Senin, 16 Juli 2012

QUOTE-QUOTE FILM KLASIK BERKESAN (Bagian 1)


1. "Dibalik kesengsaraan, ada kebahagiaan. Dibalik kesulitan, ada kemudahan". 
- KEMBANG SEMUSIM (MT Risyaf, 1980)

2. "Semua pengabdian diuntukkan bagi keagungan bangsa, dan semua kelelahan untuk kemuliaan manusia". 
- SESAL (Sophan Sophiaan, 1994)


3. "Gini nih, orang sudah terlalu tua masih berkuasa". 
- PLONG, NAIK DAUN (Putu Wijaya, 1991)


4. "Semua orang menginginkan saya kembali ke sini "
- YUYUN PASIEN RUMAH SAKIT JIWA (Arifin C Noer, 1979)


5. "Selama masih ada langit.. Kita masih punya rumah".
- LANGITKU RUMAHKU (Slamet Rahardjo Djarot, 1989)


6. "Kalau kita marah, kita melihat banyak kesalahan pada orang lain, dan merasa diri kita paling benar". 
- KEMBANG KERTAS (Slamet Rahardjo Djarot, 1984)


7. "Mengapa tuan hakim menilai dari pikiran sendiri, baca nurani rakyat" 
- SURAT UNTUK BIDADARI (Garin Nugroho, 1992)


8. "Saya terbiasa bekerja keras. Dan yang terpenting saya adalah seorang pelajar". 
- KERIKIL KERIKIL TAJAM (Sjuman Djaya, 1984)


9. "Aku bukannya tidak setuju kau kawin dengan Bram, tapi apakah dia akan menjadi bapak yang baik buat anak-anakmu?" 
- RANJANG PENGANTIN (Teguh Karya, 1974)


10. "Kalau dilangkahi Nana, Nunung bisa jadi perawan tua!" 
- TIGA DARA (Usmar Ismail, 1956)


11. "Rakyat di desa itu seperti layang-layang yang putus".
 - TITIAN SERAMBUT DIBELAH TUJUH (Chaerul Umam, 1982)



Jumat, 13 Juli 2012

#BestOf WIDYAWATI



WIDYAWATI
Aktris
Genre : Drama, Romansa
Tahun Aktif : 1967 - sekarang

Quote :

“Hidup apa adanya, tanpa target dan jangan menyimpan dendam di hati”



13. AMALIA, SH - Amalia SH (Bobby Sandy, 1981)


 Film yang mempunyai judul lain, 'Angin Malam, Bisikkanlah Cintaku Padanya' ini menyumbangkan sebuah unngulan aktris terbaik bagi Widyawati pada FFI 1983. Menjadi seorang pengacara bernama Amalia, yang penasaran dengan Frans, sahabatnya yang tak ditahan dan tak mau dibela olehnya. Amalia menyelidiki kenapa Frans tak mau dibela, melalui buku harian yang dimiliki Frans. Selain itu, juga Amalai mengalami kehidupan rumah tangganya yang cukup ruwet. Karakter Amalia menjadi sosok 'Super Woman' dalam menyelesaikan permasalahan dalam film ini.

12. MARSYA - Suami (Sophan Sophiaan, 1988)


 Karakter Widyawati di film ini agak mirip dengan karakter di film 'Sesal', namun yang agak berbeda adalah suaminya, Bram (yang tentunya diperankan Sophan Sophiaan) terlibat affair dengan wanita lain (diperankan Dewi Yull). Kesenjangan karir menjadi inti masalah antara pasangan suami istri ini. Penampilan Widyawati memang selalu maksimal dan prima, tak heran jika dia diunggulkan untuk meraih Piala Citra untuk film ini.


11. ERNA - Sesaat Salam Pelukan (Sophan Sophiaan, 1989)


Pernikahan Erna dan Andi mengalami banyak konflik dari orang-orang disekitar keluarga rumah tangga mereka, dan yang paling memilukan adalah anak mereka, Ari, mengidap tumor otak. Disini kembali Widyawati dan Sophan Sophiaan berada di dilm drama keluarga yang cukup menyita haru dan emosi, dan juga ditambah penampilan aktor ciliki Mario Pratama sebagai Ari. 


