Selasa, 24 April 2012

10 Produser Film Klasik Berpengaruh *1 Special Mention

1. DJAMALUDDIN MALIK (1971-1970)


Tokoh ini adalah salah satu pelopor lahirnya perfilman Indonesia, perintis industri perfilman Indonesia, dan dwi tunggal dengan Usmar Ismail dalam dunia perfilman Indonesia. Pak Djamal, panggilan akrab Djamaludin Malik  identik dengan perusahaan film legendari miliknya, yaitu Persari Film, yang didirikan tahun 1951. Persari Film telah melahirkan 59 judul film cerita, salahs atunya Menjusuri Djedjak Berdarah (1967). Persari pimpinannya juga telah melahirkan banyak bintang film dan sineas film berbakat. Pak Djamal juga membuat Persari Film sebagai pelopor perusahaan film tanah air dengan melahirkan film-film berkualitas, dibukrtikan dengan 2 film, Tarmina dan Lewat Djam Malam menjadi film-film pemenang FFI.  Beliau menjadi produser yang sangat berpengaruh dan disegani, Djamaludin Malik ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1973.


2. USMAR ISMAIL (1921-1971)


Dwi Tunggal Perfilman Indonesia bersama Djamaludin Malik, Usmar Ismail adalah pelopor industri perfilman Indonesia. Pendiri perusahaan film Perfini di tahun 1950, Usmar Ismail membuat film pertama Darah dan Doa (1950), dan film ini dianggap para kalangan sebagai lahirnya film nasional Indonesia. Pengambilan pertama film ini, 30 Maret, menjadi Hari Film Nasional. Film-film berikutnya, Enam Djam di Djogja (1950) dan Dosa Tak Berampun (1951) juga dianggap sebagai film yang memiliki ciri khas Indonesia.

Usmar Ismail dikenal sebagai produser dan sutradar yang emmbuat film berkualitas dan juga laku di pasaran. Film Tiga Dara (1956) yang diproduseri dan disutradarainya menjadi film yang hits dan terkenang hingga kini. Banyak bintang film dan sineas berbakat yang dilahirklan dari tangan Usmar ismail. Sebut saja, Nurnaningsih, Nya' Abbas Akup, Indriati Iskak, Mieke Wijaya, dan terakhir, Lenny Marlina. Nama nya diabadikan untuk na Pusat Perfilman Indonesia.

3. HATOEK SOEBROTO



Salah seorang produser yang melahirkan film-film berkualitas. Karirnya bermula dari menajdi seorang direktur CV. Puja Film di Surabaya, lalu di tahun 1973 menjadi direktur PT. Elang Perkasa Alam. Berkolaborasi dengan Teguh Karya, dengan lahirnya film-film seperti Cinta Pertama (1973), melahirkan aktris Christine Hakim, kemudian Kawin Lari (1975), Perkawinan Dalam Semusim (1976), dan menjadi co-produser film laris Badai Pasti Berlalu (1977) yang meraih 4 Piala Citra dan Piala Antemas untuk film terlaris. Hatoek Soebroto juga memproduseri film-film epik dan drama seperti Roro Mendut (1982), Seputih Kasih Semerah Luka (1988) hingga menjadi associate produser untuk film generasi muda, Babi Buta yang Ingin Terbang (2009)

4. HENDRICK GOZALI



Menggemari dunia sandiwara sejak dini, Hendrick Gozali yang direktur PT. Garuda Film aktif dalam produksi film dan sinetron. Disamping produser, beliau juga mencoba menjadi pembantu sutradara. Film pertamanya, Bony dan Nancy (1974) dan sampai saat ini dia telah membuat lebih kurang 40 judul film. diantaranya film-film peraih Piala Citra dan masuk kategori film bermutu, seperti Rembulan dan Matahari (1979), Usia 18 (1980), Perempuan Dalam Pasungan (1980), dan  Neraca Kasih (1982). Hendric juga aktif di organisasi PPFI.

5.  HARRIS LASMANA


Filmnya yang dikenal dan sukses, RA Kartini (1982) dan Kembang Kertas (1984), bahkan film RA Kartini, yang selain mendapatkan piala citra, juga mendapatkan penghargaan Djamaludin Malik untuk film dengan penanaman modal tanpa memperhitungakn risiko rugi pada FFI 1983.

6. TH A BUDI SUSILO



Selain menjadi produser, Th A Budi Susilo juga pernah menulis skenario. Tangan-tangan Mungil, sebuah film apik, berasal dari skenario yang ia tulis. Unggulan Piala Citra FFI 1982 untuk Skenario terbaik pun diraihnya. Film-filmnya yang ia produseri banyak yang mendapatkan Piala Citra, seperti Opera Jakarta (1985), Matahari-Matahari (1985), Johanna (1983) dan Tinggal Landas Buat Kekasih (1984) karya Sophan Sophiaan yang mendapapatkan Piala Citra untuk Marissa Haque.

