Kamis, 05 April 2012

ADE IRAWAN "Pengabdian Seorang Aktris"



ADE IRAWAN

Lahir                              : 5 April 1937
Genre                            : Drama,Thriller
Film yang berpengaruh    : Pengkhianatan G30S/PKI, Nyi Blorong
Almamater                     : Fakultas Hukum UI

Profil

Ade Irawan, adalah seorang aktris senior Indonesia yang telah berkarir selama puluhan tahun di dunia perfilman Indonesia. Ade Irawan memulai karirnya pada tahun 1964, melalui film Di Ambang Fadjar. Ade mulai mendapat peran utama sejak bermain dalam film Tjinta Di Udjung Tahun (1965). Ade Irawan bersama suaminya, (Alm) aktor Bambang Irawan memiliki perusahaan film, yaitu Agora Film. Melalui Agora, Ade dan Bambang Irawan memproduksi sejumlah film nasional. Tak hanya bermain dalam perusahaan film miliknya, Ade juga bermain dalam perusahaan film lain. Selain bermain film, Ade juga aktif menulis skenario antara lain Fajar Menyingsing (1975) dan Belas Kasih (1973).
Sepeninggal Bambang Irawan di tahun 1979, Ade Irawan tetap mengabdi pada dunia akting dan film, dengan bermain di sejumlah film nasional. Ade Irawan tercatat aktif di era 80-an dengan bermain di puluhan film, dan film-film yang dibintanginya pun terbilang sukses. Peran Ade Irawan di film yang cukup mencuri perhatian publik, seperti memerankan Ibu Yohanna Sunarti Nasution, istri Jenderal AH Nasution, dalam film peraih Piala Citra garapan Arifin C Noer, Pengkhianatan G30S/PKI (1982). Selain itu, Ade Irawan juga dikenal dalam memerankan Nyi Roro Kidul, mendampingi aktris Suzanna, seperti dalam film Nyi Blorong (1982), dan Perkawinan Nyi Blorong (1983).

Ade Irawan memiliki karakter yang cukup kuat dalam setiap peran yang ia mainkan. Suaranya yang agak berat merupakan ciri khas yang kuat, selain itu juga dilengkapi dengan peran yang mendalam. Ade Irawan juga dikenal dengan peran-perannya sebagai ibu yang bijaksana, seperti dalam film Pelangi Dibalik Awan  (1984) dan Kembali Lagi (1993).

Tiga dari lima anak pasangan Bambang Irawan dan Ade Irawan, yaitu Adhi Irawan, Dewi Irawan, dan Ria Irawan mengikuti jejak mereka di dunia film. Ade Irawan yang berdarah Minang ini, hingga kini masih eksis berakting di sejumlah film dan sinetron. Ade Irawan masih dapat menunjukkan akting primanya, meski kini usianya tak muda lagi. Ini adalah bukti pengabdian seorang Ade Irawan terhadap dunia film yang telah digelutinya, sekaligus dunia yang mempertemukannya dengan pasangan hidupnya.

Filmografi
Film Tahun Sutradara
Peran
Diambang Fadjar 1964 Pietradjaya Burnama
Actor
Tjinta Diudjung Tahun 1965 Hasmanan
Actor
Mahkota 1967 Bambang Irawan
Actor
Matahari Pagi 1968 Bambang Irawan
Actor
Hanya Satu Jalan 1972 Bambang Irawan
Actor
Si Janda Kembang 1973 Bambang Irawan
Actor
Belas Kasih 1973 Bambang Irawan
Actor/Scriptwriter
Ratapan Si Miskin 1974 Sandy Suwardi Hassan
Actor
Benyamin Spion 025 1974 Tjut Djalil
Actor
Senyum Dan Tangis 1974 Arizal
Actor
Seribu Kenangan 1975 Slamet Riyadi
Actor
Fajar Menyingsing 1975 Marhadi Jf
Actor/Scriptwriter
Jinak-Jinak Merpati 1975 Sophan Sophiaan
Actor
Widuri Kekasihku 1976 Sophan Sophiaan
Actor
Hanya Untukmu 1976 Arizal
Actor
Dr. Firdaus 1976 Arizal
Actor
Cinta Abadi 1976 Wahyu Sihombing
Actor
Chicha 1976 Eduart P. Sirait
Actor
Janji Sarinah 1976 Arizal
Actor