10. NYAI MUTHMAINNAH - Perempuan Berkalung Sorban (Hanung Bramantyo, 2009)


Peran pertama setelah ditinggal sang suami, Sophan Sophiaan, Widyawati tetap menunjukkan akting luar biasa, dimana ia berhasil meraih penghargaan dari Festival Film Asia Pasifik 2010 untuk Aktris Pendukung Terbaik. Berperan sebagai Nyai Muthmainnah, istri seorang kyai yang memimpin pesantren konservatif. Putrinya, Anissa, tumbuh menjadi gadis yang mempertanyakan dan melawan sikap konservatif di lingkungannya. Nyai Muthmainnah, sosok ibu yang sabar dan mengayomi keluarganya. 

9. JELINA - Bayi Tabung (Nurhadie Irawan, 1988)


Dalam film ini, Widyawati tidak menjadi pasangan Sophan Sophiaan atau disutradarai oleh Sophan Sophiaan. Pasangannya adalah Deddy Mizwar, sebagai pasangan suami istri, dimana istri, Jelina (Widyawati) menyewakan rahimnya dengan bayaran tinggi oleh sebuah keluarga dari negeri jiran, Malaysia. Setelah Jelina melahirkan anak 'titipan' keluarga malaysia itu, Jelina merasa bahwa itu anak kandungnya. Film ini menunjukkan akting emosional Widyawati dan semakin mengukuhkan dirinya aktris spesialis film drama. Mendapat penghargaan dari Dewan Film Nasional 1989. 


8. MELIA - Disini Cinta Pertama Kali Bersemi (Wim Umboh, 1980)


Menjadi seorang biarawati setelah mengalami kehidupan yang rumit, dan juga rumah tangganya yang berantakan. Seorang pria (Roy Marten) yang dulu menjadi kisah cintanya muncul kembali di saat dia sudah menjadi penghuni biara. Hatinya yang telah beku, luluh ketika pria itu datang bersama anaknya. 

7. INGE - Perkawinan (Wim Umboh, 1972)

 

Film romansa peraih banyak Piala Citra FFI 1973, dan film pertama yang bersetting di eropa. Widyawati menjadi wanita keturunan Filipina, yang menjalin hubungan dengan pria Jawa, yang beretmu di Belanda, hubungan mereka ditentang orangtua sang pria. Setelah Pengantin Remadja, Perkawinan menjadi film romansa kedua pasanagn itu yang berkesan hingga kini. 


6. One Way Ticket (Kapan Kau Kembali?) - (Motinggo Boesje, 1976)

Lewat peran di film yang berinti cerita pada upaya pembebasan Irian Barat ini, Widyawati meraih Piala Citra FFI untuk pemeran pembantu wanita terbaik. 

5. JULI - Pengantin Remadja (Wim Umboh, 1971)


Romeo dan Juliet pertama versi Indonesia. Ceritanya juga sama, kisah dua insan yang dihalangi oleh keadaan. Film romansa legendaris ini juga banyak yang mengatakan, jiplakan dari film 'Love Story' dari Hollywood, tahun 1970. Berkat film ini pula, pasangan ini pertama kali dipertemukan, dan menjadi sangat populer di industri film, dan tentunya menjadi pasangan yang abadi. 

4. LESTARI - Love (Kabir Bhatia, 2008)


Di film dengan 5 kisah cinta ini, kehadiran pasangan abadi ini sangat mencuri perhatian, mood booster dan mungkin menjadi obat rindu bagi para pencinta film nasional yang lama merindukan penampilan mereka kembali. Love menjadi film yang menampilkan kembali Widyawati dengan sang suami, Sophan Sophiaan di layar perak, dan tak disangka menjadi filmography terakhir bagi Sophan Sophiaan yang wafat 3 bulan setelah dirilis film ini. Segmen Lestari dan Nugroho, kisah cinta insan berusia 50 tahun keatas ini, cukup unik. Nugroho yang sakit alzheimer, bertemu dengan lestari, pemiliki warung soto. Kisah mereka indah dan romantis, dan tentunya chemistry dan akting mereka yang tak perlu diragukan lagi. 

