Tampilkan postingan dengan label Piala Citra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Piala Citra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Mei 2012

PEMENANG PENGHARGAAN FILM YANG MENGEJUTKAN

Perfilman Indonesia punya beberapa ajang penghargaan film yang memberikan apresiasi kepada hasil karya film, untuk segi film dan segala teknis film, dan juga kepada sineas film itu sendiri. Ajang itu diantaranya Festival Film Indonesia, Festival Film Bandung, Indonesian Movie Award, dan ajang Piala Vidia (dulu Festival Sinetron Indonesia). Berikut beberapa contoh para pemenang penghargaan-penghargaan tersebut yang cukup berkesan dan mengejutkan ;

1. MERIAM BELLINA - Cinta Di Balik Noda 
(Aktris Terbaik Festival Film Indonesia 1984)



Kemenangan cukup mengejutkan saat FFI 1984, untuk kategori pemeran utama wanita terbaik. Terderet nama-nama aktris unggul yang masuk nominasi, Christine Hakim, Lidya Kandou, Jenny Rachman, dan Zoraya Perucha. Saat pengumuman nominasi, dewan juri FFI 1984 tiba-tiba berembuk, karena teringat dengan akting mengesankan dari Meriam Bellina sebagai drug addict dalam film Cinta di Balik Noda. Jadilah Meriam Bellina menambah persaingan berat di kategori itu. Dan Meriam Bellina kembali membuat kejutan, dengan merebut Piala Citra dengan mengalahkan para pesaing beratnya itu.

2. RIA IRAWAN - Selamat Tinggal Jeanette
 (Aktris Pendukung Terbaik Festival Film Indonesia 1988)


Peran menantang Ria Irawan sebagai Trimah, pembantu yang digagahi majikannya, juga membuat dewan juri membuat keputusan yang cukup mengejutkan. Ria Irawan berhasil menyisihkan 4 unggulan lain, yang tak kalah hebatnya. Ira Wibowo bermain sangat bagus sebagai wanita pemuja posesif dalam film Kasmaran dan menang di Festival Film Bandung, Nani Wijaya main jadi iu priyayi yang dingin di Selamat Tinggal Jeanette, Rina Hassim berakting total menjadi perempuan mantan pengidap kanker di film Akibat Kanker Payudara, dan Rita Zahara bermain bagus di film Tjoet Nja' Dhien.

3.  EPIE KUSNANDAR - Sendal Bolong Untuk Hamdani 
(Aktor Televisi Terbaik Piala Vidia 2004)


Permainannya yang alami mengantarkannya meraih Piala Vidia untuk aktor terbaik. Pesaingnya cukup berat, yaitu Pietrajaya Burnama untuk FTV Perayaan Besar, Mathias Muchus untuk FTV Taxi Blues dan Rifat Sungkar untuk FTV Doa Bilik Santri.

4. DIDI PETET - Cinta Anak Jaman
(Aktor Pendukung Terbaik Festival Film Indonesia 1988)


Nama Didi Petet mulai muncul tahun 1987 lewat perannya sebagai pria kemayu di film Catatan Si Boy, kemudian Didi juga bermain apik dan menarik dalam film Cinta Anak Jaman bersama Paramitha Rusady, perannya itu membuatnya masuk nominasi Piala Citra. Cukup mengejutkan, karena semula perannya di film ini tak diperhitungkan. Unggulan lainnya pemain-pemain yang bermain di film yang tergolong 'berat', seperti Darussalam di film Ayahku, Remy Sylado di film Akibat Kanker Payudara, Rudy Wowor sebagai opsir Belanda di film Tjoet Nja Dhien, dan Slamet Rahardjo sebagai Teuku Umar di film Tjoet Nja' Dhien.

5. WIDYAWATI - Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat 
( Aktris Terbaik Festival Film Indonesia 1987 ) 


Kemenangannya cukup mengejutkan publik karena banyak kalangan menduga bahwa pemenangnya adalah Dewi Yull dalam film Penyesalan Seumur Hidup, tetapi perannya dalam film ini tak kalah bagus dari akting Dewi Yull. Selain Dewi Yull, unggulan lainnya adalah Marissa Haque, Ita Mustafa, dan Zoraya Perucha. 

