Sabtu, 26 Mei 2012

Film Klasik Novel MIRA W

Inilah film-film klasik yang diadaptasi dari novel-novel karya novelis ternama MIRA W :

1. DISINI CINTA PERTAMA KALI BERSEMI (Wim Umboh, 1980)




Film yang mempertemukan Widyawati dan Roy Marten untuk pertama kali. Diadaptasi dari novel berjudul sama dari Mira W, dan film ini berkisah tentang percintaan dua insan dari remaja, bernama Melia (Widyawati) dan Leo (Roy Marten), yang percintaan mereka dihadang oleh banyak tentangan dan hambatan. Melia terpaksa kawin dengan pria lain karena suatu hal. Mereka pun terpisah, dan setelah sekian lama dipertemukan kembali saat mereka mengalami keadaan yang sudah jauh berbeda. Melia sudah cerai dan menjadi biarawati. Leo berusaha untuk melunakkan hati Melia yang sudah membeku, namun Melia begitu karena dia sudah punya kaul seorang biarawati. 

2. KEMILAU KEMUNING SENJA (Hasmanan, 1980)

   


Widyawati kembali bermain sebagai seorang wanita tangguh. Kali ini menjadi seorang dokter ginekolog yang mandiri dan tegar, walau tetap ditempa banyak konflik dan intrik dalam hidupnya. Pernah ditayangkan di RCTI dan salah satu penampilan terbaik dari Widyawati.

3. SEANDAINYA AKU BOLEH MEMILIH (Wahab Abdi, 1984)


Drama yang cukup berbelit dengan banyak konflik membatin. Kisahnya tentang cinta segitiga dengan banyak intervensi dari pihak lain sampai kisah kompleks ini memuncak pada keguncangan jiwa. Salah satu film drama yang dramatis. Film ini juga pernah dibuat versi sinetron, dengan judul Cinta (1999) dengan pemain Desy Ratnasari, Primus Yustisio dan Atalarik Syah. 

4. ROMANTIKA (GALAU REMAJA DI SMA) (Hengky Solaiman, 1985)


  
Film yang bercerita tentang problematika remaja di SMA menyangkut hubungan pergaulan remaja, persaingan akademik, persahabatan, romansa, cita-cita adan ambisi remaja serta didikan melalui keteladanan. Mempertemukan Meriam Bellina dan Paramitha Rusady. 
   

5. MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI (Wim Umboh, 1986)









Salah satu film drama berlatar rohani. seorang wanita bernama Maria yang doktrin menjadi seorang biarawati. Setelah mengalami fase-fase alamiah dan sebagai seorang gadis remaja, Maria pun menemukan jati dirinya dan memantapkan diri menjadi seorang biarawati. Populer dengan pemain populer juga, Paramitha Rusady dan Adi Bing Slamet.

6. ARINI, MASIH ADA KERETA YANG AKAN LEWAT (Sophan Sophiaan, 1987)

  
Adaptasi dari novel Mira W yang cukup sukses difilmkan. Berkisah tentang seorang wanita matang yang telah mempunyai karir yang telah bagus, bertemu dan menjalin hubungan dengan seorang pemuda yang jauh dibawah usianya, dan tentunya belum mapan dan masih dibawah kuasa ibunya. Film ini mempunyai sekuel Arini 2 yang juga diadaptasi dari novel Mira W dengan judul Biarkan Kereta Itu Lewat. Drama ini cukup kompleks dan berbelit. karena disutradarai Sophan Sophiaan, maka film ini pun tak luput dari selipan kritik-kritik sosial dan politik, yang dibalut dengan halus. Diperankan sangat bagus oleh deretan pemain handal, macam Widyawati, Rano Karno, Joice Erna, Rima Melati. Unggulan film terbaik FFI 1987 dengan sejumlah nominasi, dan mendapat Citra untuk aktris utama terbaik. 

7. TATKALA MIMPI BERAKHIR (Wim Umboh, 1987)



Drama tentang hubungan seorang gadis dan pria yang dipertemukan di dunia film. Ketidakcocokan yang semula dialami mereka mempertemukan pada sebuah cinta sejati. Namun hubungan mereka seakan tak direstui oleh takdir, setelah sang pria meninggal karena sakit. Mendapat nominasi FFI 1988 untuk pemeran utama pria (Ray Sahetapy) dan pemeran utama wanita (Meriam Bellina).

8. PERISAI KASIH YANG TERKOYAK (Hadi Poernomo, 1986)


Kisah yatim piatu dengan bumbu tragis.  Kemalangan dan perpisahan dialami dua anak yatim piatu sampai mereka bertemu kembali di saat yang tak terduga. Film yang dimainkan Tuti Indra Malaon setelah mendapat Citra, beradu akting dengan pemain muda Nena Rosier dan Dwi Yan. Film pilihan FFI 1987. 

9. CINTA CUMA SEPENGGAL DUSTA (Edi SS, 1986)



Cerita tentang problematika remaja-remaja SMA yang kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Kehadiran pak guru yang dapat mengendalikan anak-anak itu memberikan pengaruh yang cukup baik. Klimaks cerita saat remaja perempuan bernama Sandra yang meninggal karena menggugurkan kandungannya akibat berhubungan di luar nikah dengan pacarnya. Film pilihan FFI 1987.



#BestOf HASMANAN




HASMANAN
Sutradara, Penulis Cerita dan Skenario


1. DIMANA KAU IBU (1973)


Sutradara Hasmanan membuat film drama sosial berjudul Dimana Kau Ibu, yang berkisah tentang nasib bayi yang dipisahkan dengan ibunya sejak lahir, dan menarik untuk dilihat sebagai akibat dari hipokrisi seorang terpandang. Linda (Lenny Marlina) mlahirkan bayi di luar nikah dan tidak direstui ayahnya. Sang ayah bayi itu pun juga meninggal sebelum bayi itu lahir. Sungguh malang. Sang bayi yang bernama Yatim (Rano karno) terdampar pada keluarga yang tidak menyayanginya. Yatim pun minggat dan bergelandang, mengais hidup rezeki dengan menyemir sepatu, sampai suatu saat dia bertemu dengan ibu kandungnya saat perisitiwa tabrakan mobil. Berbeda dengan Ratapan Anak Tiri, Hasmanan hampir tidak mempergunakan air mata untuk menguras air mata. Namun jalan cerita yang begitu dramatis itulah yang membawa penonton larut dengan penderitaan Yatim.