Mustika Ibu
1976 Wisjnu Mouradhy
Actor
Selangit Mesra 1977 Turino Djunaidy
Actor
Secerah Senyum 1977 Arizal
Actor
Tinggal Bersama 1977 Bay Isbahi
Actor
Pukulan Berantai 1977 Syamsul Fuad
Actor
Para Perintis Kemerdekaan 1977 Asrul Sani
Actor
Akulah Vivian 1977 M. Endraatmadja
Actor
Ateng Sok Aksi 1977 Hasmanan
Actor
Yang Muda Yang Bercinta 1977 Sjuman Djaya
Actor
Gitar Tua Omar Irama 1977 Maman Firmansjah
Actor
Letnan Harahap 1977 Sophan Sophiaan
Actor
Direktris Muda 1977 Kusno Sudjarwadi
Actor
Cowok Komersil 1977 Arizal
Actor
Ridho Allah 1977 Yung Indrajaya
Actor
Siulan Rahasia 1977 Maman Firmansjah
Actor
Semau Gue 1977 Arizal
Actor
Kemelut Hidup 1977 Asrul Sani
Actor
Rahasia Seorang Ibu 1977 Wahyu Sihombing
Actor
Cacat Dalam Kandungan 1977 Fritz G. Schadt
Actor
Begadang 1978 Maman Firmansjah
Actor
Bung Kecil 1978 Sophan Sophiaan
Actor
Pahitnya Cinta Manisnya Dosa 1978 Wahab Abdi
Actor
Pandangan Pertama 1978 Jopi Burnama
Actor
Cowok Masa Kini 1978 Kusno Sudjarwadi
Actor
Rhoma Irama Berkelana I 1978 Yung Indrajaya
Actor
Rhoma Irama Berkelana II 1978 Yung Indrajaya
Actor
Wadam 1978 Lilik Sudjio
Actor
Roda-Roda Gila 1978 Dasri Yacob
Actor
Musim Bercinta 1978 Arizal
Actor
Pelajaran Cinta 1979 Matnoor Tindaon
Actor
Antara Dia dan Aku 1979 Dasri Yacob
Actor
Anak-Anak Buangan 1979 Ismail Soebardjo
Actor
Guruku Cantik Sekali 1979 Ida Farida
Actor
Cinta Segi Tiga 1979 Yung Indrajaya
Actor
Gita Cinta Dari S.M.A. 1979 Arizal
Actor
Tuyul Perempuan 1979 Bay Isbahi
Actor
Puspa Indah Taman Hati 1979 Arizal
Actor
Sekuntum Duri 1980 Bobby Sandy
Actor
Ratu Pantai Selatan 1980 Ackyl Anwari
Actor
Sirkuit Kemelut 1980 Lukman Hakim Nain
Actor
Aduhai Manisnya 1980 Willy Wilianto
Actor
Hallo Sayang 1980 Adisoerya Abdy
Actor
Buah Hati Mama 1980 Sophan Sophiaan
Actor
Lima Cewek Jagoan 1980 Danu Umbara
Actor
Perjalanan Cinta 1980 Matnoor Tindaon
Actor
Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi 1980 Wim Umboh
Actor
Gadis Penakluk 1980 Eduart P. Sirait
Actor
Putri Giok 1980 Maman Firmansjah
Actor
Jaka Tarub Dan Tujah Bidadari 1981 Bay Isbahi
Actor
Intan Mendulang Cinta 1981 Djamal Harputra
Actor
Medali Bukit Selatan 1981 Frans Totok Ars
Actor
Dr. Karmila 1981 Nico Pelamonia
Actor
Sangkuriang 1982 Sisworo Gautama Putra
Actor
Pengkhianatan G-30-S/PKI 1982 Arifin C. Noer
Actor
Pengantin Remaja II 1982 Sandy Suwardi Hassan
Actor
Nyi Blorong 1982 Sisworo Gautama Putra
Actor
Perkawinan Nyi Blorong 1983 Sisworo Gautama Putra
Actor
Luka Hati Sang Bidadari 1983 Nico Pelamonia
Actor
Cinta Semalam 1983 I.M. Chandra Adi
Actor
Sentuhan Pertama 1983 Charles Inakatta
Actor
Pelangi Di Balik Awan 1984 Henky Solaiman
Actor
Tirai Kasih 1984 Agus Ellyas
Actor
Anita 1984 M. Sharieffudin a
Actor
Kinanti 1984 Eddy G. Bakker
Actor
Gairah Pertama 1984 Matnoor Tindaon
Actor
Tak Ingin Sendiri 1985 Ida Farida
Actor
Kulihat Cinta Di Matanya 1985 Bobby Sandy
Actor
Serpihan Mutiara Retak 1985 Wim Umboh
Actor
Sunan Gunung Jati 1985 Bay Isbahi
Actor
Gejolak Kawula Muda 1985 Maman Firmansjah
Actor
Insan Kesepian 1986 Bambang Irawan
Actor
Menggapal Matahari II 1986 Nurhadie Irawan
Actor
Cinta Yang Terjual 1986 Yazman Yazid
Actor
Biarkan Aku Cemburu 1988 Christ Helweldery
Actor
Bendi Keramat 1988 A. Harris
Actor
Bayi Tabung 1988 Nurhadie Irawan
Actor
Bayar Tapi Nyicil 1988 Arizal
Actor
Si Pahit Lidah Dan Si Mata Empat 1989 Lilik Sudjio
Actor
Giliran Saya Mana 1989 Yazman Yazid
Actor
Semua Sayang Kamu 1989 Ida Farida
Actor
Cinta Punya Mau 1989 Christ Helweldery
Actor
Komar Si Glen Kemon Mudik 1990 Maman Firmansjah
Actor
Jaka Swara 1990 Lilik Sudjio
Actor
Putri Kembang Dadar 1990 Dasri Yacob
Actor
Mutiara Di Khatulistiwa 1990 Frank Rorimpandey
Actor
Catatan Si Emon 1991 Nasri Cheppy
Actor
Pengantin Remaja 1991 Wim Umboh
Actor
Plong 1991 Putu Wijaya
Actor
Demi Cinta Belahlah Dadaku 1991 Nasri Cheppy
Actor
Kembali Lagi 1993 Sandy Suwardi Hassan
Actor
Tabir Biru 1993 Muchlis Raya
Actor
Setulus Nurani Perempuan 1994 Willy Wilianto
Actor
 Issue                                           2004   Gunawan Paggaru           Actor
 Ungu Violet                                  2005   Rako Prijanto                Actor
 Suster N                                      2007   Viva Westi                    Actor
 Jamila dan Sang Presiden              2009   Ratna Sarumpaet           Actor

