Senin, 11 Juni 2012

Adegan Layar Klasik Berkesan (Bagian 2)

1.NERACA KASIH (Hengky Solaiman, 1982)


Ini adalah adegan berkesan antara Sari (Yessy Gusman) dan Mbok (Wolly Sutinah) yang menemukan siapa sebenarnya sosok ayah kandungnya dan betapa bude Purwanti (Tuti Indra Malaon) sangat menyayanginya.
  
2. SECANGKIR KOPI PAHIT (Teguh Karya, 1984)


Togar (Alex Komang) dan Lola (Rina Hassim) yang saling mencinta dan Togar yang menikahi Lola yang seorang janda beranak tiga dan bekas pelacur.
 
3. KERIKIL KERIKIL TAJAM (Sjuman Djaya, 1984)


Retno (Christine Hakim) bertemu dengan pengacara (Deddy Mizwar) yang ingin membelanya. Film pertama yang mempertemukan Deddy Mizwar dengan Christine Hakim.

4.  PERMAINAN BULAN DESEMBER (Nico Pelamonia, 1980)


Suzanna menjadi biarawati bernama Yosi, yang hatinya beku, walaupun ada pria yang mencintainya, Anton (Roy Marten).

5.  CATATAN SI BOY I (Nasri Cheppy, 1987)


Boy (Onky Alexander) dengan pacar pertamanya, Nuke (Ayu Azhari), sebelum Boy berpaling dengan wanita lain, Vera (Meriam Bellina)

6. AKIBAT KANKER PAYUDARA (Frank Rorempandey, 1987)



Kartika (Chintami Atmanegara), wanita pengidap kanker payudara, yang nasibnya begitu malang, ketika suaminya (Cok Simbara) yang baru dinikahinya merasa kecewa, karena merasa dibohongi Kartika soal penyakitnya.

7. KETIKA DIA PERGI (Buce Malawau, 1990)


Film drama yang berakhir tragis. Dokter Siska yang ditugaskan ke sebuah desa di Bromo, mengalami banyak konflik disana, bersama suaminya, Dokter Robert (Asrul Zulmi). Dr. Siska pun tewas di desa itu karena sakit.

8.BUDAK NAFSU (Sjuman Djaya, 1983)




Adegan memilukan saat Fatima (Jenny Rachman) menjadi budak nafsu tentara Jepang, selain menjadi pelampiasan nafsu birahi, Fatima juga kerap mengalami penyiksaan.

9. PONIRAH TERPIDANA (Slamet Rahardjo Djarot, 1983)


Trindil (Christine Hakim) yang begitu menyayangi Ponirah (Nani Vidia) seperti anak kandungnya sendiri. Begitu sayangnya Trindil, sampai ia merelakan dirinya terjerumus ke dunia pelacuran.

10. OPERA JAKARTA (Sjuman Djaya, 1985)


Adegan dimana Papa (Soekarno M Noor) dan Mama (Nani Widjaya) yang murka pada anak mereka, Himan (Rano Karno) yang selalu membangkang pada papanya yang otoriter. Penampilan terakhir Soekarno M Noor dalam film.

11.  BIARKAN BULAN ITU (Arifin C Noer, 1986)


Pasangan suami istri Dayan (El Manik) dan Anneke (Rima Melati) yang mengalami masalah dalam rumah tangga mereka. Anneke terlihat meminta maaf kepada suaminya, karena begitu sibuk dengan karirnya dan kurang perhatian kepada keluarga mereka. 

12. PENGKHIANATAN G30S/PKI (Arifin C Noer, 1982)


Adegan sadis ketika Pasukan Cakrabirawa menyeret jenazah Jenderal Ahmad Yani di rumahnya, yang tewas ditembak sebelumnya



Jumat, 08 Juni 2012

#BestOf GARIN NUGROHO



GARIN NUGROHO
Sutradara
Tahun Aktif : 1989 - sekarang

Quote :


"Politik, fanatisme, kurangnya kemanusiaan yang dibicarakan sewaktu Soegija hidup sampai sekarang masih menjadi persoalan. Senang bisa dialog dengan masyarakat melalui film ini"


1. CINTA DALAM SEPOTONG ROTI (1990)


Karya Debut Garin Nugroho sebagai sutradara film layar lebar, dan langsung membuat gebrakan. Tak tanggung-tanggung, film ini meraih 5 Piala Citra FFI 1991 termasuk film terbaik, dan Garin mendapat penghargaan khusus Sutradara pendatang baru terbaik di ajang Festival Film Asia Pasifik 1992. Ia langsung menjadi sutradara muda yang paling diperhitungkan saat itu. Cinta Dalam Sepotong Roti adalah sebuah karya film yang lain, sebuah drama yang melukiskan seks secara tidak vulgar dan dewasa, namun digambarkan dengan sangat apik dan cerdas. Konflik antara ketiga tokoh utama bukan ditampilkan dengan adegan-adegan berurai air mata ataupun berlebihan, tapi lebih halus, manis, malah sangat terkesan dengan dialog-dioalog puitis dan romantis. Cinta Dalam Sepotong Roti bukan cerita yang pada umumnya ada dalam film Indonesia sebelumnya. Cinta yan g unik dan tutur berceritanya juga unik, sehingga tidak heran beberapa orang kurang menangkapnya. 