7. MANU SUKMAJAYA

Salah seorang produser yang bertangan dingin. Melalui perusahaannya PT. Matari Artis Film, Manu atau Bung Sukma membuat film-film yang mengutamakan mutu dan kualitas. Terlihat dari deretan sutradara kelas Piala Citra yang pernah diajak bekerja sama, seperti Teguh Karya, Sjuman Djaya, Arifin C Noer, dan film-filmnya juga melibatkan banyak pemain-pemain handal, seperti Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Meriam Bellina, Rano Karno, Deddy Mizwar, Jenny Rachman, dan lain-lain. Lulusan American Embassy School ini termasuk produser yang berpengaruh dan disegani dalam perfilman Indonesia. Film-filmnya diantaranya Ponirah Terpidana (1983), Taksi (1990), Dibalik Kelambu (1982), dan lain-lain.

8. BUDIATI ABIYOGA




Wanita asal Madura ini, semula bukan berasal dari dunia film, melainkan dari dunia teknik dan konstruksi. Mulai menjadi produser di PT. Prasidi Teta Film, membuat film pertama dari cerita pendek karangannya, yaitu Hati yang Perawan (1984). Perusahaan Budiati dikeanl sebagai pembuat film-film yang bermutu. Film ketiganya Naga Bonar (1986) terpilih menajdi film terbaik FFI 1987. Ayahku (1987) dan Noesa Penida (1989) juga meraih Piala Citra. Kemudian disusul Cas Cis Cus (1990), Cinta Dalam Sepotong Roti (1991) dan Plong (1991) semuanya mendominasi Festival Film Indonesia. Selain produser, beliau juga banyak menulis skenario untuk sinetron, anggota BP2N, dan mendapatkan Hadiah Djamaludin Malik pada tahun 1997.

Meski hampir sebagian besar produksinya mendapat penghargaan, tapi hampir seluruhnya kurang sukses secara komersial. Budiati tidak pernah gentar melihat kenyataan tersebut, ia tetap konsisten dengan prinsipnya untuk terus membuat film berkualitas. Beliau juga dikenal sebagai produser yang rajin, dalam mengemukakan pikirannya bagi perkembangan perfilman Indonesia.

9. BUSTAL NAWAWI



Pria berdarah Minang ini memiliki pengalaman yang banyak di dunia perfilman. Berawal dari pimpinan produksi, dan menjadi produser di tahun 1975, dengan memimpim PT. Sinta Lesmana Film, yang fokus pada film-film non cerita. Beliau juga pernah menjadi pimpinan di PT. Prasidi Teta Film. Film-filmnya kebanyakan juga meraih banyak penghargaan di Festival Film Indonesia, seperti Naga Bonar (1987), Ayahku (1987), dan Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985). Di era perfliman saat ini, beliau masih tetap aktif sebagai eksekutif produser di sejumlah film nasional, seperti Perempuan Berkalung Sorban (2009), dan Get Married 2 (2009).


10.  RAM SORAYA



Pria berdarah India ini, produser dan pemimpin PT. Soraya Intercine Film yang dikenal membuat film-film laris, seperti film-film Warkop DKI, kemudian film-film horor dengan aktris Suzanna, dan pernah juga membuat film peraih Piala Citra, Budak Nafsu (Fatima) di tahun 1983. Puncak karir Ram Soraya sebagai produser ia dapatkan usai mengambil alih produksi film Warkop DKI dari tangan PT. Parkit Film. Ia termasuk produser film yang berpengaruh, terutama di era 80-an, dengan film-filmnya yang mendapatkan Piala Antemas pada ajang FFI, untuk film yang meraup penonton terbanyak.


11. NJOO HAN SIANG (1930-1985)



Seorang perintis perbankan nasional dan perfilman Indonesia. Njoo Han Siang dikenal sebagai produser dengan multi talenta, wartawan, pengusaha, pendidik, tokoh pembaruan etnis tionghoa, pecinta seni dan budaya Indonesia dan juga produser film handal.
Film-filmnya yang dikenal dan dikenang, dan juga tentunya meraih Piala Citra, adalah Chicha (1976), film epik peraih Piala Citra, November 1828 (1978),  film Rembulan dan Matahari (1979), Usia 18 (1980), dan Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa (1979).  Njoo Han Siang wafat tahun 1985, dan atas jasa-jasanya dibidang sinematografi, p[da tahun 2004, Njoo Han Siang dianugerahi "Satya Lencana Wirakrya oleh Pemerintah RI. Selain itu, Pemerintah dan BP2N menganugerahkan Piala Khusus "Njoo Han Siang" kepada produser yang paling banyak memanfaatkan jasa teknik perfilman dalam negeri. Ini dimaksudkan untuk mengnang dan menghargai perjuangan Njoo serta untuk melanjutkan dan memotivasi semangat kemandirian membebaskan perfilman Indonesia dari ketergantungan luar negeri.


