun, meski bermain cukup baik, Nurul gagal meraih Citra pada nominasi pertamanya, karena dia harus menyerah pada akting Christine Hakim sebagai Tjoet Nja' Dhien.
 
2. POPPY - Lupus, Tangkaplah Daku Kau Kujitak (Achiel Nasrun, 1987) 


Karakter Poppy, yang melekat pada diri Nurul Arifin, pacar Lupus (alm. Ryan Hidayat) yang kisah cinta mereka putus nyambung terus. Lupus rekaan Hilman Hariwijaya ini, menjadi icon remaja era 80-an, cerita kehidupannya, dan sikapnya yang cuek dan kunyahan permen karet yang khas menjadi hal yang diingat sampai sekarang, termasuk pacarnya, Poppy. Di pertengahan tahun 80-an, Nurul Arifin mulai dikenal publik dengan film-film remaja dan komedi, salah satunya film Lupus ini.

1. KIRANA - Naga Bonar (MT Risyaf, 1986)

 

Sebelum karakter Poppy di film Lupus, Nurul telah mencuri perhatian publik dengan bermain di film komedi legendaris, Naga Bonar. Kembali bermain dengan Deddy Mizwar, akting Nurul sebagai Kirana, perempuan yang terlibat cinta dengan Naga Bonar, sangat diingat. Meski tidak memberi nominasi bagi Nurul, namun Kirana ini lah salah satu tonggak karir seorang Nurul Ariifn di industri perfilman tanah air.

Senin, 16 Juli 2012

QUOTE-QUOTE FILM KLASIK BERKESAN (Bagian 1)


1. "Dibalik kesengsaraan, ada kebahagiaan. Dibalik kesulitan, ada kemudahan". 
- KEMBANG SEMUSIM (MT Risyaf, 1980)

2. "Semua pengabdian diuntukkan bagi keagungan bangsa, dan semua kelelahan untuk kemuliaan manusia". 
- SESAL (Sophan Sophiaan, 1994)


3. "Gini nih, orang sudah terlalu tua masih berkuasa". 
- PLONG, NAIK DAUN (Putu Wijaya, 1991)


4. "Semua orang menginginkan saya kembali ke sini "
- YUYUN PASIEN RUMAH SAKIT JIWA (Arifin C Noer, 1979)


5. "Selama masih ada langit.. Kita masih punya rumah".
- LANGITKU RUMAHKU (Slamet Rahardjo Djarot, 1989)


6. "Kalau kita marah, kita melihat banyak kesalahan pada orang lain, dan merasa diri kita paling benar". 
- KEMBANG KERTAS (Slamet Rahardjo Djarot, 1984)


7. "Mengapa tuan hakim menilai dari pikiran sendiri, baca nurani rakyat" 
- SURAT UNTUK BIDADARI (Garin Nugroho, 1992)


8. "Saya terbiasa bekerja keras. Dan yang terpenting saya adalah seorang pelajar". 
- KERIKIL KERIKIL TAJAM (Sjuman Djaya, 1984)


9. "Aku bukannya tidak setuju kau kawin dengan Bram, tapi apakah dia akan menjadi bapak yang baik buat anak-anakmu?" 
- RANJANG PENGANTIN (Teguh Karya, 1974)


10. "Kalau dilangkahi Nana, Nunung bisa jadi perawan tua!" 
- TIGA DARA (Usmar Ismail, 1956)


11. "Rakyat di desa itu seperti layang-layang yang putus".
 - TITIAN SERAMBUT DIBELAH TUJUH (Chaerul Umam, 1982)



Jumat, 13 Juli 2012

#BestOf WIDYAWATI



WIDYAWATI
Aktris
Genre : Drama, Romansa
Tahun Aktif : 1967 - sekarang

Quote :

“Hidup apa adanya, tanpa target dan jangan menyimpan dendam di hati”



13. AMALIA, SH - Amalia SH (Bobby Sandy, 1981)


 Film yang mempunyai judul lain, 'Angin Malam, Bisikkanlah Cintaku Padanya' ini menyumbangkan sebuah unngulan aktris terbaik bagi Widyawati pada FFI 1983. Menjadi seorang pengacara bernama Amalia, yang penasaran dengan Frans, sahabatnya yang tak ditahan dan tak mau dibela olehnya. Amalia menyelidiki kenapa Frans tak mau dibela, melalui buku harian yang dimiliki Frans. Selain itu, juga Amalai mengalami kehidupan rumah tangganya yang cukup ruwet. Karakter Amalia menjadi sosok 'Super Woman' dalam menyelesaikan permasalahan dalam film ini.

