Rabu, 30 Mei 2012

#BestOf DONNY DAMARA



DONNY DAMARA
Aktor, Model
Genre : Drama, Romansa
Tahun Aktif : 1988 - sekarang

"Akting itu katup pelepasan kejenuhan"


1. RENDY - Cinta Anak Jaman (Buce Malawau, 1988)



Film pertama Donny Damara, bermain bersama pemain-pemain seangkatannya, Paramitha Rusady, Ira Wibowo dan Didi Petet. Donny, seorang penyiar radio menjadi pasangan Paramitha, seorang instruktur senam. dimana pasangan baru ini masih labil dalam emnjalani hubungan, dengan cemburu-cemburu buta dengan alasan-alasan dangkal yang tidak dipikirkan secara matang, secara mereka sudah berumur dewasa atau matang, bukan remaja lagi. Peran kocak Didi Petet memberinya sebuah Piala Citra.

2. ALDI - Ketika Cinta Telah Berlalu (Adi Soerya Abdi, 1989)


Dalam film romansa ini, Donny Damara berperan sebagai mahasiswa ganteng, Aldi, yang berada diantara dua wanita, Dewi (Nurul Arifin) dan Dini (Sophia Latjuba). Hubungan Aldi dengan Dewi yang putus karena pilihan Dewi dalam mengejar karir, membuat Aldi berpaling pada Dini. Ketika Aldi menolak ajakan Dewi untuk kembali, Dewi frustasi dan meneror Aldi dan Dini.

3. TOM - Dua Kekasih (Agus Ellyas, 1990)


Donny kembali berpasangan dengan Paramitha Rusady, mereka menjadi suami dan istri. Perkawinan mereka dibumbui banyak konflik, seperti belum hadirnya keturunan, intervensi keluarga, kesibukan di karirnya dan jatuhnya Tom ke pelukan wanita lain (Ayu Azhari).

                                        4. JOHNY - Pagar Ayu (Agus Ellias, 1990)



Menjadi pemuda bernama Johny, selingkuhan atau lebih tepatnya pelampiasan seorang wanita bernama Ika (Paramitha Rusady). Hubungan Johny dengan Ika sudah terlalu jauh yang mengkaibatkan Ika hamil, padahal Ika telah bersuami (Rano Karno).

5. UJANG - Joe Turun Ke Desa (Chaerul Umam, 1990)


Berperan sebagai Ujang, seorang insinyur yang kembali ke desanya yang membantu sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan kuliah kerja nyata di desa. Ujang juga berperan dalam menyelsaikan konflik antara mahasiswa yang KKN dengan berandalan desa.

6. PRASOJO - Perwira dan Ksatria (Norman Benny, 1990)


Salah satu film yang mencuatkan nama Donny Damara sebagai seorang aktor handal.
Film ini juga bertema unik, dan jarang, tentang Angkatan Udara Republik Indonesia. Perannya sebagai Prasojo, pemuda dari keluarga yang kurang berada, bersungguh-sungguh berniat menjadi pilot tempur AU, dan akhirnya diterima di Akademi Angkatan Udara. Aktingnya yang mengesankan, membuatnya mendapat nominasi pertama di FFI 1991, untuk pemeran pembantu pria.

7. DONI - Boss Carmad (Chaerul Umam, 1990)


Lagi, dengan Paramitha Rusady. Donny Damara menjadi Doni, sama seperti namanya, dia seorang jurnalis yang berpacaran dengan Sutirah (Paramitha Rusady), seorang anak petani miskin yang hartanya habis dikeduk Boss Carmad (Deddy Mizwar), Boss Carmad juga mengincar Sutirah menjadi istrinya.

8. GANDI - Minggu Pagi di Victoria Park (Lola Amaria, 2010)


Berperan sebagai Gandi, pegawai kedutaan RI yang mengurusi buruh migran. Disini dia membantu Mayang (Lola Amaria) seorang buruh wanita yang menjadi TKW di Hongkong yang juga mencari adiknya, Sekar (Titi Sjuman), seorang TKW juga, yang menghilang tidak ada kabar beritanya.