6. MERIAM BELLINA - Aku Mau Hidup
(Aktris Terbaik Drama Piala Vidia 1994) 


Penampilan perdana dari Meriam Bellina di televisi ternyata sangat mengagumkan dan mendapat pujian dari banyak kritikus. Perannya sebagai wanita pengidap kanker mendapat apresiasi dari dewan juri piala Vidia dan menetapkannya sebagai Aktris Terbaik tahun 1994, mengalahkan saingan berat seperti Niniek L. Karim dalam Parmin, Dewi Yull dalam Opera Senja, Dea Yunita dalam Alang-Alang, dan Ratu Tria dalam Mengayuh Biduk. Kemenangannya ini semakin mengukuhkannya sebagai salah satu aktris berbakat. 

7. CHRISTINE SUKANDAR - Rembulan dan Matahari
(Aktris Pendukung Terbaik FFI 1980)


Nama Christine Sukandar agak asing di pencinta film nasional, memang beliau adalah seorang penyanyi. Perannya sebagai Paitun cukup mencuri perhatian dalam film Rembulan dan Matahari karya Slamet Rahardjo. Kemenangannya di FFI 1980 cukup mencuri perhatian, dan dia mengalahkan Rae Sita Supit dan Tuti Kirana.

8. ARYANI KRIEGENSBURG WILLEM - Under The Tree
(Aktris Pendukung Terbaik FFI 2008)


Gambar Kecil

Debutnya di dunia film langsung membuatnya meraih Citra. Namanya asing di telinga publik, karena memang ini debutnya. Garin Nugroho merekrutnya main di film ini langsung dari jerman, dan Aryani mendapat peran sebagai penari Bali. 


Rabu, 09 Mei 2012

#11FilmTragediKlasik *Special Mention

Dalam sejarah perfilman indonesia, ada banyak film yang diangkat dari kisah atau cerita nyata. Kebanyakan, kisah nyata tersebut adalah sebuah tragedi, bencana atau kisah buruk. Para sineas film klasik berani mengangkat kisah nyata tersebut ke dalam layar putih dan tentunya menarik untuk ditonton. Inilah beberapa Film Tragedi Klasik ; 


1. PENGKHIANATAN G 30 S/PKI (Arifin C Noer, 1982)



Siapa yang tidak tahu dengan film kontroverisal ini? diangkat dari kisah nyata tragedi 30 September 1965 ini merupakan film Indonesia yang berpengaruh dan terkenang hingga kini. Lepas dari segala isu dibalik film ini, secara teknis film ini sangat berkualitas. Secara sinematografi, film ini sangat baik sekali, Fasilitas perang juga didukung dalam pengambilan gambar sehingga jadilah film yang baik. Bujet film ini tercatat Rp 800 juta, yang menjadikannya sebagai film termahal di awal 1980-an. Di era orde baru, film ini diputuskan untuk Wajib Tonton dan diputar setiap tahunnya di seluruh stasiun TV nasional di tanggal 30 September. Kualitas dari film ini tentunya ada di tangan Arifin C Noer dan tim yang terbilang sempurna dalam menata segala teknis film ini. Alhasil, film ini meraih banyak nominasi di FFI 1984, dan memenangkan Piala Citra untuk skenario terbaik.
Mendapatkan Piala Antemas dengan meraup 699.282 penonton, dan jumlah ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga tahun 1995.

2. PENYESALAN SEUMUR HIDUP (Frank Rorempandey, 1986)


 Cerita naas, seorang istri tak sengaja memotong alat vital sang suami, karena ketahuan serong dengan perempuan lain. Diangkat dari kisah nyata, film ini bersetting pengadilan dengan mengadili Sumi yang terdakwa bersalah. Diperankan sangat bagus oleh Dewi Yull, Cok Simbara, dan Joice Erna. Film Pilihan dan 6 Nominasi FFI 1987.

