Selasa, 03 April 2012

Review Film "LETNAN HARAHAP (1977); Mengungkap sisi lain seorang Polisi"



Quote

“Jika orang gede melakukan korupsi tidak ditangkap, tapi anak kecil yang mencuri nasi bungkus ditangkap”

Jenis Film           : Drama


Sutradara            : Sophan Sophiaan
Cerita / Skenario : Deddy Armand
Penata Kamera    : Ismaun
Penata Musik       : Leo Kristi
Penata Artistik    : Ramidi Rogodjampi
Penata Suara       : E Sambas
Penyunting          : Mulyadi


Pemain
Kaharuddin Syah
Lenny Marlina
Darussalam
Doddy Sukma
Ade Irawan
Parto Tegal
Syamsuri Kaempuan
Sophan Sophiaan
Etty Sumiati
Abdi Wiyono
Mustafa


Sinopsis

Letnan Harahap (Kaharuddin Syah) adalah sosok ideal seorang polisi yang sederhana, tekun dan jujur, bersemboyan lebih baik mati dalam tugas daripada di tempat tidur. Ketika Letnan Harahap menangkap beberapa morfinis, salah seorang orangtua mereka menyertakan sebuah amplop saat mengucapkan terima kasih, namun ditolaknya. Begitu pula saat menangkap anak-anak pembesar yang mengebut di jalan raya, Harahap tetap berteguh untuk tidak membebaskan tahanannya, meski ditawari sebuah mobil kecil untuk keluarganya. Film ini juga menampilkan perbedaan yang menonjol antara kehidupan istri pembesar tidak sempat memperhatikan anak karena sibuk rapat dan serakah harta, dengan kehidupan keluarga miskin yang rebut antara keluarga karena tergusur rumahnya dan harus bertransmigrasi. Keributan semakin bertambah saat Harahap datang dan mengabarkan bahwa anaknya ditangkap karena mencuri nasi bungkus. Semboyan Harahap sebagai polisi terbukti saat membongkar gembong narkotik, yang saat itu ia harus istirahat karena mengidap kanker.

Prestasi

  •    Piala Citra Festival Film Indonesia 1978, untuk Pemeran Utama Pria Terbaik (Kaharuddin Syah)
  •     Penghargaan Khusus Festival Film Indonesia 1978 sebagai film yang menampilkan nilai-nilai moral seperti kesederhanaan, kejujuran, ketabahan, rasa tanggung jawab dan kesetiaan yang kesemuanya merupakan dimensi-dimensi

Review

Sophan Sophiaan membuktikan konsistensinya dalam membuat film yang bertemakan drama dengan kritik sosial. Film Letnan harahap ini menyingkap sisi lain seorang polisi yang jujur dan berkehidupan sederhana. Dan dalam film ini digambarkan dengan jelas, ketidakadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari di negara ini. Sophan begitu lugas dalam menyampaikan isi dan pesan film ini. Sayangnya kritik dan pelukisnya verbal dan hitam putih.

Saya salut dengan konsistensi Sophan Sophiaan dalam  mengungkap sisi ketidakadilan dan keserakahan seorang pembesar negara. Film yang dirilis di tahun 1977 ini juga menyingkap sisi nasionalisme dan sisi lain seorang polisi yang sangat bersih hatinya. Kaharuddin Syah yang memerankan sosok Harahap, pas dengan karakternya. Pribadi dan sosok Kaharuddin yang kharismatik membuat dialah yang sang Letnan Harahap. Lenny Marlina juga berhasil menyeimbangkan permainan Kaharuddin sebagai istrinya. Sophan Sophiaan juga muncul mencuri perhatian sebagai seorang informan dengan kaos bergambar Ali Sadikin, gubernur Jakarta saat itu.

Film ini menurut saya adalah salah satu film terbaik di era 70-an, dilihat dari tema yang berbeda, lalu penampilan apik dari aktor pendatang baru Kaharuddin Syah, serta film yang berani dalam mengkritik  kasus ‘korupsi’ yang saat itu belum se-familiar sekarang. Film ini juga berani mengungkap ketidakadilan, ketika seorang pembesar korupsi tidak ditangkap, tapi seorang anak pencuri nasi bungkus malah ditangkap. Salah satu karya masterpiece dari almarhum Sophan Sophiaan.