3. MUTIA, SH - Sesal (Sophan Sophiaan, 1994)



Sesal merupakan karya bioskop terakhir Sophan Sophiaan, dimana karya terakhirnya ini cukup indah dan cukup berkesan. Kembali bersetting di luar negeri, mengingatkan pada film Perkawinan yang dirilis 1972, dimana pasangan ini bermain bersama di film yang pertama bersetting di eropa tersebut. Ceritanya juga bagus, drama keluarga seperti biasa, namun ujung cerita berakhir dengan perasaan mengusik kalbu. Widyawati sebagai Mutia, wanita karir yang memiliki suami dan dua anak, meninggal karena kanker. Sesal pada suaminya, Affan (Sophan Sophiaan) karena di akhir-akhir hayat hidup istrinya, hubungannya dengan Mutia cukup bergejolak karena kesenjangan karir mereka. Di film ini, permainan Widyawati yang paling menonjol. 

2. NONA - Buah Hati Mama (Sophan Sophiaan, 1980)


Widyawati menjadi istri yang bersama suaminya kembali ke tanah air dari Belanda, dimana suaminya harus bekerja keras membiayai keluarganya. Namun benturan-benturan terus terjadi baik secara kultural, ekonomi maupun dalam keluarga mereka. Widywati tampil bagus, dengan karakter perempuan yang tidak terbiasa dengan kehidupan di tanah air, dan dia segenap hati harus beradaptasi. Adegan yang cukup membuat jiwa ini terusik ketika dia memukul anaknya, Eka, karena sebuah kesalahan, padahal bukan Eka yang melakukannya. Akting Widyawati memang yang paling menjulang, karena harus memainkan banyak emosi.

1. ARINI - Arini, Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat (Sophan Sophiaan, 1987)


Karakter Arini identik dengan Widyawati. Kisah hidup Arini yang cukup berbelit, dan juga kisahnya dengan pria muda, yang diperankan Rano Karno menjadi inti cerita film yang berlatar di negeri Paman Sam ini. Chemistry antara Widyawati dengan Rano Karno patut diacungi jempol. Keduanya bermain bagus, dan Sophan Sophiaan sebagai sutradara dapat mengarahkan akting sang istri dengan sangat baik, terbukti dengan kemenangan yang mengejutkan, pada FFI 1987, kategori aktris terbaik direbut oleh Widyawati lewat karakter Arini.


Kamis, 12 Juli 2012

#BestOf DIDI PETET



DIDI PETET
Aktor, Sutradara
Genre : Komedi, Drama
Tahun Aktif : 1985 - sekarang

 Quote :

“Saya akan terus berakting, meski sudah tidak terpakai lagi di film. Teater adalah hidup saya, dan dari teater saya akan hidup”




13. MARYONO - (TV) Buku Harian (Adisoerya Abdi, 1994)

Serial Buku Harian di SCTV cukup berkesan di benak penonton, menjadi salah satu tontonan yang menghibur sekaligus menjadi tuntunan. Hal itu tak terlepas dari penampilan para pemain, terutama pemeran utama, Didi Petet dan Ully Artha. Didi menjadi Maryono, seorang lelaki berusia 50-an, direktur sebuah bank di Surabaya. Ia mempunyai istri cantik dengan tiga anak gadis dan satu lelaki. Hubungan kekeluargaan mereka sangat harmonis. Sebagai keluarga kalangan menengah, kehidupan mereka sangat terbuka satu sama lain, tapi tidak meninggalkan aturan-aturan serta tatanan sebagaimana layaknya keluarga, saling asih, asah dan asuh. Bukan berarti tidak ada persoalan di antara mereka, tapi hal itu dijadikan dasar untuk menguji pemahaman pikiran dan perasaan mereka.

12. TUAN HERDIONO - (TV) Parmin (Enison Sinaro, 1994)




Bersama Niniek L Karim menjadi pasangan suami istri, tuan dan nyonya Herdiono, yang hidup berkecukupan dengan ketiga anaknya, mencurigai tukang kebun mereka, Parmin, mencuri di rumah mereka. Cerita sederhana namun sarat akan nilai moral ini, pernah dibuat kembali dengan judul 'Papi, Mami, dan Tukang Kebun' dimana peran Didi Petet dimainkan oleh Sandy Nayoan. Dalam FTV Parmin, Didi Petet meraih unggulan pertama di ajang Piala Vidia.