9. SAIFUL / IPUY - Lovely Man (Teddy Soeriaatmadja, 2012)


Inilah salah satu peran yang paling menantang bagi Donny Damara, sekaligus membuktikan bahwa dirinya memang aktor yang patut diperhitungkan. Menjadi seorang transgender bernama Syaiful atau Ipuy, seorang pria yang mencari nafkah di Jakarta dengan menjadi banci, dan memiliki anak perempuan (Raihanuun) dari pesantren yang merindukan bapaknya yangh dipuja. Mereka dipertemukan setelah 14 tahun berpisah. Permainan yang sangat mengesankan dari Donny dan Raihanuun. Peran Donny sebagai Saiful memang luar biasa. Dia mampu menampilkan kegetiran hidup yang harus dijalani si waria tanpa banyak berkata-kata. Melalui gestur dan sorot mata, dia mampu mengatakan pada penonton, betapa kelam persoalan yang harus di lakoni sebagai transgender yang terpaksa "bekerja" di jalanan. Aktingnya yang tidak biasa ini menempatkan Donny membuat bangga Indonesia dengan menang di ajang Asian Film Award tahun ini dengan salah satunya mengalahkan aktor Andy Lau. Kemarin, aktingnya kembali dipuji dengan menjadi pemeran utama pria terbaik Indonesian Movie Award.


Selasa, 29 Mei 2012

Adegan-adegan dalam film Klasik (Bagian 1)


1. BADAI PASTI BERLALU (Teguh Karya, 1977)


Ini adalah adegan dimana Helmi (Slamet Rahardjo) datang ke pemakaman anaknya, Kosa, yang meninggal karena sakit. Terpampang ekspresi penyesalan dari Helmi karena tidak dapat menjadi ayah yang baik bagi anaknya serta tidak dapat menjaga keutuhan rumah tangganya dengan Siska (Christine Hakim).


2. TALI MERAH PERKAWINAN (Hengky Solaiman, 1981)


Potongan adegan dimana keluarga ini baru ditinggal ibu rumah tangga (Tuti Indra Malaon), dan kedudukannya digantikan anak tertuanya (Yessy Gusman) yang mengambil alih mengurus ayah dan adik-adiknya.

3. CINTA PERTAMA (Teguh Karya, 1973)


Debut Christine Hakim di layar lebar. Ini adalah adegan dimana tiga sahabat (Christine Hakim, Soultan Saladin dan Ully Artha) yang sedang mau pulang ke Jakarta dengan kereta api, dan dalam kereta, Ade (Christine Hakim) bertemu pujaan hatinya, Bastian (Slamet Rahardjo).


4. DOEA TANDA MATA (Teguh Karya, 1984)


Ining (Jenny Rachman) seorang artis panggung, tampak jatuh hati dengan seorang pemuda aktif pergerakan, Gunadi (Alex Komang).

4. PACAR KETINGGALAN KERETA (Teguh Karya, 1988)


Konflik ruwet dalam film ini, membuat banyak kesalahpahaman. Riri (Ayu Azhari) meminta maaf sambil memeluk Tante Retno (Niniek L Karim) atas kesalahpahaman yang terjadi antar orangtuanya dengan keluarga Retno yang membawa dampak yang besar bagi orang-orang sekitar mereka.

5. DIBALIK KELAMBU (Teguh Karya, 1982)


Pasangan suami istri, Hasan (Slamet Rahardjo) dengan Nurlela (Christine Hakim) yang sedang bercengkrama, memperlihatkan kasih sayang mereka di tengah konflik dalam rumah tangga mereka.

6. KEMBANG-KEMBANG PLASTIK (Wim Umboh, 1977)


Film ini mengisahkan kehidupan di pelacuran, dan orang-orangnya yang mempunyai banyak mimpi, tapi terbentur realita. Roy Marten dan Ully Artha adalah termasuk dari orang-orang itu. Roy berperan sebagai buronan polisi yang mimpi kemewahan, dan Ully yang berperan sebagai pelacur, yang terjerumus akibat ulah suami.


8. SUCI SANG PRIMADONA (Arifin C Noer, 1977)


Suci (Joice Erna) dengan Oom Kapten (Soekarno M Noer), kepalsuan yang diperlihatkan Suci demi meraup kekayaaan dan kepuasan materi.

9. MATAHARI MATAHARI (Arifin C Noer, 1985)


Iyom (Marissa Haque), wanita tuna rungu yang hidup terlunta dengan bayinya, karena suaminya, Warga (Wawan Wanisar) lebih memilih hidup dengan seorang penyanyi dangdut (Rima Melati) dan tergiur kemewahan.

10. CINTA DIBALIK NODA (Bobby Sandy, 1984)


Akting prima Meriam Bellina yang membuahkan Piala Citra pertama, dimana ia menjadi drug addict karena frustasi dan dijerumuskan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Cinta nya pada Sandro Tobing bertepuk sebelah tangan.