12. MARSYA - Suami (Sophan Sophiaan, 1988)


 Karakter Widyawati di film ini agak mirip dengan karakter di film 'Sesal', namun yang agak berbeda adalah suaminya, Bram (yang tentunya diperankan Sophan Sophiaan) terlibat affair dengan wanita lain (diperankan Dewi Yull). Kesenjangan karir menjadi inti masalah antara pasangan suami istri ini. Penampilan Widyawati memang selalu maksimal dan prima, tak heran jika dia diunggulkan untuk meraih Piala Citra untuk film ini.


11. ERNA - Sesaat Salam Pelukan (Sophan Sophiaan, 1989)


Pernikahan Erna dan Andi mengalami banyak konflik dari orang-orang disekitar keluarga rumah tangga mereka, dan yang paling memilukan adalah anak mereka, Ari, mengidap tumor otak. Disini kembali Widyawati dan Sophan Sophiaan berada di dilm drama keluarga yang cukup menyita haru dan emosi, dan juga ditambah penampilan aktor ciliki Mario Pratama sebagai Ari. 


10. NYAI MUTHMAINNAH - Perempuan Berkalung Sorban (Hanung Bramantyo, 2009)


Peran pertama setelah ditinggal sang suami, Sophan Sophiaan, Widyawati tetap menunjukkan akting luar biasa, dimana ia berhasil meraih penghargaan dari Festival Film Asia Pasifik 2010 untuk Aktris Pendukung Terbaik. Berperan sebagai Nyai Muthmainnah, istri seorang kyai yang memimpin pesantren konservatif. Putrinya, Anissa, tumbuh menjadi gadis yang mempertanyakan dan melawan sikap konservatif di lingkungannya. Nyai Muthmainnah, sosok ibu yang sabar dan mengayomi keluarganya. 

9. JELINA - Bayi Tabung (Nurhadie Irawan, 1988)


Dalam film ini, Widyawati tidak menjadi pasangan Sophan Sophiaan atau disutradarai oleh Sophan Sophiaan. Pasangannya adalah Deddy Mizwar, sebagai pasangan suami istri, dimana istri, Jelina (Widyawati) menyewakan rahimnya dengan bayaran tinggi oleh sebuah keluarga dari negeri jiran, Malaysia. Setelah Jelina melahirkan anak 'titipan' keluarga malaysia itu, Jelina merasa bahwa itu anak kandungnya. Film ini menunjukkan akting emosional Widyawati dan semakin mengukuhkan dirinya aktris spesialis film drama. Mendapat penghargaan dari Dewan Film Nasional 1989. 


8. MELIA - Disini Cinta Pertama Kali Bersemi (Wim Umboh, 1980)


Menjadi seorang biarawati setelah mengalami kehidupan yang rumit, dan juga rumah tangganya yang berantakan. Seorang pria (Roy Marten) yang dulu menjadi kisah cintanya muncul kembali di saat dia sudah menjadi penghuni biara. Hatinya yang telah beku, luluh ketika pria itu datang bersama anaknya. 

7. INGE - Perkawinan (Wim Umboh, 1972)

 

Film romansa peraih banyak Piala Citra FFI 1973, dan film pertama yang bersetting di eropa. Widyawati menjadi wanita keturunan Filipina, yang menjalin hubungan dengan pria Jawa, yang beretmu di Belanda, hubungan mereka ditentang orangtua sang pria. Setelah Pengantin Remadja, Perkawinan menjadi film romansa kedua pasanagn itu yang berkesan hingga kini. 


6. One Way Ticket (Kapan Kau Kembali?) - (Motinggo Boesje, 1976)

Lewat peran di film yang berinti cerita pada upaya pembebasan Irian Barat ini, Widyawati meraih Piala Citra FFI untuk pemeran pembantu wanita terbaik. 