Senin, 23 April 2012

Festival Film Bandung 1988 - 2000

FFB 1988 :
* Film Terpuji                   : Cintaku di Rumah Susun
* Sutradara Terpuji           : Nyak Abbas Akup (Cintaku di Rumah Susun)
                                        Slamet Rahardjo Djarot (Kasmaran)
* Penyunting Terpuji         : Karsono Hadi (Kasmaran)
* Spesial Efek Terpuji       : El Badrun (Kelabang Seribu dan Siluman Serigala Putih)
* Aktor Terpuji                 : Didi Petet (Catatan si Boy)
* Aktris Terpuji                : Ira Wibowo (Kasmaran)
* Film Impor Terpuji         : I'm Falling in Love
                                        No Way Out
                                        Nowhere to Hide

FFB 1989 :
Film Sejarah  Terpuji     : Djakarta 66 dan Tjoet Nja' Dhien
Film Drama Terpuji       : Ayahku
Film Komedi Terpuji      : Keluarga Markum
Film Silat Terpuji           : Saur Sepuh Film Kerjasama Terpuji  : Irisan-irisan Hati
Sutradara Terpuji          : Arifin C. Noer (Djakarta 66)
Aktor Terpuji                 : Didi Petet (Gema Kampus 66)
Aktris Terpuji                : Christine Hakim (Tjoet Nja' Dhien)
Skenario Terpuji            : Arifin C. Noer & Bur Rasuanto (Djakarta 66)
Penata Kamera Terpuji  : George Kamarullah (Tjoet Nja' Dhien)
                                     Hasan Basri Djafar (Djakarta 66)
Penata Musik Terpuji     : Idris Sardi (Tjoet Nja' Dhien)
                                     Embie C. Noer (Djakarta 66)
Penata Artistik Terpuji  : Djufri Tanissan (Djakarta 66)
                                     Benny Benhardi (Tjoet Nja' Dhien)
Penyunting Terpuji        : Norman Benny (Djakarta 66)
                                     Karsono Hadi (Tjoet Nja' Dhien)
Film Impor Terpuji        : The Cry Freedom
                                     Midnight Run
                                     It's a Mad Mad World II

FFB 1990 :
* Film Terpuji                 : Pacar Ketinggalan Kereta
                                       Kipas-kipas Cari Angin
* Sutradara Terpuji         : Teguh Karya (Pacar Ketinggalan Kereta)
* Aktor Terpuji               : Rachmat Hidayat (Pacar Ketinggalan Kereta)
                                       Eeng Saptahadi (Kipas-kipas Cari Angin)
* Aktris Terpuji               : Nurul Arifin (Pacar Ketinggalan Kereta / Kipas-kipas Cari Angin)
                                       Paramitha Rusady (Si Kabayan Saba Kota)
* Skenario Terpuji           : Nyak Abbas Akup (Kipas-kipas Cari Angin)
* Penata Kamera Terpuji : Lukman Hakim Nain (Si Kabayan Saba Kota)
* Penata Artistik Terpuji : Adjie Mamat Borneo (Pacar Ketinggalan Kereta)
* Penyunting Terpuji       : Karsono Hadi (Pacar Ketinggalan Kereta)
* Film Impor Terpuji       : A Cry in The Dark (Drama)
                                      The Package (Lacak)
                                      Dirty Rotten Scoundrels (Komedi)