2. SURAT UNTUK BIDADARI (1992)



Karya kedua Garin yang mulai membawa Garin melanglang buana ke kancah internasional, dan film ini mengungkap carut marut budaya Indonesia yang diwakili sebuah desa kecil di Sumba, NTT, diperankan oleh pemain non professional, anak berusia 10 Tahun, yang hidupa dalam budaya yang ia gugat. Lewa, nama anak ini bersama Kuda Liar (Adi Kurdi), selain itu juga Berlian Merah (diperankan bagus Nurul Arifin). Cukup menimbulkan kontroversi karena gaya berceritanya. Diputar secara bergerilya di kampus-kampus tahun 1994. 

3. BULAN TERTUSUK ILALANG (1994) 



Bulan tertusuk Ilalang adalah film mengenai perbenturan budaya jawa dengan budaya barat modern. Dilatarbelakangi oleh sebuah kisah tentang seorang anak yang mempunyai pengalaman buruk dimasa kecilnya karena sering dilecehkan oleh ayahnya. Suatu saat dia bertemu dengan seorang wanita yang telah lama tinggal di Amerika Serikat. Sukar diuraikan bahwa ada cerita dalam film yang lebih ingin memberikan kesan-kesan tertentu saja. Namun demikian, ada yang ingin dikatakan lewat sebuah kisah yang diturukan secara tak teratur dan linier. Kisah yang bisa ditangkap dari serpihan-serpihan dialog yang sangat sedikit jumlahnya, maupun dari rentetan gambarnya. Yang ingin lebih ditonjolkan agaknya "perjalanan kejiwaan" tokohnya.  Meraih sejumlah nominasi di ajang Festival Film Asia Pasifik tahun 1995.

4. DAUN DI ATAS BANTAL (1997)



Film ini berangkat dari gagasan video dokumenter yang dibuat oleh Garin, pesanan dari NHK jepang, berjudul Dongeng Kancil Untuk Kemerrdekaan. Berinti pada kehidupan anak jalanan yang diperankan diri mereka sendiri. bentuk kisah mengambil siklus harian kehidupan para tokohnya, tiga anak jalanan (Kancil, Sugeng, Heru) dan Asih (Christine Hakim). Asih adalh ibu asuh tiga anak jalanan tadi, yang punya bisnis berdagang kembang dan batik dan juga punya masalah sendiri dengan kehidupan pribadinya. Tiga anak jalanan ini di akhir cerita meninggal dengan cara masing-masing yang terbilang tragis. Kematian mereka yang menjadi 'drama' dalam film ini. Christine Hakim mendapat best Actress di ajang Festival Film Asia Pasifik 1998.


5. PUISI TAK TERKUBURKAN (1999)




Kali ini berlatar di Gayo, Aceh, kisah nyata seorang penyair Didong, Ibrahim Kadir. Mengisahkan pengalaman-pengalaman selama 22 hari di dalam penjara sampai ia dilepaskan karena salah tangkap. Kesederhanaan dalam menggarap film yang 'brillian' ini mendapat pengakuan internasional, Ibrahim Kadir menjadi aktor terbaik di Singapore International Film Festival, dan film ini mendapat penghargaan di Festival del film Locarno, Switzerland. Film ini menampilkan beberapa pemain terkenak, seperti El Manik, Berliana Febrianti, Amak Baldjun, Aty Kanser dan Pietrajaya Burnama.



6. AKU INGIN MENCIUMMU SEKALI SAJA (2002)



Berlatar di Papua, bercerita tentang seorang anak Papua yang terpesona dengan seorang gadis misterius (Lulu Tobing). Menyinggung juga soal konflik dan pergolakan politik di Papua. Diadaptasi dari cerpen "Sang Mahasiswa dan Sang Wanita" karya Laslo Kamondy, dan mendapat "Special mention" dari NETPAC, Festival Film Berlin 2003.


7. RINDU KAMI PADAMU (2004)



Sepertinya ini film Garin yang paling mudah dicerna, namun tetap tak meninggalkan ciri khas Garin Nugroho. Cukup ringan, berkisah tentang kehidupan dan problem di sebuah pasar. Ceritanya cukup kompleks dengan banyak karakter, seperti pak haji dengan problem masjidnya, ada janda pemilik warung, pedagang telur, gadis pekerja, dan lain-lain.