2. PEMBERANG (1972)


Salah satu film thriller terbaik, setelah Lewat Tengah Malam (1971). Inti ceritanya tentang teror kepada sebuah keluarga seorang pengacara bernama Johan (Sophan Sophiaan), yang dilatari dendam dari seorang pria bernama Barman (Dicky Zulkarnaen). Barman masuk penjara karena Johan, karena kekasihnya mencintai Johan. Barman melakukan teror dengan menculik istri dan anak Johan. Selain itu, teror lain dilakukan Barman dengan memanfaatkan temannya Victor (Soekarno M Noor) yang menawarkan gula-gulanya untuk memainkan peranan pengganggu keluarga sang pengacara. Jalan cerita yang cukup menegangkan, namun akhirnya Barman pun tewas. 

Skenario ditulis Arifin C Noer, dan Hasmanan dapat membuat ketegangan dari awal sampai akhir film, sehingga penonton tidak jenuh dan dapat penasaran dengan ceritanya. Dicky Zukarnaen mendapat Citra untuk permainan gemilangnya ini. Pernah ditayangkan di Indosiar.

3. RIO ANAKKU (1973)


Setelah Dimana kau Ibu, Lenny Marlina dan Rano Karno kembali dipertemukan dalam film, Rio Anakku. Kebaikan hati, ketulusan nurani menjadi inti cerita film ini. Drama yang cukup tidak biasa, dari banyak film drama saat itu. Naskahnya ditulis Arifin C Noer, dan meriah banyak penghargaan FFI 1974, diantaranya skenario terbaik, penyuntingan terbaik, pemeran utama pria terbaik (Koesno Soedjarwadi), dan pemeran utama wanita (Lenny Marlina).

4. ROMI DAN JULI (1974)


Hasmanan membuat film romansa yang bertipe Pengantin Remaja yang terilhami film Love Story. Cerita dua anak manusia, Romi (Rano Karno) dan Juli (Yessy Gusman) remaja yang saling mencinta namun mendapat tentangan orangtua. nekat minggat berdua sampai mereka dicari-cari setelah dua remaja ini mengalami kesusahan. Setelah mereka ditemukan, maka kisah pun berakhir damai dan bahagia. 

5. ATENG THE GODFATHER (1976)


Komedi banyolan yang terilhami dari film The Godfather di Hollywood. Don (Ateng) sosok seorang pemimpin yang selalu memperhatikan anak buahnya seperti layaknya seorang bapak kepada anak-anaknya. Don mempunyai beberapa anak buah. Ia begitu arif dan bijaksana dalam memimpin kehidupan bersama anak buahnya. Di pihak lain, Kusno, seorang pemimpin dari kelompok yang menamakan dirinya orang-orang kribo, mereka selalu berselisih paham dengan Don karena ingin sekali bisa menguasai air danau.

6. ATENG BIKIN PUSING (1977)



Hasmanan mengarahkan dengan baik seorang Ateng, dan dapat merubah Ateng bukan sebagai 'pelawak' dalam film, tapi aktor. Ceritanya cukup menggelitik, bukan selalu tentang banyolan humor, tapi ada rasa kesedihan yang mendalam antara Ateng dengan pujaannya, seperti cinta bertepuk sebelah tangan, cinta yang tak berbalas. Selain itu hubungan yang akrab dan kocak Ateng dengan pembantu sekaligus temannya, Iskak. 
Walau sudah berusia 21 tahun, Ateng seorang anak yang pikiran serta pertumbuhannya lamban, lantaran itu dia sangat dimanja oleh neneknya (Wolly Sutinah). Semua permintaan Ateng dipenuhi, sampai-sampai hal yang aneh dan tidak logis. Iskak pembantu yang ditugaskan menjaga Ateng, suatu saat menyalahgunakan kedekatannya dengan Ateng. Ia mendapatkan sebuah skuter yang dituntut Ateng dari bapaknya. Puncaknya saat Iskak dituduh mencuri jam, meski bukan dia yang mencuri. Iskak diusir, Ateng sangat kehilangan Iskak. Ateng menaiki menara air, dan membuat panik keluarganya, sampai pada akhirnya Iskak kembali, dan Ateng pun mau turun. 

7. WANITA SEGALA ZAMAN (1979)


Yang dimaksud Wanita Segala Zaman itu adalah Asih (Marini), seorang pembantu setia pada sebuah keluarga kaya yang punya tiga anak, sementara nyonya keluarga itu sudah meninggal. Asih memiliki posisi yang hampir sebagai ibu rumah tangga untuk semuanya, kecuali sebagai istri. Ketiga anak dalam keluarga ini  memiliki watak yang berbeda-beda dan konflik masing-masing. Permasalahan dan konflik makin memuncak saat hadirnya seorang wanita bernama Ema (Rae Sita) yang menjadi istri Kusuma, kepala keluarga di rumah itu dan menjadi ibu tiri ketiga anaknya. Ema hanya berniat menguasai harta Kusuma. Disinilah peran Asih menyelamatkan keluarga itu. Drama keluarga yang cukup baik. Film pertama Lidya kandou, dan film ini pernah ditayangkan di SCTV.

8. ANNA MARIA (1979)

Salah satu karya Hasmanan yang terbaik. Melalui film ini pula ia mendapat nominasi untuk sutradara terbaik FFI, dan sejumlah nominasi FFI lainnya. Berinti cerita pada wanita bernama Anna Maria, sesuai judulnya, yaitu seorang biduanita dan janda beranak satu, Boy (Ryan Hidayat). Hidup Anna Maria dikelilingi banyak pria yang mendekatinya, namun juga penyakit ganas yang mengancam hidupnya. Ryan Hidayat mendapat penghargaan FFI, untuk pemeran anak-anak terbaik selain itu juga nominasi pemeran utama pria, Marini pun mendapat nominasi aktris terbaik. 