3. TRAGEDI BINTARO (Buce Malawau, 1989)


Diangkat dari kisah nyata tragedi tabrakan 2 kereta api di kawasan Bintaro. Film ini mengambil sudut pandang dari salah satu korban, yaitu cerita keluarga Nenek Minah dan Juned, dimana Juned korban yang selamat walaupun kakinya harus diamputasi karena terjepit. Di akhir film, muncullah Juned asli di rel kereta api dengan memakai penyangga kaki, karena kaki yang kiri harus diamputasi. Juned lalu berkata "Sayalah Juned salah seorang korban musibah tabrakan kereta api di Bintaro, saya berterima kasih karena kisah kami sekeluarga diangkat ke layar putih lewat film ini, moga-moga ada hikmahnya bagi kita semua", demikian kata-kata Juned yang asli di akhir kisah. Begitu memilukan. Film Pilihan FFI 1989 dengan 11 Nominasi dan Piala Citra untuk pemeran anak-anak terbaik, Ferry Octora.

4. ARIE HANGGARA (Frank Rorempandey, 1985)

Berdasarkan kisah nyata di tahun 1984, seorang anak bernama Arie Hanggara tewas, keran disiksa ayah kandung dan ibu tirinya. Kejadian ini sontak menjdai perbincangan masyarakat kala itu, dan menjadi pemberitaan di media massa. Difilmkan tahun 1985, dan Meraih Piala Citra FFI 1986 untuk Aktor Terbaik, Deddy Mizwar dan pemeran anak-anak terbaik, Yan Cherry Budiono. Film ini juga menghadirkan kumpulan pemeran yang berkualitas, dari Joice Erna, Nani Widjaya, Sofia WD, Zaenal Abidin dan Dhalia. Musik di tata oleh Idris Sardi dan ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Termasuk film yang meraih jumlah penonton terbanyak.


5. OPERASI TINOMBALA (M Sharieffudien A, 1977)



Film Indonesia pertama yang diambil dengan kamera Panavision, dari kisah nyata. Film ini mengungkapkan kembali peristiwa jatuhnya pesawat di gunung Tinombala tahun 1976, setahun sebelum film ini dibuat. Pemaparan cerita tidak lebih dari apa yang terungkap di media massa saat itu. Mekanisme kerja SAR dan pemandangan di gunung diulas jelas dalam film ini. Selain itu, kecemasan keluarga yang menunggu kabar juga menjadi inti cerita. Tergarap cukup baik dan cukup laris ditonton masyarakat luas.

6. PERAWAN DESA (Frank Rorempandey, 1979)


Film dari kisah nyata Sum Kuning, reka ulang peristiwa nyata pemerkosaan terhadap seorang wanita bernama Sum Kuning, yang terjadi tahun 1968. Sum Kuning diperkosa 4 berandal, dan ketika pemeriksaan polisi, Sum mengaku mencari popularitas, karena paksaan. Kasus ini sempat heboh di masyarakat, dan fakta dan kebenaran diungkap di pengadilan. Salah satu film pengadilan terbaik dan meraih Piala Citra untuk Film Terbaik dan 3 Piala Citra lainnya, 1 penghargaan khusus, dan 2 nominasi pada FFI 1980.

7. SEMUA SAYANG KAMU (Ida Farida, 1988)


Dari kisah nyata, cerita dua bayi (Dewi dan Cipluk) tertukar dari dua keluarga, saat di rumah sakit. Kisah ini terjadi tahun 1987, dan menjadi perhatian besar masyarakat saat itu. Salah satu ibu bayi tersebut Nuraini (diperankan Neno Warisman) menjadi tokoh inti, karena dia bersikeras tidak mau melepaskan bayinya, sehingga masalahnya bertele-tele sampai ke pengadilan karena Nuraini yang buta huruf, tak mau percaya pada sesuatu yang "ilmiah", dan ketika di pengadilan pun, Nuraini pun tidak mematuhi tata krama pengadilan. Neno Warisman bermain sangat bagus, memerankan karakter Nuraini yang ceplas ceplos dan polos, sangat hidup dimainkannya. Berhasil meraih Citra untuk skenario dan penghargaan khusus FFI 1989, ditambah 7 nominasi FFI 1989 termasuk film terbaik.


8. DUKUN AS (MISTERI KEBUN TEBU) (Eddie SS, 1997)



Berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Perkebunan Nusantara, Deli Serdang, tahun 1997. Terbongkar pembunuhan berantai terhadap 26 perempuan. Pembunuh dengan inisial AS mengaku telah membunuh 42 orang. Dalam film ini disisipkan pengakuan Datuk asli dalam bentuk suara.