Senin, 28 Mei 2012

Film Klasik dengan Tata Kostum yang mengesankan

1. TJOET NJA' DHIEN (Eros Djarot, 1986)


Salah satu film yang hampir dikatakan sempurna untuk penataan artistik, termasuk tata kostum dan rias. Eros Djarot terlihat sangat memperhatikan setiap detail dari film ini, tata kostum menggambarkan sosok Tjoet Nja Dhien pada saat itu, kehidupan gerilya dan kegetiran Tjoet Nja Dhien, serta para kompeni Belanda, semua tergambarkan dengan baik. Karena film ini adalah film biopik tokoh nyata, maka segala detail harus diperhatikan dengan sangat teliti.


2. GUNDALA PUTRA PETIR (Lilik Sudjio, 1981)



Salah satu dari sedikit film superhero Indonesia yang dikenang. Karena memang film ini bertemakan superhero, amak pemeran superhero Gundala (Teddy Purba) juga menggunakan kostum khas superhero. Kostum Gundala memang mirip Captain America. Gundala, karya Hasmi, berpakaian hitam-hitam berupa kaus ketat yang menutupi seluruh tubuh dan sebagian wajahnya. Kepalanya pun tertutup kedok hitam, dengan hiasan sayap atau bulu di masing-masing kupingnya (konon, sayap di kuping itu perlambang sayap burung garuda, lambang negara kita). Kostum ini mirip Captain America. Bedanya, Gundala tertutup pakaian warna gelap sedang Captain America (yang muncul di masa menjelang Perang Dunia II ketika patriotisme Amerika memuncak) berwarna merah-putih-biru, warna bendera Amerika.

3. DOEA TANDA MATA (Teguh Karya, 1984)


 Berlatar tahun 1930, dan menggambarkan suasana pergerakan pemuda saat itu, kostum para pemeran film ini juga terkonsep dengan baik dan dapat menggambarkan cara-cara berpakaian para pemuda terpelajar, dan wartawan pada era 30-an. 

4. NOVEMBER 1828 (Teguh Karya, 1978)


Berlatar perang Diponegoro, artistik film ini tergarap dengan baik dan begitu teliti. Teguh Karya memang sangat memperhatikan semua detail film ini, dari adat istiadat zaman yang lampau di Jawa Tengah, kostum serta properti, semuanaya merupakan hidup kembalinya sebuah dokumentasi yang meyakinkan akuratnya.


5. PENGKHIANATAN G 30 S/PKI (Arifin C Noer, 1982)


Tak dapat dipungkiri, film ini adalah salah satu film yang memiliki konsep kostum yang bagus. Kostum pemeran para jenderal dengan keluarganya, pemerintah orde lama saat itu, pasukan cakra birawa, gerwani, para gembong PKI dan pelaku sejarah 1965 saat itu divisualisasikan dengan baik, atau bahkan sempurna. Hal ini didukung karena film ini juga dibiayai pemerintah dan propaganda, dan juga pastinya di eksekusi oleh maestro sekelas Arifin C Noer, salah satu sutradara yang penting akan 'detail' dalam setiap filmnya.

 6. JAKA SEMBUNG SANG PENAKLUK (Sisworo Gautama Putra, 1981)


Film ini sangat fenomenal di jamannya, hingga sekarang menjadi legenda. Berasal dari komik, dan Sisworo Gautama berhasil memfilmkan tokoh Jaka Sembung ini. Film ini sebenarnya memakai 3 unsur cerita, percintaan, perlawanan dengan penjajah Belanda, tentang jago-jago tarung dahulu. Film ini sangat sukses mengangkat tentang jawara dulu, dengan latar di daerah Jawa Barat, tetapi tidak ada dialog Sunda sama sekali. Kostum yang dikenakan Jaka hampir sama dengan Si Pitung, bedanya jaka ikat kepala, Si Pitung pakai peci. Apakah ikat kepala adalah ikat kepala Sunda, tidak ada yang tahu. Yang pasti film ini sangat sukses mengangkat bagaimana hebatnya petarung-petarung jaman dahulu itu yang disinyalir memiliku ilmu yang hebat sekali. 

7. SAUR SEPUH (Imam Tantowi, 1988)


Berasal dari sandiwara radio, film ini menjadi ditunggu-tunggu ketika diangkat ke layar lebar. Ternyata Imam Tantowi dapat menerjemahkan visualisasi dari radio ke dalam film dengan cukup baik. Kostum, setting, sosok karakter, dan adegannya hampir sama dengan imajinasi penikmat Saur Sepuh saat sandiwara radio.