Festival Film Bandung 1991:
  • Film Drama                 : Taksi
  • Film Anak-anak            : Langitku Rumahku
  • Sutradara Terpuji        : Slamet Rahardjo Djarot (Langitku Rumahku)
  • Penata kamera Terpuji : Soetomo Gandasoebrata (Langitku Rumahku)
  • Penata Artistik Terpuji : Satari SK (Langitku Rumahku)
  • Aktris Terpuji              : Lenny Marlina (Oom Pasikom)                                                                                Meriam Bellina (Taksi dan Wanita) 
  • Pemeran Anak-anak Terpuji : Banyu Biru dan Soenaryo (Langitku Rumahku)
  • Penghargaan Khusus     : Nya' Abbas Akup
  • FFB memberikan penghargaan terpuji kepada 6 film impor.
Festival Film Bandung 1992 :
  • Film Terpuji              : Tidak Ada
  • Sutradara Terpuji       : Lebes Widar (Lagu Untuk Seruni)
  • Aktor Terpuji             : Rachmat Hidayat (Potret)
  • Penata Kamera Terpuji : Soetomo Gandasoebrata (Lagu Untuk Seruni)
  • Penata Suara Terpuji    : Hartanto (Lagu Untuk Seruni)
  • FFB memberikan penghargaan terpuji kepada 7 film impor.
Festival Film Bandung 1993 :
  • Film Terpuji               : Tidak Ada
  • Sutradara Terpuji        : Chaerul Umam (Ramadhan dan Ramona / Nada dan Dakwah)
  • Skenario Terpuji         : Asrul Sani (Nada dan Dakwah)
  • Aktor Terpuji              : Deddy Mizwar (Nada dan Dakwah / Kuberikan Segalanya)
  • Aktris Terpuji              : Lidya Kandou (Ramadhan dan Ramona)
  • FFB memberikan penghargaan terpuji kepada 6 film impor.
Festival Film Bandung 1994 :
  • Aktor Terpuji              : Didi Petet (Si Kabayan Mencari Jodoh)
  • Penata Kamera Terpuji : Harry Susanto (Asmara)
  • Penghargaan khusus kepada film Yang Muda Yang Bercinta (1977)
  • FFB memberikan penghargaan terpuji kepada 7 film impor.
Festival Film Bandung 1995 :
  • Dari 32 film Indonesia, FFB memutuskan tidak ada yang menjadi film terpuji.
  • Penghargaan Khusus kepada Dicky Zulkarnaen
  • Penghargaan Terpuji kepada 8 film impor.
Festival Film Bandung 1996 :
  • Dari 19 film Indonesia, FFB memutuskan tidak ada yang menjadi film terpuji.
  • Penghargaan khusus kepada H. Benyamin Sueb
  • Penghargaan terpuji kepada 8 film impor.
Festival Film Bandung 1997 :
  • Dari 26 film Indonesia (23 film seks, 2 film laga, 1 film anak), FFB memutuskan tidak ada yang menjadi film terpuji
  • Penghargaan Khusus kepada Ryan Hidayat
  • Penghargaan terpuji kepada 12 film impor
Festival Film Bandung 1998 :
  • FFB memutuskan tidak ada yang menajdi film terpuji
  • Penghargaan khusus kepada produser Ir. Chand Parwez Servia
  • Penghargaan terpuji kepada 8 film impor 
Drama Seri Terpuji : 
  • Bukan Perempuan Biasa
  • Melangkah Di Atas Awan
  • Si Doel Anak Sekolahan 3 

Drama Lepas Terpuji : Perkawinan Siti Zubaedah 
Komedi Seri Terpuji  : 
  • Fatima
  • Mat Angin
Sutradara Terpuji : Deddy Mizwar (Mat Angin)
Aktris Terpuji       :
  • Ayu Azhari (Perkawinan Siti Zubaedah)
  • Mila Karmelia (Manisnya Cinta)

Penghargaan Khusus : Tutur Tinular

Festival Film Bandung 1999:

  • FFB memutuskan tidak ada yang mendapat film terpuji
  • FFB memberikan penghargaan terpuji kepada 9 film impor.
Penghargaan Khusus kepada :
  • Garin Nugroho (Sutradara inovatif)
  • Christine Hakim (Aktris berdedikasi)
  • Nan T Achnas, Mira Lesmana, Riri Riza, Rizal Mantovani, Sutradara film Kuldesak (Sutradara Penuh Harapan)
Drama Seri Terpuji : Panggung Sandiwara
Komedi Seri Terpuji : Satu Atap Seribu Wajah
Drama Lepas Terpuji : Penari
Aktor Terpuji           : Sandy Nayoan (Bukan cinta Sesaat)
                                 Zainal Abidin Domba (Satu Atap Seribu Wajah)
Aktris Terpuji           : Meriam Bellina (Jangan Rebut Suamiku)
                                 Ranti Syafri Maharani (Panggung Sandiwara)
Sutradara Terpuji      : Nan T Achnas (Penari)
                                 Ismail Soebardjo (Satu Atap Seribu Wajah)
                                 El Manik (Panggung Sandiwara)
Skenario Terpuji        : N Riantiarno (Kupu-kupu Ungu)


Festival Film Bandung 2000:
  • FFB memberikan penghargaan terpuji kepada 10 film impor
  • Penghargaan khusus kepada Teguh Karya
Drama Seri Terpuji  : Api Cinta Antonio Blanco
Komedi Seri Terpuji : Lorong Waktu
Drama Lepas Terpuji : Kristal-kristal Retak (TVRI)
Aktor Terpuji           : Herdin Hidayat (Wajah Perempuan)

Aktris Terpuji           : Nani Somanegara (Hanya Satu Mutiara)
                                Dina Lorenza (Gerhana)
Sutradara Terpuji      : Agus H. Pattirane (Pilar-pilar Kasih)
Skenario Terpuji       : Putu Wijaya (Api Cinta Antonio Blanco)

Minggu, 22 April 2012

10 Film Anak-anak Klasik

Jarangnya film anak-anak masa kini, membuat kita terkenang dengan film-film anak-anak klasik yang dulu menjadi tontonan yang menghibur dan cocok untuk ditonton bagi anak-anak. Berikut film-film anak klasik yang terkenang hingga kini :


1. Ira Maya Anak Tiri  (Eduard Pesta Sirait, 1979)



Penyanyi cilik populer Ira Maya Sopha, kembali main film, bukan sebagai cinderella, tetapi sebagai anak tiri yang mengalami konflik dalam keluarganya. Film ini cukup populer dan mendapat tempat di hati masyarakat. Didukung pula oleh pemain senior Drg Fadly,  dan Tutie Kirana. Akting Ira Maya Sopha yang natural, mendapat nominasi pertama di FFI 1980 untuk pemeran utama wanita.