9. BANDUNG LAUTAN API (Alam Surawidjaja, 1974)



Film berdasarkan peristiwa berdarah di Bandung, 24 Maret 1946, yang disebut "Bandung Lautan Api". Peperangan berdarah ini menyebabkan kota Bandung seperti lautan api. Disamping peristiwa perang, ada konflik cinta dibalik perang ini. Diperankan Christine Hakim dan Arman Effendy.

 10. MAT PECI (PEMBUNUH BERDARAH DINGIN) (Willy Wilianto, 1978)



Berdasarkan kisah nyata di Jawa Barat tentang seorang pria berdarah dingin, bernama Mat Peci (Rachmat Hidayat). Mat Peci Dilahirkan di daerah garut tepatnya Kecamatan Leles pada tahun 1943. Dia selalu menggunakan Peci (kopiah) sehingga mendapat julukan Mat Peci. Di dada dan kepalanya penuh dengan rencana kejahatan. Sedang tangannya adalah penyalur dari setiap niatnya yang busuk itu. Perbuatannya yang jahat, seperti merampok, dan banyak orang berdosa yang mati tragis dibunuh secara keji olehnya. Dia mempunyai pacar yang bernama Euis mereka berdua sangat saling menyukai, tetapi alangkah malangnya ternyata orang tua Euis tidak merestuinya. Lantas Mat Peci pun merasa sakit hati dan berjanji untuk merubah nasibnya supaya direstui oleh orang tua Euis kelak. Mat Peci pun pergi merantau ke Bandung dalam masa-masa mudanya dia mencari uang sebagai calo karcis bioskop di sekitar cicadas, dia mempunyai berbagai macam ilmu kebal. Bandung di era 70an Mat Peci dikenal sebagai penjahat nomor satu. Sebagai seorang penjahat dia seringkali keluar masuk penjara. Dalam penjara dia “menuntut ilmu” dari kawannya sesama napi, sehingga pada saat ia keluar nanti, kesalahan dalam berbuat jahat tidaklah lagi terulang. Alangkah kagetnya Mat Peci ketika mendapatkan Euis di tempat pelacuran, tetapi Mat peci menerima Euis apa adanya dan kisah percintaan pun berlanjut.
Keberadaan Mat Peci dengan Euis di Garut sudah diendus oleh intelijen sehingga dilakukanlah penyergapan. Mat Peci tewas tertembak diberondong pada tahun 1978 di stasiun kereta api leles kecamatan kadungora Garut.

11. PENUMPASAN SISA-SISA PKI DI BLITAR SELATAN (OPERASI TRISULA) (BZ. Kadaryono, 1986)



Film kisah dan kejadian nyata, agak kontroversi filmnya dengan situasi yang ada. Maklum saat Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C Noer sukses dari segi film, juga sukses di pasaran. Maka muncullah film ini. Setelah Presiden Soeharto turun, kedua film ini pun dianggap tidak sesuai dengan realita. Dilukiskan bagaimana sisa-sisa PKI ini memeras, merampok, membunuh, dan sebagainya. Lalu, teror itu tercium oleh aparat keamanan. Operasi pembersihan pun dilakukan dengan nama sandi, yaitu Trisula. Diperankan Rachmat Kartolo, Yati Surachman, Hassan Sanusi, Lina Budiarti, dan sejumlah artis dari Surabaya.


*Special Mention

12. PERISTIWA DON MUANG (WOYLA)


Peristiwa pembajakan pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla pada 28 Maret 1981 di Medan sampai Don Muang, Thailand, ini sempat membuat heboh publik karena peristiwa terorisme bermotif jihad pertama yang menimpa Indonesia dan satu-satunya dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia. Peristiwa ini sempat mau difilmkan dan dibiayai DFN, tapi karena satu dan lain hal, tidak jadi difilmkan. Sungguh disayangkan.