9. MEKAR DIGUNCANG PRAHARA (1987)


Diadaptasi dari novel Nina Pane. Sebuah drama rumah tangga yang 'rusak' dari dalam, karena sang suami, Daniel, berperilaku buruk, suka judi dan main perempuan, dan selalu dibela dan dimanja ibunya, yang suka mengintervensi rumah tangganya. Istrinya, Dinar, tak berdaya hidup dengan peringai Daniel dan mertuanya yang ikut campur. Sampai Dinar bertemu pria lain di tempat kerjanya, Yudha, namun telah diincar Soraya, kemudian intrik-intrik terjadi antara Daniel, Dinar, Yudha, dan Soraya. Unggulan FFI 1988 untuk poster terbaik. 

10. DIA BUKA BAYIKU (1988)


Setelah heboh kasus tertukarnya dua bayi, Dewi dan Cipluk, selain film Semua Sayang kamu (1988), ada juga film sejenis, Dia Bukan Bayiku, yang terilhami dari cerita nyata naas tersebut. tapi bedanya dengan film lain, film ini kerjasama dengan Malaysia, dimana cerita tertukar bayinya di malaysia, dan bayinya tertukar dengan pasangan orang Malaysia. Diperankan cukup bagus oleh Rano Karno dan Marissa Haque. 


Kamis, 24 Mei 2012

#BestOf MATHIAS MUCHUS

 
MATHIAS MUCHUS
Aktor, Sutradara
Genre : Drama

"Jadi artis tak cukup modal nekat"

1. PRONOCITRO - Roro Mendut (Ami Prijono, 1982)


Pronocitro adalah lelaki yang dicintai Roro Mendut (Meriam Bellina), yang dimana percintaan mereka dilarang oleh Tumnenggung Wiroguno. Ia mengajak Roro mendut melarikan diri dan berniat hidup bahagia bersama, dan tentu saja niat ini dihambat oleh Wiroguno. Sampai akhirnya Pronocitro dan Roro Mendut bunuh diri.

Film pertama Mathias Muchus, dan mempertemukan dengan Meriam Bellina untuk pertama kali.

2. MARIO - Beri Aku Waktu (Buce Malawau, 1985)


Dalam film ini, Muchus berperan sebagai pemuda Ambon bernama Mario, yang mengalami masalah batin dalam keluarganya. Dia merasakan didikan luar biasa keras oleh ayahnya (Pietrajaya Burnama). Jiwa pemberontak Mario yang bergelora mmebuat Mario menjadi anak 'liar'. Kehidupannya juga diisi dengan munculnya gadis bernama Susan (Ira Wibowo). Konflik dan intrik Mario dengan orang-orang di sekitarnya menjadi inti film.

Salah satu peran yang bagus bagi Mathias Muchus, membawanya meraih nominasi FFI pertama untuk aktor terbaik, namun dikalahkan Deddy Mizwar dalam film Arie Hanggara.

3. NICO - Istana Kecantikan (Wahyu Sihombing, 1987)


Pertama kalinya, Muchus memerankan peran LGBT, seorang gay bernama Nico yang suka dengan sesama jenis, dan ketika dipaksa menikah oleh kakanya, untuk menyenangkan orangtuanya, Nico bersandiwara menikah dengan wanita bernama Siska (Nurul Arifinj), dimana Siska ini sudah hilang keperawannya dan hamil oleh teman Nico sendiri, Sumitro.Kebohongan ini terbongkar oleh Siska, ketika Nico bercinta dengan Toni, pegawainya di salon. Sampai pada akhirnya, Nico memergoki Siska yang hendak bercinta dengan Siska. Nico meledak, dan hendak membunuh Siska, namun Toni yang menjadi korban.

Peran LGBT pertama bagi Mathias Muchus. Penampilannya yang begitu sempurna sebagai seorang gay (jarang pada saat itu) membuatnya meraih Piala Citra pertama untuk Pemeran Utama Pria Terbaik mengalahkan Deddy Mizwar, Pietrajaya Burnama dan Ray Sahetapy.

4. JARO - Cintaku Di Way Kambas (Iwan Wahab, 1990)

 
Disini, perannya sebagai Jaro, cukup unik. Dia adalah seorang aktivis di sekolah gajah Way Kambas. Selain dia juga terlibat cinta segitiga dengan 2 wanita (Ira Wibowo dan Rini S Bono) yang kebetulan sedang mengikuti rally mobil di Lampung.

Peran yang cukup unik bagi Mathias Muchus, dan dia mendapat nominasi Piala Citra 1991 untuk pemeran utama, namun kalah oleh Tio Pakusadewo (Lagu Untuk Seruni). Kembali berakting bersama Ira Wibowo.

5. TARJO - Penginapan Bu Broto (Wahyu Sihombing, 1987)


Dari serial terkenal Losmen di TVRI, peran Muchus sebagai Tarjo sudah cukup dikenal publik, sebagai anak pemilik losmen milik Pak dan Bu Broto (Mang Udel dan Mieke Wijaya). Tarjo terlibat cinta dengan Donna (Chintami Atmanegara), tamu Losmen bersama ayahnya. Karakter Tarjo itu seorang mahasiswa, anak bungsu keluarga Broto yang bergaya khas ala mahasiswa dan suka genit dengan para tamu wanita di Losmen Srikandi.

6. PAK GURU - Denias, Senandung Di Atas Awan (John De Rantau, 2006)


Memerankan karakter Pak Guru yang teladan, loyal, dan berjiwa mengabdi. Dari tanah Jawa dan mengajar anak-anak (salah satunya Denias) di daerah terpencil di tanah Papua, Pak Guru meyakinkan Denias untuk melanjutkan pendidikan karena ia yakin anak itu pintar dan bisa menjadi ahli matematika. Perannya yang dalam ini mendapat nominasi FFI 2006 untuk pemeran pembantu pria, namun kalah oleh El Manik, dalam film Berbagi Suami.