2. Si Boneka Kayu, Pinokio (Willy Wilianto, 1979)




Adaptasi dari cerita populer di barat, film ini juga menceritakan seorang pembuat boneka kayu yang mendambakan anak. Pinokio sendiri, diperankan Ateng. Cerita dan konflik yang sama seperti cerita aslinya, tetap menjadikan film ini film yang cukup baik. Film ini menghibur, dengan setting dan kostum yang mendukung, dan tentunya permainan akting para pemain yang tidak asal-asalan. 


3. Harmonikaku (Arifin C Noer, 1979)



Setelah membuat film drama, Arifin C Noer membuat film bertema anak-anak. Langkahnya pun sukses, film Harmonikaku, merupakan salah satu film anak-anak terbaik. Arifin C Noer mengangkat tema berbeda dari film anak-anak lain yang sedang booming di masa itu. Tidak berdasarkan dongeng atau adaptasi cerita barat, film ini asli tentang cerita anak Indonesia dengan kelucuan, kenakalan, dan polosnya khas anak-anak. Konflknya oun mengalir dengan ringan, dengan diselipkan gejolak-gejolak batin yang kadang membuat haru dan tentunya berkesan. Meraih 3 Nominasi FFI 1980.

4. Si Badung (Imam Tantowi, 1989)



Film anak-anak terbaik dan Cerita Terbaik FFI 1989, dan meraih sejumlah nominasi di FFI 1989, karya Imam Tantowi ini adalah salah satu film anak-anak terbaik. Sekarang ada istilah bahwa "Berani Kotor itu Baik", sama perisi dengan inti film ini, bahwa kebadungan anak-anak adalah sama dengan kreativitas. Dengan menampilkan aktor veteran Mang Udel, yang dikenal selalu bermain dengan natural, kembali memerankan tokoh guru, sosok yang bersahaja. Pemikiran dan konsep pendidikan yang berbeda juga menjadi akar masalah dalam film ini. Cerdas, menghibur dan sangat layak bagi konsumsi anak-anak Indonesia.

5. Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaya, 1973)


                                                    


Adaptasi dari novel karya Sjuman Tiasa. Sjuman Djaya berhasuil menerjemahkan novel ke dalam film dengan baik. Kisah hidup Si Doel (Rano Karno) dengan ayah dan ibunya (Benyamin S dan Tutie Kirana). Kemalangan hidup Doel kecil disajikan dengan tidak cengeng, namun tetap menampilkan kehidupan anak-anak yang bebas dan kesempatan untujk mengenyam bangku sekolah. Film ini juga kental dengan budaya khas Betawi.

6.  Djendral Kantjil (Nya' Abbas Akup, 1958)



Film laris yang menampilkan artis Achmad Albar saat masih 12 tahun. Nya Abbas Akup juga membuat film yang asli anak Indonesia, dengan egala kenakalan, keberanian dan keinginan bermain.

7.  Ira Maya Putri Cinderella (Willy Wilianto, 1981)



Lagi, film adaptasi cerita populer barat. Dan Ira Maya Sopha sebagai pemeran Cinderella. Film ini begitu populer di masa itu, dengan didukung oleh sanggar anak asuhan Maria Tanzil, film ini begitu lekat di hati anak-anak dan penonton film Indonesia. Cinderella pun identik dengan Ira Maya Sopha hingga kini. Cukup menghibur sebagai tontonan anak-anak.

8. Lima Sahabat (CM Nas, 1981)



Film anak-anak yang menggali kehidupan anak Indonesia, dengan latar belakang persahabatan, warna-warni masa sekolah, perayaan HUT Proklamasi RI dan tentunya kebebasan dan kenakalan khas anak-anak yang tidak di dramatisir. 

9. Langitku Rumahku (Slamet Rahardjo Djarot, 1989)




Sebuah film drama anak-anak yang dibuat sineas yang biasa membuat film-film drama berat, Slamet Rahardjo Djarot. Kisah persahabatan dua anak yang berbeda latar belakang ekonomi, dikemas dengan konflik yang mengalir dengan wajar. Cerita film ini juga dibumbui dengan sifat khas anak-anak yang punya rasa ingin tahu yang besar dan kepolosan mereka. Menampilkan Banyu Biru cilik, Soenaryo, Pietrajaya Burnama dan Suparmi. Meraih banyak penghargaan di ajang Piala Citra FFI 1990, dan Festival Film Bandung 1991.