Senin, 16 April 2012

Review Film "PLONG, NAIK DAUN (1991); Kisah satir tentang perbaikan nasib dan derajat sosial"

PLONG, NAIK DAUN (1991)
Jenis Film : Komedi

Sutradara : Putu Wijaya
Cerita / Skenario : Putu Wijaya
Penata Musik : Areng Widodo
Penata Artistik : Ernest AR
Penata Suara : S Edi Pramono
Penyunting Gambar : Maruli Ara
Penata Kamera : FES Tarigan

Pemain
Cok Simbara
Tarida Gloria
Deddy Mizwar
Rina Hassim
Amak Baldjun
Muni Cader
Ade Irawan
Nila Sari




Sinopsis

Darma (Deddy Mizwar), pemilik sejumlah perusahaan, tiba-tiba mengangkat perawat kudanya, Ucha (Cok Simbara) menjadi direktur di salah satu perusahaannya yang selama ini dikendalikan oleh kawan-kawannya dari zaman revolusi. Ucha mencoba membenahi keadaan perusahaan itu namun ia selalu dirongrong kawan-kawan Darma. Di rumah pun ia dirongrong oleh istrinya yang gembrot dan tiba-tiba berubah watak karena sadar menjadi istri direktur. Penampilan dirinya maupun rumahnya dianggapnya harus mengikuti kenaikan derajat sosialnya. Pada puncak konflik dengan semuanya itu, Ucha menghadap Darma dan menyatakan mengundurkan diri, sambil menyatakan bahwa sahabat-sahabat Darma sendiri sebenarnya yang merongrong usahanya. Darma tahu sebenarnya, tapi ia tak sanggup memecat mereka.

Prestasi
1. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Tata Kamera Terbaik (FES Tarigan)
2. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Film
3. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Sutradara (Putu Wijaya)
4. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Skenario (Putu Wijaya)
5. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Tata Artistik (Ernest AR)
6. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Pemeran Utama Pria (Cok Simbara)
7. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Pemeran Pembantu Wanita (Tarida Gloria)
8. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Penyuntingan (Maruli Ara)
9. Festival Film Indonesia 1992 (Piala Citra), Nominasi Tata Suara (S Edi Pramono)


Review

Kocak dan cerdas. Itulah kesan pertama saya menonton film ketiga karya sutradara Putu Wijaya ini. Film ini juga berdasarkan sebuah tulisan karya Putu Wijaya. Pendapat saya pribadi, Putu Wijaya memiliki ke khasan sendiri dalam membuat tulisannya menjadi sebuah karya film. Apalagi setiap ceritanya, memiliki perbedaan masing-masing. Film Plong ini bercerita tentang sebuah kemujuran dan kejujuran. Dua hal yang berbeda, yang dialami sang karakter utama Ucha (diperankan bagus oleh Cok Simbara). Ucha mengalami kemujuran dengan diangkatnya menjadi direktur utama pada perusahaan milik juragan kudanya, yang diperankan Deddy Mizwar.

Kemujuran ini ibarat nasib Ucha yang naik daun, dan nasib mujur ini diikuti dengan perubahan sikap sang istri yang bertubuh tambun (diperankan kocak oleh Tarida Gloria), dan perubahan-perubahan secara mendadak ini dirasakan harus dibarengi dengan meningkatnya derajat sosial mereka. Disaat puncak "naik daun" nya, Ucha memutuskan mengundurkan diri. Dan keputusan itu juga bersamaan dengan terbongkarnya akar permasalahan dari film ini.

Cerita film ini saya kira menarik dan cerdas. Film ini bukanlah film berat atau film penguras air mata. Melainkan film yang disajikan dan berbalut kisah satir, namun mengandung arti dan pesan yang mendalam. Putu Wijaya kembali memasukkan unsur sindiran dan kritik sosial. Pentingnya sebuah arti derajat sosial bagi kaum-kaum urban, dan perubahan drastis yang dialami keluarga yang mendadak naik statusnya. 

Film ini juga bisa dikatakan sebagai film black comedy. Arti film "Plong" ini juga memiliki beberapa makna menurut saya. Putu Wijaya tidak secara eksplisit dalam film ini menjelakan apa arti kata "Plong" itu. Penonton dapat mengartikan sendiri arti kata "Plong" itu. Untuk akting para pemain, saya menaruh nilai plus pada Cok Simbara. Dia yang biasa bermain film drama, bisa bermain apik dalam komedi satir ini. Tarida Gloria yang paling mencuri perhatian. Aktris bertubuh tambun ini, saya catat baru pertama main di film "berat" kelas Piala Citra, karena sebelumnya hanya sering bermain di film Warkop DKI, sebagai bahan pemancing tawa. Tarida Gloria memiliki akting yang bagus menurut saya. Dalam film ini, Tarida lah yang menjadi tokoh pencipta intrik dan konflik. Dalam film ini, Tarida Gloria juga yang menjadi daya tarik. Deddy Mizwar juga bermain bagus.