8. OPERA JAWA (2006)



Salah satu karya unik Garin, dimana Garin digambarkan sebagai 'dalang', karena memang Opera Jawa hadir sebagai sebuah opera, tidak ada dialog melainkan tarian, musik dan syairnya diciptakan khusus berdasarkan gamelan dan tembang jawa, dan pastinya menggunakan bahasa Jawa. Para pelakon, Artika Sari Devi, penata tari Eko Supriyanto, dan lain-lain melakonkan sebuah lakon Rama Shinta dalam kehidupan nyata. Film ini pesanan dari panitia peringatan 250 tahun Mozart, dan emnajdi pembuka acara peringatan itu di Wina, Austria, November 2006. mendapat penghargaan di Asian Film Awards untuk Tata Musik Terbaik, Film terbaik di Singapore International Film Festival, 2 Piala Citra FFI 2006, Artika Sari Devi menjadi aktris terbaik Festival des 3 Continents, Nantes, Perancis, selain aktris terbaik, musik film ini juga menang di ajang itu. 

9. UNDER THE TREE (2008)



Berkisah tentang 3 orang perempuan yang memiliki masalah sendiri-sendiri dan menjalani hidupanya masing-masing. Ketiga perempuan itu adalah Maharani (Marcella Zalianty), Dewi (Ayu Laksmi), Nian (Nadia Saphira). Mereka tidak saling kenal atau berjumpa, karena ini memang film omnibus dengan 3 cerita berbeda. Kesamaannnya hanya latar tempat di Bali. Meraih 10 nominasi FFI 2008, dengan dua penghargaan, pemeran pendukung wanita (Aryani Kriegensburg Willem -- pertama kali main film), dan artistik terbaik.


10. GENERASI BIRU (2009)




Film musikal ini menceritakan sejarah kecil perjalanan bangsa Indonesia yang diambil dari lagu Slank yang dirilis pada 1985 hingga 2008. Lagu-lagu itu pun dituangkan dalam bentuk visual oleh 3 sutradara kondang, John De Rantau, Dosy Umar dan Garin Nugroho. Sebanyak 15 lagu dipilih untuk menggambarkan cerita yang terbagi menjadi empat tema, yaitu kekerasan, politik, obat-obatan terlarang dan cinta. Tak hanya gambar nyata, Generasi Biru juga menyajikan animasi-animasi. Animasi tersebut menjadi pemanis yang sanggup membawa para penontonnya pada berbagai imajinasi. Imajinasi yang mengolok-olok dunia politik. Selain itu, semua penggalan kisah itu dipercantik dengan balutan koreografi dan pantomim. Seluruh personel Slank menari dan bermusik di hampir 80 % adegan film ini. Dengan menyaksikan film ini, seolah kita tengah berada di panggung konser Slank. 

11. MATA TERTUTUP (2012)


Dirilis tahun 2012, Garin mengungkap tentang fenomena NII di negeri kita ini. Aktris Jajang C Noer bermain sangat bagus sebagai seorang ibu yang resah dan merasakan kegetiran, anaknya diculik oleh kelompok Islam fundamentalis.


12. SOEGIJA (2012)



Film teranyar Garin Nugroho, film biopik tentang Mgr. Albertus Soegijapranata, dengan perenungan, pemikirannya sebagai uskup pertama asli Indonesia. Film ini bukan propaganda tentang sebuah agama tertentu, tapi mengurai tentang nasionalisme, prulalisme dalam kehidupan bernegara saat gejolak masa penjajahan Belanda kurun waktu 1940 - 1949. Selain itu dikisahkan Soegija yang turut membantu dalam mengatasi kekacauan yang berakibat pada penderitaan rakyat. Sebuah film yang inspiratif.

*Special Mention
13. SERAMBI (2005)



Diangkat dari tragedi Tsunami Aceh 2004, berisi tiga alur cerita yang mengisahkan kehidupan tiga tokoh utama yang lolos dari bencana tsunami setelah dua bulan pasca tragedi. Ditayangkan dalam seksi Un Certain Regard, Festival Film Cannes. 


14. (FTV) ANGIN RUMPUT SAVANA (1996)

Film televisi ini adalah salah satu dari trilogi dari 3 pesanan kampanye melalui media film televisi dari Jhon Hopkins University, yang berkampanye tentang kematian ibu melahirkan. Berlatar di Nusa Tenggara, FTV ini dimainkan oleh banyak pemain berkarakter, seperti Maudy Koesnaedy, Unique Priscilla, dan Renny Djayusman. Mendapat nominasi di ajang Piala Vidia FSI 1997.


