Jumat, 04 Mei 2012

#9FilmFantasiKlasik *3 Special Mention

Ternyata para sineas kita tidak kalah dengan sineas Hollywood yang terkenal dengan film-film fantasi dan fiksi ilmiah mereka. Sejak era 50-an, para sineas lokal telah mencoba membuat film-film yang bertemakan fantasi dan fiksi ilmiah yang mengagumkan dan terkenang hingga kini. Kita juga punya para jagoan superhero khas Indonesia dan Inilah film-film Indonesia yang bertemakan fantasi dan fiksi ilmiah yang menampilkan para Superhero Indonesia

1. SRI ASIH (Turino Djunaedi dan Tan Sing Hwat, 1954)



Mungkin ini film fantasi pertama dalam sejarah perfilman Indonesia. Film yang diadaptasi dari komik karya RA Kosasih ini, bercerita tentang seorang perempuan bernama Sri Asih yang memiliki kekuatan super, seperti indra keenam, mengetahui adanya tindak kejahatan dan bisa terbang. Jalan cerita film ini cukup menegangkan dan salah satu film yang inspiratif, karena jarang diangkat dan jarang ada yang berani untuk membuat film seperti ini. Diperankan Mimi Mariani, Soekarno M. Noor, Ali Yugo, dan Turino Djunaedi bertindak sebagai pemain dan juga sutradara. Masuk kompetisi Festival Film Indonesia pertama, tahun 1955.

2. RAMA SUPERMAN INDONESIA (Frans Totok Ars, 1974)



Adaptasi dari kisah superhero terkenal asal Amerika Serikat, Superman. Superman itu bernama Rama,yang dpat berubah wujud dan bisa terbang apabila jimatnya dicium. Dibintangi August Melasz, Jenny Rachman, dan Beng Ito, film ini lebih dulu dirilis daripada film Superman, karya Richard Donner, tahun 1978. Meski penggrapannya masih sederhana, film ini cukup unik dengan menggunakan caption seruan "brakkk", "wow", dan lainnya.


3. GUNDALA PUTRA PETIR (Lilik Sudjio, 1981)


Gundala, merupakan tooh rekaan yang berasl dari komik karya Hasmi. Mirip Captain America, Gundala merupakan tokoh superhero Indonesia yang cukup berkesan. Kisah ini mucul pertama kali tahun 1969, dan lokasi digambarkan di kota Yogyakarta dan Jakarta. Diperankan Teddy Purba, Gundala berasal dari sebuah ketidaksengajaan.
Seorang peneliti jenius bernama Sancaka menemukan serum anti petir. Tenggelam dalam ambisinya sebagai seorang ilmuwan, dia melupakan hari ulang tahun Minarti, kekasihnya, yang berakibat putusnya hubungan mereka.
Sancaka yang patah hati berlari dengan hati galau di tengah hujan deras. Tiba-tiba sebuah petir menyambarnya. Dalam keadaan koma ia ditarik oleh suatu kekuatan dari planet lain dan diangkat anak oleh raja Kerajaan Petir yang bergelar Kaisar Kronz, sekaligus diberkati kemampuan super yaitu bisa memancarkan geledek dari telapak tangannya (Gundala Putera Petir – Asal Usul Gundala). Raja Taifun dari kerajaan Bayu memberinya kekuatan lari secepat angin (Perhitungan Di Planet Covox).
Sejak itulah, di waktu-waktu tertentu, ia tampil sebagai jagoan penumpas kejahatan berpakaian hitam ketat dengan sepatu dan cawat berwarna merah. Wajahnya tertutup topeng, hanya tampak mata dan mulutnya, di sisi topengnya terdapat hiasan seperti sayap burung. Ia adalah kawan mereka yang lemah dan musuh bagi para pencoleng.
Gundala memiliki kekuatan sambaran petir dengan berbagai tingkatan kekuatan, lari secepat angin dan pukulan petir. 


4. MANUSIA 6 JUTA DOLLAR (Ali Shahab, 1981)



Karya khas Ali Shahab. Mengandung unsur fiksi ilmiah yang dikemas dengan parodi. Adaptasi dari serial "The Six Million Dollar Man". Film ini cukup unik, karena berjalan dengan cukup baik, ceritanya mengalir dengan jenaka namun juga cerdas. Cerita detektif Warkop yang memberantas kejahatan dari penculikan hingga kejahtana kelas kakap. Salah satu deteketif mengalami kecelakaan fatal, sehingga harus dioperasi dan diperbaiki anggota tubuhnya. Operasi khusus dengan teknologi canggih, membuat detektif Dono memiliki kemampuan khusus, dan dapat memeberantas penjahat, yaitu kompoltan Kontet.
Menampilkan aktor Jack John yang berperan sebagai penjahat bergigi besei bernama Robot, mengingatkan juga pada tokoh Jaws, musuh James Bond dalam film Moonraker.
 