Satu poin plus lagi, adalah posternya. Sebenarnya, poster asli film ini adalah gambar dari belakang Ucha dan istrinya berangkulan sambil berjalan, dengan tangan kiri Ucha memegang tali pelana kuda. Poster tersebut memiliki kesan yang mendalam, bahwa intinya dari film ini adalah kebahagiaan dan kasih sayang diantara mereka. Sedangkan poster diatas, itu poster versi lainnya. Pose besar Tarida Gloria yang benar-benar dijadikan daya tarik film ini. 

Secara keseluruhan film ini saya nilai baik, bahkan tidak berlebihan jika saya katakan sangat baik. Putu Wijaya semakin matang dalam menyutradaria film, dari 2 film sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari 8 nominasi FFI 1992, dengan Piala Citra untuk Tata Kamera Terbaik. Film komedi satir ini saya rekomendasikan bagi yang suka dengan jenis film satir atau black comedy

Trivia
Film ini dapat diakses dari Sinematek Indonesia

Minggu, 15 April 2012

Review Film "CAS CIS CUS (1990); Sketsa dan Miniatur sebuah kehidupan sosial perkotaan"



 
CAS CIS CUS (SONATA DI TENGAH KOTA) (1990)
Jenis Film : Komedi

Quote:
"Semua orang bercas-cis-cus, bagai nenek yang cas-cis-cus, ngomong tak becus."

Sutradara : Putu Wijaya
Cerita / Skenario : Putu Wijaya
Penata Musik : Harry Roesli
Penata Gambar : Karsono Hadi
Penata Kamera : FES Tarigan
Penata Artistik : Ernest AR
Penata Suara : Endang Darsono

Pemain
Lidya Kandou
Ray Sahetapy
Amak Baldjun
Nani Somanegara
Viona
Ami Prijono
Sylvana Herman

Sinopsis

Ibu (Nani Somanegara) mencak-mencak minta dicarikan kaset video porno. Karuan saja putrinya Astri (Lydia Kandou) dan menantunya Dedi (Ray Sahetapy) dan dua cucunya kelabakan. Apalagi masih ditambah bergunjing dengan tetangga dan mogok makan. Klimaksnya: ingin mengawini tukang pijat buta langganannya, Item (Amak Baldjun), yang juga dituruti oleh anak dan menantunya. Segala tingkah polah Ibu ini yang dimaksud untuk memancing tawa. Ibu yang sebenarnya minta perhatian dan ingin kawin lagi, bahkan kemudian minggat. Dan anak-menantu-cucu pun merasa kehilangan. Pada akhir film sang nenek kembali.
Prestasi
1. Festival Film Indonesia 1990, Piala Kartini untuk Pemeran Anak-anak Terbaik (Viona)
2. Festival Fi9lm Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Film
3. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Sutradara (Putu Wijaya)
4. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Pemeran Utama Wanita (Lidya Kandou)
5. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Pemeran Pembantu Pria (Amak Baldjun)
6. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Pemeran Pembantu Wanita (Nani Somanegara)
7. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Skenario (Putu Wijaya)
8. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Penyuntingan Gambar (Karsono Hadi)
9. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Tata Kamera (FES Tarigan)
10. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Tata Artistik (Ernest AR)
11. Festival Film Indonesia 1990 (Piala Citra), Nominasi Tata Suara (Endnag Darsono)
12. Festival Film Asia Pasifik 1991, Best Supporting Actress (Nani Somanegara)