11. EYANG KARSO - (TV) Keris (Arifin C Noer, 1994)



Didi Petet bermain di karya terakhir sineas Arifin C Noer, Keris di tahun 1994. Didi berperan sebagai seorang tua bernama Eyang Karso, yang suka dihinggapi mimpi-mimpi buruk karena kesalahan masa lalu. Satu-satunya penghibur adalah Mbak Nuniek, istrinya yang masih muda dan cantik. Selain itu, eyang Karso merasa aman lantaran memiliki banyak senjata pusaka, termasuk keris. Saat kerisnya hilang, dan anak-anak Eyang Karso berdatangan untuk meributkan soal warisan, terjada perselisihan antara Eyang Karso dengan anak-anaknya. Masalah semakin kompleks dengan rahasi besar dalam diri Eyang Karso tentang kehidupan di masa lalunya. 'Keris' adalah karya televisi yang tampil memikat dari segi skenario yang kuat dan juga penampilan akting yang prima dari Didi Petet sebagai Eyang Karso. 'Keris' meraih banyak nominasi di ajang Piala Vidia 1995 termasuk untuk aktor terbaik.


10. BUSTAMAN - Gema Kampus 66 (Nico Pelamonia, 1988)


Didi Petet berhasil mengembangkan watak dari karakter Bustaman, yang dari seorang pemimpin mahasiswa yang idealis menjadi pengusaha kaya yang rakus dan tamak, termasuk meninggalkan pacarnya, demi menikah dengan anak orang kaya. Mendapat penghargaan terpuji dari Festival Film Bandung 1989.

9. SUWITO - Pasir Berbisik (Nan T Achnas, 2000)


Peran serius Didi di film drama ini. Berperan sebagai Suwito, seorang lintah darat, yang culas dan merenggut kegadisan Daya (Dian Sastro) karena dijual ayahnya, Agus (Slamet rahardjo) karena terililit hutang pada Suwito, sebagai imbalan pelunasan hutang Agus. Film ini mempertemukan Didi Petet dengan Slamet Rahardjo, Christine Hakim, dan Dian Sastro untuk pertama kali.

8. JOE KIFLI - Namaku Joe (Nasri Cheppy, 1988)



Tidak ada kaitan dengan karakter Joe di film Joe Turun Ke Desa (1990). Film ini adalah film drama romansa yang cukup populer kala itu. Apalagi para pemainnya adalah 'teman-teman lama' Didi, seperti Onky Alexander, Paramitha Rusady dan Meriam Bellina. Kisah mereka bereempat diramu menjadi cerita yang cukup baik. Dalam film ini, Didi dan Onky bukan bersahabat, melainkan bersaing merebutkan Paramitha Rusady.



7. JOE - Joe Turun Ke Desa (Chaerul Umam, 1990)


Menjadi mahasiswa bernama Joe yang memimpin kelompok mahasiswa yang melakukan Kuliah kerja Nyata di sebuah desa, ternyata kelompok yang dipimpin Joe mengalami banyak masalah yang mengakibatkan pertikaian diantara mereka, namun dibalut dengan kocak. Nominasi aktor terbaik FFI 1990.


6. PASIKOM - Oom Pasikom (Chaerul Umam, 1990)
 

Sketsa Oom Pasikom yang tadinya dikenal di harian Kompas, dapat diterjemahkan oleh Didi Petet dalam sosok nyata dengan baik. Permainan Didi cukup bagus, ditambah dengan permainan Lenny Marlina yang tak kalah bagus. Cukup menarik, Didi Petet disandingkan dengan Lenny Marlina, sebagai pasangan suami istri. Karakter Oom Pasikom juga cukup melekat pada Didi Petet.  

5. EGY - Boneka Dari Indiana (Nya' Abbas Akup, 1990)




Memang Didi Petet cukup berkarakter di film-film bergenre komedi seperti film Boneka Dari Indiana. Satu poin yang perlu dicatat pula, adalah chemistry antara Didi dengan lawan mainnya, Lidya Kandou yang tercipta dengan sangat baik. Di film ini, mereka menjadi pasangan suami istri, Egy dan Cece. Egy, seorang suami yang berada di bawah kekuasaan istrinya dalam segalaa hal, urusan kantor atau urusan rumah. "Boneka" dari judul film ini, mungkin menggambarkan sosok Egy. Karya terakhir Nya' Abbas Akup yang sangat menarik dan juga akting yang bagus pula dari Didi Petet, yang meraih nominasi aktor terbaik FFI 1991 untuk film ini.