Trivia
  •  Film ini dapat diakses dari Sinematek Indonesia
  • Dalam film ketiganya ini, Sophan Sophiaan selain sebagai sutradara, memerankan seorang preman dengan menggunakan kaos oblong bergambar Ali Sadikin. Sebagai seorang sutradara semakin mantap dalam berkarakter, kritik sosial dan nasionalis.
  •  Cerita diilhami dari sebuah artikel dalam majalah Intisari

Review Film "BIARKAN BULAN ITU (1986) - Karya Puitis Seorang Arifin C Noer


Jenis Film           : Drama


Sutradara            : Arifin C Noer
Cerita / Skenario : Arifin C Noer
Penata Kamera    : Adrian Susanto
Penata Artistik    : Hendro Tangkilisan
Penata Musik       : Embie C Noer
Penyunting          : Norman Benny
Penata Suara       : Zakaria Rasyid


Pemain


El Manik
Marissa Haque
Ikang Fawzi
Rima Melati
Aminah Tjendrakasih
Galeb Husein
HIM Damsyik
Ratno Timoer
Deliana Surawidjaja
Indra Widyawati

Quote
"Aku tahu mengapa masa kita ini adalah mimpi, tetapi biarlah, bagi ku mimpi itu indah seperti bulan"

Sinopsis

Dewi (Marissa Haque) memiliki persoalan cinta dengan pacar-pacarnya, lalu jatuh dalam dekapan bosnya, Dayan (El Manik) yang juga memiliki persoalan denagn dirinya sendiri setelah sukses menjadi pengusaha. Dokter Dayan mengatakan bahwa usianya tinggal beberapa bulan lagi. Tiba-tiba ia merasakan kekosongan dalam rumah tangganya, karena istrinya Anneke (Rima Melati) mempunyai kesibukan sendiri, dua orang anaknya sekolah di luar negeri dan anak yang paling kecil jarang tinggal di rumah, dan meninggal ketika bermain rulet Rusia. Dayan dan Dewi seolah mendapatkan saluran kebutuhan. Suasana berubah dengan munculnya Ferico (Ikang Fawzy), bekas teman sekolah Dewi. Ferico telah menceraikan istrinya yang dia kawini karena hamil duluan. Dewi maupun Dayan akhirnya kembali pada pasangannya.

Prestasi


No
Penghargaan
Kategori
Penerima / Nominee
Hasil
1
Festival Film Indonesia 1987
Film
-
Nominasi
2
Festival Film Indonesia 1987
Sutradara
Arifin C Noer
Nominasi
3
Festival Film Indonesia 1987
Pemeran Utama Pria
El Manik
Nominasi
4
Festival Film Indonesia 1987
Pemeran Utama Wanita
Marissa Haque
Nominasi
5
Festival Film Indonesia 1987
Cerita
Arifin C Noer
Nominasi
6
Festival Film Indonesia 1987
Skenario
Arifin C Noer
Nominasi
7
Festival Film Indonesia 1987
Penata Musik
Embie C Noer
Nominasi
8
Festival Film Indonesia 1987
Penata Artistik
Hendro Tangkilisan
Nominasi
9
Festival Film Indonesia 1987
Penata Kamera
Adrian Susanto
Nominasi
10
Festival Film Indonesia 1987
Penyuntingan
Norman Benny
Nominasi
11
Festival Film Indonesia 1987
Penata Suara
Zakaria Rasyid
Nominasi
12
Festival Film Indonesia 1987
Pemeran Pembantu Wanita
Rima Melati
Nominasi


Review

Biarkan Bulan Itu, menurut saya adalah film karya Arifin C Noer yang paling puitis. Saya cukup dapat menyimak film ini dengan nyaman, menyaksikan para pemain film ini menerjemahkan bahasa puisi karya sang empunya film, Arifin C Noer. Film ini menngisahkan kisah percintaan yang dibalut dengan pengolahan skenario yang apik dan menarik, ciri khas seorang Arifin C Noer. 