5. JULI - Pengantin Remadja (Wim Umboh, 1971)


Romeo dan Juliet pertama versi Indonesia. Ceritanya juga sama, kisah dua insan yang dihalangi oleh keadaan. Film romansa legendaris ini juga banyak yang mengatakan, jiplakan dari film 'Love Story' dari Hollywood, tahun 1970. Berkat film ini pula, pasangan ini pertama kali dipertemukan, dan menjadi sangat populer di industri film, dan tentunya menjadi pasangan yang abadi. 

4. LESTARI - Love (Kabir Bhatia, 2008)


Di film dengan 5 kisah cinta ini, kehadiran pasangan abadi ini sangat mencuri perhatian, mood booster dan mungkin menjadi obat rindu bagi para pencinta film nasional yang lama merindukan penampilan mereka kembali. Love menjadi film yang menampilkan kembali Widyawati dengan sang suami, Sophan Sophiaan di layar perak, dan tak disangka menjadi filmography terakhir bagi Sophan Sophiaan yang wafat 3 bulan setelah dirilis film ini. Segmen Lestari dan Nugroho, kisah cinta insan berusia 50 tahun keatas ini, cukup unik. Nugroho yang sakit alzheimer, bertemu dengan lestari, pemiliki warung soto. Kisah mereka indah dan romantis, dan tentunya chemistry dan akting mereka yang tak perlu diragukan lagi. 

3. MUTIA, SH - Sesal (Sophan Sophiaan, 1994)



Sesal merupakan karya bioskop terakhir Sophan Sophiaan, dimana karya terakhirnya ini cukup indah dan cukup berkesan. Kembali bersetting di luar negeri, mengingatkan pada film Perkawinan yang dirilis 1972, dimana pasangan ini bermain bersama di film yang pertama bersetting di eropa tersebut. Ceritanya juga bagus, drama keluarga seperti biasa, namun ujung cerita berakhir dengan perasaan mengusik kalbu. Widyawati sebagai Mutia, wanita karir yang memiliki suami dan dua anak, meninggal karena kanker. Sesal pada suaminya, Affan (Sophan Sophiaan) karena di akhir-akhir hayat hidup istrinya, hubungannya dengan Mutia cukup bergejolak karena kesenjangan karir mereka. Di film ini, permainan Widyawati yang paling menonjol. 

2. NONA - Buah Hati Mama (Sophan Sophiaan, 1980)


Widyawati menjadi istri yang bersama suaminya kembali ke tanah air dari Belanda, dimana suaminya harus bekerja keras membiayai keluarganya. Namun benturan-benturan terus terjadi baik secara kultural, ekonomi maupun dalam keluarga mereka. Widywati tampil bagus, dengan karakter perempuan yang tidak terbiasa dengan kehidupan di tanah air, dan dia segenap hati harus beradaptasi. Adegan yang cukup membuat jiwa ini terusik ketika dia memukul anaknya, Eka, karena sebuah kesalahan, padahal bukan Eka yang melakukannya. Akting Widyawati memang yang paling menjulang, karena harus memainkan banyak emosi.

1. ARINI - Arini, Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat (Sophan Sophiaan, 1987)


Karakter Arini identik dengan Widyawati. Kisah hidup Arini yang cukup berbelit, dan juga kisahnya dengan pria muda, yang diperankan Rano Karno menjadi inti cerita film yang berlatar di negeri Paman Sam ini. Chemistry antara Widyawati dengan Rano Karno patut diacungi jempol. Keduanya bermain bagus, dan Sophan Sophiaan sebagai sutradara dapat mengarahkan akting sang istri dengan sangat baik, terbukti dengan kemenangan yang mengejutkan, pada FFI 1987, kategori aktris terbaik direbut oleh Widyawati lewat karakter Arini.


Kamis, 12 Juli 2012

#BestOf DIDI PETET



DIDI PETET
Aktor, Sutradara
Genre : Komedi, Drama
Tahun Aktif : 1985 - sekarang

 Quote :

“Saya akan terus berakting, meski sudah tidak terpakai lagi di film. Teater adalah hidup saya, dan dari teater saya akan hidup”