5. DARNA AJAIB (Lilik Sudjio, 1980)


Darna Ajaib, yang digadang sebagai anak Superman, tapi mirip Wonder Woman, dilihat dari kostumnya. mirip dengan film produksi Filipina. Disutradarai Lilik Sudjio yang sebelumnya sering membuat film horor. Film fantasi ini juga mengandung sedikit unsur mistisme khas Indonesia yang entah bagaimana tampaknya untuk menemukan jalan ke cukup banyak setiap gambar eksploitasi khas Indonesia. Alur cerita cukup menegangkan dan kadang menyeramkan, tapi cukup unik memang karena film seperti ini jarang di kala itu dan menjadi referensi yang berbeda. Diperankan Lidya Kandou, Rina Hassim dan Nia Zulkarnanen. 

6. GADIS BIONIK (Ali Shahab, 1982)



Ada kaitan dengan film Warkop, Manusia 6 Juta Dollar. Komplotan Kontet lolos dari penjara, dan kembali melakukan aksi jahatnya. Mereka ingin membalaskan dendam pada Rita, yang menjadi penyebab mereka dipenjara. Mereka menabrak Rita, dan Rita dioperasi secara khusus oleh professor, dan Rita menjadi gadis bionik. Kemudian Rita, sang gadis bionik, menumpas kejahatan, termasuk meringkus komplotan Kontet. Adaptasi dari cerita film impor.

7. PERKASA ALAM (M. Arief, 1954)
Diperankan aktris laris dan tenar Titien Sumarni dan A. Harris. Film yang bercerita tentang anak yatim piatu yang melakukan perjalanan dengan berbekal jimat lewat pertapaan. Dalam perjalanan, anak bernama Yatim ini menemui banyak kejadian aneh dan mengejutkan. Hingga akhirnya dia diangkat sebagai panglima muda sebuah kerajaan. Ternyata, cerita belum berakhir, banyak orang yang ining menjatuhkan dia dari kedudukannya, dan dengan segala upaya, Yatim menunjukkan keperkasaanya dengan menumpas orang-orang yang membuat kekeacauan di kerajaan. Karena peran Yatim, dia diangkat menjadi Raja dengan gelar Perkasa Alam.

8. LAHIRNJA GATOTKATJA (D. Djajakusuma, 1960)


Diperankan Koesno Soedjarwadi. Cerita khas Indonesia, Gatot Kaca. Mengisahkan asal-usul lahirnya sang ksatria gatot Kaca. Kisah pewayangan yang telah turun temurun difilmkan dengan tidak seperti dramaturgi pertunjukan wayang, melainkan film, film fantasi pula. Ada keberanian memvisualkan adegan terbang bak "superman". Kostum dan artistik film ini sudah cukup meyakinkan bahwa film ini berlatar budaya Jawa yang khas.Salah satu film fantasi, yang jumlahnya sedikit, dengan cerita khas asli budaya lokal.


9. JAKA SEMBUNG DAN BAJING IRENG (Tjut Djalil, 1983)

Film superhero lokal yang adaptasi dari komik, karya Djair. Skenario ditulis Imam Tantowi, dan disutradarai oleh Tjut Djalil. Cukup berkualitas dari teknik film, dan menjadi film yang berebeda saat itu. bercerita tentang Bajing Ireng, pendekar wanita yang bernama asli Roijah dari desa Kandang Haur, merampok harta orang-orang kaya untuk dibagikan kepada rakyat jelata yang menderita. Penderitaan rakyat tidak saja dari penjajah Kompeni tetapi juga akibat bencana alam yang bertubi. Ketika pulang merampok di rumah Demang Asmara, Bajing Ireng dicegat oleh Jaka Sembung. Keduanya saling bahu memabhu memberantas ketidakadilan dan kebatilan. Meraih 2 nominasi FFI 1984 untuk pemeran pembantu pria dan penyuntingan.
*Special Mention
10. HOMELAND (Gangsar Waskito, 2003)