10. Nakalnya Anak-anak (Susilo SWD, 1980)



Saduran dari film The Sound of Music, film ini menampilkan bintang-bintang cilik populer saat itu, Ira Maya Sopha, Ryan Hidayat, Dina Mariana, Kiki Amelia dan Ria Irawan . Keseluruhan film ini menghibur dengan kekhasan anak-anak. Kiki Amelia mendapat penghargaan khusus FFI 1981 sebagai pemain anak-anak terbaik.





10 Karakter "Villain" dalam Film Indonesia (Bagian 1) dan *Special Mention

Inilah 12 tokoh atau karakter "villain" dalam sejarah perfilman Indonesia, yang perannya begitu berkesan dan akan selalu terkenang karena begitu "berbahaya". Mereka adalah :

1. Dora - MIEKE WIJAYA (Beranak Dalam Kubur, 1971)



Seorang tokoh yang memiliki ambisi untuk menguasai harta keluarga, sampai tega berniat mengubur adik tirinya yang sedang mengandung, secara hidup-hidup (Suzanna), dan menembak ibunya sendiri. Karakter ini juga memiliki kelainan jiwa, senang ketika melihat adiknya celaka, tidak punya belas kasih dan dia menghalalkan segala cara agar keinginannya tercapai. Diperankan sangat baik oleh aktris Mieke Wijaya.

2. Alisha - LADYA CHERYL (Fiksi, 2008)



Ladya Cheryl sangat berhasil menjadi seorang perempuan yang punya "jiwa yang lain" seperti Alisha dalam film Fiksi ini. Alisha diceritakan sebagai anak orang kaya yang terkungkung dalam rumahnya yang besar dan memiliki masa lalu yang kelam tentang kedua orangtuanya, kemudian Alisha bertemu dan jatuh cinta pada seorang pemuda. Cintanya itu membuatnya "buta", segala cara dilakukannya untuk mendekati pemuda itu, dari menipu, menjebak hingga membunuh. Alisha digambarkan juga memiliki jiwa psikopatik. Keberhasilan Ladya Cheryl, membuahkan nominasi pemeran utama wanita FFI 2008.

3. Darmina - RUTH PELUPESSY (Pengabdi Setan, 1980)



Pemuja setan atau pengabdi setan. Darmina, berambisi menguasai harta sebuah keluarga, dengan melamar menjadi pekerja rumah tangga di rumah keluarga itu, ia melancarkan teror habis-habisan dengan memuja setan, membangunkan mayat-mayat hidup, yaitu orang-orang yang telah dibunuhnya. Tokoh ini terlihat menakutkan dan cukup menyeramkan dalam film ini. Ruth Pelupessy berhasil memerankannya dengan sangat baik, berhasil menciptakan "icon" antagonis dalam setiap perannya.

4. Mad Dog - YAYAN RUHIAN (The Raid, 2012)



Dalam film box office ini, tokoh Mad Dog menjadi tokoh jahat yang paling sukar dikalahkan. Pemerannya sendiri adalah seorang pesilat Yayan Ruhian, dengan penampilan rambut gondrong dan fisik yang mendukung, dia berhasil memerankan Mad Dog, salah satu gerombolan penjahat yang menjadi lawan yang paling susah dikalahkan oleh Rama (Iko Uwais).

5. Rhoda Darsono - IRA WIBOWO (Kasmaran, 1987)

              

Mirip seperti karakter Alex Forrest yang diperankan aktris Glenn Close dalam film Fatal Attraction (1987), karakter Rhoda Darsono juga memiliki sifat posesif pada laki-laki yang dicintai bahkan dipujanya, hingga sampai pada tingkat yang meresahkan lelaki itu. Posesifnya yang kelewat batas, sampai membuat teror-teror yang meresahkan sampai pada membunuh lelaki pujaanya itu, agar tidak ada yang bisa memilikinya selain dirinya. Selain posesif, Rhoda juga digabarkan mengalami kelainan jiwa. Arahan Slamet Rahardjo membuat akting Ira Wibowo begitu mengesankan, terbukti dengan nominasi FFI 1988 dan Festival Film bandung 1988 untuk Aktris Terpuji.


6. Kuntet - SUJIWO TEJO (Kafir, 2002)



Karakter seorang dukun santet dengan menjual jasanya yang membuat hidupnya mewah tapi dikucilkan masyarakat. Ilmu hitam yang dipelajarinya menjadi pangkal permasalahan. Untuk mendapatkan ilmu keabadian, dia harus menumbalkan nyawa. banyak kematian dikampungnya membongkar kejahatannya. Saat akan diadili, dia bersumpah apabila dia benar yang membunuh orang-orang, maka jika mati, jasadnya tidak diterima bumi, maka benarlah, jasadnya tidak diterima bumi. Karakter dukun santet ini benar-benar cocok diperankan Sujiwo Tejo, dia berhasil menciptakan karakter jahat dan bengis yang dibutakan oleh ilmu hitam.