Dalam film ini, Arifin makin membuktikan diri sebagai seorang penulis skenario handal. Arifin C Noer memang dalam setiap filmnya, menulis sendiri cerita dan skenario dari film yang ia sutradarai. Untuk review sisi penggarapan filmnya, karya Arifin C Noer selalu dapat menunjukkan kualitas yang baik. Musik yang digarap Embie C Noer, dapat menyatu dengan setiap adegan dalam film ini, apalagi adegan romantisme tokoh Dayan dan Dewi dengan dialog puitis mereka. Penyuntingan film ini juga rapi, pemindahan antar adegan terbilang rapi. Penyorotan setiap adegan film, juga baik. Adegan penganalogian hubungan Dayan Dewi dalam khayalan dapat disorot baik. Untuk tata suara, saya nilai, suara setiap pemain kurang keras, jadi kadang kurang terdengar. Film ini mendapat 12 nominasi FFI 1987, meski tak satupun meraih Piala citra.

Untuk segi pemeranan, ensemble cast film ini dapat bersinergi dengan baik. El Manik dapat memainkan tokoh Dayan dengan baik, El Manik mampu memainkan mimik emosi ketika Dayan bersikap palsu dan ketika bahagia bersama Dewi. Saya cukup tergelitik ketika El Manik menirukan suara istrinya yang diperankan Rima Melati. Marissa Haque juga dapat memainkan emosinya dalam film ini dengan baik, Rima Melati saya rasa cocok sekali memainkan tokoh Anneke, istri yang kurang memperhatikan suami. Pemain lain yang kebanyakan pemain veteran seperti Deliana Surawidjaja, Aminah Tjendrakasih dan Galeb Husein dapat mendukung film ini dengan porsi yang pas.

Film ini bukanlah jenis drama penguras air mata, tetapi drama yang menawarkan 'rasa' lain dengan romantisme dan kepuitisan yang berkesan. Arifin C Noer memilih jalan berpuisi dalam menyampaikan pesan film ini melalui dialog para tokohnya. Mimpi dan fantasi antara Dewi dan Dayan, dianalogikan sebagai sebuah bulan, pemikiran filosofis dari seorang Arifin C Noer. Saya mengapresiasi film Arifin C Noer ini dengan baik dan saya merekomendasikan film ini untuk sangat layak tonton.

Trivia
  • Film ini dapat diakses dari Sinematek Indonesia
  • Film ini memborong 12 nominasi FFI 1987, tetapi tidak ada yang menang Piala Citra satu pun.
  • Film ini mempertemukan dua pasangan Ikang Fawzi dan Marissa Haque, yang menikah setahun setelah film ini dirilis
  • Film ini memberikan nominasi Piala Citra kedua bagi Marissa Haque, namun dikalahkan oleh Widyawati dalam film Arini, Masih Ada Kereta yang akan Lewat

KAHARUDDIN SYAH "Aktor Militer Nan Kharismatik"



Kaharuddin Syah, seorang aktor senior yang bergelar sarjana hukum ini, memulai debutnya di film secara iseng-iseng sebagai figuran dalam film Kehormatan (1974).
Aktor Kaharuddin Sjah lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, pada tanggal 3 April 1942. Semasa hidupnya, Kaharuddin banyak mewarnai industri film Indonesia pada era 1970 hingga 1980-an. Sejumlah film layar lebar telah dibintangi oleh Kaharuddin Sjah, jumlahnya tak kurang dari 30 judul film. Di film pertamanya yang berjudul 'Kehormatan' pada tahun 1974, ia hanya tampil sebagai figuran. Pada tahun 1977 Kaharuddin Sjah bermain dalam film berjudul 'Letnan Harahap', yang disutradarai oleh Sophan Sophiaan, yang juga telah tiada. Berkat aktingnya yang berperan bagus sebagai Letnan Harahap, polisi yang jujur, tekun, dan sederhana, secara mengejutkan ia meraih Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Festival Film Indonesia 1978 di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Film-film Kaharuddin Syah yang lain dan terkenal antara lain, 'Janur Kuning' (1979), 'Guruku Cantik Sekali' (1979), 'Naga Bonar' (1986), dan 'Catatan Si Boy' (1987). Pada tahun 1990, Kaharuddin Sjah yang masuk Angkatan Laut Republik Indonesia pada 1961, pensiun. Pada era 2000-an, ia main dalam film-film berjudul 'Ruang' (2006), 'Dunia Mereka' (2006), dan 'Dalam Mihrab Cinta' (2010). Kaharuddin juga bermain di banyak judul sinetron, salah satunya Tiga Orang Perempuan, bersama Christine Hakim dan Ade Irawan. Kini Kaharuddin Sjah telah tiada. Selamat jalan dan semoga amal ibadah beliau diterima disisi-Nya. 