4. BOBBY - Cinta Anak Jaman (Buce Malawau, 1988)


Peran yang membuat kejutan, membawa Didi Petet merebut Piala Citra dari para nominee lain yang bermain di film-film berat. Karakter Bobby yang dimainkan Didi, cukup menjadi penghibur tersendiri di film ini. Dia mencoba membantu sahabatnya, Rendy (diperankan Donny Damara) yang selalu mengalami masalah dengan pasangannya. Dialog dan celotehan yang diucapkan Bobby di film ini juga membuat tergelak.



3. JOHAR - Jermal (Rayya Makarim, Ravi Bharwani, Utawa Tresno, 2008)



Salah satu penampilan terbaik dari Didi Petet. Menjadi seorang pengawas disebuah jermal bernama Johar (tempat penjaringan ikan yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan), Johar memiliki traumatik atas rumah tangganya yang berakhir kelam, dan dia memiliki seorang anak laki-laki bernama Jaya yang tiba-tiba datang dan menemui nya, Johar tidak mengakuinya, dan seiring berjalannya waktu, hubungan mereka kembali terjalin, setelah mereka mengalami konflik batin dan fisik di atas jermal. Karakter Johar menuntut pendalaman karakter yang cukup menantang bagi Didi Petet, termasuk tata rias yang sangat berbeda. Dan Didi Petet berhasil melakukannya.


2. KABAYAN - Si Kabayan Saba Kota (Maman Firmansjah, 1989)



Karakter khas dan legendaris dari tanah Sunda, Kabayan, dan Didi Petet berhasil memerankan karakter Kabayan (Setelah Kang Ibing), meski bukan orang Sunda. Film-film Kabayan yang menampilkan Didi Petet sebagai kabayan juga mendapat sambutan hangat dari penonton. Film pertama Didi "Kabayan" Petet, adalah Si kabayan Saba Kota yang menampilkan karakter Iteung, pacar Kabayan, diperankan aktris tenar Paramitha Rusady. Sosok Kabayan yang baik hati, lugu dan setia menjadi salah satu karakter jenaka dan satir yang tetap menjadi kebanggan bagi masyarakat Sunda.



1. EMON - Catatan Si Boy 1,2,3,5 (Nasri Cheppy, 1987-1991)




Tonggak karir akting Didi Petet di industri perfilman. Siapa tak kenal karakter Emon di sekuel Catatan Si Boy? dan siapa yang bisa memerankan karakter itu selain Didi Petet, yang terkenang hingga kini. Karakter Emon begitu melekat pada diri seorang Didi Petet. Emon lah yang menjadi penyegar suasana di film ini, dan tentunya kehadirannya selalu mencairkan suasana dan pastinya selalu dinantikan pencinta film Indonesia.

Senin, 09 Juli 2012

AJANG PENGHARGAAN FILM DI INDONESIA


1. FESTIVAL FILM INDONESIA 
(Piala Citra)





Festival Film Indonesia pertama dimulai tahun 1955. FFI diadakan sebagai bentuk perbaikan mutu kualitas perfilman serta menumbuhkan apresiasi terhadap film Indonesia dan mengevaluasi film produksi dalam negeri selama setahun. Penyelenggaraan FFI dari kurun waktu 1973 - 1992, selalu menjadi pesta rakyat yang digerlar secara meriah dan gegap gempita. Selama kurang lebih 13 tahun, FFI juga diadakan bergilir di tiap daerah di Indonesia, sebagai salah satu strategi untuk mengenalkan perfilman Indonesia dengan masyarakat Indonesia secara lebih luas. FFI dengan penghargaan yang bernama Piala Citra (atas persetujuan presiden Soeharto) merupakan penghargaan film yang paling lengkap, karena menilai segala aspek teknis film bioskop, film pendek, film dokumenter, kritik film hingga film-film non cerita. Selain Piala Citra untuk film bioskop dengan aspek-aspek teknisnya, diberikan pula piala-piala lain. 0Untuk poster terbaik, diberikan piala bernama Piala S. Toetoer, untuk lagu tema diberikan Piala Ismail Marzuki, untuk kritik film diberikan Piala Chaidir Rachman, untuk film terlaris diberikan Piala Antemas, untuk film yang diproduksi dalam negeri diberikan Piala Njoo Han Siang, dan untuk pemeran anak-anak diberikan Piala Kartini.
 FFI sempat terhenti sejak 1993, karena produksi film Indonesia yang terus merosot jumlhanya dan penurunan kualitas produksi. Alhasil, kegiatan FFI yang selama ini dianggap sebagai Academy Award versi Indonesia ini tidak bisa dilaksanakan selama 12 tahun. Di era 2000-an, perfilman kembali digairahkan dengan munculnya para sineas muda, dan membuat FFI kembali diadakan di tahun 2004. Para insan film pun menyambut dengan antusias, karena FFI tetap selalu dirindukan. Walaupun sempat mengalami masalah di tahun FFI 2006, masyarakat dan sineas tetap menganggap FFI sebagai ajang penghargaan film paling prestisius di tanah air.

