Kamis, 21 Juni 2012

Film Klasik : 'BETAWI DAN JAKARTA'


1. SI PITUNG (Nawi Ismail, 1970)


 Pada dasarnya ada tiga versi yang tersebar di masyarakat mengenai si Pitung yaitu versi Indonesia, belanda, China. Masing-masing penutur versi cerita tersebut memiliki versi yang berbeda dari cerita si Pitung itu sendiri. Apakah si Pitung sebagai seorang pahlawan berdasarkan versi cerita indonesia, dan sebagai penjahat jika dilihat dari versi Belanda. Cerita si Pitung dituturkan oleh masyarakat Indonesia hingga saat ini dan menjadi bagian legenda serta warisan budaya Betawi khususnya Indonesia pada umumnya. Kisah legenda Si Pitung ini terkadang dituturkan menjadi rancak (sejenis balada), sair atau cerita lenong. Si Pitung identik dengan tokoh Betawi yang membumi, muslim yang saleh, dan menjadi contoh suatu keadilan sosial. Salah satu pemeranan terbaik Alm. Dicky Zulkarnaen yang juga identik dengan dirinya.


2. SI DOEL ANAK BETAWI (Drs. Sjuman Djaya, 1973)


Adaptasi dari novel karya Aman Dt. Madjoindo. Sjuman Djaya berhasuil menerjemahkan novel ke dalam film dengan baik. Kisah hidup Si Doel (Rano Karno) dengan ayah dan ibunya (Benyamin S dan Tutie Kirana). Kemalangan hidup Doel kecil disajikan dengan tidak cengeng, namun tetap menampilkan kehidupan anak-anak yang bebas dan kesempatan untujk mengenyam bangku sekolah. Film ini juga kental dengan budaya khas Betawi.


3. SI RONDA MACAN BETAWI (Fritz G. Schadt, 1978)


 Film yang memperlihatkan adegan seni bela diri pencak silat dan kesenian Jakarta lainnya. Lenong juga dihadirkan. Si Ronda, jawara dari Marunda, menghadapi tuntutan kompeni belanda, yang menekan ayah pacarnya untuk menjual tanahnya. Konflik tanah ini juga dialami penduduk setempat. Si Ronda pun beraksi sebagai jagoan kampung. Meraih 3 Nominasi FFI 1979.


4. BENYAMIN RAJA LENONG (Syamsul Fuad, 1975)


Lenong memang sudah dikonotasikan dengan sandiwara panggung yang lucu, dan biasanya cerita dan temanya adalah isu yang hangat saat itu, dan juga lenong meruapakan seni lawak khas dari Betawi yang sangat perlu dilestarikan. Film ini mengulas tentang itu, bahkan membuat lenong ke film, memakai bintang Benyamin S memang salah satu daya pikat film yang cukup menghibur ini.


5. JAWARA SOK KOTA (JAWARA JAWARA) (Firman Triyadi, 1990)

Bercerita tentang jagoan kampung atau jawara kampung Betawi. Eeng Saptahadi sebagai Sayuti, sang jawara yang sering cemburu dengan pacarnya, Nonon (Dewi Yull) seorang penari topeng. salah satu film yang memperlihatkan adat budaya betawi.


6.  BANTENG BETAWI (Nawi Ismail, 1971)



 Lanjutan dari Si Pitung, kali ini Pitung dan pacarnya, Aisah kembali menghadapi kompeni Heyne Scott, dan  Demang Meester yang menginginkan Aisah dan menjatuhkan Pitung dengan memfitnahnya. Aisah yang disekap diperkosa Demang, dan Aisah gantung diri. Pitung yang kalap, juga semakin dipojokkan dengan pengkhianatan teman seperguruannya yang memberitahu kelemahan Pitung dan mencuri jimat Pitung. Pitung akhirnya bisa ditembak mati.

7. JAKARTA JAKARTA (Ami Prijono, 1977)


Bukan film tentang budaya Jakarta atau Betawi, melainkan film drama sosial. Film ini merupakan kumpulam sketsa tentang kontras dan kerasnya Jakarta, dari kacamata kaum pendatang. Ada bengkel yang tergusur, pelacur, pengusaha serakah, dan pengangguran. Itu semua merupakan potret kota Jakarta.  Tumbur Silalahi (El Manik) datang mencari harapan baru di Jakarta. Tetapi, baru tiba di pelabuhan tanjung Priok, dia disambut oleh berandalan yang merampok harta termasuk ijasahnya dan alamat bengkel pamannya. Jakarta Jakarta menyingkap fenomena bahwa hidup di Jakarta itu tidak mudah yang dibayangkan, dan Ami Prijono berhasil dalam memotret itu. Tak tanggung-tanggung, Jakarta Jakarta menjadi film pemborong Piala Citra FFI 1978, selain film Badai Pasti Berlalu, dengan merebut 5 Piala Citra termasuk film terbaik.