Filmografi
  • Kehormatan (1974)
  • Janji Sarinah (1976)
  • Secerah Senyum (1977)
  • Letnan Harahap (1977) disutradarai oleh Sophan Sophiaan
  • Bung Kecil (1978) disutradarai oleh Sophan Sophiaan
  • Guruku Cantik Sekali (1979) disutradarai oleh Ida Farida
  • Janur Kuning (1979)
  • Mencari Cinta (1979)
  • Puspa Indah Di Taman Hati (1979)
  • Busana Dalam Mimpi (1980)
  • Kembang Padang Kelabu (1980)
  • Selamat Tinggal Duka (1980)
  • Amalia S.H. (1981)
  • Bunga Cinta Kasih (1981)
  • Dalam Kabut Dan Badai (1981)
  • Fajar Yang Kelabu (1981)
  • Lembah Duka (1981)
  • Neraca Kasih (1982) disutradarai oleh Hengky Solaiman
  • Asmara Dibalik Pintu (1984)
  • Kesempatan Dalam Kesempitan (1985)
  • Komando Samber Nyawa (1985)
  • Perisai Kasih Yang Terkoyak (1986)
  • Naga Bonar (1986)
  • Segi Tiga Emas (1986)
  • Catatan Si Boy (1987) disutradarai oleh Nasri Cheppy
  • Tatkala Mimpi Berakhir (1987)
  • Adikku Kekasihku (1989)
  • Sesaat Dalam Pelukan (1989) disutradarai oleh Sophan Sophiaan
  • Ruang (2006) disutradarai oleh Teddy Soeriaatmadja
  • Dunia Mereka (2006)
  • Dalam Mihrab Cinta (2010)
Penampilan terakhir Kaharuddin Syah saat menjadi presenter di FFI 2011


Prestasi
  • Pemeran Utama Pria Terbaik, Piala Citra FFI 1978, untuk film Letnan Harahap
  • Nominasi Aktor Sinetron Terpuji, Festival Film Bandung 2002, untuk sinetron Tiga Orang Perempuan
  • Lifetime Achievement PARFI
Trivia
  • Kaharuddin Syah adalah seorang purnawirawan Angkatan Laut
  • Kaharuddin Syah terakhir kali tampil dalam Festival Film Indonesia 2011, sebagai pembaca nominasi Aktris Terbaik bersama Fachry Albar

Senin, 02 April 2012

NINIEK L. KARIM "Akting Mumpuni Sang Psikolog"





Quote 
"Semua karunia Tuhan harus dipelihara dan diasah semaksimal mungkin. Dan di dalam dunia ini tidak ada satu manusiapun yang dilahirkan tanpa memiliki arti dan guna untuk manusia lainnya"

 Profil

Niniek L Karim, yang bernama asli Sri Rocheni Susetyo Karim ini adalah aktris yang mengawali karir dari dunia teater. Niniek yang juga seorang akademisi dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, bergabung dengan Teater Populer pimpinan Teguh Karya sejak masih mahasiswa. Niniek semula enggan bermain film, karena dia pikir dunia seni hanyalah hobi semata, karena tugas utamanya adalah sebagai pengajar di almamaternya di UI.

Prinsip Niniek itu pun luluh di tahun 1986 setelah Teguh Karya merekrutnya bermain di film Ibunda, sebagai Farida, anak tertua Ibu Rakhim (Tuti Indra Malaon). Di film debutnya ini, Niniek ternyata menampilkan akting yang begitu mumpuni. Ia pun langsung merebut Piala Citra pertama untuk Pemeran Pembantu Wanita Terbaik pada FFI 1986 di Denpasar, mengalahkan nominee lain yang tak kalah hebatnya, seperti Ria Irawan, Rima Melati, Rina Hassim, dan Ully Artha. Niniek pun kembali mengulang kemenangan dengan prinsip 'vini vidi vici' (Lihat Datang Menang) di film keduanya, Pacar Ketinggalan Kereta, kembali disutradarai Teguh Karya, dan mendampingi Tuti Indra Malaon, ia kembali meriah Piala Citra untuk Pemeran Pembantu Wanita Terbaik.