7. SURYONO - Selamat Tinggal Jeanette (Bobby Sandy, 1987)


Suryono, karakter pria inti satu-satunya dalam film ini. Ceritanya diantara ketiga perempuan yang mencintainya, Jeanette (Meriam Bellina), pembantunya Trimah (Ria Irawan), dan ibunya yang seorang priyayi 'dingin' (Nani Widjaya). Karena karakter Suryono lah, konflik film ini yang dialami ketiga wanita tersebut menjadi inti film.

8. ANDI SUMANGE - Jangan Renggut Cintaku (Nurhadie Irawan, 1990)


Menjadi seorang buronan polisi, yang dibebankan tugas oleh ayahnya untuk menncari dan membunuh lelaki yang telah membawa lari adik perempuannya untuk kawin lari. Namun ketika hampir membunuh lelaki itu, adiknya melahirkan, dan Sumange mengurungkan niatanya dan hatinya luluh. 

9. RACHMAT SIREGAR - Queen Bee (Fajar Nugros, 2009)

 
Karakter beda Muchus, menjadi seorang calon presiden RI dan juga ayah daris seorang gadis remaja yang sedang bergelora masa remajanya, dan konflik terjadi ketika dunia remaja putrinya dibatasi oleh pengawalan Paspampres yang berlebihan.

10. AYAH DAPUNTA - Pengejar Angin (Hanung Bramantyo, 2011)
 

Mathias Muchus berperan sebagai pemimpin perampok bajing loncat dalam film  'Pengejar Angin'. Untuk mendalami karakternya, Mathias pun harus berlatih silat harimau khas Sumatra. Dia mengiginkan putranya, Dapunta, untuk menjadi Pengejar Angin, julukan bagi pelari tercepat di kampung mereka, untuk melanjutkan jejaknya sebagai pemimpin dari para Bajing Loncat (perampok truk) di kampung mereka.

Selang 23 tahun, secara mengejutkan peran ini memberikan Mathias Muchus kembali meraih Piala Citra untuk pemeran pendukung pria terbaik. Untuk Festival Film Bandung 2012, namanya juga masuk nominasi.

Mathias Muchus dan Christine Hakim saat menjadi aktor dan aktris terbaik FFI 1988
 Trivia:

- Mathias Muchus juga pernah 2 kali masuk nominasi Piala Vidia tahun 2004 dan 2006 untuk FTV Taxi Blues dan Ayahku Astuti



Rabu, 23 Mei 2012

QUOTE SUTRADARA FILM KLASIK

 1. SJUMAN DJAYA (1933-1985)

" Setelah membikin Si Mamad yang berkisah tentang kesulitan ekonomis seorang anak manusia, saya tentu ingin lebih maju. Dengan memilih Atheis, saya berkehendak mengisahkan kegoncangan jiwa manusia yang setiap saat bisa kita alami." ( Saat hendak membuat film Atheis (1974) ).

 " Kesewenang-wenangan terhadap kreatifitas harus dihentikan. "

Sjuman Djaya adalah orang yang bosan dengan idiom film-film Indonesia yang memfosil. Dimatanya film kita sudah sebuah bahasa yang baku, sehingga siapa pun akhirnya gampang bikin film. Adegan cinta mesti begini, adegan sedih harus begitu, penjahat tampak begini, adegan sedih harus begitu, orang baik tampak begitu, Sjuman mau lain. Dan dia berjuang untuk itu.


2. TEGUH KARYA (1937-2001)


"Kita harus berontak pada produser. Jangan beri kesempatan, pada mereka untuk mendikte kita".-- Teguh Karya, dalam ceramah di TIM 29 Maret 1975.  

"Kelahiran seseorang tidak harus membawa dosa keturunan".-- Teguh Karya 

“Kelangsungan hidup media film akan berhenti jika andalannya hanya ada kemahiran teknis dan kesempurnaan artistik dari tema yang itu ke itu saja. Keadaannya akan kering dan dijauhi masyarakat jika tidak diciptakan tema-tema baru yang kekayaannya tidak terbatas. Atas alasan ini “November 1828” buat saya merupakan suatu keharusan“
"Jangan Terpancing Bikin Film Yang Spekulatif" - Teguh Karya.
Teguh Karya memang tidak pernah berhenti pada suatu sukses, baik sukses komersil maupun sukses film sebagai sebuah karya seni.
 3. WIM UMBOH (1933-1996)


“FILMLAH satu-satunya yang membuat saya merasa hidup”.- Wim Umboh
SUMBER : KOMPAS, 25 Januari 1996

 
4. ARIFIN C NOER (1941-1995)



Dalam naskah-naskah yang ditulisnya, banyak beberapa quote atau dialog yang menarik, berkesan dan juga terkenang hingga kini, seperti 
  • "Senyum itu Ibadah" - dalam film TAKSI (1990).
  • "Darah itu Merah, Jenderal !" - dalam film Pengkhianatan G30S/PKI (1982), dialog ini adalah rekaan/ciptaan Arifin C Noer yang terilhami dari lagu PKI, "Darah Rakyat Masih Berjalan...."
  • "Aku tahu mengapa masa kita ini adalah mimpi, tetapi biarlah, bagi ku mimpi itu indah seperti bulan" - dalam film Biarkan Bulan Itu (1986) 

Arifin C Noer selalu menyediakan 'ruang' dan membiarkan orang menginterpretasikan sendiri. Dia tidak keberatan jika orang tidak 'mengerti' atau tidak bisa menerima karyanya. Sebagai contoh, baginya, sandiwaranya kalau sudah di tangan sutradara, terserah orang itu mau dia mengerti bagaimana dan mau diapakan.

Arifin C Noer selalu berprinsip bahwa dalam film, "Peran yang mencari aktor". Dalam setiap naskahnya, ia tidak pernah 'membuat' peran buat seseorang. 

Arifin C Noer yang mengenalkan istilah "Magma Perfilman", dan istilah itu dijulukkan kepada aktris Meriam Bellina, sampai saat ini.