8. IRA MAYA PUTRI CINDERELLA (Willy Wilianto, 1979)


Adaptasi dari cerita dongeng Eropa, dan dimanikan oleh artis cilik ngetop saat itu, Ira Maya Sopha, dan karakter Cinderella juga melekat pada dirinya sampai sekarang. Karena adaptasi dari dongeng, maka setting, kostum dan properti juga harus sama dengan cerita dongengnya. Hasilnya cukup unik dan menarik apalagi para kurcaci. karena mungkin saat itu cukup jarang film yang diadaptasi dari dongeng, khususnya dongeng impor.

9. SI BONEKA KAYU, PINOKIO (Willy Wilianto, 1979)


Selain Cinderella, dongeng impor yang diangkat ke layar lebar kita adalah kisah Pinokio, dan yang jadi Pinokio adalah Ateng. Kostum, Setting dan Properti juga digambarkan sama dengan cerita dalam dongeng. Hasilnya seperti menonton opera anak, yang jarang kita temui saat ini.

10. KISAH ANAK-ANAK ADAM (Ali Shahab, 1988)
 


Cerita Nabi Adam dan Hawa yang diusir dari surga, serta para keturunan yang nikah silang atas petunjuk Tuhan, sampai ke zaman Nabi Nuh. Unik dan jarang ada yang mau mengangkat cerita dan kisah nabi ke layar lebar, mungkin juga sifatnya yang sensitif, karena menyangkut agama dan kepercayaan. Tema film yang mengulas cerita nabi dan penghuni surga, dari setting, kostum dan properti digambarkan dengan cukup baik, meski mungkin kurang sempurna. Tapi yang menjadi nilai tambah adalah keberanian mengangkat tema yang berbeda.

11. ALADDIN DAN LAMPU WASIAT (Sisworo Gautama Putra, 1980)




Banyak film yang diadaptasi dari dongeng impor, juga membuat film-film tersebut juga membuat kesan dari tata kostumnya. Salah satunya, Aladdin dan lampu Wasiat ini. Sebelumnya juga pernah difilmkan tahun 1941 dan 1953, kali ini Aladdin diperankan Rano Karno. Jalan ceritanya sama dengan dongeng aslinya. Kostum, artistik serta propertinya pun dibuat hampir sama. Yang menarik karakter Jafar, musuh Aladdin, serta karakter Jin, yang dibuat hampir mirip seperti dongeng. Walau bukan cerita asli lokal, namun film ini menghibur dan salah satu film fantasi yang cukup jarang dibuat. 


12. RA KARTINI (Sjuman Djaya, 1982)






Biopik RA Kartini lengkap dengan segala setting, properti dan kostum di kehidupan ningrat Jawa di abad ke 19, divisualiasikan sangat baik oleh Sjuman Djaya. Tentunya didukung oleh kekuatan akting prima dari para pemain, RA Kartini bisa dijadikan salah satu contoh film biopik terbaik. Tidak mudah memang membuat film biopik seorang tokoh, karena perlu ketelitian yang sangat mendalam dalam menerjemahkan pesan dan kehidupan seseorang bagi orang banyak. 

Minggu, 27 Mei 2012

PEMENANG PENGHARGAAN FILM YANG MENGEJUTKAN

Perfilman Indonesia punya beberapa ajang penghargaan film yang memberikan apresiasi kepada hasil karya film, untuk segi film dan segala teknis film, dan juga kepada sineas film itu sendiri. Ajang itu diantaranya Festival Film Indonesia, Festival Film Bandung, Indonesian Movie Award, dan ajang Piala Vidia (dulu Festival Sinetron Indonesia). Berikut beberapa contoh para pemenang penghargaan-penghargaan tersebut yang cukup berkesan dan mengejutkan ;

1. MERIAM BELLINA - Cinta Di Balik Noda 
(Aktris Terbaik Festival Film Indonesia 1984)



Kemenangan cukup mengejutkan saat FFI 1984, untuk kategori pemeran utama wanita terbaik. Terderet nama-nama aktris unggul yang masuk nominasi, Christine Hakim, Lidya Kandou, Jenny Rachman, dan Zoraya Perucha. Saat pengumuman nominasi, dewan juri FFI 1984 tiba-tiba berembuk, karena teringat dengan akting mengesankan dari Meriam Bellina sebagai drug addict dalam film Cinta di Balik Noda. Jadilah Meriam Bellina menambah persaingan berat di kategori itu. Dan Meriam Bellina kembali membuat kejutan, dengan merebut Piala Citra dengan mengalahkan para pesaing beratnya itu.