Niniek L Karim cukup selektif dalam berperan dalam sebuah film atau film televisi. Itu bisa dilihat tidak begitu banyaknya jumlah film atau film televisi yang ia bintangi. Namun, tidak sedikit pula penghargaan yang ia terima. Bila dicermati, ia telah menerima semua penghargaan untuk insan film dan televisi di tanah air, seperti Piala Citra, Piala Vidia, Festival Film Asia Pasifik, Festival Film Bandung, Indonesian Movie Award, hingga FTV Award. Semua pencapaian yang telah ia raih, ia dedikasikan untuk dua orang yang telah berjasa bagi karirnya di teater dan film, yaitu Teguh Karya dan Tuti Indra Malaon.

Ninek L Karim adalah satu contoh sosok aktris yang cukup jarang ditemui. Ia adalah seorang akademisi dan juga seorang aktris teater dan film yang memiliki akting yang mumpuni. Ia berhasil membuktikan, bahwa menjadi seorang aktris juga dapat memiliki inteligensi yang tinggi.

Filmografi


Prestasi
  • Aktris Pembantu Terbaik Festival Film Indonesia 1986 (Ibunda)
  • Aktris Pembantu Terbaik Festival Film Indonesia 1989 (Pacar Ketinggalan Kereta)
  • Best Supporting Actress Festival Film Asia Pasifik 1990 (Pacar Ketinggalan Kereta)
  • Aktris Terbaik -Drama Lepas, Piala Vidia 1998 (Dalam Bayangan Ibu)
  • Aktris Pembantu Sinetron Terpuji Festival Film Bandung 2004 (Jasmine)
  • Pemeran Pembantu Wanita Terbaik Indonesian Movie Award 2010 (Ketika Cinta Bertasbih II)
  • Nominasi Aktris Terbaik Drama, Piala Vidia 1994 (Parmin)
  • Nominasi Aktris Pembantu, Piala Vidia 1995 (Indonesia Berbisik)
  • Nominasi Aktris Pembantu, Piala Citra FFI 2009 (Ketika Cinta Bertasbih II)
  • Pemeran Pembantu Wanita Terbaik FTV Awards 2011 (Wagina Bicara)
Trivia
  • Niniek L Karim adalah aktris yang memulai karir di usia 36 tahun, pada tahun 1986
  • Niniek L Karim adalah seorang pengajar Psikologi Sosial di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
  • Niniek L Karim pernah mendapat sejumlah penghargaan tertinggi insan film, Piala Citra, Piala Vidia, Asia Pacific Film Festival, Festival Film Bandung,Indonesian Movie Award hingga FTV Award
  • Niniek L Karim beberapa kali menjadi dewan juri FFI, bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Komite Festival Film Indonesia

Minggu, 01 April 2012

MERIAM BELLINA "Magma Perfilman Indonesia"



Profil 
Film pertama, Perawan-Perawan, di tahun 1981 karya Ida Farida, ia bintangi waktu masih remaja. Film-film 'underdog' dan film-film kelas berat peraih Piala Citra seperti Roro Mendut, Kerikil-kerikil Tajam, Neraca Kasih ia bintangi. Itulah Mer, karirnya cukup unik dan kadang mengejutkan. Setelah meraih Piala Citra (1984) sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam film Cinta di Balik Noda (nominasi FFI 1984 cukup berat, ada Christine Hakim, Jenny Rachman, Zoraya Perucha, dan Lidya Kandou). Walaupun berbakat sebagai aktris drama, pada akhir-akhir ini, "Si Mer" lebih aktif dalam sinetron yang bernuansa komedi. Ia kembali mendapatkan Piala Citra lewat film "Taksi" di tahun 1990.