 5. ASRUL SANI (1927-2004)


Petikan kutipan Asrul Sani dalam sebuah wawancara: 

"Kebudayaan lahir seperti air yang mengalir. Kita boleh saja mengatakan menjunjung nasionalisme dengan menetapkan suatu pakaian yang "asli" Indonesia. Bukan itu yang ada dalam kenyataan. Kita tidak lagi berjalan dengan langkah-langkah kecil karena memakai kain kebaya, tapi bisa leluasa dengan celana blue jeans. Itu yang tampak dalam novel Saman. Masalahnya, pakaian baru ini akan diapakan? Kita jangan munafik mengatakan cinta pakaian nasional tapi tidak pernah memakainya. Apalagi baju nasional ternyata lebih mahal dari pakaian biasa"

6. NASRI CHEPPY (1950-2010)




Nasri Cheppy ketika hendak membuat film Catatan si Boy, mengatakan dalam sebuah wawancara: 

"Aku terus bertanya pada diri sendiri, mengapa bahwa film-film yang memenangkan Citra (penghargaan film nasional Indonesia) hanya pernah dilihat oleh beberapa orang ... saya menganalisis situasi Kemudian saya membuat film ... Tampaknya, bahwa masyarakat membutuhkan film-film seperti ini. "

7. NYA ABBAS AKUP (1932-1991)


"Film merupakan tanggung jawab sutradara, dan karena itu saya tidak bisa berbuat setengah-setengah". 

Selasa, 22 Mei 2012

Aktor Layar Klasik yang Berpengaruh

1. BENYAMIN S (1939-1995)



Maestro seni Betawi ini tak perlu diragukan lagi kapabilitasnya di dunia perfilman. Banyak film yang telah ia bintangi dan semuanya sukses, dan kebanyakan dalam filmnnya juga, ia menyanyi dan duet dengan artis Ida Royani. Aktingnya yang alami membuatnya meraih Piala Citra 2 kali, tahun 1973 untuk Intan Berduri, dan tahun 1977, untuk film Si Doel Anak Modern. Kehadiran Benyamin Sueb dalam kancah perfilman memiliki pengaruh yang besar bagi dunia film, dan juga bagi para generasi penerus. Walaupun Bang Ben telah tiada 17 tahun lalu, karya-karyanya tidak akan akan pernah terlupa dan akan selalu menjadi inspirasi bagi para seniman muda, hal ini dibuktikan dengan terpilihnya Benyamin S sebagai penyanyi Indonesia terbaik sepanjang masa, versi majalah Rolling Stones tahun 2010.

2. DICKY ZULKARNAEN (1939-1995)


Suami aktris Mieke Wijaya dan ayah dari Nia Zulkarnaen ini dikenal publik sebagai "Si Pitung". Selain itu, Dicky juga bermain apik dalam film Salah Asuhan (1972), dan Pemberang (1972) yang memberinya Piala Citra. Peran antagonis dan lelaki 'kasar' juga sering dibawakannya, seperti dalam film Pengemis dan Tukang Becak (1978) dan Pengorbanan (1984). 

3. SOEKARNO M NOOR (1931-1986)



Aktor watak berdarah Sumatera ini kurang lebih telah membintangi sekitar 83 judul film, dan 3 kali mendapatkan penghargaan di Festival Film Indonesia. Permainan aktingnya dipuji banyak orang, termasuk dari kalangan para pemain, dan Soekarno M Noor menjadi sosok aktor yang cukup disegani di perfilman nasional. Pertama kali mendapatkan gelar aktor terbaik tahun 1960 untuk film Anakku Sajang, kemudian tahun 1967 lewat Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1967) dan terakhir, Kemelut Hidup (1979). Ayah dari Rano, Suti dan Tino Karno ini terakhir main dengan begitu mengesankan di film Opera Jakarta, yang sekaligus memberikan nominasi Piala Citra untuk terakhir kalinya. 

4. BING SLAMET (1927-1974)



Seniman serba bisa ini telah malang melintang dunia hiburan tanah air. Namanya tercatat sebagai penyanyi dan pelawak handal, setelah menang kejuaraan melawak dan merebut pula juara Bintang radio jenis hiburan di era 50-an. Sebagai entertainer handal, Bing Slamet juga menginjakkan kakinya di layar putih, seperti di film Pilihlah Aku (1956), Hari Libur (1958) dan Amor dan Humor (1961)Meskipun mahir dalam genre komedi, Bing Slamet juga mahir dalam genre drama seris, seperti dalaam film Hantjurnja Petualangan (1966), dan 2x24 Djam (1967). Tergabung dalam beberapa grup lawak, dan yang terkenal adalah Kwartet Jaya bersama Eddy Sud, Ateng dan Iskak. Kwartet Jaya semakin mencuat setelah tampil dalam film, seperti Bing Slamet Setan Jalanan (1972), Bing Slamet Sibuk (1973), Bing Slamet Dukun Palsu (1973), Ambisi (1973) dan terakhir Bing Slamet Koboi Cengeng (1974), yang menjadi film perpisahannya.

5. MARULI SITOMPUL (1937-1990)


Aktor watak ini memang selalu tampil mengesankan dalam setiap perannya. Peran-peran yang begitu berkarakter seperti dalam film Gersang tapi Damai, Kembang-Kembang Plastik, November 1828, dan Gara-Gara Istri Muda, memberinya nominasi Piala Citra. Maruli membuktikan bahwa ia sangat pantas meraih Citra, itu terjadi di tahun 1981,1982,1983, dimana ia meraih 3 Citra berturut-turut, untuk film Laki-laki Dari Nusakambangan, Bawalah Aku Pergi, dan Dibalik Kelambu. Sangat disayangkan ketika setelah Maruli Sitompul meraih Citra ketiganya, namanya kemudian seakan tenggelam dari dunia film, dan hanya sesekali tampil dengan peran yang tidak istimewa. Ciri khas Maruli Sitompul seperti aktingnya yang begitu kuat, suaranya yang berat, menjadikan Maruli Sitompul salah satu aktor terbaik di Indonesia. 

6. BAMBANG HERMANTO (1925-1991)


Kepiawaian aktingnya telah teruji lewat film-film berkualitas seperti Harimau Tjampa (1953), dan pedjuang (1960) yang membuatnya menjadi pemain film Indonesia pertama yang meraih penghargaan internasional, yaitu Best Actor pada Moskwa International Film Festival tahun 1961. Bambang Hermanto memang dikenal dengan peran-peran di film-film drama 'serius'. Selain menjadi aktor, suami aktris Dien Novita ini juga pernah menjadi sutradara, produser dan pengarang cerita. Setelah meraih Citra pertama di tahun 1955, 29 tahun kemudian, Bambang Hermanto kembali meraih Citra lewat film karya Slamet Rahardjo, Ponirah Terpidana (1983).