7. Kontet - DON NASCO (Manusia 6 Juta Dollar, 1981)



Bos komplotan penjahat yang melakukan praktek-praktek kejahatan di ibukota, seperti menculik anak-anak, merampok dan memeras. Aktor Don Nasco, sang pemeran karakter Kontet, menjadi musuh bebuyutan kelompok detektif swasta yang diperankan WARKOP. Gerombolan Kontet juga tampil dalam film Eva Arnaz, Gadis Bionik (1982). Perawakannya yang unik, menjadikan ia salah satu icon tokoh jahat yang dikenang pencinta film Indonesia.

8. Madam Rita - BELLA ESPERANCE (The Perfect House, 2011)



Dalam film psikologi thriller ini, karakter Madam Rita menjadi tokoh kunci. Banyak orang menyangka, bahwa Madam Rita lah yang menjadi pembunuh dalam film ini. Namun itu keliru, Sosoknya yang misterius, dan posesif, menjadikan ia karakter yang menakutkan. Di final scene antara Madam Rita melawan Julie, adalah salah satu adegan yang mengesankan. Aktris Bella Esperance saya rasa sangat berhasil dalam memerankan karakter Madam Rita. 

9. Dara - SHAREEFA DAANISH (Rumah Dara, 2010)



Siapa yang tak ngeri dengan keberingasan Dara dalam menghabisi korban-korbannya? Dara menjadi sosok yang paling ditakuti dengan kemisteriusan dan keberingasannya. Film Rumah Dara atau Macabre ini, Dara diceritakan sebagai pembantai bersama keluarga misteriusnya terhadap orang-orang yang terjebak di rumah mereka, tujuannya untuk tetap hidup abadi. Rumah Dara juga menjadi salah satu pionir film thriller slasher, jadi karakter Dara yang bengis, sakit jiwa, dan brutal akan tetap terngiang di otak para pencinta film Indonesia sampai kapan pun. 

10. Piah - SUZANNA (Nafsu Gila, 1973)


Karakter yang berlatarbelakang mengalami hidup yang kelam, menjadikan ia sosok yang pendendam dan psikopatik. Kedatangannya di sebuah rumah jompo memunculkan banyak peristiwa aneh, dengan tewasnya para penghuni rumah jompo tersebut. Pelakunya, tak lain adalah Piah, yang membunuh satu persatu dengan keji. 

11. Guru Samir - RAY SAHETAPY (Mengaku Rasul, 2008)



Seorang mengaku dirinya rasul, berkarakter licik dan pandai berbohong, mengajarkan aliran sesat dan menyesatkan. Ray Sahetapy sangat sukses memerankan karakter ini.


12. Santi - JOICE ERNA (Arie Hanggara, 1985)


Kisah nyata penyiksaan anak di bawah umur, bernama Arie Hanggara. Ayah Arie dan ibu tirinya (Joice Erna) mendidik terlalu keras, bahkan kelewat batas. Tindakan kelewatan ini mengorbankan anak yang tidak berdosa. Peranan Joice Erna sungguh meyakinkan dan mengundang pujian banyak kalangan. Meraih sejumlah nominasi FFI 1986.

13.  Ratu Leak - SOFIA WD (Mistik / Mystics in Bali, 1981)






Film yang berlatar mitos dari Bali ini menampilkan karakter jahat, yaitu Ratu Leak (diperankan Sofia WD), Ratu leak memepralat seorang mahasiswi asing yang sedang meneliti ilmu gaib Leak di Bali. untuk dipinjam kepalanya untuk membunuh bayi dan mengisap darahnya.



Sabtu, 21 April 2012

10 Film Klasik Berjiwa KARTINI


1. IBUNDA (Teguh Karya, 1986)



IBU adalah sosok Kartini dalam sebuah keluarga. Film terbaik FFI 1986 ini menggambarkan peran besar seorang ibu dalam membereskan masalah anak-anaknya yang dapat menghancurkan keluarga, dan seorang ibu yang menampung semua permasalahan anak-anaknya. Diperankan sangat baik olehaktris Tuti Indra Malaon, film ini salah satu film bertema perempuan terbaik sepanjang masa.

2. PONIRAH TERPIDANA (Slamet Rahardjo Djarot, 1983)



Sebuah bentuk atau pemikiran lain seorang Slamet Rahardjo Djarot mengenai budayapatriarki yang membelenggu kaum wanita. Film peraih sejumlah nominasi 10 FFI 1984 ini, bercerita tentang seorang perempuan bernama Trindil (Christine Hakim) yang mengasuh seorang anak yang dianggap sial oleh ayahnya. Trindil menjadi sosok perempuan perkasa yang tidak menyerah pada nasib, dan Ponirah sendiri adalah perempuan yang berjuang dengan label "pembawa sial" yang telah memidananya. 