2. RIA IRAWAN - Selamat Tinggal Jeanette
 (Aktris Pendukung Terbaik Festival Film Indonesia 1988)


Peran menantang Ria Irawan sebagai Trimah, pembantu yang digagahi majikannya, juga membuat dewan juri membuat keputusan yang cukup mengejutkan. Ria Irawan berhasil menyisihkan 4 unggulan lain, yang tak kalah hebatnya. Ira Wibowo bermain sangat bagus sebagai wanita pemuja posesif dalam film Kasmaran dan menang di Festival Film Bandung, Nani Wijaya main jadi iu priyayi yang dingin di Selamat Tinggal Jeanette, Rina Hassim berakting total menjadi perempuan mantan pengidap kanker di film Akibat Kanker Payudara, dan Rita Zahara bermain bagus di film Tjoet Nja' Dhien.

3.  EPIE KUSNANDAR - Sendal Bolong Untuk Hamdani 
(Aktor Televisi Terbaik Piala Vidia 2004)


Permainannya yang alami mengantarkannya meraih Piala Vidia untuk aktor terbaik. Pesaingnya cukup berat, yaitu Pietrajaya Burnama untuk FTV Perayaan Besar, Mathias Muchus untuk FTV Taxi Blues dan Rifat Sungkar untuk FTV Doa Bilik Santri.

4. DIDI PETET - Cinta Anak Jaman
(Aktor Pendukung Terbaik Festival Film Indonesia 1988)


Nama Didi Petet mulai muncul tahun 1987 lewat perannya sebagai pria kemayu di film Catatan Si Boy, kemudian Didi juga bermain apik dan menarik dalam film Cinta Anak Jaman bersama Paramitha Rusady, perannya itu membuatnya masuk nominasi Piala Citra. Cukup mengejutkan, karena semula perannya di film ini tak diperhitungkan. Unggulan lainnya pemain-pemain yang bermain di film yang tergolong 'berat', seperti Darussalam di film Ayahku, Remy Sylado di film Akibat Kanker Payudara, Rudy Wowor sebagai opsir Belanda di film Tjoet Nja Dhien, dan Slamet Rahardjo sebagai Teuku Umar di film Tjoet Nja' Dhien.

5. WIDYAWATI - Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat 
( Aktris Terbaik Festival Film Indonesia 1987 ) 


Kemenangannya cukup mengejutkan publik karena banyak kalangan menduga bahwa pemenangnya adalah Dewi Yull dalam film Penyesalan Seumur Hidup, tetapi perannya dalam film ini tak kalah bagus dari akting Dewi Yull. Selain Dewi Yull, unggulan lainnya adalah Marissa Haque, Ita Mustafa, dan Zoraya Perucha. 

6. MERIAM BELLINA - Aku Mau Hidup
(Aktris Terbaik Drama Piala Vidia 1994) 


Penampilan perdana dari Meriam Bellina di televisi ternyata sangat mengagumkan dan mendapat pujian dari banyak kritikus. Perannya sebagai wanita pengidap kanker mendapat apresiasi dari dewan juri piala Vidia dan menetapkannya sebagai Aktris Terbaik tahun 1994, mengalahkan saingan berat seperti Niniek L. Karim dalam Parmin, Dewi Yull dalam Opera Senja, Dea Yunita dalam Alang-Alang, dan Ratu Tria dalam Mengayuh Biduk. Kemenangannya ini semakin mengukuhkannya sebagai salah satu aktris berbakat. 

7. CHRISTINE SUKANDAR - Rembulan dan Matahari
(Aktris Pendukung Terbaik FFI 1980)


Nama Christine Sukandar agak asing di pencinta film nasional, memang beliau adalah seorang penyanyi. Perannya sebagai Paitun cukup mencuri perhatian dalam film Rembulan dan Matahari karya Slamet Rahardjo. Kemenangannya di FFI 1980 cukup mencuri perhatian, dan dia mengalahkan Rae Sita Supit dan Tuti Kirana.

8. ARYANI KRIEGENSBURG WILLEM - Under The Tree
(Aktris Pendukung Terbaik FFI 2008)


Gambar Kecil

Debutnya di dunia film langsung membuatnya meraih Citra. Namanya asing di telinga publik, karena memang ini debutnya. Garin Nugroho merekrutnya main di film ini langsung dari jerman, dan Aryani mendapat peran sebagai penari Bali.