Prestasi
Penghargaan Kesetiaan Profesi, Dewan Film Nasional 1993

Trivia
  • Ade Irawan adalah ibunda dari aktris Dewi Irawan dan Ria Irawan
  • Selain sebagai aktris, Ade Irawan juga pernah menulis skenario film, yaitu film Fajar Menyingsing dan film Belas Kasih.

Selasa, 03 April 2012

TUTI INDRA MALAON "Sang Primadona Teater"


Profil

Dra. Tuti Indra Malaon, seorang aktris panggung dan film yang memiliki banyak talenta. Tuti terlahir dengan nama Pudjiastuti di Jakarta, 1 Desember 1939. Tuti Indra Malaon adalah seorang wanita yang melengkapi karirnya sebagai seorang akademisi di almamaternya, di Fakultas Sastra UI. Selain itu, Tuti adalah seorang anggota Dewan MPR dan pemimpin majalah "Zaman". Tuti tumbuh dari keluarga yang justru tidak berminat pada seni apapun, ayahnya adalah seorang republikan, dan Tuti sejak kecil telah tertarik pada seni. 

Minat Tuti pada seni terus berkembang ketika remaja. Ia pernah terpilih sebagai penari Istana Negara RI sekaligus menjadi anggota Ikatan Seni Tari Indonesia. Ketika kuliah di Fakultas Sastra UI, jurusan Sastra Inggris, ia terpilih menjadi salah satu penari yang dikirim ke berbagai negara sebagai Duta Indonesia. Selain seni tari, Tuti juga memiliki minat yang besar pada seni drama dan teater. Setelah menjadi sarjana dan menikah dengan Indra Malaon, di tahun 1968 Tuti menjadi dosen Fakultas Sastra UI. Selain mengajar di jurusan Sastra Inggris, Tuti juga mengajar mata kuliah Drama Absurd Amerika, setelah mendalami ilmu black theatre di Amerika Serikat.