2. FESTIVAL FILM BANDUNG



Festival Film Bandung lahir tahun 1987 dari niat sekelompok warga Bandung dengan berbagai latar belakang, yakni budayawan, seniman, akademisi, wartawan dan praktisi. Pada awalnya FFB didirikan bernama Festival Film Bandung, namun Menteri Penerangan pada waktu itu menyatakan bahwa satu-satunya festival film di Indonesia adalah Festival Film Indonesia (FFI), sehingga FFB tidak boleh melakukan kegiatan dengan menggunakan istilah festival, dan diimbau untuk berganti nama. Menanggapi larangan tersebut, diputuskanlah penggunaan nama Forum Film Bandung dengan singkatan tetap FFB. Dalam perkembangannya, FFB mampu bertahan dan teruji konsistensinya melakukan pengamatan serta mengumumkan film dan narafilm terpuji secara berkelanjutan tanpa satu tahun pun absen, dan tumbuh menjadi lembaga yang kredibel. Sehingga tidaklah berlebihan bila oleh banyak pihak terutama para pemangku kepentingan perfilman nasional, FFB dianggap sebagai barometer prestasi insan perfiman nasional.

3. PWI JAYA AWARD

Selain FFI, di awal 1970-an, ada penghargaan yang diberikan khusus untuk para pemeran atau aktor dan aktris dalam sebuah film. Penghargaan tersebut bernama PWI Jaya Award. Dari namanya sudah ketahuan, bahwa penghargaan ini diberikan oleh kumpulan wartawan yang bernaung di Persatuan Wartawan Indonesia. PWI Jaya Award diberikan setiap tahun, mereka menilai permainan atau akting para pemain di semua film yang beredar dalam kurun waktu 1 tahun. 

4. INDONESIAN MOVIE AWARDS



Indonesian Movie Award adalah penghargaan film yang baru diadakan tahun 2007. Ajang ini hanya memberikan penghargaan bagi aktor dan aktris saja, bukan menilai teknis film seperti FFI atau FFB. IMA juga membuat dua bidang kategori berbeda, yaitu penilaian yang diberikan oleh sekumpulan dewan juri untuk kategori terbaik, dan penilaian dari polling SMS masyarakat untuk kategori terfavorit, termasuk film terfavorit. 


*Special Mention
5. FESTIVAL SINETRON INDONESIA 
(Piala Vidia)


Pada perkembangan FFI, panitia juga memberikan penghargaan bagi karya-karya televisi. Penghargaan bagi insan televisi dinamakan Piala Vidia. Piala Vidia sering disebut sebagai 'adik' Piala Citra, penghargaan untuk film bioskop. Diselenggarakan sejka tahun 1985, Piala Vidia masih mendompleng atau diadakan berbarengan dengan FFI sampai tahun 1990. Sejak tahun 1992, Piala Vidia diberikan terpisah dengan FFI, dan diadakan dalam FSI atau Festival Sinetron Indonesia. Kelesuan industri film tanah air menyebabkan industri sinetron yang berkembang pesat. FSI menjadi ajang pengganti FFI yang prestisius, dan diadakan setiap tahun dengan meriah. Sama seperti 'kakak' nya, FSI juga lengkap, menilai seluruh aspek- teknis penggarapan sinetron, dan membagi kategori menjadi sinetron draam dan komedi, serta sinetron lepas (FTV) dan sinetron seri. Penyelenggaraan FSI terhenti di tahun 1999, karena suatu hal. Piala Vidia kembali diadakan di tahun 2004, berbarengan dengan FFI. Kembali terhenti tahun 2007 hingga 2010, dan kembali diadakan di tahun 2011. 