8. REMANG REMANG JAKARTA (Lukmantoro DS, 1981)

Cukup jarang film yang berani mengangkat dunia pelacuran di Jakarta. Fenomena kota besar, tak terlepas dari dunia pelacuran, tak terkecuali kota Jakarta. Film ini disorot dari sudut pandang seorang wartawan yang meliput dunia pelacuran di Jakarta. Wartawan ini meliput di Kramat Tunggak, beretemu pelacur-pelacur, mmucikari, bahkan dibuntuti penjahat. Melalui liputannya, penonton dibawa untuk melihat realitas dibalik kota Jakarta dengan berbagai jenis karakter manusianya.

9. BIG VILLAGE (Usmar Ismail, 1969)

Tahun-tahun terakhir Usmar Ismail berkarya, masih tetap mempertahankan kualitas filmnya. Kali ini, Usmar membuat film tentang masyarakat urbanisasi. Mungkin film ini adalah gambaran istilah Jakarta The Big Village all the World. Masyarakat urbanisasi ke Jakarta yang sudah terjadi dari dulu hingga saat ini terus berdatangan sehingga jakarta menampung banyak sekali orang dari berbagai suku, bahasa, ras dan budaya masing-masing. Dulu Jakarta sangat sepi, kini sudah sangat sesak. Film karya Usmar ini juga menyorot fenomena kota Jakarta yang mungkin lebih dimiripkan dengan kota New York yang menampung berbagai suku dan bangsa. Kaum Urban yang digambarkan bagai sebuah sketsa, orang-orang yang tinggal di kota besar, namun perilakunya masih kampung. Dimainkan banyak ensemble cast yang bermain gemilang dan chemistry nya dapat, Rachmat Hidayat, Mieke Wijaya, Rima Melati, Dicky Zulkarnaen, Menzano, Alice Iskak, dan lain-lain

10.  LENONG RUMPI (Yazman Yazid, 1991)


Film lenong yang dibalut dengan situasi yang 'modern'. Ceritanya ditulis Yazman Yazid, dan para pemainnya dikenal dengan geng rumpi, seperti Debby Sahertian, Harry De Fretes, Robby Tumewu, Ade Juwita ditambah penampilan Ira Wibowo dan Titi DJ. Inti ceritanya adalah seorang pemuda yang merantau ke Jakarta untuk sekolah, dan di jakarta ia mengalami banyak kejadian kocak. Dibuat sekuelnya, dan juga dibuat sinetron yang ditayangkan di RCTI.

#BestOf (ALM) USMAR ISMAIL

 
 
(Alm) USMAR ISMAIL 
Sutradara, Produser, Penulis Cerita dan Skenario
Genre: Drama, Revolusi/Perang
Tahun Aktif : 1949 -1970

Pandangan Tokoh :

"Ciri film Usmar itu linier, tidak berdasarkan urutan waktu dan terpceah-pecah. Ada beberapa kejadian yang semula lepas-lepas tetapi kemudian kumpul menjadi satu. Itu luar biasa, sampai sekarang mungkin nggak ada film Indonesia seperti itu". 
 - Chalid Arifin, Dosen Film IKJ.


10. ANANDA (Usmar Ismail, 1970)





Karya terakhir Usmar Ismail sekaligus debut Lenny Marlina di industri perfilman tanah air. Ceritanya mirip kisah Cinderella yang berakhir dengan tragis dan misterius. Irma (Ananda) di akhir cerita dikisahkan terbunuh oleh seseorang yang misterius, dan tidak diperlihatkan siapa pembunuhnya. Meskipun ini bukan film lacak, tapi Usmar Ismail memberikan ruang bagi penonton untuk menebak siapa pembunuh Ananda. Usmar Ismail di filmnya yang terakhir ini berkeinginan sederhana dalam menceritakan kehidupan drama manusia. Jika sebelumnya Usmar dikenal dengan film-film bertema besar, revolusi dan perjuangan, kini Usmar menyajikan cerita yang sederhana namun tetap berkualitas. Dua penghargaan dari Festival Film Asia 1971 diraih film ini, diantaranya Pendatang Baru Terbaik untuk Lenny Marlina.


9. BIG VILLAGE (Usmar Ismail, 1969)

Tahun-tahun terakhir Usmar Ismail berkarya, masih tetap mempertahankan kualitas filmnya. Kali ini, Usmar membuat film tentang masyarakat urbanisasi. Mungkin film ini adalah gambaran istilah Jakarta The Big Village all the World. Masyarakat urbanisasi ke Jakarta yang sudah terjadi dari dulu hingga saat ini terus berdatangan sehingga jakarta menampung banyak sekali orang dari berbagai suku, bahasa, ras dan budaya masing-masing. Dulu Jakarta sangat sepi, kini sudah sangat sesak. Film karya Usmar ini juga menyorot fenomena kota Jakarta yang mungkin lebih dimiripkan dengan kota New York yang menampung berbagai suku dan bangsa. Kaum Urban yang digambarkan bagai sebuah sketsa, orang-orang yang tinggal di kota besar, namun perilakunya masih kampung. Dimainkan banyak ensemble cast yang bermain gemilang dan chemistry nya dapat, Rachmat Hidayat, Mieke Wijaya, Rima Melati, Dicky Zulkarnaen, Menzano, Alice Iskak, dan lain-lain.