Rabu, 06 Juni 2012

#BestOf Scoring IDRIS SARDI



IDRIS SARDI
Musikus, Penata Musik
Tahun Aktif : 1960 - sekarang

 Quote:

"Membuat musik film dan musik kaset itu berbeda. Dalam musik film dibutuhkan totalitas dan pengorbanan untuk menyatukan visi dengan filmnya, bukan kehendak pribadi tapi kehendak gambar. Saya merasa di musik film lebih hidup"


“Jangan panggil saya Maestro. Si Biola Maut juga tidak. Jangan coba-coba. Panggil saja saya Mas Idris. Saya ini masih belajar, masih banyak yang lebh baik dari saya. Dulu mungkin saya populer. Tetapi orang besar belum tentu orang populer, dan orang populer juga belum tentu orang besar”


 Prestasi :
  • Piala Citra, Tata Musik Terbaik FFI 1974 (Cinta Pertama)
  • Piala Akademi Sinematografi, Tata Musik Terbaik II FFI 1974 (Rio Anakku)
  • Piala Citra, Tata Musik Terbaik FFI 1975 (Senyum Di Pagi Bulan Desember)
  • Piala Akademi Sinematografi, Tata Musik Terbaik II FFI 1976 (Cinta)
  • Piala Citra, Tata Musik Terbaik FFI 1977 (Sesuatu Yang Indah)
  • Piala Akademi Sinematografi, Tata Musik Terbaik II FFI 1979 (Pengemis dan Tukang Becak)
  • Penghargaan Khusus Piala MMPI, FFI 1981 (Para Perintis Kemerdekaan)
  • Piala Citra, Tata Musik Terbaik FFI 1984 (Budak Nafsu/Fatima)
  • Piala Citra, Tata Musik Terbaik FFI 1985 (Doea Tanda Mata)
  • Piala Citra, Tata Musik Terbaik FFI 1986 (Ibunda)
  • Piala Citra, Tata Musik Terbaik FFI 1988 (Tjoet Nja' Dhien)
  • Piala Citra, Tata Musik Terbaik FFI 1989 (Noesa Penida)
  • Piala Citra, Tata Musik Terbaik FFI 1992 (Kuberikan Segalanya)
  • Nominasi Piala Citra FFI 1979, Tata Musik (Pengemis dan Tukang Becak)
  • Nominasi Piala Citra FFI 1980, Tata Musik (Anna Maria)
  • Nominasi Piala Citra FFI 1982, Tata Musik (Sekuntum Mawar Putih)
  • Nominasi Piala Citra FFI 1986, Tata Musik (Arie Hanggara)
  • Nominasi Piala Citra FFI 1987, Tata Musik (Penyesalan Seumur Hidup)
  • Nominasi Piala Citra FFI 1989, Tata Musik (Pacar Ketinggalan Kereta)
  • Nominasi Piala Citra FFI 1991, Tata Musik (Potret)
  • Nominasi Piala Citra FFI 1991, Tata Musik (Soerabaia 45) 

 Pria kelahiran 7 Juni 1938 itu adalah salah seorang komposer yang merasa beruntung dapat menjadi ilustrator musik untuk hampir semua sutradara-sutradara kenamaan Indonesia.
"Setiap sutradara berbeda dan saya beruntung semua saya dapat, dari Usmar (Ismail) sampai Wim (Umboh) saya dapat semua. Oleh sebab itu, saya kaya dalam imajinasi," Katanya. Dari film-film karya sutradara besar itu pula, Idris Sardi mengaku memperoleh banyak memperoleh ajaran hidup.


1. CINTA PERTAMA (Teguh Karya, 1973)


Inilah kolaborasi Teguh Karya dan Idris Sardi yang menghasilkan Piala Citra pertama. Cinta Pertama sukses sebagai film yang berkualitas dan komersial, juga mencuatkan nama Christine Hakim. Idris Sardi juga mendapat Piala Citra kedua untuk tata musik terbaik lewat film ini. Lagu tema gubahannya juga terkenang oleh penyanyi Anna Manthovani, dan pada konser Tribute To Teguh Karya, Anna kembali tampil menyanyikan lagu tema film ini.

2. SENYUM DI PAGI BULAN DESEMBER (Wim Umboh, 1974)


Putrinya, Santi Sardi bermain bagus di film ini. Idris pun memberikan musik yang bagus pula untuk film ini. Film terbaik FFI 1975 ini memiliki cerita yang bagus, dan iringan biola Idris sardi terdengar mendukung adegan per adegan, misalnya saat adegan Santi harus berpisah dengan 3 orang buronan (Soekarno M Noer, Koesno Soedjarwadi, dan Rachmat Hidayat) karena harus kembail ke bui.


3. SESUATU YANG INDAH (Wim Umboh, 1976)


 bui. Karya Wim Umboh yang cukup menarik dari segi cerita, artistik, penataan kamera, permainan bagus dari para pemain, tentunya ditambah pula oleh tatanan musik Idris Sardi. Piala Citra diraih Idris Sardi untuk film ini. Iringan musiknya yang khas solid dengan percintaan 2 saudara yang sama-sama bekerja sebagai pilot pesawat dalam sebuah penerbangan ini.
 