                                        Tuti Indra Malaon dalam film Ibunda
 
Tuti telah mengenal Teguh Karya sejak masih duduk di bangku mahasiswa, dan Tuti adalah salah satu pendiri Teater Populer. Ketika Teguh membuat film bioskop pertama, Wajah Seorang Laki-laki (1971), Tuti ikut main. Tidak banyak jumlah film yang ia bintangi, Tuti termasuk selektif dalam memilih peran. Itu karena Tuti memiliki sejumlah kesibukan di luar film, dan tentunya untuk menjaga kualitas akting. Di era 80-an, Tuti bermain di sejumlah film drama 'serius', seperti Putri Seorang Jenderal, Neraca Kasih, Ibunda, dan Pacar Ketinggalan Kereta. Dua film terakhir memberikan Tuti dua Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik pada FFI 1986 dan FFI 1989. Selain film, Tuti juga tampil berteater dengan bermain di sejumlah pementasan, salah satunya pentas "Opera Kecoa" yang digarap Teater Koma. Tuti juga memiliki kesibukan dengan mengelola usaha jasa Humas PEN, dan melalui PEN ia mencari sponsor untuk membuat kandang harimau putih di kebun binatang Ragunan, Jakarta. 

Tuti Indra Malaon wafat di Jakarta, 20 September 1989 karena sakit. Dua bulan kemudian Tuti dianugerahi Piala Citra sebagai Aktris Utama Terbaik. Pada Festival Film Indonesia 2010, Tuti mendapat Lifetime Achievement Award, yang diterima oleh anak dan cucunya. Tuti Indra Malaon adalah aktris yang lengkap, akting mumpuninya dilengkapi oleh ilmu dan wawasan yang tinggi.

Filmografi 
  • Wajah Seorang Laki-laki (1971)
  • Kawin Lari (1975)
  • Perkawinan Dalam Semusim (1976)
  • Putri Seorang Jenderal (1981)
  • Tali Merah Perkawinan (1981)
  • Neraca Kasih (1982)
  • Seandainya Aku Boleh Memilih (1984)
  • Ibunda (1986)
  • Perisai Kasih Yang Terkoyak (1986)
  • Cintaku di Rumah Susun (1987)
  • Pacar Ketinggalan Kereta (1988)

Prestasi 
  • Penghargaan Khusus FFI 1976, Aktris Komedi Terbaik (Kawin Lari)
  • Piala Citra FFI 1986, Pemeran Utama Wanita Terbaik (Ibunda)
  • Piala Citra FFI 1989, Pemeran Utama Wanita Terbaik (Pacar Ketinggalan Kereta)
  • Lifetime Achievement Award FFI 2010
  • Nominasi Piala Citra FFI 1983, Pemeran Pembantu Wanita (Neraca Kasih)
Trivia
  • Tuti Indra Malaon adalah seorang Dosen Fakultas Sastra UI, Anggota MPR-RI, Konsultan Humas, dan Eksekutif Media
  • Tuti Indra Malaon menang secara anumerta pada FFI 1989, karena telah wafat dua bulan sebelum acara puncak FFI
  • Ada sebuah kisah lucu antara Tuti Indra Malaon dengan Niniek L Karim, ketika menghadiri FFI 1986 di Denpasar, Bali, Tuti dan Niniek yang baru pertama kali mengikuti rangkaian penyambutan pada pawai artis FFI, enggan untuk ikut upacara penyambutan. Mereka bersembunyi di pohon Kamboja, di sudut panggung. Tetapi ketika pawai keliling kota, artis-artis lain sudah menaiki mobil, keduanya yang masih bersembunyi, dipaksa Panitia FFI untuk ikut pawai, semula mereka menolak, namun akhirnya mengalah. 

Cucu mendiang Tuti Indra Malaon menerima penghargaan FFI 2010



Sampul Majalah Femina yang legendaris, menampilkan Tuti Indra Malaon yang bertangan 10 dan ditengahnya ada gadis kecil, yang tak lain adalah Mieke Malaon, putrinya
(Sumber: www.femina.co.id)