Cukup lama genre fantasi dan fiksi ilmiah ditinggalkan, sampai muncul Homeland yang sejatinya adalah karya animasi. Mengisahkan Bumi, bocah 14 tahun yang tedampar di sebuah planet setelah mengendarai pesawat luar angkasa. Bumi tak tahu nasib ayahnya yang hilang setelah pesawat mereka mengalami masalah. Film produksi Studio Kasatmata dan Visi Anak Bangsa ini meski secara teknis cukup baik, dari segi cerita masih berat dikonsumsi anak. Memang ada beda visi yang sulit dikompromikan antara penciptanya (Studio Kasatmata, SET, dan Visi Anak Bangsa) yang semula membuatnya untuk remaja dengan investor yang menginginkan Homeland untuk anak. 
Homeland merupakan film animasi fiksi ilmiah pertama kita yang diedarkan di luar bioskop melalui tayangan televisi, kemudian beredar dalam bentuk VCD.



10. JANUS PRAJURIT TERAKHIR (Chandra Endroputro, 2003)



Mengisahkan manusia robot dari abad 34 yang terdampar di abad 21 bernama Janus. Ia terdampar setelah insiden perang antar bangsa di masa depan. Janus berusaha kembali ke zamannya untuk melanjutkan perjuangan bangsanya. Disutradrai oleh Chandra Endroputro dan diperankan Derby Romero dan Reggy Lawalata, film ini mencoba menggabungkan animasi dengan adegan film sungguhan yang diperankan pemain-pemain nyata. Film ini secara teknis cukup baik dan patut dihargai sebagai terobosan baru di Indonesia. Film pilihan FFI 2004.

 11. MADAME X (Lucky Kuswandi, 2010)

 


Selain sebagai sutradara, Nia Dinata juga aktif dalam memproduseri sejumlah film yang kebanyakan disutradarai oleh para sutradara pemula lewat rumah produksi Kalyana Shira Films. Tidak mengherankan bila film-film ini, jika dibandingkan dengan film yang langsung ditangani oleh Nia, memiliki kualitas yang sedikit berada di bawah film-film Nia. Madame X, yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi, memiliki premis komedi yang cukup menjanjikan seperti halnya Quickie Express (2007).
Berbicara mengenai kaum waria dan gay yang sering diperlakukan tidak adil, Madame X menghadirkan Adam (Amink), seorang waria yang bekerja di sebuah salon di negeri Antah Berantah, sebagai tokoh utama penceritaannya.
Sebuah tantangan tersendiri untuk merilis sebuah film dengan genre superhero yang tidak begitu dikenali di Indonesia. Mungkin karena alasan itulah mengapa Madame X dirilis sebagai sebuah film komedi, dan bukan drama action, agar film ini dapat lebih mudah untuk diterima penonton film Indonesia. Menit-menit awal Madame X berhasil menunjukkan hal tersebut dengan baik. Diisi dengan banyak lelucon-lelucon segar, termasuk sebuah sindiran terhadap kehidupan selebritis yang ditayangkan lewat sebuah parodi acara infotainment, Madame X dengan gampang terlihat sebagai sebuah film komedi yang sangat menjanjikan.
Secara perlahan, film ini kemudian mencoba ‘menyusupkan’ berbagai pesan-pesan yang ingin diberikannya pada penonton melalui jalan cerita kehidupan yang dialami oleh karakter Adam.
Mungkin jika harus memilih siapa yang paling mencuri perhatian di film ini, maka jawaban adalah Joko Anwar. Penampilan Joko memang sangat menghibur. Kematian karakternya di bagian awal film sedikit banyak mempengaruhi keberadaan faktor komedi di film ini.
Dari departemen teknis, Madame X sepertinya menawarkan sebuah tampilan yang dapat dikategorikan sebagai salah satu tampilan film terbaik tahun 2010. Pemilihan desain dan warna kostum yang sangat atraktif memberikan Madame X nuansa yang lebih menarik. Pemilihan warna kostum yang bervariasi sebenarnya sedikit bertolak belakang dengan tone gambar film ini yang dihadirkan dengan pilihan warna sedikit gelap. Namun, dalam perjalanannya, kedua tone ini kemudian mampu memberikan tampilan yang sangat baik untuk diperhatikan.
 Madame X memberikan lebih banyak ruang pada adegan drama dengan tujuan untuk memasukkan banyak ‘pesan-pesan sosial’ kepada para penontonnya.