Rabu, 04 Juli 2012

#BestOf : RINA HASSIM




RINA HASSIM
Aktris
Genre : Drama, Horor, Komedi
Tahun Aktif : 1968 - sekarang


Quote :

"Prosesnya (terjun ke film) begitu cepat. Seperti mimpi saja"


11. NUR - Mandi Madu (A Rachman, 1986)


 karakter super antagonis di film berlatar dangdut ini. Walaupun berkarakter jahat, namun saya rasa penampilan Rina lah yang terbaik dan menjadi 'penyemangat' bagi penonton yang menonton film ini. Karakter wanita jahat bernama Nur, bekas pelacur, yang culas, suka memfitnah dan memperbudak Elvi (Elvi Sukaesih), keponakan suaminya.


10. IBU HAJI RACHMAT - Alangkah Lucunya Negeri Ini (Deddy Mizwar, 2010)

 
Peran yang agak kocak, sebagai seorang istri dari Pak Haji, Rachmat (Slamet Rahardjo), tapi hobinya bukan berdakwah atau lainnya, melainkan main game dan mengisi Teka Teki Silang, lebih tepatnya game boy, permainan elektronik yang digemari anak-anak. Bu Haji lebih suka di rumah menghabiskan waktu bermain game kesukaannya atau mengisi TTS. 


9. NYI LORENG - Santet 2 (Wanita Harimau) (Sisworo Gautama Putra, 1989)


Rina Hassim termasuk aktris yang unik, dari segi film-filmnya.Dia banyak bermain di film-film kelas A atau kelas festival yang disutradarai oleh Teguh karya, Sophan Sophiaan atau Sjuman Djaya, tapi juga banyak bermain di film-film kelas C, atau film-film horor, film komedi slapstick, atau film dangdut. Film ini salah satu contoh. Penampilan Rina Hassim cukup mencuri perhatian, karena menjadi karakter antagonis, yaitu seorang siluman harimau yang memperalat sang pemeran utama, Suzanna, untuk mengikuti jalan sesat seperti dirinya. Nyi Loreng, seorang siluman harimau, biang keladi konflik di film ini, digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan. Dengan penampilan khas macan, dengan rambut warna-warni, Rina Hassim cukup total memerankan karakter ini, dan juga disertai adegan-adegan silat.

8. MAMA MARIO (NY. MATULESSY) - Beri Aku Waktu (Buce Malawau, 1985)

 
Sebagai Ny. Matulessy dan ibu dari Mario (Mathias Muchus) yang selalu berkonflik dengan suaminya, yang juga ayah mario, Peter Matulessy (Piet Burnama). Suaminya, Peter mendidik Mario dengan sangat keras dan tidak menunjukkan kasih sayang sama sekali, berbeda dengan yang diperlihatkan Ny. Matulessy. Hal ini menyebabkan Mario menjadi pemuda pemberontak. Nominasi pemeran pembantu wanita FFI 1986.

7. JAKSA - Zig Zag (Putu Wijaya, 1990)
   
Sebenarnya peran Rina di film ini tidak begitu banyak, hanya sebagai seorang jaksa pengadlan, namun memang penampilannya cukup berkesan dan menjadi pencuri perhatian. Mungkin ini pemikiran dewan juri FFI 1991 untuk menetapkan dirinya sebagai pemeran pembantu wanita terbaik.

6. MBOK - Plong, Naik Daun (Putu Wijaya, 1991) 

Kembali disutradarai oleh Putu Wijaya, Rina berakting maksimal. Sebagai mbok, pembantu setia di rumah Ucha dan Dessy, majikannya. Suami Mbok juga supir di keluarga itu, diperankan bagus oleh Amak Baldjun. Mbok mempunyai peranan besar dalam membantu kehidupan rumah tangga Ucha dan Dessy dari sejak Ucha belum diangkat menjadi direktur, sampai kehidupan keluarga Ucha naik drastis. Yang menarik, adalah mbok juga otomatis mengalami perubahan hidup dan bekerja, seperti perubahan panggilan ke Dessy, menjadi Nyonya, dan Ucha menjadi Tuan. Mbok adalah seorang wanita pembantu tua yang lugu, berbicara ceplas ceplos dan setia. Selain itu adegan yang lucu ketika Mbok diajari oleh Dessy untuk menerima telepon, karena Dessy menganggap bahwa keluarga mereka bukan keluarga sembarangan.