8. Tamu Agung (Usmar Ismail, 1955)


Salah satu film komedi situasi terbaik dalam sejarah perfilman Indonesia. Judul "Tamu Agung" menjadi sebuah bahan utama dalam cerita film ini, dimana film ini mengisahkan tentang sebuah kebohongan dan tipu-tipu yang disajikan jenaka, kocak, dan tentu cerdas. Sang "Tamu Agung" diperankan sangat bagus oleh M. Pandji Anom. Film komedi terbaik Festival Film Asia 1956.

7. Pedjuang (Usmar Ismail, 1960)




Bambang Hermanto menjadi aktor terbaik di Moskow International Film Festival melalui film ini, dan menjadi pemain film pertama Indonesia yang menang di ajang internasional. Film yang mengisahkan tentang kehidupan seorang pejuang di masa kemerdekaan setelah 1945, beserta dengan kompleksitas konflik dan intrik yang memiliki kesan mendalam dan tragis.

6. Tiga Dara (Usmar Ismail, 1956)


Merupakan salah satu film yang paling berkesan sepanjang masa, dengan penampilan ketiga aktris legendaris dan karya sang maestro, Usmar Ismail. Mieke Wijaya, Chitra Dewi dan Indriati Iskak langsung menjadi idola saat itu, dan trendsetter fashion untuk para remaja di era 50-an. Menang untuk Musik Terbaik FFI 1960. Pelopor film musikal, dan potret remaja era 50-an.

5. Asrama Dara (Usmar Ismail, 1958)


FFI 1960 untuk Penyuntingan Terbaik, Pemain Harapan Terbaik, Pemain Cilik Terbaik pada Festival Film Asia 1960 untuk Suzanna. Film pertama Suzanna, bergenre drama musikal, dan menghadirkan problem para remaja putri dalam satu asrama, yang memiliki problem masing-masing, mengalir dengan wajar. Tidak cengeng, melainkan dibalut dengan jenaka. Kompleks namun tidak rumit untuk dicerna sekaligus menghibur. Dimainkan pas oleh deretan aktris berbakat, Fifi Young, Chitra Dewi, Aminah Tjendrakasih, Suzanna, dan lain-lain. Film ini juga menjadi contoh kehidupan remaja era 50-an. Berbalut komedi, tapi sarat dengan pesan.

4. Darah dan Doa / The Long March (Usmar Ismail, 1950)


Dianggap kritikus sebagai tonggak awal perfilman nasional, dan pengambilan pertama film ini, pada 30 maret 1950, ditetapkan sebagai hari film nasional. Konflik dan intrik di masa revolusi adalah inti cerita dari salah satu film 'terpenting' ini.
 
3. Enam Djam di Djogdja (Usmar Ismail, 1951)


Saat itu, semangat heroik dan patrotik masih membara di benak masyarakat. Begitu juga dengan para sineas, salah satunya maestro Usmar Ismail yang membuat film epik Enam Djam di Djogdja. Jalan cerita film ini disajikan dari sudut pandang rakyat atau tentara yang berpangkat rendah. Usmar Ismail berhasil menciptakan peristiwa nyata Serangan Umum 1 Maret 1949 dengan cara fiktif, dan lebih menonjolkan kehidupan rakyat yang berotong royong dengan tentara dan pemerintah saat itu. Dengan ensemble cast yang banyak, semua pemain berporsi sama, karena yang menjadi fokus memang penyajian cerita fiktif peristiwa nyata tersebut.

2. Krisis (Usmar Ismail, 1953)


Satu lagi satir cerdas dari seorang Usmar Ismail, Krisis. 'Krisis' dimaksudkan sebagai penggambaran banyaknya masalah yang mendera karakter-karakter dalam film ini. Selain itu, 'krisis' juga menggambarkan keadaan Perfini, pimpinan Usmar Ismail, yang juga mengalami krisis. Ensemble cast terdiri dari aktor-aktris yang tenar di masa itu, seperti Tina Melinda dan Aedy Moward. Termasuk film yang menuai sukses dan diterima penonton.

1. Lewat Djam Malam (Usmar Ismail, 1954)


Mendapatkan banyak penghargaan di Festival Film Indonesia yang pertama, tahun 1955, unggulan Festival Film Asia 1955, dan tayang di Cannes Classics tahun ini, tanggal 21 Juni 2012, kembali diedarkan ke publik setelah selesai di restorasi. Bercerita tentang kehidupan veteran pejuang yang dibalut dengan kritik sosial yang tajam, seperti revolusi menciptkan korupsi dan konspirasi, masalah status sosial, tatanan sosial semata-mata ditentukan oleh kaya dan mobiltas, borjuis sosial dan kehidupan kelas pekerja. Salah satu karya terbaik Usmar Ismail.