7. A. HAMID ARIEF (1924-1992)


Pengabdiannya di dunia akting terbukti dengan 121 judul film yang dibintanginya. Berkarir sejak tahun 1942, dan terus aktif hingga akhir hayatnya. Salah satu aktor yang berpengaruh setelah RD Mochtar, dan dikenal pula sering bermain di film-film berlatar budaya Betawi, sering bermain bersama Benyamin S, dan Wolly Sutinah.

8. TAN TJENG BOK (1900-1985)

Aktor keturunan Tionghoa ini adalah aktor sejati di panggung hiburan. Komitmennya di dunia sandiwara dan film tak perlu diragukan lagi, dunia hiburan telah digelutinya sejak remaja, dan sudah makan asam garam di dunia hiburan. Main di film Srigala Item (1941), Si Gomar (1941), kemudian main lagi setelah masa kemerdekaan lewat film Melarat Tapi sehat (1954), Djudi (1955), Badai Selatan (1960), Si Rano (1973), Syahdu (1975), dan main di sejumlah drama televisi TVRI, yang dikenal sebagai suami aktris Fifi Young. Tan Tjeng Bok mengabdikan hidupnya di film sampai usianya sudah sangat renta.

9. RATNO TIMOER (1942-2002)


The Most Popular Actor Asia pada FFA 1972 ini mulai dikenal publik ketika membintangi film Matjan Kemajoran (1965). Menjadi produser bersama istrinya, Tien Samantha, dan juga menjadi sutradara untuk sejumlah film yang diproduksinya sendiri. Masyarakat juga mengenalnya saat memerankan "Si Buta dari Goa Hantu", dan aktingnya yang kharismatik memukau dewan juri FFI 1976, sehingga memenangkannya sebagai aktor utama terbaik lewat film Cinta (1975). 

10. BAMBANG IRAWAN (1932-1979)


Aktor yang juga suami dari Ade Irawan dan ayah dari Dewi dan Ria Irawan ini cukup berpengaruh di dunia film era 50 hingga 60 -an, salah satu film yang mempopulerkan namanya adalah film Tiga Dara (Usmar Ismail, 1956). Dan pada masa itu, Bambang Irawan menjadi aktor yang laris dan menjadi idola. Kursi produser pernah dipegangnya melalui Agora Film, perusahaan film miliknya. Film-film karyanya antara lain Mahkota (9167), Intan Kesepian (1971) dan Sopir Taksi (1973).

11. RD MOCHTAR 


RD Mochtar adalah aktor pertama yang mencuatkan sistem "bintang" pada industri perfilman tanah air, yang dimana film kita baru mulai meletakkan perhatian pada pentingnya kedudukan pemain film. Pertama kali main di film Pareh (1935), kemudian mulai mencuat lewat film Terang Boelan (1937) bersama Miss Roekiah. Disusul dengan film Siti Akbari (1939), Moestika dari Djenar (1941), dan lain-lain. Sempat vakum dari dunia film, kemudian tampil kembali dalam film Bengawan Solo (1971), dan tampil mengesankan dalam film Merenda Hari Esok (1981) bersama Sofia WD, Fadly, dan Marlia Hardi. RD Mochtar mendapatkan beberapa penghargaan sebagai bintang terbaik dari swasta dan pemerintah. 

12. PANDJI ANOM (1915-1990)


Aktor asal Sambas ini mulai mencuri perhatian publik sejak bermain sebagai pemeran utama di film Tamu Agung (1955) karya Usmar Ismail. Di era 80-an, banyak film yang menampilkannya sebagai sosok bangsawan atau bapak. Kacamata besar dan cerutu adalah ciri khas yang melekat dari Pandji Anom.

13. SOPHAN SOPHIAAN (1944-2008)

Lahir di Sambas, Kalimantan, 3 April 1915.  Meninggal dunia di Jakarta, 25 Pebruari 1990. 
Pendidikan: Ambach School (1933), kursus montir radio (1935). 
Tadinya sebagai penyanyi dan turut rombongan sandiwara, mulai 1937. Sepulang merekam nyanyian di Singapura, diajak main film dalam Elang Darat (1941). Di masa pendudukan Jepang (1942-1945) aktif di Pusat Kebudayaan Jepang. Sesudah Indonesia merdeka, kembali mengikuti grup sandiwara yang dipimpin Djamaludin Malik (1917-1970). Pada 1950, bersama Djamaludin Malik, mendirikan perusahaan film PERSARI. Permainannya menonjol dalam Tamu Agung (1955), yang disutradarai Usmar Ismail. Tahun 1980-an dikenal lewat tokoh Pak Suwito, "Suami" Mieke Wijaya dalam serial Rumah Masa Depan. Penerima piagam Kesetiaan Profesi 1989 ini adalah suami (sejak 1952) dari aktris Komalasari.13. SOPHAN SOPHIAAN (1944-2008)

Pasangan abadi aktris Widyawati ini mulai dikenal saat membintangi film Pengantin Remaja (1971) yang sekaligus mempertemukannya dengan pasangan hidupnya. Kemudian Sophan selalu diduetkan dengan Widyawati dalam banyak film. Kemudian Sophan mengembangkan diri dengan menjadi seorang sutradara film. Film-film karyanya yang sukses diantaranya Jangan Ambil Nyawaku (1981), Tinggal Landas (1984), Arini, Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat (1987), Bung Kecil (1978), dan lain sebagainya. Kritik sosial dan nasionalisme adalah ciri khas dalam setiap film karya Sophan Sophiaan. 