4. PENGEMIS DAN TUKANG BECAK (Wim Umboh, 1978)


Idris Sardi memang jagoanya dalam menciptakan musik-musik dramatis. Alunan biolanya mewarnai film ini dengan tepat, apalgi saat adegan-adegan emosional Christine Hakim beserta anak-anak kecil yang dibawanya mengalami masa-masa sulit. Nominasi Citra, dan mendapat Piala Akademi Sinematografi FFI 1979. Apalagi anak-anak kecil dalam film itu adalah anak-anak dari Idris Sardi, yaitu Lukman Sardi dan Ajeng Triani Sardi.

5. BUDAK NAFSU / FATIMA (Sjuman Djaya, 1983)


Ilustrasi musik Idris Sardi memang pas untuk mengirigi adegan film ini. Terasa pas dan solid. Ketika adegan-adegan Fatima (Jenny Rachman) menjadi jugun ianfu mengorbankan dirinya agar putrinya selamat, terkesan begitu dramatis, karena ada faktor ilutrasi musik dari sang maestro ini. Tak heran, Piala Citra kembali diraih sang biola maut.

6. DOEA TANDA MATA (Teguh Karya, 1984)


Lirih dan dramatis. Itulah dua kesan yang tertangkap ketika mendengar alunan biola maut sang maestro dalams etiap filmnya, tak terkecuali Doea Tanda Mata. Filmnya yang berisi kegetiran dan kemuraman juga begitu terhayati dengan adanya iringan musik yang juga pas. Apalagi ketika adegan Gunadi kehilangan temannya karena mati ditembak Belanda, satu piala Citra kembali didapat Idris Sardi, dan untuk kesekian kalinya berkolaborasi dengan Teguh Karya.

7. IBUNDA (Teguh Karya, 1986)


Kolaborasi Idris Sardi dengan sahabatnya, Teguh Karya, juga begitu solid di film Ibunda. Mmeborong Piala Citra FFI 1986, salah satunya untuk Tata Musik. Selain ilustrasi musik, Ada beberapa lagu tema film ini yang dibawakan oleh adegan drama teater Fikar (Alex Komang) dan pemeran ibu nya (Rita Zahara) yang suara aslinya dinyanyikan oleh penyanyi seriosa senior, Pranawengrum Katamsi. Lagu tema Ibunda karangan Idris Sardi terdengar begitu lirih, apalagi saat pembukaan film ini. Pada konser Tribute Teguh Karya, lagu tema Ibunda dinyanyikan oleh Aning Katamsi.

8. TJOET NJA' DHIEN (Eros Djarot, 1986)


Kembali meraih Piala Citra untuk musik film epik legendaris ini, Idris Sardi tetap memberikan alunan dan sentuhan musik yang berkelas dan begitu lirih, cocok dengan film ini yang menceritakan kegetiran seorang pahlawan wanita dalam kegigihan berjuang melawan penjajah.

9. PACAR KETINGGALAN KERETA (Teguh Karya, 1988)


Konsep Teguh Karya yang membuat film ini jadi film musikal ala Teguh Karya. Idris Sardi dapat menerjemahkan apa yang dimaui sahabatnya, Teguh Karya. Beliau membuat tatanan musik yang pas, film ini jadinya bukan film musikal kacangan, semua adegan musikal terdengar catchy, didikung para pemain yang ikut bernyanyi. Salah satu contoj, lagu "Gosip" yang dinyanyikan Niniek L Karim (Pemeran Tante Retno). Sayangnya, langkah lain Idris ini, hanya sebatas nominasi FFI 1989. Lagu tema film ini disuarakan kembali oleh Ruth Sahanaya pada konser Tribute Teguh Karya.

10. NOESA PENIDA (Galeb Husein, 1988)


  
Idris Sardi juga selalu dapat menerjemahkan kemauan sutradara dan tema film yang ditatanya. Film yang berlatar budaya khas Bali ini tentunya memberi pengalaman berbeda bagi Idris Sardi dalam menggarap tata musik. Hasilnya sangat memuaskan. Salah satu faktor film ini menjadi film yang bagus adalah karena tatanan musik yang sempurna oleh Idris. Ia menggabungkan elemen musik tradisi dengan warna khas Idris dalam satu paduan yang manis. 


11. ARIE HANGGARA (Frank Rorempandey, 1985)


Idris Sardi juga menata musik untuk film drama tragis ini. Alunan biola Idris yang menyayat hati sangat terasa saat Arie meninggal, dan ayahnya Tino merasa sangat menyesal atas kematian Arie, Tino meratapi jenazah Arie yang telah membiru dengan penuh pilu. Adegan ini sangat terasa menyedihkan dengan gesekan biola khas dari Idris. Hasilnya, mendapat unggulan untuk tata musik FFI 1986.


12. RANJANG PENGANTIN (Teguh Karya, 1974)



Idris Sardi menata musik di film ini dengan membuat lagu-lagu tema yang terkesan mendalam. Lagu tersebut diperdengarkan pada saat adegan pembuka film, saat adegan pernikahan di gereja, dan dinyanyikan oleh paduan suara gereja. Inti lagu tersebut sesuai dengan jalan cerita yang begitu memilukan. Pada konser Tribute To Teguh Karya, lagu tersebut dinyanyikan kembali oleh Harvey Malaihollo.