Rabu, 02 Mei 2012

#10FilmKlasikPendidikan

Memperingati hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei, mari kita mengenang Film-film Indonesia Klasik yang bertemakan pendidkan dan pengajaran serta memberikan kita pembelajaran, film-film tersebut adalah :

1. SANG GURU (Eduard P. Sirait, 1981)


Mengajarkan tentang nilai kejujuran, dan budi pekerti. Problematika seorang guru dan lingkungan dalam institusi pendidikan, 'jual beli' pendidikan dikupas sebagai konflik film. Sebuah kisah yang lengkap mengenai permasalahan sosial yang laten dan sukar untuk diputus mata rantainya. Diperankan S. Bagio, dan mendapatkan nominasi FFI 1982 untuk aktor terbaik.


2. LIMA SAHABAT (CM. Nas, 1981)

 

Film yang menampilkan cerita wajar tentang persahabatan, kehidupan anak-anak sekolah dasar dalam mempersiapkan HUT Proklamasi RI, begitu jujur, dan mengalir dengan wajar sebagai film anak yang mendidik dan memberi pembelajaran yang berharga.

3. SI BADUNG (Imam Tantowi, 1989)


Penggambaran kreativitas dan kebadungan anak-anak yang tampil dengan wajar. Menyajikan pula cerita guru tua dan kepala sekolah di sebuah kota kecil. Sosok guru ideal digambarkan dalam film ini. Paham dan konsep pendidikan yang berbeda juga menjadi konflik. Cerita Terbaik dan Film anak terbaik FFI 1989.

4. HARMONIKAKU (Arifin C. Noer, 1979)


Arifin C Noer membuat film anak yang tidak berdasarkan dongeng atau cerita adaptasi. Kisah anak-anak Indonesia yang tidak digambarkan hitam-putih, tapi dengan kelucuan dan kepolosannya. Film ini memberikan pembelajaran tentang keinginan dan cita-cita, dan juga kewajiban untuk mengenyam pendidikan di sekolah. Film pilihan FFI 1980 dengan meraih 3 nominasi.

5. NYOMAN CINTA MERAH PUTIH (Judy Soebroto, 1989)

Mengajarkan kegigihan dan cita-cita seorang anak bernama Nyoman, yang menulis surat kepada presiden, dan ia bertekad untuk bertemu presiden. Kegigihannya membuatnya bisa berjumpa dengan sang presiden. Film ini sempat mengalami banyak pergantian dalam judulnya.

6. HADIAH BUAT SI KOKO (Abadan E Sangling, 1980)

Film tentang seorang pelajar SMP, bernama Koko, yang berhasil membuat perpustakaan sekolah, bercita-cita menyelidiki dunia flora dan fauna. Semua itu dilakukannya dengan belajar dan berjualan koran dan majalah. Koko kemudian mengalami sebuah kejadian menegangkan sampai ia mendapatkan hadiah beasiswa. Mendapatkan penghargaan khusus FFI 1981.


7. DIBALIK DINDING SEKOLAH (Rd. Ariffien, 1961)

Diperankan oleh Nani Widjaya, film ini menguak sisi lain anak-anak yang memiliki keterbatasan dalam mengenyam pendidikan. Anak-anak dari keluarga tak berada yang harus berjuang demi tetap sekolah dengan bekerja. Berpesan bahwa pendidikan adalah hak yang harus sama dan merata bagi seluruh masyarakat.


8.  LANGITKU RUMAHKU (Slamet Rahardjo Djarot, 1989)




Film yang mengulas tentang persahabatan dua anak yang berbeda latar belakang ekonomi. Gempol, anak gembel penjual kertas bekas berkeinginan untuk sekolah dan menuntut ilmu, dan Andri, anak orang kaya yang merasa kesepian dan dikekang. Cerita persahabatan mereka diurai dengan wajar dan tidak berlebihan. Inspiratif dan mendidik sekaligus memberikan pembelajaran. Film pilihan FFI 1990.


9. GEMA HATI BERNYANYI (Adisoerya Abdi, 1980)


Keinginan seorang perempuan bernama Kartika yang bertekad menjadi guru meski banyak tentangan. walau banyak cobaan menerpa hidupnya, namun pada akhirnya ia berhasil mendirikan sebuah SD di balai desa. Diperankan Gina Adriana dan Roy Marten.


10. GEMA KAMPUS 66 (Nico Pelamonia, 1988)


Film yang cukup unik dan berbeda. Mengangkat cerita tentang kehidupan mahasiswa dan aktivis kampus serta gerakan mahasiswa pada tahun 1966, setelah gejolak di negeri ini. Ditulis oleh Asrul Sani dan diperankan Cok Simbara, Didi Petet dan Ariessa Suryo, film pilihan FFI 1988 ini mungkin film yang pertama mengulas kehidupan dan dinamika kampus serta mahasiswanya dari segi semangat pergerakan dan jiwa muda mereka sebagai seorang mahasiswa.