14. Drs. POERNOMO / MANG UDEL (1923-2006)


Karir Sarjana Biologi ini dalam dunia film cukup unik. Tidak begitu banyak membintangi film, tapi sekalinya main film, mendapat peran utama yang meraih penghargaan dan mencuatkan namanya. Mang Udel, selain sibuk menjadi dosen, ia juga mahir memainkan alat musik ukulele. Perannya yang berkesan saat menjadi pegawai negeri jujur, dalam film Si Mamad (1973) yang secara mengejutkan membuatnya menang Piala Citra. Di era 80-an, Mang Udel main di serial Losmen, yang semakin membuatnya dikenal publik. Masuk lagi nominasi aktor terbaik pada FFI 1989 untuk film Si Badung.

15. WD MOCHTAR (1928-1997)


Suami aktris Sofia WD ini pertama kali tampil dalam film Tirtonadi (1950). Setelah 15 tahun berkecimpung, baru pada film Matjan Kemajoran (1965) bersama Ratno Timoer namanya mulai dikenal. Selanjutnya ia tampil dalam film-film yang disutradarai Wim Umboh yang menambah kuat kedudukannya sebagai salah seorang aktor papan atas Indonesia. Berbagai penghargaan pun diraihnya seperti Best Actor PWI Jaya 1971 untuk film Sanrego, nominasi aktor terbaik FFI 1980 dan FFI 1983, nominasi aktor pembantu FFI 1982 untuk film Ratu Ilmu Hitam.

16. RACHMAT HIDAYAT


Terjun ke film secara kebetulan, di film Toha Pahlawan Bandung Selatan (1961), cocok dengan dirinya yang memang asli putra Bandung. Kehadirannya yang cukup mengesankan, menempatkan Rachmat Hidayat pada peran=peran yang bagus dan membuat aktingnya terasah. Di awal 70-an, Rachmat dikenal sebagai salah satu aktor papan atas dengan banyak penghargaan, seperti Best Actor PWI Jaya 1970-1971 untuk The Big Village (Dusun Besar), meraih Citra untuk film Apa Salahku (1976), Pacar Ketinggalan Kereta (1989) dan Boss Carmad (1991). Lima kali masuk unggulan FFI, dan mendapat aktor terpuji Festival Film Bandung tahun 1990 dan 1992. 

17. PIETRADJAYA BURNAMA (1934-2010)



Memang film adalah jalan hidupnya. Dan itul diabdikan sepenuh hati oleh Pietrajaya Burnama. Muncul di awal era 60-an, Piet punya bakat di bidang akting, menulis naskah dan menyutradarai, sebagai pemain lima kali masuk nominasi FFI, dan menapat Citra, aktor pembantu, tahun 1989. Pada FFI 2005, mendapat penghargaan kehormatan untuk Lifetime Achievement. Karya nya yang cukup berpengaruh adalah Si Buta Dari Goa Hantu (1977) dan Musang Berjanggut (1983). Film yang diperankannya yang diingat publik, diantaranya dalam Tjoet Nja' Dhien, Nila di Gaun Putih, Langitku Rumahku, Noesa Penida, dan Apa yang Kau Tjari, Palupi? (1969).


18. ZAENAL ABIDIN (1928-2000)

 

Zaenal Abidin sejatinya telah muncul di era 50-an, namun namanya mulai mencuat di akhir tahun 70-an. Era 80-an, nama Zaenal Abidin seakan selalu ada dalam banyak film Indonesia. Beliau banyak berperan sebagai seorang bapak dan suami. Perannya yang berkesan dari sekian banyak filmnya antara lain, dalam film Usia 18 (1980), yang memberinya Piala Citra pertama, kemudian dalam film Mawar Jingga (1981), dan masih banyak lagi filmnya. Perannya yang kurang begitu menonjol di film Putri Seorang Jenderal (1981), namun bisa memberinya Piala Citra, bahkan untuk kategori pemeran utama pria terbaik di FFI 1982.

19. SLAMET RAHARDJO DJAROT


Aktor, Sutradara, dan Penulis Skenario didikan Teguh Karya ini memang punya pengaruh besar dalam perfilman nasional. Tumbuh menjadi seorang aktor, aktor yang benar-benar aktor, bukan selebritis atau aktor populer, melainkan aktor yang berkualitas. Slamet Rahardjo membuktikan itu dengan menggondol Citra di tahun 1975 lewat film Ranjang Pengantin. Di era itu, aktor seusianya lebih banyak bermain di film pop, dan Slamet lain sendiri. Dia tidak banyak tampil, namun sekali tampil, dalam film yang berkualitas, jaminan Piala Citra, dan tentunya memberikan pengaruh yang cukup besar bagi dunia akting dan perfilman. langkahnya di film dilengkapi dengan kemampuan menyutradarai. Film-filmnya jaminan mutu meraih Piala Citra. Sebut saja, Ponirah Terpidana, Rembulan dan Matahari, Kodrat, Kembang Kertas, Langitku Rumahku, dan lain-lain. Tercatat, Slamet Rahardjo Djarot mendapat nominasi FFI paling banyak, untuk 3 kategori, aktor (utama dan pembantu), sutradara, dan penulis cerita dan skenario.

20. EL MANIK


Salah satu aktor watak yang mengandalkan akting, bukan tampang, adalah El Manik. Namnya mulai dikenal publik akhir 1970-an, dimana ia mendapatkan peran utama di film Gara-gara Istri Muda, dan di tahun itu pula ia mendapat Citra untuk aktor pembantu, di film Teguh Karya, November 1828. Setelah mendapat Citra, El Manik mendapat peran-peran yang menantang, lihat saja film Titian Serambut Dibelah tujuh (1982), Rahasia Buronan (1983), Budak Nafsu (1983), Carok (1985), Jejak Pengantin (1984), Menumpas Teroris (1986) dan masih banyak lagi. 2 Piala Citra kembali diraih tahun 1984, dan 1985. Dua dasawarsa berikutnya, di tahun 2006, El Manik lagi-lagi menggondol Citra untuk aktor pembantu, lewat film Berbagi Suami.