3. INEM PELAYAN SEXY (Nya' Abbas Akup, 1977)



Nya Abbas Akup melakukan langkah besar dalam membuat film satir yang terkesan menjual sensualitas dan keseksian seorang wanita, namun ternyata ada pesan moral tentang wanita yang dapat menjadi sosok dominan, tak menyerah dan bergantung pada kaum laki-laki, dan tentunya sosok Inem menjadi sosok pembela kaum miskin.

4. TJOET NJA' DHIEN (Eros Djarot, 1987)



Tak dapat dipungkiri, bahwa film ini adalah salah satu film terbaik Indonesia sepanjang masa. Dari sudut feminis, film ini juga menggambarkan sosok seorang perempuan tangguh, yaitu pahlawan dari NAD, Tjoet Nja' Dhien. Tjoet Nja' Dhien , seorang pemimpin pasukan pejuang di Aceh melawan penjajah, yang tangguh dan pantang menyerah. Adegan yang paling menyentuh saat disaat-saat perjuangan terakhirnya, dalam kondisi yang payah, renta dan nyaris buta, Tjoet Nja Dhien masih berusaha sekuat tenaga melawan penjajah dengan rencongnya. Christine Hakim sangat berhasil memerankan sosok Tjoet Nja' Dhien, dan film ini memborong Piala Citra FFI 1988, salah satunya film terbaik.


5. RA KARTINI (Sjuman Djaya, 1982)



Film ini mengulas pemikiran lain seorang RA Kartini (diperankan bagus oleh Jenny Rachman), selain sebagai pejuang emansipasi wanita dan kesetaraan gender, Kartini juga menggagas isu kemeredekaan, serta mendorong adanya sebuah pergerakan nasional. Sjuman Djaya mengemasnya dalam film yang berdurasi cukup panjang, namun berhasil dalam menerjemahkan pola kehidupan kaum ningrat Jawa saat itu, dan dapat menggambarkan kompleksitas pemikiran seorang Kartini dengan latar kehidupannya yang bagai terpenjara dalam lingkungan kehidupan feodalisme, patriarki, dan
terjajah bangsa kolonial. Film peraih 8 nominasi FFI 1983.

6. DR. SITI PERTIWI KEMBALI KE DESA (Ami Prijono, 1979)



Sebuah kisah tentang pengabdian seorang dokter wanita (Christine Hakim) yang berdinas di daerah terpencil. Pengabdiannya itu dihalangi oleh banyak konflik dan intrik, yang menguji prinsip teguh profesinya sebagai seorang dokter dan kehidupan pribadinya. Karya Ami Prijono, yang meraih nominasi FFI 1981.

7. KADARWATI (Sophan Sophiaan, 1983)



Kadarwati (Joice Erna), seorang perempuan yang mengalami kesengsaraan dalam hidupnya di masa pendudukan Jepang. Nasibnya yang begitu malang, tak mematahkan semangat juangnya yang begitu membara. Ia turut berjuang secara gerilya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, meski nasibnya hidupnya tidak jelas.

8. TUJUH WANITA DALAM TUGAS RAHASIA (Mardali Syarief, 1983)



Laskar Wanita saat masa perjuangan bangsa Indonesia yang mengemban tugas rahasia untuk menyusup ke daerah sasaran. Berbagai halangan danterjal mereka hadapi dan menghadapai kelompok pemberontak. Sikap pantang menyerah dari para laskar wanita ini cukup menjadikan film ini sebagai film yang menggambarkan perempuan berjiwa tangguh.

9. SITI AKBARI (Othniel Wong dan Joshua Wong, 1939)


Seorang istri dan ibu rumah tangga juga merupakan profesi yang paling berharga di dunia ini. Dalam film ini, digambarkan sebuah kesetiaan seorang istri yang juga seorang perempuan. Siti Akbari (Roekiah) digambarkan sebagai istri yang tegar, setia dan juga tangguh dalam menghadapi konflik dan mempertahankan keluarganya.

10. GADIS MARATHON (Chaerul Umam, 1981)



Sebuah film yang menceritakan kisah seorang atlet perempuan (Jenny Rachman) yang berjuang gigih mengejar prestasi tinggi di cabang olahraga atletik. Salah satu film unik, karena mengangkat tema olahraga, dan yang menjadi tokoh sentralnya adalah seorang atlet perempuan. Film ini juga menjadi penggambaran bahwa perempuan dapat setara dengan laki-laki dalam capaian prestasi di bidang olaharaga. Meraih 3 nominasi FFI 1982, dan Piala Citra untuk Jenny Rachman.