Selasa, 01 Mei 2012

Film Indonesia yang mengangkat tema Buruh (Bagian 1)

Memperingati Hari Buruh sedunia pada tanggal 1 Mei, inilah beberapa film Indonesia (bagian 1) yang mengangkat tema kehidupan buruh / kaum pekerja dengan berbagai problematika yang ada.


1. Buruh Bengkel (Awaludin, 1956)


Cerita tentang kehidupan seorang buruh bengkel, Salam dan istrinya. Nasib susah dan kemisikinan yang mendera mereka tidak menggoyahkan iman Salam, ketika suatu kali menemukan peti uang. Ditulis Asrul Sani, diperankan Darussalam dan Ermina Zaenah. Mengajarkan akan nilai kejujuran dan pantang menyerah.

2. Buruh Pelabuhan (Awaludin, 1965)

Berkisah tentang kehidupan kaum buruh di pelabuhan. Diperankan aktor watak Ratno Timoer.

3. Inem Pelayan Seksi (Nya' Abbas Akup, 1976)


Salah satu karya Nya' Abbas Akup yang paling berkesan. Film yang bukan menjual sensualitas, melainkan kritik dan sindiran sosial, terutama terhadap budaya patriarki. Inem, seorang pekerja rumah tangga yang memperjuangkan kaumnya, para pekerja dan kaum miskin, dan melalui Inem lah, para lelaki dapat tunduk padanya. Merupakan film laris dan masuk ke dalam 25 film Indonesia terbaik sepanjang masa.

4. Direktris Muda (Kusno Soedjarwadi, 1977)



Ully Artha memerankan Merry, sosok direktris muda dalam sebuah perusahaan. Problematika pribadi Merry dan usaha yang dijalankan ternyata tidak sejalan dengan visi dan misi perusahaan. Konflik memuncak dengan mogoknya buruh dan demonstrasi. Akting Ully Artha mendapatkan unggulan pemeran utama wanita pada FFI 1978.

5. Inem Nyonya Besar (Mochtar Soemodimedjo, 1977)



Lanjutan dari Inem Pelayan Seksi yang sukses besar. Nasib Inem sudah berubah, kini ia menjadi nyonya besar yang dermawan. Dia menyumbang untuk rumah sakit jiwa, dan mengangkat harkat dan martabat para pekerja rumah tangga dengan berbagai kegiatan dan memberi hadiah. 

6. Marsinah; Cry Justice (Slamet Rahardjo Djarot, 2001)




Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata tentang seorang buruh dan aktivis bernama Marsinah. Marsinah ditemukan tewas setelah hilang diculik dan melaukan aksi unjuk rasa buruh dengan pihak manajemen pabrik yang melibatkan polisi dan militer Indonesia. Sampai kini, misteri kematian Marsinah belum terungkap. Skenario ditulis Agung Bawantara, Eros Djarot, Karsono Hadi, dan Slamet Rahardjo Djarot. Meraih 7 nominasi FFI 2004, dan mendapatkan Piala Citra untuk Tata Artistik Terbaik. Slamet Rahardjo Djarot membuat film ini seperti film dokumenter, dan menggunakan para ensemble cast yang berasal dari mahasiswa IKJ. Salah satu film kisah nyata terbaik.

7. Minggu Pagi di Victoria Park (Lola Amaria, 2010)

 

Mengangkat tema permasalahan Tenaga Kerja Wanita (TKW), Minggu Pagi di Victoria Park merupakan film yang berhasil dalam mengeksekusi tema film tersebut. Lola Amaria terbilang berani dalam mengangkat tema buruh migran itu ke layar lebar, karena masih jarang tema-tema seperti ini diangkat, dan film ini dapat dikatakan penting, karena dapat membuka pandangan kita tentang kehidupan lain yang dihadapi para pahlawan devisa kita. Film ini secara tidak langsung mengkampanyekan kepada masyarakat, menjadi TKW tidak selamanya mengerikan. Namun juga menyenangkan. Film ini juga memberi pandangan tentang potensi dan problematika yang harus dipahami oleh khalayak luas. Mendapatkan Piala Citra FFI 2010 untuk Penyuntingan Terbaik dan meraih 7 nominasi FFI 2010.