21. ROY MARTEN


Aktor populer ini mulai tampil mencuri perhatian dalam film Cintaku di Kampus Biru (1976). Dalam film itu pula, ia mendapat pemain harapan FFI. Kepopuleran dan kelarisan membintangi film, membuat ia mendapat julukan "The Big Five" bersama Yati Octavia, Jenny Rachman, Robby Sugara, dan Doris Callebaut. Main juga di film Teguh Karya, Badai pasti Berlalu (1977). Sekali-kalinya mendapat nominasi FFI 1983 untuk film biopik Wolter Monginsidi (1982). Namanya begitu populer di kancah perfilman di era 70-80 an. Tak salah jika Roy Marten termasuk aktor yang paling berpengaruh di tanah air.

22. DEDDY MIZWAR


Untuk aktor seusianya, Deddy Mizwar terbilang 'telat' populernya. Deddy mulai dibicarakan setelah main di film Bukan Impian Semusim (1981) yang juga memberinya nominasi Citra pertama. Selanjutnya di era 80-an, nama Deddy Mizwar seakan tak pernah henti menjadi langganan nominasi FFI. Ia bermain di film-film yang berkualitas, ditangan sutradara handal, macam Sjuman Djaya dan Frank Rorempandey. Film-filmnya juga sukses dan diingat publik, seperti Naga Bonar (Citra FFI 1987), Arie Hanggara (Citra FFI 1986), Opera Jakarta (Citra FFI 1986), dan masih banyak lagi. Deddy pula yang menciptakan rekor untuk meraih dua piala Citra sekaligus untuk 2 kategori di tahun yang sama. Selain aktor, Deddy juga menjadi sutradara dan produser hingga saat ini. Rekor lima Piala Citra dipegangnya, dan sosok Deddy Mizwar menjadi sosok yang disegani untuk perfilman kita saat ini. Tak dapat dipungkiri, pengaruhnya di dunia film pada era 80-an, membuatnya namanya takkan tergantikan atau dilupakan.

23. BARRY PRIMA


Aktor spesialis film laga yang pastinya memiliki pengaruh besar bagi perfilman dan pastinya terkenang, salah satunya yang paling menonjol adalah Barry Prima. Mulai di tahun 1978 untuk film Primitif, Barry kemudian menjadi icon untuk film laga. Peran Jaka Sembung mungkin adalah peran yang paling diingat publik. Sampai sekarang, tercatat 76 film telah dibintanginya, dan sebagian besar adalah film laga.

24. RANO KARNO


Karirnya sudah dimulai sejak kecil. Diwariskan bakat akting dari ayahnya, Soekarno M Noor, Rano Karno memang bintang layar lebar. Siapa tak tahu nama seorang Rano Karno saat sukses membintangi Gita Cinta dari SMa bersama Yessy Gusman, dan masih banyak film romansa lainnya. Di pertengahan 80-an, ia mulai mendapat peran di film yang agak berat. Dari film Yang Terlarang Yang Tersayang (nominasi Citra 1984), Ranjau-Ranjau Cinta (nominasi Citra 1985), Arini (nominasi Citra 1987) sampai digembleng Arifin C Noer dalam film Taksi (1990) yang akhirnya memberinya Piala Citra. Setelah itu Rano Karno memerankan Doel, yang merupakan ciri khas nya.

25. DIDI PETET


Didi Petet baru tampil di akhir era 80-an. Muncul sebagai pria kemayu di film Catatan Si Boy (1987), nama Didi Petet mulai diperbincangkan. Secara mengejutkan pula, ia meraih Citra di tahun 1988. Setelah karakter Emon, Didi berhasil menciptakan karakter khas dirinya, seperti peran Kabayan, yang dimana ia tampil di banyak film sekuel Kabayan. Karakter Emon dan Kabayan seakan melekat dan tak kan tergantikan siapapun.

26. RAY SAHETAPY


Seangkatan dengan Deddy Mizwar, Ray Sahetapy juga dikenal sebagai aktor yang mengandalkan akting bagus. Itu terbukti dengan 7 kali nominasi FFI yang didapatnya. Muncul pertama kali tahun 1978 lewat film Pengemis dan Tukang Becak, Ray Sahetapy kemudian digandeng para sutradara handal, seperti Slamet Rahardjo untuk film Ponirah Terpidana, Teguh Karya untuk film Secangkir Kopi Pahit, Sjuman Djaya untuk film Kerikil-kerikil Tajam dan Opera Jakarta. Perannya juga bagus di film Noesa Penida, yang memberinya nominasi Citra.

27. MATHIAS MUCHUS


Aktor jebolan IKL ini tampil memukau sebagai pria Ambon dalam film Beri Akuv Waktu, kemudian tampil mengejutkan sekaligus mengagumkan, dlaam film Istana kecantikan, dimana ia berperan sebagai seorang gay, peran yang jarang dibawakan aktor kita saat itu. Dan permainannya yang gemilang memberinya Piala Citra FFI 1988 untuk aktor terbaik. Mathias Muchus dikenal publik sebagai aktor watak yang telah teruji aktingnya dengan beragam peran.

28. TIO PAKUSADEWO


Nama Tio Pakusadewo mulai menjadi perbincangan di tahun 1991. Saat itu, dia membintangi dua judul film bagus, yaitu Cinta Dalam Sepotong Roti, garapan Garin Nugroho, dan film Lagu Untuk Seruni, yang secara mengejutkan memberinya Piala Citra untuk aktor terbaik. Lama vakum, Tio saat ini muncul kembali dan tetap membuktikan kualitas aktingnya. Piala Citra kedua direbut tahun 2009 lewat peran bagus di film Identitas. Saat ini, aktor-aktor generasi muda menyebut Tio Pakusadewo sebagai inspirator dan memiliki pengaruh yang cukup besar.

29. WARKOP DKI



Siapa tak tahu kelompok lawak ini? Dono, Kasino, Indro, dan Nanu, para mahasiswa ini membentuk kelompok lawak yang mulai bermain film, yaitu Mana Tahan (1979). Ternyata sukses luar biasa, Warkop diterima publik dan film-filmnya setiap tahun ditunggu masyarakat. Film mereka selalu laris manis dan selalu meraih Piala Antemas FFI untuk film terlaris. Tidak hanya mengocok perut, Warkop juga selalu menyelipkan dialog-dialog khas yang cerdas, dan ada juga nyanyian serta tarian khas Warkop yang terkenang hingga kini.