* Special Mention

13. NYI AGENG RATU PEMIKAT (Sisworo Gautama Putra, 1983)


Ternyata Idris Sardi juga pernah mengiringi film horor atau mistik dari ratu horor, Suzanna. Judulnya Nyi Ageng Ratu Pemikat (1983), film ini jadi agak unik. Karena tentunya bergenre mistik, film ini juga diwarnai oleh alunan biola khas dari Idris Sardi.



Senin, 04 Juni 2012

Primadona Layar Klasik Era 90 an

1. LIDYA KANDOU
(Cas Cis Cus, Boneka Dari Indiana, Ramadan Ramona, Jangan Bilang Siapa-siapa)

Di era 90 an, nama Lidya Kandou menjadi magnet yang cukup besar bagi perfilman tanah air. Melanjutkan karir yang telah ia rintis sejak tahun 1979, akting Lidya semakin terasah di era 90-an. Setelah mendapat nominasi FFI di tahun 1984 dan 1986, di era 90 an, Lidya Kandou 3 kali berturut turut mendapat nominasi FFI 1990, 1991 dan 1992 masing-masing untuk film Cas Cis Cus, Boneka Dari Indiana, dan Ramadhan Ramona. Dua film terakhir, mengantarkan Lidya Kandou meraih 2 Piala Citra dari tahun 1991 dan 1992. Bahkan, pada FFI 1992, Lidya bersama suami, Jamal Mirdad sama-sama meraih Piala Citra untuk aktor dan aktris terbaik. Kemenangan mereka sekaligus menjadi penutup Festival Film Indonesia era lama.

2. DIAN NITAMI
(Zig Zag, Perwira Ksatria, Sejak Cinta Diciptakan)


Karir Dian Nitami sebagai bintang film semakin menanjak di awal 90-an.  Lima judul film dibintanginya di tahun 1990, yaitu Perwira Ksatria, Pengantin, Sejak Cinta Diciptakan, Jangan Renggut Cintaku, dan Ayu Genit. Lewat film Perwira dan ksatria, Dian Nitami mendapat unggulan pertama untuk pemeran utama wanita di FFI 1991, namun dikalahkan oleh Lidya Kandou. Dian lumayan bermain di film bagus (nominasi FFI) seperti di Jangan Renggut Cintaku, sebagai perempuan yang kawin lari, kemudian menjadi pujaan hati pilot tempur di Perwira Ksatria, aktingnya juga mencuri perhatian, di film Zig Zag, sebagai rocker kurang kasih sayang orangtua, arahan Putu Wijaya.  

3. PARAMITHA RUSADY 
 ( Pagar Ayu, Blok M, Dua Kekasih, Boss Carmad, Selembut Wajah Anggun, Kuberikan Segalanya, Catatan Si Boy IV-V, Pesta)


Paramitha Rusady mencuat ketika menjadi Iteung di film Kabayan Saba Metropolitan yang juga memberinya nominasi FFI, kemudia Paramitha seakan tak pernah absen manghiasi layar perak dengan bermain di banyak film, dan semuanya populer. Sebut saja, Blok M (nominasi FFI 90), sebagai anak petani miskin yang diincar bandot tua, Boss Carmad (1990), sebagai istri yang berdosa mengkhianati suami dalam Pagar Ayu (1990),  pendamping baru Boy dalam Catatan Si Boy IV dan V, gadis Minang dalam Selembut Wajah Anggun (1992), gadis yang malu memiliki kakak catat dalam Kuberikan Segalanya (1992), lima kali mendapat nominasi FFI, namun kurang beruntung. Tapi, kepopuleran Paramitha Rusady di era 90-an menjadi catatan tersendiri. Dia juga menjadi primadona sinetron di era 90-an.

4. NURUL ARIFIN
(Pagar Ayu, Catatan Si Emon, Surat Untuk Bidadari)


Nama Nurul Arifin juga patut diperhitungkan sebagai aktris laris di era 90-an. Banyak film, seperti  Pagar Ayu, Jangan Bilang Siapa-siapa, Pelang di Nusa Laut, dan Catatan Si Emon, dan juga filmWarkop DKI, Mana Bisa Tahan (1990) yang semakin meneguhkan bahwa Nurul Arifin berbakat di komedi dan juga drama. Sebelumnya, Nurul bermain di film Teguh Karya, Pacar Ketinggalan Kereta, yang memberinya nominasi FFI dan penghargaan di FFB, tahun 1990 mendapat nominasi FFI untuk pemeran utama wanita, begitu juga di FFI 1992, namun semuanya kalah. Sebelum beralih ke sinetron, Nurul bermain apik di film Garin Nugroho, Surat Untuk Bidadari (1992).