13. MARYONO - (TV) Buku Harian (Adisoerya Abdi, 1994)

Serial Buku Harian di SCTV cukup berkesan di benak penonton, menjadi salah satu tontonan yang menghibur sekaligus menjadi tuntunan. Hal itu tak terlepas dari penampilan para pemain, terutama pemeran utama, Didi Petet dan Ully Artha. Didi menjadi Maryono, seorang lelaki berusia 50-an, direktur sebuah bank di Surabaya. Ia mempunyai istri cantik dengan tiga anak gadis dan satu lelaki. Hubungan kekeluargaan mereka sangat harmonis. Sebagai keluarga kalangan menengah, kehidupan mereka sangat terbuka satu sama lain, tapi tidak meninggalkan aturan-aturan serta tatanan sebagaimana layaknya keluarga, saling asih, asah dan asuh. Bukan berarti tidak ada persoalan di antara mereka, tapi hal itu dijadikan dasar untuk menguji pemahaman pikiran dan perasaan mereka.

12. TUAN HERDIONO - (TV) Parmin (Enison Sinaro, 1994)




Bersama Niniek L Karim menjadi pasangan suami istri, tuan dan nyonya Herdiono, yang hidup berkecukupan dengan ketiga anaknya, mencurigai tukang kebun mereka, Parmin, mencuri di rumah mereka. Cerita sederhana namun sarat akan nilai moral ini, pernah dibuat kembali dengan judul 'Papi, Mami, dan Tukang Kebun' dimana peran Didi Petet dimainkan oleh Sandy Nayoan. Dalam FTV Parmin, Didi Petet meraih unggulan pertama di ajang Piala Vidia.



11. EYANG KARSO - (TV) Keris (Arifin C Noer, 1994)



Didi Petet bermain di karya terakhir sineas Arifin C Noer, Keris di tahun 1994. Didi berperan sebagai seorang tua bernama Eyang Karso, yang suka dihinggapi mimpi-mimpi buruk karena kesalahan masa lalu. Satu-satunya penghibur adalah Mbak Nuniek, istrinya yang masih muda dan cantik. Selain itu, eyang Karso merasa aman lantaran memiliki banyak senjata pusaka, termasuk keris. Saat kerisnya hilang, dan anak-anak Eyang Karso berdatangan untuk meributkan soal warisan, terjada perselisihan antara Eyang Karso dengan anak-anaknya. Masalah semakin kompleks dengan rahasi besar dalam diri Eyang Karso tentang kehidupan di masa lalunya. 'Keris' adalah karya televisi yang tampil memikat dari segi skenario yang kuat dan juga penampilan akting yang prima dari Didi Petet sebagai Eyang Karso. 'Keris' meraih banyak nominasi di ajang Piala Vidia 1995 termasuk untuk aktor terbaik.


10. BUSTAMAN - Gema Kampus 66 (Nico Pelamonia, 1988)


Didi Petet berhasil mengembangkan watak dari karakter Bustaman, yang dari seorang pemimpin mahasiswa yang idealis menjadi pengusaha kaya yang rakus dan tamak, termasuk meninggalkan pacarnya, demi menikah dengan anak orang kaya. Mendapat penghargaan terpuji dari Festival Film Bandung 1989.

9. SUWITO - Pasir Berbisik (Nan T Achnas, 2000)


Peran serius Didi di film drama ini. Berperan sebagai Suwito, seorang lintah darat, yang culas dan merenggut kegadisan Daya (Dian Sastro) karena dijual ayahnya, Agus (Slamet rahardjo) karena terililit hutang pada Suwito, sebagai imbalan pelunasan hutang Agus. Film ini mempertemukan Didi Petet dengan Slamet Rahardjo, Christine Hakim, dan Dian Sastro untuk pertama kali.

8. JOE KIFLI - Namaku Joe (Nasri Cheppy, 1988)



Tidak ada kaitan dengan karakter Joe di film Joe Turun Ke Desa (1990). Film ini adalah film drama romansa yang cukup populer kala itu. Apalagi para pemainnya adalah 'teman-teman lama' Didi, seperti Onky Alexander, Paramitha Rusady dan Meriam Bellina. Kisah mereka bereempat diramu menjadi cerita yang cukup baik. Dalam film ini, Didi dan Onky bukan bersahabat, melainkan bersaing merebutkan Paramitha Rusady.



7. JOE - Joe Turun Ke Desa (Chaerul Umam, 1990)


Menjadi mahasiswa bernama Joe yang memimpin kelompok mahasiswa yang melakukan Kuliah kerja Nyata di sebuah desa, ternyata kelompok yang dipimpin Joe mengalami banyak masalah yang mengakibatkan pertikaian diantara mereka, namun dibalut dengan kocak. Nominasi aktor terbaik FFI 1990.