Kehidupan pribadinya tidak selancar kariernya di layar putih dan karier lainnya sebagai penyanyi pop (albumnya antara lain Simfoni Rindu, Untuk Sebuah Nama, dan Belajar Menyanyi dengan lagu-lagu a karena Meriam Bellina telah menikah dan bercerai dua kali dengan produser film. Wajah Indonya (blasteran Makassar-Jawa-Jerman-Sunda-Belanda) telah mengesankan seorang penulis Belanda yang bernama Ivan Wolffers, yang menggambarkan rasa kagum serta obsesinya dalam sebuah novel Liefste, mijn liefste (1992) (Sayang, oh sayangku), yang laris seperti pisang goreng dengan lebih dari 10.000 buku terjual di Belanda sendiri.

Dalam berperan, Meriam Bellina terbilang berani melakukan adegan panas sehingga dia pernah mendapatkan gelar sebagai Bom Seks Indonesia. (Tontonan Roro Mendut (1982) malah telah dibatalkan di Festival Film Indonesia di Tropenmuseum Amsterdam karena peranannya dianggap terlalu sensual) dan karena kepiawaiannya berakting ia juga dijuluki sutradara kondang Arifin C Noer sebagai Magma Perfilman Indonesia. Mer adalah satu-satunya aktris Indonesia yang selalu berkarya tiap bulan tiap tahun tanpa jeda waktu dari tahun 1981 sampai sekarang, belum ada aktris Indonesia yang seproduktif Mer. Mer merupakan perpaduan Mutu dan Komersil. Ditengah persaingan panggung entertainment Indonesia, Mer tetap eksis, bukti eksistensinya bisa dilihat di hasil karyanya di bawah ini, tiap tahun selalu ada karyanya (film, sinetron, nyanyi, iklan), semua ditangani dengan apik oleh Mer. Tiga piala citra menjadi bukti prestasi Mer di dunia film (Cinta di Balik Noda (1984), Taksi (1990), Get Married (2007)). Di dunia sinetron, Meriam meraih Piala Vidia tahun 1994 melalui sinetron Aku Mau Hidup.


 Adegan emosional dengan Rano Karno dalam Taksi

 Filmografi :

Prestasi :
  • Aktris Terbaik, Piala Citra FFI 1984 (Cinta di Balik Noda)
  • Aktris Terbaik, Piala Citra FFI 1990 (Taksi)
  • Aktris Terpuji Festival Film Bandung 1991 (Taksi dan Wanita)
  • Aktris Terbaik Drama, Piala Vidia FSI 1994 (Aku Mau Hidup)
  • Aktris Sinetron Terpuji Festival Film Bandung 1999 (Jangan Rebut Suamiku)
  • Aktris Terpuji Festival Film Bandung 2004 (Kafir)
  • Best Actress Bali International Film Festival 2004 (Kafir)
  • Aktris Pendukung Terbaik, Piala Citra FFI 2007 (Get Married)
  • Lifetime Achievement Festival Film Jakarta 2007
  • Aktris Pembantu Terpuji Festival Film Bandung 2008 (Get Married)

Trivia :

* Meriam Bellina dikenal sebagai aktris yang berbakat memainkan beragam karakter dan peran dalam film drama atau komedi. Dalam suatu sinetron, Mer pernah berakting makan tanah.
* Pada FFI 1984, Meriam Bellina berhasil menang secara mengejutkan sebagai aktris terbaik Piala Citra, mengalahkan aktris kelas berat, seperti Christine Hakim, Jenny Rachman, Zoraya Perucha, dan Lidya Kandou. Semula, Meriam Bellina tidak diperhitungkan masuk jajaran nominasi, tetapi beberapa menit sebelum diumumkan dewan juri dihadapan wartawan, dewan juri kembali berembuk dan memasukkan film "Cinta Di Balik Noda" yang diperankan Mer, untuk lolos masuk nominasi. Dalam film ini, Mer tampil begitu mengesankan, sebagai seorang drug addict.
* Meriam Bellina tampil pertama kali dalam sinetron "Aku Mau Hidup", dalam sinetron ini Mer memerankan seorang penyandang kanker. Aktingnya yang begitu bagus membuatnya meraih Piala Vidia FSI 1994, mengalahkan Dewi Yull, Niniek L Karim dan Ratu Tria.

* Aktris film dengan honor termahal pertama 1987-1990 (sumber Kompas:28jt-32jt per film)