5. DESY RATNASARI
(Blok M, Oom Pasikom, Olga Sepatu Roda, Si Kabayan Mencari Jodoh)

    Tak ketinggalan Desy Ratnasari juga menjadi primadona layar lebar di era 90-an. Mengawali dengan cukup bagus di film Saskia (1988), Desy melanjutkan karirnya di film-film romansa remaja seperti Blok M, Pesta dan yang paling diingat sebagai gadis hobi sepatu roda bernama Olga, di film Olga dan Sepatu Roda (1991). Desy juga bermain di film komedi cerdas Oom Pasikom (1990) bersama Didi Petet dan Lenny Marlina. Peran Nyi Iteung juga pernah dicicipinya tahun 1994 daalm Kabayan Mencari Jodoh, pas dengan Desy yang memang berdarah Sunda juga. Saat perfilman mati suri, karir  dan akting Desy Ratnasari semakin terlihat matang di sinetron-sinetron, seperti Bukan Perempuan Biasa (meraih Piala Vidia 1997), Cinta, dan lain-lain.

     6. NIA ZULKARNAEN
    (Lagu Untuk Seruni, Isabella, Saat Kukatakan Cinta)

    Putri pasangan Mieke Wijaya dan Dicky Zulkarnaen ini sudah sejak kecil mencicipi dunia akting, namanya baru populer setelah bermain di film Isabella (1990) bersama penyanyi Malaysia, Amy Search. Di tahun berikutnya, Nia bermain bersama aktor muda Tio Pakusadewo di film Lagu Untuk Seruni, dimana ia berperans ebagai seorang penyanyi. Lewat film ini, Nia Zulkarnaen melengkapi jajaran pemain muda berbakat yang menjadi unggulan FFI 1991. Era 90 an, Nia Zulkarnaen juga populer dengan sinetron Antara Jakarta Perth, Bunga-bunga Kehidupan, dan lain-lain.

    7. MERIAM BELLINA
    (Taksi, Wanita, Taksi Juga, Boneka Dari Indiana, Catatan Si Boy IV, Asmara, Bernafas Dalam Lumpur, Saat Kukatakan Cinta)


    Siapa tak bakal menyebut Meriam Bellina sebagai primadona Layar lebar era 90-an, melanjutkan kepopuleran dan prestasi gemilang di era 80-an, Mer kembali membuat kejutan dengan bermain film karya Arifin C Noer "Taksi" bersama Rano Karno, tampil begitu emosional, Mer berhasil kembali merebut Piala Citra untuk aktris terbaik tahun 1990. Setelah meraih Citra kedua, Mer bermain di film-film apik tentunya dengan aktingyang prima, seperti di Boneka Dari Indiana bersama Lidya Kandou dan Didi Petet, Kembali menjadi Daisy dalam Taksi Juga (1991), bermain di film remake Bernafas Dalam Lumpur, lalu tampil maksimal sebagai korban pemerkosaan dalam film Wanita (1990), dan sebelum terjun ke sinetron, Mer bermain cantik dalam film Asmara (1992). Karir Meriam Bellina berlanjut di banyak sinetron, mendapat Piala Vidia, kembali meraih Citra setelah perfilman bangkit di era 2000-an. Meriam Bellina tetap akan menjadi primadona layar lebar

    8. AYU AZHARI
    (Dua Kekasih, Taksi Juga, Badut-Badut Kota, Telegram)


    Sudah mulai berakting tahun 1984, Ayu Azhari secara perlahan namun pasti semakin mengasah aktingnya di film-film garapan Teguh Karya, dan di tahun 1990, Ayu menggondol Piala Citra sebagai pemeran pembantu wanita terbaik lewat permainannya yang bagus di film Dua Kekasih, selain itu, Ayu juga tampil memikat sebagai perempuan batak di film Taksi Juga (1991), dan menjadi istri Dede Yusuf, bersama mengarungi kemiskinan, dalam film komedi Badut-badut Kota (1993).  Era 90-an menjadi era keemasan untuk Ayu Azhari, dengan banyaknya prestasi selain Piala Citra seperti 2 Piala Vidia tahun 1996-1997, kemudian tampil di film Slamet Rahardjo, Telegram tahun 1997 yang memberinya kemenangan di ajang Festival Film Asia Pasifik 2001.

    9. RIZKY THEO
    (Cinta Dalam Sepotong Roti) 

    Walau cuma tampil di satu film, Cinta Dalam Sepotong Roti (1990), tetapi penampilan Rizky Theo atau Cut Rizky Theo sangat berkesan dan membekas di benak penonton film Indonesia. Perannya sebagai Mayang, seorang perempuan diantara dua pria yangd ekat dalam hidupnya, yang salah satunya adalah suaminya (Adjie Massaid) yang mengalami kesulitan seks. Film ini juga menjadi film terbaik FFI 1991, dan menjadi karya pertama sutradara handal Garin Nugroho.