Review

Cas Cis Cus, Sonata di Tengah Kota, begitulah judul lengkap film ini. Karya pertama Putu Wijaya sebagai seorang sutradara. Film ini adalah adaptasi dari sebuah cerita pendek tulisannya yang, dimana ia menang sebuah penghargaan dalam sebuah sayembara. Film berjenis komedi satir ini, yaitu bercerita tentang Nenek (diperankan dengan sangat bagus oleh Nani Somanegara) yang berkunjung ke tempat anaknya, Dedi (dimainkan Ray Sahetapy), mendadak minta disewakan kaset video porno. Satu hal yang mengejutkan, bukan lantaran di rumah itu Dedi sudah punya istri (dimainkan Lydia Kandou) dan dua anak, tetapi keinginan itu muncul dalam diri seorang nenek, sesuatu yang tidak lazim. Ketika Dedi mendapatkan vldeo itu. Nenek bahkan kian rewel. Soalnya, Nenek butuh video yang X-nya pangkat tiga, sementara yang didapatkan Dedi hanya satu X. "Kalau tidak dipinjamkan, aku akan pulang," tutur Nenek berulang kali. Dedi kelimpungan lantaran keinginan ibunya yang aneh-aneh itu. Tapi dia ingin membahagiakan ibunya yang sudah tua itu. Suatu hari, Dedi pergi ke psikiater untuk meminta advis, bagaimana menangani Nenek. Eh, justru Dedi yang dianggap sakit. Teror Nenek tak berhenti pada video porno. Ada teror lain lagi: Nenek minta dikawinkan dengan Mat Item (diperankan dengan kocak oleh Amak Baldjun), tetangganya yang jadi tukang pijat dan buta. Teror itu pun berhasil. Dan Dedi semakin ruwet pikirannya. Baru ketika Nenek pergi meninggalkan rumah itu, setelah memutuskan cerai dengan Mat Item lantaran Mat Item melarang Nenek operasi plastik, Dedi merasa lega. Tak ada lagi keanehan-keanehan di rumahnya. Tak ada lagi Nenek yang gemar keluyuran ke tetangga-tetangga. Tapi justru di situlah anehnya, Dedi kemudian merasa ada yang kurang di rumahnya. Perasaan seperti itu juga ada pada istrinya, bahkan anak-anaknya.

Film ini memiliki pesan yang tersirat dengan bahasa satir. Karena beradaptasi dari sebuah cerita pendek, terasa jelas perbedaanya, bahasa tulis dan bahasa gambar memang memiliki perbedaan jauh. Mungkin pada dirilisnya film ini tahun 1990, banyak orang berharap bahwa film karya Putu Wijaya akan mampu memvisualisasikan fiksi-fiksinya yang memang sudah punya karakter. Apalagi jika dibandingkan dengan pementasan Teater Mandiri Putu Wijaya. Saya rasa dalam ini pula, Putu Wijaya ingin menjadikan film ini sebagai minatur atau sketsa sebuah kehidupan sosial ataupun politik. Tata artistik film ini agak mengganjal menurut saya, ketika setting di sebuah kampung di tengah kota seperti kurang memberikan greget.

Untuk pemeranan, semua pemain bermain bagus dan memiliki porsi seimbang. Lidya Kandou, sebagai menantu, bermain baik, tapi harus diakui, dalam film ini, peran dan karakter yang dimainkan kurang memiliki kompleksitas yang tinggi. Dua tokoh yang mencuri perhatian dalam film ini, Ibu yang diperankan oleh Nani Somanegara. Nani bermain bagus dan mencuri perhatian penonton. Karena ia sebagai tokoh kunci, dan penyebab segala konflik dan intrik dalam film ini, Nani dapat memainkannya dengan baik dan begitu berkesan. Kedua, adalah Amak Baldjun yang memerankan Tukang Pijat Tuna Netra. Film ini hidup berkat kolaborasi akting kocak kedua karakter dan pemain ini. Ray Sahetapy juga bermain bagus, namun sama seperti Lidya Kandou, karakternya kurang kompleks. Yang tak kalah mencuri perhatian, Deddy Mizwar tampil sebagai cameo, dengan menjadi banci.

Dalam film debut sebagai sutradara ini, Putu Wijaya dapat mengeksekusi film ini dengan cukup baik. Film ini cukup cerdas, dengan dialog-dialog sindir yang cerdas dan membuat logika pikir penonton berjalan. Cas Cis Cus, ibarat sebuah omongan si ibu suka "nyerocos cas cis cus", dan juga sebuah sketsa orang perkotaan yang juga suka berbicara "Cas Cis Cus".

Trivia
  • Film Ini dapat diakses dari Sinematek Indonesia
  • Film ini karya adaptasi cerpen Putu Wijaya, Cas Cis Cus