5. SITI - Pembalasan Si Pitung (Jiih) (Nawi Ismail, 1977)

 
Sebagai Siti, pacar Jiih. Diculiknya Siti olkeh kompeni, musuh Jiih, membuat Jiih membalas dengan menculik istri seroang kompeni. Ini adalah siasat Jiih untuk menumpas kompeni musuhnya dan menyelamatkan Siti kembali.

4. Si Mamad (Sjuman Djaya, 1973) 


Salah satu penampilan terbaik Rina Hassim. Drama Kritik sosial Sjuman Djaya ini juga menjadi salah satu film terbaik dari sang maestro. Penampilan Rina di film menunjukkan bakat Rina Hassim sebagai seorang aktrsi, dan bakatnya maskin terasah dengan diarahkan seorang Sjuman Djaya. Chemistry antara Rina dengan Mang Udel begitu terjalin dengan baik. Pasti karena proses reading dan pendalaman karakter yang tidak instan. Akting Rina mendapat penghargaan PWI untuk runner up ke 4, aktris terbaik PWI 1974.

3. RUMINAH - Semalam di Malaysia (Nico Pelamonia, 1975)

Karakter Ruminah memang memberikan tantangan bagi Rina Hassim untuk memberikan akting yang penuh emosional dan derai air mata. Dia adalah seorang ibu yang kehilangan dua anaknya karena kapal suaminya kandas di Malaysia. Berbagai jalan berliku akhirnya memepertmukan Ruminah dengan anak-anaknya saat Ruminah akan meninggal. Ternyata permainan Rina Hassim tidak mengecewakan, dan dapat memancing emosi dan air mata. Filmnya pun juga termasuk film yang bagus dan agak berbeda dengan kebanyakan film di era itu. Sebuah Piala Citra pertama untuk aktris terbaik dimenangkan oleh Rina Hassim.

2. IBU MARULI - Akibat Kanker Payudara (Frank Rorempandey, 1987)

 
Saya rasa, penampilan terbaik di film ini adalah Rina Hassim, selain Remy Sylado. Sebagai wanita Batak, mantan penderita kanker payudara, Rina kecewa dengan anaknya, Maruli, yang meninggalkan istrinya karena sakit kanker payudara. Sebagai ibu, dia kecewa dengan sikap anaknya, karena dia sendiri adalah pengidap kanker payudara yang juga ditinggalkan oleh ayah Maruli. Akting Rina Hassim begitu memukau saat adu argumen dengan adiknya, paman maruli (Remy Sylado) yang berlainan pandangan dengan dirinya, kemudian saat Ibu Maruli menumpahkan perasaan kecewanya pada anaknya, Maruli, yang begitu emosional. Perannya ini membawa Rina Hassim mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional dengan menang di ajang Festival Film Asia Pasifik 1989 untuk Best Supporting Actress, selain menadapat nominasi pemeran pembantu wanita di FFI. 

1. LOLA - Secangkir Kopi Pahit (Teguh Karya, 1984)


Untuk pertama kalinya Rina Hassim disutradarai oleh Teguh Karya. Sebenarnya Rina Hassim memang berbakat di film-film drama, tapi juga kenyataanya Rina juga banyak tampil di film-film horor dan film kelas C. Cukup menarik memang menyaksikan film drama sosial ini, karena penampilan para pemain yang prima, cerita yang mengalir baik dan tidak happy ending, tapi berisi kemuraman dan kegetiran pria bernama Togar (Alex Komang). Rina Hassim sebagai Lola, pelacur dan juga seorang janda beranak tiga yang punya warung sekaligus rumah bordil. Lola dan Togar dipertemukan di warung Lola, yang kemudian tumbuh cinta dianatara mereka. Lola dan Togar bercinta sampai Lola hamil, mereka menikah. Berbagai hambatan dan kekalutan dialami Togar sampai pada akhirnya Togar memboyong Lola dan anak-anaknya ke kampung halaman Togar. Ternyata Lola dan ketiga anaknya diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Togar, dan Lola mati karena tenggelam karena kecerobohan Togar. Saya rasa pemilihan Teguh Karya untuk pemeran Lola sangatlah tepat. Rina Hassim sangat cocok memerankan Lola, dan akting debut Alex Komang saya rasa juga terbantu oleh kematangan permainan seorang Rina Hassim. Secangkir Kopi Pahit meraih banyak nominasi di FFI 1985, termasuk pemeran utama wanita untuk Rina Hassim.