6. PASIKOM - Oom Pasikom (Chaerul Umam, 1990)
 

Sketsa Oom Pasikom yang tadinya dikenal di harian Kompas, dapat diterjemahkan oleh Didi Petet dalam sosok nyata dengan baik. Permainan Didi cukup bagus, ditambah dengan permainan Lenny Marlina yang tak kalah bagus. Cukup menarik, Didi Petet disandingkan dengan Lenny Marlina, sebagai pasangan suami istri. Karakter Oom Pasikom juga cukup melekat pada Didi Petet.  

5. EGY - Boneka Dari Indiana (Nya' Abbas Akup, 1990)




Memang Didi Petet cukup berkarakter di film-film bergenre komedi seperti film Boneka Dari Indiana. Satu poin yang perlu dicatat pula, adalah chemistry antara Didi dengan lawan mainnya, Lidya Kandou yang tercipta dengan sangat baik. Di film ini, mereka menjadi pasangan suami istri, Egy dan Cece. Egy, seorang suami yang berada di bawah kekuasaan istrinya dalam segalaa hal, urusan kantor atau urusan rumah. "Boneka" dari judul film ini, mungkin menggambarkan sosok Egy. Karya terakhir Nya' Abbas Akup yang sangat menarik dan juga akting yang bagus pula dari Didi Petet, yang meraih nominasi aktor terbaik FFI 1991 untuk film ini.

4. BOBBY - Cinta Anak Jaman (Buce Malawau, 1988)


Peran yang membuat kejutan, membawa Didi Petet merebut Piala Citra dari para nominee lain yang bermain di film-film berat. Karakter Bobby yang dimainkan Didi, cukup menjadi penghibur tersendiri di film ini. Dia mencoba membantu sahabatnya, Rendy (diperankan Donny Damara) yang selalu mengalami masalah dengan pasangannya. Dialog dan celotehan yang diucapkan Bobby di film ini juga membuat tergelak.



3. JOHAR - Jermal (Rayya Makarim, Ravi Bharwani, Utawa Tresno, 2008)



Salah satu penampilan terbaik dari Didi Petet. Menjadi seorang pengawas disebuah jermal bernama Johar (tempat penjaringan ikan yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan), Johar memiliki traumatik atas rumah tangganya yang berakhir kelam, dan dia memiliki seorang anak laki-laki bernama Jaya yang tiba-tiba datang dan menemui nya, Johar tidak mengakuinya, dan seiring berjalannya waktu, hubungan mereka kembali terjalin, setelah mereka mengalami konflik batin dan fisik di atas jermal. Karakter Johar menuntut pendalaman karakter yang cukup menantang bagi Didi Petet, termasuk tata rias yang sangat berbeda. Dan Didi Petet berhasil melakukannya.


2. KABAYAN - Si Kabayan Saba Kota (Maman Firmansjah, 1989)



Karakter khas dan legendaris dari tanah Sunda, Kabayan, dan Didi Petet berhasil memerankan karakter Kabayan (Setelah Kang Ibing), meski bukan orang Sunda. Film-film Kabayan yang menampilkan Didi Petet sebagai kabayan juga mendapat sambutan hangat dari penonton. Film pertama Didi "Kabayan" Petet, adalah Si kabayan Saba Kota yang menampilkan karakter Iteung, pacar Kabayan, diperankan aktris tenar Paramitha Rusady. Sosok Kabayan yang baik hati, lugu dan setia menjadi salah satu karakter jenaka dan satir yang tetap menjadi kebanggan bagi masyarakat Sunda.



1. EMON - Catatan Si Boy 1,2,3,5 (Nasri Cheppy, 1987-1991)




Tonggak karir akting Didi Petet di industri perfilman. Siapa tak kenal karakter Emon di sekuel Catatan Si Boy? dan siapa yang bisa memerankan karakter itu selain Didi Petet, yang terkenang hingga kini. Karakter Emon begitu melekat pada diri seorang Didi Petet. Emon lah yang menjadi penyegar suasana di film ini, dan tentunya kehadirannya selalu mencairkan suasana dan pastinya selalu dinantikan pencinta film Indonesia.