    10. GEORGIANA SUPIT
    (Rebo dan Robby, Plong)


    Putri aktris Rae Sita Supit ini pernah menjadi pemain cilik, saat bermain film Marina (1977), dan dia mendapat penghargaan pemain anak-anak terbaik FFI 1978. Georgiana Supit mewarisi paras cantik dari ibunya, Rae Sita Supit, cukup menjadi magnet di layar lebar, saat bermain film Rebo dan Robby (1990), menjadi Erika, gadis pingitan orangtua, lalu menjadi sekretaris cantik Ucha (Cok Simbara) dalam film komedi satir Plong (1991).

    11. Almh. NIKE ARDILLA
    (Kabayan Anak Jin, Kembali Lagi, Nuansa Gadis Suci, Ricky)

      Penyanyi tenar Nike Ardilla juga termasuk bunga layar putih di era 90-an. Ketenarannya di dunia film membawanya ke dunia film, beberapa film yang cukup diingat publik adalah Ricky di tahun 1990, Olga Sepatu Roda (1991), Nuansa Gadis Suci (1992) dan sempat pula menjadi Iteung di film Kabayan Anak Jin (1992). Karirnya terhenti ketika ia menghadap illahi secara mendadak tahun 1995.

      12. SOPHIA LATJUBA
      (Valentine Kasih Sayang Bagimu, Pengantin, Catatan Si Boy 5, Kuldesak) 


      Bintang indo ini mulai muncul tahun 1987 di film Bilur-bilur Penyesalan, kemudian Sophia kembali tampil dalam berbagai film drama. Era 90 an, Sophia Latjuba juga mengalami masa keemasan, dengan tampil di film Valentine Kasih Sayang Bagimu, Pengantin (bermain bersama Ari Wibowo, menjadi pasangan kawin lari), tak lupa juga turut tampil di film Catatan Si Boy sekuel ke 5, dimana ia berperan sebagai perempuan yang dekat dengan Boy di Amerika Serikat. Ia juga ambil bagian di film garapan mantan kakak iparnya, Mira Lesmana di film Kuldesak tahun 1997.

      13. BELLA ESPERANCE
      (Bibir Mer, Tiada Titik Balik, Bidadari Berambut Emas)


      Tak begitu banyak tampil, Bella Esperance membuat kejutan dengan bermain di film Bibir Mer garapan sineas senior, Arifin C Noer. Permainannya yang apik sebagai Maryati, perempuan yang sebenarnya 'cerdas', membuat dia menjadi unggulan pemeran utama wanita FFI 1992, namun harus kalah pada Lidya kandou. Selain Bibir Mer, Bella juga bermain bersama aktris AS, Cynthia Rothrock di dua film laga, Tiada Titik Balik, dan Bidadari Berambut Emas. Selanjutnya Bella bermain bagus di beberapa drama televisi, dan kebanyakan peran antagonis.

      14. BTARI KARLINDA
      (Rebo dan Robby, Catatan Si Boy)


      Publik mengenalnya sebagai Ina, adik Boy dalam sekuel Catatan Si Boy. Parasnya yang cantik, dan aktingnya yang alami dan polos membuatnya semakin diterima publik. jebolan Gadis Sampul ini mulai meningkatkan kualitas aktingnya dengan bermain di film lain, tetap berjenis drama romansa, yaitu Rebo dan Robby, dimana ia bermain sebagai Salindri, gadis yang berperan menjodohkan teman kakaknya dengan temannya, dan ternyata aktingnya yang alami membuat dean juri FFI memasukannya sebagai unggulan pemeran pembantu wanita FFI 1991. Setelah itu, Btari Karlinda menghilang dari dunia akting sekian lama. Btari muncul kembali di layar lebar, dengan menjadi bintang tamu di film Catatan Harian Si Boy (2011) tetap sebagai Ina.

      15. KARINA SUWANDI
      (Zig Zag, Valentine Kasih Sayang Bagimu) 


      Aktris Indo berdarah Ceko ini berprinsip "satu tahun satu film", itulah mengapa ia jarang tampil, tapi setiap penampilannya cukup mencuri perhatian publik. Mulai tahun 1986 lewat film anak, Don Aufar, Karina Suwandi bermain di film romansa Valentine, Kasih Sayang Bagimu (1990) bersama aktris seangkatannya Sophia Latjuba, sesudah itu bermain cukup bagus di film Zig Zag arahan Putu Wijaya.

      16. SONYA DORA CARASCALAO
      (Langit Kembali Biru)




      Putri Mantan Gubernur Timor Timur (saat itu masih bergabung dalam NKRI) ini bermain cukup apik dalam film Langit Kembali Biru garapan Dimas Haring. Walaupun tidak terlalu istimewa, perannya sebagai perempuan yang menjalin hubungan dengan anggota fretilin di Tim-Tim ini cukup menarik perhatian, sehingga dewan juri mengunggulinya sebagai nominee pemeran utama wanita FFI 1991.